
Wanita itu tiba di Mansion besar milik Adrian. Kyra langsung saja masuk ke dalam kamarnya dan segera berendam di bathub besar. Ia mendesah nikmat saat air hangat beraroma lemon itu memenuhi rongga hidungnya. Ini menenangkan sekali. Ia sedang tidak ingin memikirkan apapun.
Anggap semua ini mimpi dan bersenang-senanglah. Dia tidak pernah melihat kamar mandi sebagus ini. Ia hanya melihat nya dari Majalah ataupun Vlog Selebritis luar Negeri. Beruntung sekali dia bisa melihat dan menggunakan kamar mandi semewah ini.
Selesai berendam ia segera meraih jubah mandi dan mengambil handuk kecil untuk menutupi rambut panjangnya yang basah. Dia bersenandung pelan dan sibuk mencari baju tidur yang akan di pakainya tanpa menyadari sosok tinggi yang menatapnya tajam di ujung ruangan.
Wanita itu berbalik dan memekik pelan ketika melihat pria itu. Dia segera merapat ke dinding dan menutupi tubuh setengah telanjang menggunakan baju yang akan di pakainya.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Kyra cepat dengan wajah memerah. Dia malu! Sialan! Apa dia tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?
"Jangan berteriak padaku. Aku hanya ingin berbicara sesuatu padamu." Jawab nya datar.
"Apa yang kau lihat, hah!" Teriak wanita itu lagi. Ia semakin mempererat tangan nya di handuk yang sedang di pakainya.
"Aku tidak akan tertarik pada mu. Aku memang menyukai tipe wanita Sexy, dan kau bukan tipe itu." ucap Adrian setengah menyindir.p
Apa? Pria ini gila? Oh Dear, tubuh sexy begini kau bilang tidak sexy? Mata nya benar-benar bermasalah!
Kyra mendelik kesal namun tidak ingin membalas perkataan pria itu. Dia tidak mau pembicaraan ini berujung panjang.
Wanita itu mendengus pelan ketika melihat selebaran kertas di tangan pria itu dan Kyra tahu apa itu, "Bisakah kau keluar dulu? Aku akan membicarakan itu setelah aku selesai memakai baju ku." Ucap Kyra.
Walau pria itu suaminya, sekali lagi entah ini nyata atau tidak. Ia tidak akan mau memperlihatkan tubuh nya pada pria itu, apalagi setelah perkataan nya yang lumayan menusuk harga diri nya!
Adrian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar dengan langkah santai. Setelah pria itu pergi, Kyra tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
Dasar gila! Dia benar-benar ingin bercerai denganku?
Hah...
Sudahlah. Dia juga menginginkan Pernikahan ini usai.
Memang sudah waktunya pernikahan tanpa dasar cinta ini akan berakhir. Memori asing masuk ke dalam pikirannya dan membuatnya bisa mengingat bahwa awal pernikahan ini terjadi karena dia telah menyelamatkan seorang wanita berambut cokelat gelap yang ingin di culik sekelompok pria.
Kyra menyentuh area bahunya yang mempunyai bekas sayatan dan mengingat jika ini adalah luka yang dia dapatkan karena para penculik itu sempat menyabet nya dengan pisau. Karena itu sebagai ucapan terimakasih wanita itu malah menikahkan dirinya dengan anaknya itu.
Kyra menghela nafas panjang dan menggosok bekas luka itu dengan lembut.
Kau memilki beban yang begitu berat. Apakah boleh aku menyerah untuk kebaikanmu, Kyra?
Batinnya berharap jika jiwa wanita itu mendengar permintaannya.
Dia yang membaca cerita wanita itu saja sudah tidak tahan apalagi mengalami langsung? Oh, tidak bisa ia bayangkan.
Kyra mengambil piyama cokelatnya sambil mengutuk dirinya sendiri yang pernah memilki keinginan untuk masuk ke novel ini dan bisa merubah akhir cerita bagi Kyra yang menyedihkan.
