It's Not Just About You And Me But Us

It's Not Just About You And Me But Us
"Lo ngode gue buatin gini bang?"



Savian menatap curiga : "Lo ngode gue buatin gini bang?"


Rio menghela nafas : "gak deh,gue gak sanggup beli semua bahannya"


Savian menjawab santai : "oh,kalo Lo mau buat sendiri aja tuh masih ada dibelakang emas sama berlian sisa kalung yang gue buat,kalo Lo mau ambil aja semua"


Rio melotot tak percaya : "hah! jangan bercanda deh Lo"


Rio bersyukur dia gak punya penyakit jantung kalo gak Rio jamin 100% dia pasti udah serangan jantung saat ini,bosnya kalo bercanda gak main-main deh.


Savian mengerutkan kening : "gue gak bercanda,tuh masih dibelakang rencananya mau gue buat ke gudang soalnya gue emang gak butuh lagi"


Rio berjalan kebelakang dan memang benar ada tiga emas batangan dan berlian yang bersinar : "Astaghfirullah,bos benar kan?gue boleh ambil semua ini?!"


Savian mengangguk dan mengibaskan tangannya : "ambil aja semuanya"


Rio memekik gembira,dia gak akan menolak rejeki yang udah ada didepan pintu apa lagi yang ngasih bos kaya.


Rio memeluk Savian : "makasih banyak bos!"


Savian mendorong Rio menjauh lalu melihat sekeliling yang sepi dan menghela nafas lega,dia menatap jijik pada Rio : "Makasih sih iya tapi jangan sembarangan peluk deh,nanti kalo ada yang salah paham gimana?"


Savian tuh tau rumor di laboratorium miliknya yang lagi panas-panasnya,yaitu tentang dia yang dikatain gak suka cewek dan punya hubungan khusus sama Rio.Savian kan kesal lagian gini-gini dia masih suka sama cewek cantik tapi belum nemuin yang bisa ngambil hatinya aja.


Rio mengangguk rambutnya yang tidak gatal sambil menyengir : "hehe,lupa bos"


Tanpa mereka sadari disudut pintu masuk ada dua orang wanita yang memotret dengan cepat saat Rio memeluk Savian tadi, mereka dengan cepat pergi dari sana dengan gembira.


Wanita A menatap rekannya dengan semangat : "Gue bilang juga apa!bos itu punya hubungan khusus sama Rio mangkanya bos gak pernah deket cewek kecuali keluarganya sendiri!"


Wanita B mengangguk setuju : "benar banget,bos ternyata bisa romantis gitu ya sampai megang kalung yang indah mana pasti mahal lagi pasti itu buat Rio"


Wanita A tersipu : "kita posting aja ke grup kali ya?biar banyak yang tau tentang kisah cinta mereka, sekalian biar para wanita yang ada di sini pada sadar diri dan gak bakal mengharap lebih sama bos"


Wanita B tersenyum : "langsung aja posting,biar banyak yang dukung hubungan cinta mereka.Gue jadi kagum deh sama mereka, mulai sekarang gue bakal jadi pendukung terdepan hubungan mereka!"


Wanita A mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah grup khusus karyawan : "gue juga bakal jadi penggemar terdepan mereka!"


•••


Sehari sebelum sekolah dimulai,didalam ruang tamu keluarga Adhitama.


Ardian menatap sekeliling : "mami,papi udah pergi?"


Qirani mengangguk : "udah"


Savian hanya bergumam lalu menatap para saudaranya : "gue mau ngasih sesuatu buat kalian"


Kevin menatap sekilas : "apa?"


Savian tidak langsung menjawab tapi mengeluarkan lima kotak transparan disampingnya : "nih, sebuah kalung dan disitu terukir nama masing-masing"


Vlora melihat dengan semangat : "wow,ini indah banget Vi"


Savian terkekeh : "selain indah, kalung ini punya banyak manfaat seperti terdapat alat pelacak jadi kalo semisal ada keadaan darurat kita bisa tau salah satu lokasi dari kita dan gue juga buat fitur perekaman suara siapa tau bakal berguna kedepannya"


Ardian menatap bingung : "tumben Lo gak ada ngabari kami soal ini sebelumnya?"


Bukannya apa, biasanya Savian tuh kalo mau buat barang berguna kayak gini buat mereka pastinya Savian bakal ngasih tau dulu karena ingin pamer.


Savian hanya menjawab seadanya : "biar jadi kejutan"


Qirani tersenyum manis : "ihh,punya Qirani imut banget, makasih ya Vi"


Savian mengangguk : "syukurlah kalo Lo suka"


Vlora : "punya gue juga cakep, makasih ya saudara tersayang"


Savian memutar mata : "kalo ada maunya baru manggil saudara tersayang Lo"


Vlora menyengir : "tuh Lo tau"


Savian : "..."


Kevin yang sadari tadi diam angkat bicara : "besok sekolah bakal mulai"


Ardian mengenal saudaranya yang acuh pada sekeliling dengan baik, bagaimana pun Kevin gak bakal asal bawa topik ini kalo tidak penting.


