
Wanita berambut panjang itu menguap pelan dan menutup buku yang baru saja di bacanya. Dia sedang tidak ingin membaca. Dia ingat sekarang dan mengapa dia tidak begitu asing dengan nama Kyra.
Ya, itu adalah salah satu tokoh wanita dan berperan sebagi salah satu figuran dalam sebuah novel yang pernah ia baca. Novel yang membuatnya menangis hampir seminggu penuh. Dia tidak menangis karena akhir bahagia sang Pemeran utama. Ia menangis karena tokoh sampingan yang harus tersingkir demi cerita si tokoh utama .
Di cerita, Sang tokoh utama begitu mencintai Seorang pria yang sudah beristri. Mereka bertemu pertama kali dalam acara Donasi. Keduanya jatuh cinta ketika sang wanita utama tidak sengaja terjatuh karena menyelamatkan seorang anak kecil yang akan terjatuh di sebuah kolam. Wanita itu berhasil mencairkan hati sang Pria dengan sifatnya yang ceria dan pemaaf. Sang tokoh sampingan berusaha mempertahankan Pernikahan nya dari Orang ketiga. Dia tahu, mereka hanya dijodohkan, namun wanita itu sangat mencintai suaminya. Sayangnya, si tokoh sampingan harus berakhir tragis ketika Sang suami lebih memilih si pemeran utama dan mencampakkan nya. Bahkan ketika si tokoh sampingan tewas karena bunuh diri, pria itu sama sekali tidak bersimpati dan tetap dengan sikap dinginnya. Dan parahnya mereka berdua segera melangsungkan pernikahan setelah kematiannya.
Kejam bukan? Bahkan Kaila seketika menangis tanpa tahu tempat saat selesai membaca Novel hari itu juga. Terkesan lebay? Itu lah dia. Dia tidak peduli di ejek teman-teman sekampusnya karena kelebayan-nya yang terus menangis jika mengingat cerita itu.
Ayolah cerita itu begitu menyedihkan! Happy ending untuk mereka! Tapi tidak untuk si tokoh sampingan! Salah apa dia sampai harus seperti itu?
Orang-orang pasti sudah gila karena menyukai cerita seperti ini! Bagaimana bisa si penulis membuat si pelakor jadi tokoh utama?! Pasti dia sudah sinting!
Dia selalu berharap bisa masuk ke dalam novel dan mengganti alur menyedihkan itu. Tapi itu adalah keinginannya dua tahun yang lalu! Lalu kenapa dia benar-benar masuk ke dalam novel itu?! menyedihkann…
Kaila atau yang sekarang menjadi nama Kyra itu tampak uring-uringan dan kembali menguap bosan. Yang sekarang dipikirannya adalah bagaimana caranya agar dia bisa pergi dan kembali ke dunia nyatanya.
Ah, dia langsung terdiam.
Novel itu... Ia lupa judul nya. Kenapa bisa?
Padahal dia selalu ingat setiap judul dari Novel ataupun Komik yang ia baca. Tapi sekarang... ia tidak tahu.
Semua itu menghilang di dalam pikirannya.
Mengapa? Apa yang terjadi?
Seberusaha apapun ia mengingatnya, ia tidak bisa mengingatnya sama sekali. Bagaimana bisa dia mencari tahu alur cerita? Ah.. Sialan.
Tunggu dulu, jika dia di sini, lalu siapa yang berada di tubuhnya yang asli? Oh tidak, apakah tubuhnya baik-baik saja?
Tubuhnya tidak mungkin baik-baik saja karena kecelakaan itu! bagaimana ini?! Tidak mungkin kan jika dia sudah… ma…mati?
Kyra segera menepuk kedua pipinya lalu mengeleng keras. Tidak, tubuhnya pasti baik-baik saja. Mungkin ia sedang koma di sana seperti yang sering ia lihat nya pada drama picisan di TV ataupun Drakor.
Kyra menganggukkan kepalanya lagi dengan yakin, berusaha menghilangkan Negatif Thinking di otak nya. Itu pasti benar. Nggak mungkin dong, dia mati gitu aja? Ya kan?
Kyra terus berusaha mengatur nafasnya yang tadi memburu. Mata biru nya melirik jam tangan bewarna cream di tangan kirinya dan menunjukan pukul 10 pagi.
Oh, dia bosan. Benar-benar bosan. Dia sudah mencari Buku bersampul Biru-putih di perpustakaan ini. Ingatan terakhirnya tentang Buku yang telah ia masuki sekarang adalah cover Buku itu bewarna Biru-putih dengan gambar Pelangi di bawah rintik Hujan. Ia bahkan bertanya pada para pelayan yang Mungkin pernah membaca Buku itu. Yang ia tahu, Buku itu berasal dari Amerika, yang memang sudah di terjemahkan ke Bahasa Indonesia dan tersedia bebas di Semua toko Buku.
Pusing.
Sebaliknya dia keluar sebentar dan melihat lingkungan sekitarnya. Dengan semangat wanita itu segera berlari ke kamarnya dan mengambil jaket bewarna biru pastel.