Aku ingin segera kembali ke dunia nyata ku! Batin nya berteriak kesal.
Setelah siap, wanita itu mengambil handuk kecil dan melilitkan nya di rambut panjangnya yang basah. Kyra menatap bayangan dirinya yang fresh dan terlihat cantik sambil tersenyum lebar.
Hai Seksehh...
Ia tersenyum sedikit terkikik begitu tersadar apa yang sudah ia lakukan. Dengan wajah merah padam, ia mendekat ke arah cermin lalu mendekatkan telapak tangan nya pada permukaan cermin.
Hei, bolehkan aku memutuskan akhir cerita mu? Aku ingin kau bahagia dan terlepas dari pria egois itu. Tolong jangan marah padaku, ya? Lagian kamu cantik dan aku yakin sekali banyak pria yang menginginkan mu dari pada si Serigala jelek itu!
Ucap nya perlahan di dalam hati lalu berbalik pergi untuk menemui pria itu.
*
Benar-benar wanita yang menjijikan. Apa-apaan senyuman itu?
Setelah cukup lama aku menunggu duduk di sofa, wanita itu akhirnya datang. Dia tersenyum tanpa dosa dan membuat ku muak. Bagiku senyumannya hanyalah senyuman palsu yang menyimpan kelicikan.
Tanpa basa-basi aku langsung melempar berkas yang berisi surat perceraian. Ini sudah waktunya aku dan dia berpisah. Pernikahan palsu yang sedari awal sudah ku katakan padanya akan berakhir satu tahun kemudian. Dan dia tidak akan mendapat seperser pun hartaku.
Wanita itu menatap berkas itu dan mengambilnya, mengeluarkan kertas putih itu dan mendengus pelan.
Wajahnya tanpa ekspresi ketika membaca beberapa kalimat yang tertulis jelas di sana. Lalu tanpa bicara, meraih pena yang sudah ku sediakan dan menandatanganinya. Aku mengernyit heran. Ada yang aneh di sini.
Tangannya terulur dan segera memberikannya padaku. Mata birunya menatap padaku. Tidak ada tatapan berkaca-kaca. Mata itu hanya menatap ku datar. Ini seperti bukan dia.
"Bolehkan aku pindah besok saja? Aku akan pergi pagi-pagi sekali. Hari ini aku sangat lelah." Ucap nya dan sibuk menggosok rambut panjangnya yang setengah basah.
Aku hanya diam, di dalam pikiranku penuh dengan alasan mengapa wanita itu begitu mudahnya menyetujui surat itu dan mendatanginya tanpa bicara. Beberapa kali aku mengajukan surat cerai pada nya dan selalu berakhir dengan penolakan dari wanita itu.
Tapi sekarang? Dan lagi dia sama sekali tidak protes bahwa aku sama sekali tidak memberinya harta sedikit pun pada nya. Bukankah dia wanita licik yang berusaha menyedot habis hartaku? Sepertinya ia sedang ingin melakukan permainan baru lagi.
"Ku Anggap iya. Terimakasih." Ucap Kyra cepat karena tidak mendapat jawaban dari pria itu. Ia bangkit dari tempat duduknya dan akan berjalan menuju kamarnya.
"Tunggu." Ucap ku. Ia menoleh, menatap pada ku. Mata birunya di penuhi sorot bingung.
"Ada apa?" tanyanya. Melipat kedua lengan nya di atas dada. Wanita itu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
"Apa lagi yang kau sembunyikan?" tanya ku cepat.
Dia terdiam, lalu mata biru itu mendelik pelan, "Kau gila ya? Kau ingin bercerai dengan ku, kan? Dan ya, aku sudah menyetujuinya." Ucap nya lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Sial, padahal aku masih ingin bertanya pada nya.
Aku hanya menatap pergerakan wanita itu. Ia berjalan menaiki tangga hingga menghilang di balik pintu kamarnya.
Aku yakin dia pasti memilki rencana licik.
*