Just Me

Just Me
1



Namaku Kaila Arundati. Gadis biasa yang hidup di Negara Indonesia dan menjalani kehidupan sederhananya yang penuh imajinasi.


...Aku baru saja putus dari pacarku yang sialnya sangat brengsek. Yap, Brengsek. Kenapa aku mengatakannya  seperti  itu? Karena dia telah berselingkuh padaku setelah dua tahun lamanya kami berpacaran. Bayangkan! Itu bukanlah waktu yang singkat, dan dengan tega nya ia menodai hubungan itu....


Dan tebak siapa selingkuhannya? Sahabatku sendiri! Sahabat yang sangat ku sayangi bahkan aku sudah menganggapnya sebagai kakakku yang berharga. Tapi ternyata dia menusukku dari belakang. Miris sekali. Padahal aku selalu memberinya apapun yang dia mau.


Banyak yang bilang aku bodoh karena mau saja bersahabat dengan wanita seperti serigala berbulu domba itu. Tapi aku tidak percaya, karena kupikir mereka hanya iri saja dengan kecantikan yang di milikinya. Ku akui dia cantik bahkan melebihi diriku yang kumal ini. Dia sangat pandai berhias diri. Sedangkan aku? Jangan tanya, cara membedakan lipbam dengan lipgloss saja aku tidak tahu. Tapi ternyata sisi tanduknya mulai terlihat saat aku mulai populer di kalangan kampus. Itu pun karena aku selalu membantu teman-teman saat mereka kesusahan membuat tugas mereka. Bukan karena aku yang cantik atau modis. Namun sepertinya dia tidak suka tersaingi, terutama oleh diriku.


Tapi bukankah dia sungguh keterlaluan?


Kenapa dia tega merebut pacarku yang dua tahun sudah bersamaku? Sebagai gadis pas-pasan yang memilki seorang Pacar tampan tentu merupakan berkah sendiri bagi ku. Tapi sekarang aku menyesal mengenal nya. Ternyata aku salah menilai nya, padahal ku pikir aku sudah mengenal nya dengan baik selama tiga tahun bersama. Tapi setidaknya aku mendapat Pelajaran dari semua ini. Jangan menilai orang dari Cover nya. Karena belum tentu yang terlihat bagus memilki isi yang bagus. Begitu pun sebaliknya.


Oh sudahlah, aku sudah tidak peduli. Lagian cowok gila itu juga salah, kenapa dengan mudahnya berselingkuh demi wanita itu?


Sial! Mereka pantas bersama. Sama-sama pasangan menjijikan dan licik yang pernah ku kenal!


Aku menggenggam buku bersampul biru-putih milikku sedikit erat hingga aku bisa merasakan sisi kertas Buku yang lusuh menjadi koyak. Kedua tangan ku menghapus air mata di pipi ku dengan keras. Mereka tidak layak mendapatkan  air mataku! Aku meringis pelan dan memandang hamparan langit bewarna kelabu yang mulai meluncurkan buliran air.


Aku menghela nafas, kepalaku pusing sekali. Aku lupa jika aku tidak boleh terkena hujan. Apalagi hujan yang tiba-tiba. Aku mempunyai tubuh yang lemah, karena itu aku akan langsung jatuh sakit bila terkena hujan seperti ini. Tidak, bukan karena aku lebay, tapi ini memang sudah bawaan dari lahir.


Sial!  Kepalaku mulai memberat. Samar-samar aku mendengar suara teriakan dari seseorang dari kejauhan. Menyuruhku agar menghindar. Memang apa yang harus ku hindari?


Aku menoleh ke asal suara dan berusaha memfokuskan pandanganku yang memburuk karena air hujan dan kepalaku yang sakit.


Sebuah cahaya kuning menyorot wajahku membuat ku semakin pusing. Cahaya apa itu?


Lalu yang terjadi adalah hantaman kuat yang menabrak tubuh ku, menghantam Perut dan dadaku. Aku terlempar jauh dan jatuh berguling di atas aspal. Ah... Aku lupa jika sedari tadi aku sedang berdiri di tengah jalan.


Aku terbatuk. Lidah ku bisa mengecap rasa karat yang memenuhi mulut ku. Dadaku sakit karena posisi ku yang telungkup dengan wajah menghadap Ke arah kiri. Pandangan ku semakin memburam. Mata ku hanya bisa melihat tangan ku sendiri yang sudah berdarah dan masih menggenggam buku bersampul biru-putih milikku. Hah! Bisa-bisa nya aku menggenggam buku ini tanpa terlepas!


Perih. Kilasan kenangan mulai bermunculan di dalam otak ku. Mengingatkan aku jika diriku akan mati sekarang juga.


Ini sakit sekali. Aku menangis.  Bagaimanapun ini sangat sakit sekali. Hatiku belum sembuh dan kini Fisik ku justru ikut terluka.


Kenapa?


Ini tidak adil!


Padahal  Aku adalah orang yang baik!


Tuhan.. Kenapa?


Mata ku semakin memberat setiap detik nya dan memaksa ku untuk segera tidur.


Ah,


Sepertinya aku akan mati di sini.


Aku ingin tertawa sekarang.


Tragis sekali...


Selamat  tinggal kehidupan ku yang malang...


Hari ini, hidup  Kaila Arundati sudah berakhir...


*