Mematut dirinya di cermin besar full body dan tersenyum begitu merasa jaket biru itu cocok dengan kaos putih dan rok panjang di bawah lutut bewarna cream nya.
Dia melirik make up yang tertata rapi di atas meja riasan dan mendengus pelan. Ia Tidak ingin memakai apapun di wajahnya dan lagi dia sama sekali tidak suka bermake-up. Lebih tepat nya ia tidak pandai menggunakannya. Mungkin sedikit pelembab bibir agar bibirnya tidak kering.
Ia meraih tas tangan dan mengambil sepatu putih lalu memakainya dengan Secepatnya. Wanita itu keluar dan menuruni tangga dengan senang, menyapa para pelayan dengan senyuman ceria.
“A-ah dimana peter?” tanya Kyra kepada salah satu pelayan lelaki yang sibuk dengan beberapa alat pel.
“Tuan peter sedang di luar, Nyonya.” Jawabnya dan segera membungkuk hormat.
Pelayan lekaki itu mengerutkan kening nya bingung. Kyra mengabaikannya dan berlari menuju pintu utama. Membukanya dan menemukan pria yang sedang di carinya sedang menelpon seseorang.
Mata cokelat nya menangkap kehadiran Kyra dan segera mematikan telpon nya.
“Maaf menganggu Peter,” senyum Kyra dengan lebar.
Pria itu menggeleng pelan, “Tidak papa, Miss. Kenapa Miss menemui saya?” tanya Peter lalu membungkuk.
Kyra langsung memasang wajah sebal, “Bisakah kau tidak melakukan itu padaku, Peter? Jujur saja aku merasa risih melihat kalian membungkuk seperti itu padaku. Aku bukan seorang putri.”
“Tapi Miss adalah Nyonya muda Alvaro.” Jawab Peter tanpa ekspresi.
Kyra memutar bola matanya dengan malas. Ayolah, bisakah pria itu menurut saja apa yang dikatakannya? Dan lagi, dia tidak merasa pria dingin itu sebagai suaminya. Walaupun cuma Suami fiksi, Kyra tidak akan menganggap nya suaminya sama sekali! Huh .. !
“Terserah padamu, Peter. Aku ingin keluar sebentar, apa boleh? Aku bosan.” Ucap Kyra dengan suara di lembutkan untuk meminta izin pada Peter yang diketahuinya menjabat sebagai tangan kanan pria itu.
“Anda mau ke mana? Saya akan mengantar—“
“Tidak perlu. Aku bisa sendirian. Boleh ‘kan?” tanya Kyra cepat dan memotong ucapan pria itu.b
Peter tampak memikirkan ucapan Kyra dan menatap wanita itu. Kyra segera memasang wajah memohon dan membuat pria itu menghembuskan nafasnya.
“Baiklah Miss. Saya akan memberitahu tuan Adrian.” Peter mengambil ponsel nya dan bersiap mengirim pesan kepada atasannya.
“Oh terimakasih Peter!” Kyra langsung melompat bahagia.
“Tunggu dulu, Miss.” Ucap Peter saat melihat Kyra akan berlari menuju gerbang. Wanita bertubuh mungil itu berhenti dan memperhatikan Peter yang tampak mengambil sesuatu di jas hitam nya.
“Miss bisa gunakan ini jika Miss ingin membeli sesuatu.” Pria itu menyodorkan sebuah kartu hitam dengan sisi bergaris gold.
Kyra mengerutkan dahinya dengan heran lalu menatap Peter kembali.
“Apa itu punya mu? Tidak perlu, aku hanya berjalan di taman saja kok.” Jawab Kyra sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sepertinya Kartu tersebut Limited Edition.
“Ini bukan milik saya. Tuan Adrian memberikannya jika nanti anda membutuhkan sesuatu.” Peter kembali menyodorkan kartu tersebut.
“Benarkah? Baiklah. Terimakasih Peter!” jawab wanita itu cepat dan akhirnya mau mengambil kartu hitam itu. Dia segera berlari menuju gerbang yang dijaga dua orang Bodyguard bertubuh kekar dan pakaian resmi mereka.
Peter menatap bayangan Kyra yang sudah menghilang dari pandangannya dan segera meraih ponsel untuk menelpon.
“Tuan, Miss bilang dia akan ke taman. Apakah saya harus menyuruh para pengawal mengikutinya?” tanya Peter. Mata Cokelat madu nya menatap para pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka.
“Ikuti dia Peter. Kita lihat apa yang di lakukan wanita licik itu pada kartu kredit ku.” Terdengar jawaban di seberang telepon.
“Baik tuan. Akan saya laksanakan.” Jawab Peter patuh. Dia segera memberi kode kepada para pengawal yang sudah berada di belakangnya.
“Jangan sampai ketahuan.” Perintahnya yang di balas jawaban tegas dari para pengawalnya.
Peter lalu menatap Para pengawal yang sudah menghilang di tikungan jalan. Mengikuti arah bayangan Kyra.
*