Kevin hanya melirik sekilas Ardian lalu mengalikan tatapannya pada saudaranya yang lain untuk mencuci matanya dari yang namanya virus bodoh.


Ardian yang menatap serius : "..."


Kevin : "gue udah selidiki sekolah tempat kita nantinya, sekolah para bangsawan seperti namanya pastinya ada sistem kasta"


Kevin merasa tenggorokannya sakit dan melihat sebuah jus yang belum diminum dan langsung meminum habis.


Vlora mengerutkan kening : "sistem kasta?"


Kevin menjawab singkat : "iya,yang berkuasa menindas yang lemah"


Savian hanya terkekeh kecil : "lalu?apa yang perlu dikawatirkan coba?kita keluarga Adhitama adalah yang teratas dikalangan atas bukan?entah itu di Indonesia atau luar negeri setidaknya kita selalu masuk tiga besar keluarga kaya didunia"


Ardian mengangguk setuju : "Savian benar,jadi kalo pun pake sistem kasta mereka gak bakal berani memprovokasi kita-kita"


Kevin menggeleng : "Lo tau kan,jika yang biasanya ada dipusat perhatian orang-orang dan disanjung tiba-tiba malah gak jadi pusat perhatian lagi bakal jadi apa? apalagi dari keluarga kaya yang pasti dimanjakan oleh keluarga dari kecil "


Vlora menatap serius : "apa yang dibilang sama Kevin ada benarnya, meskipun kita keluarga kaya teratas tapi hal itu gak bisa menghentikan orang berbuat jahat dengan kita entah dengan cara kotor apapun itu"


Qirani menatap coklat ditangannya yang tiba-tiba tidak terasa enak : "Benar,kita gak bisa nebak hati manusia.Seperti kata mami dan papi hati manusia itu ribet bahkan lebih ribet dari pada ngitung jumlah rambut manusia"


Kevin mengangguk setuju : "itu sebabnya gue ngabari kalian dari awal"


Ardian memainkan kalung di jari-jarinya : "kenapa papi daftarin kita disekolah kayak gitu?"


Savian ragu-ragu : "mungkin... karena papi berpikir agar kita bisa melihat lebih banyak manusia dengan hati berbeda-beda?lagian selama ini kita selalu dilindungi oleh papi kan?gue tebak papi gak bakal sembarangan daftarin kita disana sebelum memastikan keamanan kita-kita"


Vlora : "apa yang Lo bilang benar, pastinya papi udah lebih dulu memastikan bahwa kita bakal baik-baik aja disana"


Kevin menatap mereka dengan serius : "kalian benar,jadi bersikap seperti biasanya aja.Gue cuman ngingetin kalian jangan terlalu ceroboh dan bahkan dikambing hitamkan sama orang lain"


Semuanya mengangguk dengan pahaman diam-diam diantara mereka, bagaimana pun mereka berasal dari keluarga kaya yang pastinya memiliki banyak musuh diluar.


Sejak kecil setidaknya mereka sudah belajar cara menjaga diri sendri dan tau tentang pahaman orang baik dan buruk selain itu papi mereka akan selalu melindungi mereka secara diam-diam ataupun terang-terangan.


Ardian bertanya sedikit penasaran : "tapi Vin,gue mau tau deh.Kan Lo bilang itu sekolah bangsawan dengan sistem kasta nah apa siswa kalangan atas disana semua pada menindas anak dari kalangan berbeda dari mereka?"


Kevin menggeleng : "gak semua sih, sebenarnya yang statusnya tinggi disama gak bakal mempersulit siapapun kalo gak ada yang memprovokasi duluan hanya saja orang-orang yang ceroboh dan menganggap berkuasa selalu bertingkah seenaknya"


Ardian mengangguk paham tapi kata-katanya penuh dengan ejekan : "Oh, ternyata hanya orang kaya yang belum lihat arti antara langit dan bumi"


Savian tertawa dan setuju : "Haha,Lo benar "


Qirani yang dari tadi diam tiba-tiba berdiri membuat empat orang disana melihat bingung pada Qirani.


Vlora yang ingin bertanya ada apa tiba-tiba terhenti melihat Qirani yang sudah pergi dengan cepat tanpa sempat menghentikan.


Vlora : "Qirani kenapa?"


Savian menatap bingung : "gue juga gak tau,dia tiba-tiba aja langsung pergi"


Ardian mengerucutkan kening : "biar gue lihat,siapa tau ada masalah"


Vlora tidak langsung setuju : "gue ikut kalo gitu"


Savian : "gue juga"


Kevin tidak berbicara tapi matanya mengungkapkan bahwa dia juga ikut.


Ardian menghela nafas panjang tapi setuju :"oke"


|√|KEVIN ARDANA


•Anak pertama Mami Elvina dan Papi Delvin


•Umur : 17 tahun


•Pintar bisnis di usia muda,bahkan saat usia 13 tahun Kevin berhasil memenangkan proyek senilai ratusan juta.Karena itu Kevin adalah pewaris keluarga Adhitama selanjutnya yang sudah diakui seluruh keluarga Adhitama dan keluarga kaya didunia.