
Kevin menatap acuh pada mereka, dirinya sedikit mengangguk pada Zayden lalu melanjutkan langkahnya diikuti keempat saudaranya yang tampak bahagia dan santai.
Saat mengambil dua langkah tiba-tiba Zayden yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara : "tunggu,gue belum selesai"
Jeff yang melihatnya langsung menghela nafas lega, berbeda dengan Kevin dan para saudaranya yang menatap bingung pada Zayden yang tersenyum tipis.
Ardian mengerutkan kening : "kenapa? bukannya masalahnya udah selesai?"
Savian mengangguk : "tau tuh,kan tadi Lo juga bilang terima permintaan maaf kita-kita, jangan bilang Lo nyesel sekarang?"
Vlora mengendus : "dasar labil!"
Qirani mengangguk kecil sambil meniru ucapan Vlora : "dasar labil!"
Vlora menatap Qirani gemes dan langsung mencubit pipi tembam Qirani : "gemesin banget sih Lo Qi"
Qirani meringis dan langsung lari dari cengkraman ganas Vlora : "ihhh Vlora jahat!"
Kevin hanya menatap sekilas para saudaranya lalu mengalikan tatapannya pada Zayden : "mau Lo apa?"
Zayden menyipitkan matanya : "kalian udah melanggar peraturan sekolah dan kalian juga buat kerusuhan dan hampir aja mencelakai murid karena kalian anak baru dan kebetulan gak ada yang terluka maka gue kasih hukuman lari lapangan 20 kali"
Savian melotot tak percaya : "20?! pagi-pagi gini Lo suruh kita lari-lari dilapangkan yang luasnya minta ampun kayak gitu?Lo waras?!"
Zayden memiringkan kepalanya : "bukannya ini udah termasuk ringan bagi kalian? selain itu kalian sendiri kan yang bilang mau tanggung jawab, sekarang kalian berubah pikiran?"
Savian langsung terdiam merasa tersindir dengan kata-kata Zayden yang mengikuti ucapannya tadi, Ardian menghela nafas : "kita gak berubah pikiran, karena kita salah maka kami tanggung jawab tapi harus banget sekarang?kami belum dapat pembagian kelas loh"
Dion terkekeh : "kalian gak perlu khawatir, Zayden itu ketua Osis disini dan dia bakal jelasin sama kepala sekolah dan para guru, sekarang masalahnya selesai kan?"
Ardian mengerutkan bibirnya : "tapi kan..."
Kenneth tiba-tiba tertawa membuat mereka menatapnya : "gak perlu ragu, sekolah ini punya keluarga gue jadi gak bakal ada guru yang bakal komplain sama kalian,jadi kalian bisa lari dengan ketenangan pikiran "
Ardian tertegun lalu menatap Kenneth dengan rumit,Kevin yang diam pun angkat bicara : "gue sama saudara gue setuju,tapi dengan satu syarat "
Rery tersenyum sinis : "kalian ini lagi dihukum tapi masih sempat berkompromi ya"
Vlora menatap datar Rery : "santai aja dong ngomongnya,ngajak berantem Lo?!"
Rery tak menganggap serius perkataan Vlora,dia hanya memutar matanya malas dan memilih diam tak ingin melanjutkan pembicaraan ini lebih lama lagi.
Zayden menatap sejenak Kevin : "katakan"
Kevin menunjuk Vlora dan Qirani yang bingung : "mereka berdua gak perlu lari lapangan, hukuman mereka biar kami bertiga yang tanggung"
Ardian dan Savian mengangguk setuju dan menjawab serentak : "kami setuju "
Zayden yang ingin menjawab langsung terpotong dengan Vlora yang berkata penuh semangat : "gak!gue sama Qirani gak setuju ya!Lo pada ngira kami lemah gitu karena kita perempuan?! jangan anggap kami lemah ya, karena ini hukuman buat kita lima maka kami harus kena gak ada yang namanya kalian nanggung hukuman kami!"
