Just Me

Just Me
10



Kyra meregangkan tubuhnya dan bangkit dari tempat tidurnya. Ia baru selesai mengirim pesan selamat malam kepada Hans. Mata biru nya melirik jam dinding yang menunjukan angka 11 malam. Ia terkikik pelan, tidak menyangka ternyata dirinya dan Hans mengobrol cukup lama. Obrolan menyenangkan yang tidak mudah bosan. Ia menguncir rambut panjangnya asal dan keluar dari kamarnya.


Ia ingin minum susu dingin.


Mansion itu tampak sepi namun masih terlihat terang. Kyra berbelok dan melangkah menuju dapur yang gelap. Wanita itu malas menekan tombol lampu dan lebih memilih berjalan cepat menuju kulkas empat pintu itu.


Kyra tersenyum kecil melihat satu botol susu putih dan segera mengambilnya. Meminum susu itu langsung dari botol dan mendesah lega. Susu dingin selalu membuatnya nyaman. Tubuhnya mendadak kaku ketika kulit nya merasakan nafas panas seseorang di tengkuk nya. Bayangan besar tampak jelas di belakang tubuhnya membuat Kyra meneguk Saliva nya dengan cepat. Siapa itu?


Ia bisa mendengar geraman kasar di belakangnya membuat Kyra tidak bisa menahan tubuhnya yang mulai gemetar. Apakah itu pencuri? Jika benar, kenapa bisa ia masuk ke Mansion ini? Dengan segala penjagaan dan CCTV? Itu sangat mustahil!


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya sosok di belakangnya hampir membuat Kyra melepaskan botol susu ditangannya. Wanita itu mendecih kesal. Dia kenal suara berat ini.


"Hum. Minum susu?" ucapnya yang terdengar seperti pertanyaan. Suaranya gagap sarat akan kegugupan. Wanita itu masih berdiri kaku tanpa ingin berbalik. Detak jantung nya tiba-tiba meningkat saking gugup nya dirinya. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Posisi ini seperti dirinya dengan Pria tampan itu tempo hari di toko.


Hening.


Tapi ini sama sekali tidak Romantis! Seram? iya!


Mereka sama-sama terdiam. Kyra menggenggam botol susu dengan erat, ia tidak tahan dengan situasi canggung antara dirinya dan pria itu. Rasanya ia ingin berbalik dan cepat-cepat pergi dari hadapan pria itu. Lalu membungkus tubuhnya dengan selimut tebal dan berharap Semua ini tidaklah nyata. Sejak kapan Adrian mau menegurnya seperti ini? Bukankah pria itu selalu acuh dengan nya?


"Uhm.. aku akan ke kamar." Ucap Kyra berusaha menahan kegugupannya. Ia meletakan botol susu itu kembali kedalam kulkas dan berbalik, mata biru nya sama sekali tidak ingin melihat pria itu.


Tubuh mungil itu bergeser pelan dan berusaha menyingkir dari tubuh pria itu. Tapi tangan kekar pria itu berhasil menutupinya. Kyra tercekat. Wanita itu mulai panik.


"Kau benar-benar licik." ucap pria itu pelan nyaris berbisik. Kyra mendongak, menatap pria itu dengan bingung. Mata biru nya melirik kemeja cokelat yang sama pria itu gunakan saat makan malam tadi dan sama sekali tidak berantakan. Dia tidak mandi? Oh, jangan peduli padanya Kyra!


"Terimakasih." Balas Kyra, wanita itu menganggap kalimat tajam itu sebagai pujian untuknya. Pokoknya Iya in aja dulu!


"Aku tidak memujimu, wanita bodoh." Adrian mengeram kesal. Dengan gerakan cepat tangan kekarnya meraih dagu mungil wanita itu dan menghadapkannya tepat di depan wajahnya sendiri.


Hingga Kyra mau tidak mau harus berhadapan dengan Wajah yang sial nya harus ia akui sangat tampan.


Tapi wanita itu tampak tidak suka, ia menarik lengan kekar itu dengan kedua tangannya.


"Aku tidak mengerti dengan otak kecilmu itu." Mata abu-abu pria itu menatap wajah Kyra dengan intens. Menyusuri setiap jengkal dari Wajah wanita itu.


Ku harap kau jatuh cinta dengan wajah ini sialan!


Dan siapa yang menyuruhmu untuk mengerti?! hebat sekali dia mengatakan otakku kecil? Dia pikir aku adalah wanita terbodoh?


 Batin Kyra tidak terima.


"Aku tidak meminta mu!" balas Kyra tajam. Ia berhasil mencakar tangan Pria itu agar segera melepaskan cengkeraman di dagu nya. Tapi Pria itu tidak bereaksi padahal cakaran yang di berikan Kyra menimbulkan darah. Dia tidak merasakan sakit? Oh, aku lupa. Dia kan Manusia berdarah dingin!


"Wanita licik sepertimu pasti memiliki seribu drama dan rencana. Katakan padaku apa yang kau rencanakan!" teriaknya. Tidak peduli dengan darah di tangan nya dan semakin keras menekan rahang wanita itu.


Kyra mendesis lirih merasakan perih di rahangnya. Pria itu sepertinya ingin mematahkan rahangnya!


"Apa lagi? Bukankah aku hanya wanita gila harta seperti dugaanmu? Apa yang harus aku katakan lagi padamu?" tanya Kyra menggeram marah.


Adrian balik mengeram. Mata abu-abu nya begitu tajam, menyorot langsung pada sepasang mata biru yang balik menatapnya dengan berani.


"Kau lelah? Kalau begitu ceraikan aku." Ucap Kyra mantap membuat pria itu mengeraskan rahangnya hingga urat-urat di sekitar rahang dan leher nya muncul dengan begitu jelas. Dan itu sangat menakutkan di mata Kyra.


"Kau dengar baik-baik. Aku tidak akan menceraikan mu! Tidak sampai aku bisa melepas topeng busuk mu!" Ia segera melepas wajah cantik itu hingga membuatnya terlempar ke samping. Kyra langsung mengusap rahangnya yang memerah. Ia mendesis.


"Kau menjijikkan!" teriak Kyra keras lalu mendorong dada bidang pria itu dengan kuat hingga Adrian terhuyung ke belakang. Berlari kembali ke kamarnya tanpa peduli reaksi pria itu.


Wajahnya memerah. Kedua tangannya tergesa-gesa menghapus air mata yang sudah turun di kedua pipi nya.


Sial.. kenapa aku mendadak cengeng sih? Berhentilah menangis hanya karena pria itu, Kyra!


*