Just Me

Just Me
2



Gelap.


Aku benci gelap. Hal yang ku benci setelah hujan adalah gelap. Karena gelap membuat nafas ku sesak dan aku sangat tidak menyukainya. Itu benar-benar mengingatkan ku tentang kematian.


Aku mengerjapkan mataku, berusaha menyesuaikan cahaya yang berlomba masuk ke dalam pupil mataku. Kepalaku pusing sekali, tepat nya bagian belakang kepala ku dan perut ku begitu mual. Aku menggerakan tanganku berusaha mencari sesuatu untuk bisa berpegangan. Tangan ku akhirnya menangkap besi yang terasa dingin di sisi ranjang dan menariknya pelan agar bisa bangun.


Aku segera menarik tubuhku sendiri dan bersandar di atas bantal. Perutku sedikit panas.


Mataku kembali mengerjap dan mulai memperhatikan sekeliling ruanganku. Interior putih bersih dan bau obat-obattan yang menyengat. Ah, Aku tahu dimana diriku berada sekarang. Tentu saja ini di Rumah Sakit.


Aku segera menyentuh kepala ku yang tidak terbalut apa-apa.


...Eh? Di mana perban kepalaku? Bukankah aku tadi berdarah?...


Batin ku bingung.


Aku kecelakaan dan Kepalaku berdarah. Tapi kenapa Kepala ku tidak di perban? Bagaimana jika luka di Kepala ku menjadi Infeksi dan menyebar menjadi Kanker?!


Suara deheman seseorang menarik perhatian ku yang sedang panik sendiri.


Aku mendongak dan menemukan seorang pria bertubuh tinggi yang sedang duduk di sofa di ujung ruangan. Wajah nya begitu kaku dan terlihat gelap karena berada di sudut ruangan yang hanya memilki sedikit cahaya. Terlihat Misterius. Apakah sedari tadi dia di sana?


Aku mengerjapkan kedua mata ku dengan bingung. Tunggu dulu.. aku tidak mengenalnya. Siapa dia?


Pria dengan kemeja hitam dan rompi silvernya bangun dari posisi duduknya dan berjalan mendekati ranjang. Dan aku akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia sangat tampan seperti Orang luar Negeri. Ah, dia memang Bule. Tapi  sepertinya dia memiliki darah Asia sedikit. Kulitnya putih bersih dan potongan rambut pria itu justru terlihat seperti Oppa Korea yang sering ku tonton.  Model kah? Aku semakin mengerjapkan kedua mataku dan berkali-kali aku mengelengkan kepala ku.


Oh, apa aku masih Bermimpi? Batinku.


Pria berambut cokelat itu menatap ku dengan ekspresi dingin.


"Upaya yang bagus sekali. Bunuh diri dengan meminum racun? Kau sudah menyerah?" tanya pria itu tajam. Rahangnya kokohnya tampak berkedut.


Hah?


Aku mengerutkan dahi ku bingung. Apa sih maksud pria ini? Bunuh diri? Meminum racun? Hei, jangan gila. Aku tidak sefrustasi itu  hanya karena putus dari lelaki brengsek itu! Jelas-jelas Aku baru saja tertabrak. Apa pria itu tidak bisa melihatnya? Pasti ada beberapa luka yang terlihat jelas di sekujur tubuhku sekarang!


Hei, tunggu dulu. Aku baru sadar. Pria itu bukankah tadi menggunakan bahasa Inggris? Apa telinga ku saja yang sedang bermasalah?


"Maaf? Sepertinya anda salah orang." Ucap ku pelan. Aku berusaha menelan air liur ku ketika tenggorakan ku begitu perih dan panas.


Tunggu dulu..  Kok suara ku beda? Dan juga kenapa aku bisa fasih Berbahasa Inggris? Aku buruk dalam berbahasa inggris!! Bahkan sejak dulu Nilai Ujian Nasional ku hanya mendapat angka 4 saja!