Savian melotot : "kami gak anggap kalian lemah tapi nanti kalian kecapean mending kalian duduk santai dari pada Keringatan gitu kan?dan buat Lo Qi,Lo gak bakal bisa hapus kita dari daftar Abang Lo karena sampai kapanpun kami tiga bakal selalu jadi Abang Lo"
Vlora menatap tak suka : "intinya kami ikut!bodoamat mau itu 50 kek atau 20 kek ,gue gak peduli!"
Kevin menghela nafas dengan kekerasankepala kedua saudarinya, Qirani yang menatap Kevin enggan pun langsung menghampiri Kevin dan menarik-narik jeket Kevin seperti yang dia lakukan saat ingin meminta sesuatu : "boleh ya? Qirani sama Vlora gak bisa ngelihat kalian dihukum dan bahkan hukuman kita kalian yang tanggung, Qirani gak sanggup Vin"
Kevin mengusap air mata Qirani yang jatuh lalu menatap lembut Qirani : "yaudah boleh, jangan nangis ya Qi, maafin gue karena gara-gara gue kalian jadi dihukum kalo aja tadi gue bawa mobil dengan lebih hati-hati "
Qirani menggeleng : "bukan salah Kevin!salahin aja mobilnya karena maju sendiri! "
Kevin terkekeh geli : "iya-iya bukan salah Kevin tapi mobilnya "
Qirani mengangguk lucu : "hmm!"
Kevin memperbaiki rambut Qirani yang berserakan lalu menatap Zayden : "oke,kami sepakat "
Tanpa menunggu tanggapan mereka,Kevin dan para saudaranya pergi dari parkiran menuju lapangan tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
Zayden menatap mereka dengan rumit,dia sedikit bingung entah kenapa dirinya jadi merasa bersalah bahkan dia berpikir apakah dia sudah terlalu berlebihan?
Kenneth pun hampir sama dengan Zayden, dirinya bahkan tidak lagi dapat tertawa,dia pikir mereka akan membantah atau membuat alasan lainnya setidaknya dengan begitu mereka bisa terus mengolok-olok kelima saudara itu tapi siapa sangka dua saudari itu malah ingin ikut dihukum bersama ketiga saudaranya dan bahkan ketiga saudara itu enggan membuat kedua saudarinya menderita.
Boy menggaruk kepalanya yang tak gatal :" kok gue ngerasa bersalah ya? padahal kan disini mereka duluan yang salah"
Sylas mengangguk kaku sambil melirik sekeliling dimana mata para siswa dan siswi lain memandang mereka dengan tercela : "Lo benar mana para murid lihat kita kek ngelihat orang paling berdosa"
Waldi meringis : "kita gak mungkin tarik omongan lagi kan, gimana kalo kurangin aja hukumannya?"
Rery menatap Waldi setuju : "gue setuju,lagian lapangan luas gitu pastinya berlebihan banget buat mereka mana gak ada yang terluka juga kan"
Sylas menghela nafas : "lagian mereka juga udah minta maaf meskipun mereka ngomong ngeselin dan buat darah tinggi "
Kenneth mengerutkan bibirnya tak bicara dan hanya melirik Zayden, Zayden yang paham pun sedikit lega lalu melangkah menuju kelima bersaudara tersebut.
Jeff berteriak : "ketua,mau kemana!"
Zayden menjawab santai sambil tetap melanjutkan langkahnya : "ngurangin hukuman"
Sylas bergegas menyusul : "gue ikut ketua!"
Jeff ikut menyusul tetapi langsung berhenti dan menatap Dion kesal : "tungguin gue kali!ayo Dion cepet, ngapain diam di situ"
Dion mengikuti Jeff yang menarik dirinya dengan tergesa-gesa : "sabar kali Jef,gak usah main tarik-tarik,dikira gue sapi apa"
Jeff mengendus : "siapa suruh Lo dari tadi diam,udah deh mending nurut aja gak usah banyak omong!"
Dion menghela nafas tak berdaya : "terserah Lo deh"