"Huh? Mau berpura-pura Amnesia?" Pria itu semakin menatap ku dengan tajam. Ia berjalan mendekat. Tangan kekarnya segera menarik lengan kurus milik ku. Aku tidak berbohong, cengkeraman nya sakit sekali.


Berpura-pura amnesia?! Pria ini gila, dia pasti salah orang!


Apa ini?


Tangan putih dan kecil ini milik siapa?


Bukankah tanganku harus nya bewarna sawo matang?


Tapi ini...


Aku perlahan menunduk dan menatap ke bawah. Aku mengerjapkan mata ku melihat dada ku yang lebih besar dari milik ku dulu. Tangan ku yang lain berusaha menyentuh surai panjang bewarna hitam yang menjuntai dan menutupi dada ku.


Rambutku memang bewarna hitam tapi seharusnya tidak sepanjang ini! Rambutku hanya sebahu! Oh Tuhan, apa yang terjadi pada ku?!


Dengan gerakan panik. Aku menatap kembali pria itu. Meminta penjelasan atas semua ini.


"A-aku si-siapa?" tanya ku menunjuk diri ku sendiri dengan gemetar.


Ada sesuatu yang salah di sini. Aku yakin itu!


*


Adrian menatap wanita di hadapannya dengan raut tidak suka. Apa-apaan dia? Dia ingin berpura-pura amnesia? Jangan harap aku akan mempercayainya. Sudah cukup wanita itu membuat banyak drama hanya untuk mencari perhatianku.  Kebersamaan mereka yang cukup lama membuat ku tahu semua  sifat nya.


Wanita itu terlihat begitu panik. Ia bahkan menyentak lengannya dari cengkraman ku dan sibuk mengangkat rambut panjangnya. Lalu meraba-raba seluruh wajahnya. Mata biru beningnya menatap mataku dengan berkaca-kaca. Aku tidak akan tergoda dengan tatapan nya itu.


Cih, dia benar-benar ingin bersandiwara lagi? Jangan bercanda, aku tidak akan percaya lagi. Wanita itu selalu bersikap manja, pikiran nya selalu menyusun rencana licik agar ia bisa memiliki ku seutuhnya. Benar-benar gila bukan? Memang siapa dia? Wanita itu memang istri nya, tapi bukan berarti aku mengakui nya secara pribadi. Dia hanya Istri panjangan dan untuk apa aku harus memberinya perasaan layaknya seorang kekasih? Bukankah materi yang selalu ia berikan seharusnya sudah sangat cukup?


"Jangan berpura-pura bodoh. Peter akan tiba dan membawa mu kembali ke rumah." Ucapku kasar dan segera berbalik. Baru saja aku akan melangkah, sebuah tangan meraih rompi milik ku. Aku menoleh dan memberinya tatapan tajam.


"Tolong beritahu aku, Tuan. Siapa aku?" tanyanya dengan wajah pucat. Aku segera menepis dan menjauhkan tangan itu dari rompiku. Masa bodoh dengan dia. Memang aku peduli?


Aku mengacuhkannya dan segera melanjutkan langkahku keluar dari ruangan miliknya.


Menutup pintu dengan debaman keras dan menatap tajam Peter yang sudah berada di hadapanku. Ia membungkuk pelan padaku.


"Apa Mom tahu?" Tanya ku untuk memastikan tidak ada satupun yang memberitahu Keluarga ku tentang keadaan wanita itu terutama Mom. Aku menatap jam tangan milik ku dan mendecih pelan. Aku menghabiskan waktu 25 menit berada di sini.


"Tidak tuan." Balas Peter yakin.


"Urus dia. Aku akan ke kantor." ucapku dan segera berlalu pergi begitu saja dari pria yang sudah kuanggap Adikku sendiri. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga. Gara-gara wanita itu, aku harus menunda pekerjaan ku demi melihat keadaannya.


"Baik tuan." Jawab Peter tenang.


*