
Pukul sembilan malam, Keanu dan Liam meninggalkan rumah Carlo. Sebelum pulang ke rumahnya sendiri, Liam mengantar Keanu terlebih dahulu.
Saat dalam perjalanan pulang, Liam tidak sedikitpun menyinggung tentang ancaman Carlo mengenai pengambilalihan bisnis yang dijalankan Keanu jika laki-laki itu bersikukuh dengan pendiriannya.
Namun, pertanyaan Keanu justru membuat Liam tersentak kaget.
"Apakah menurutmu wanita itu mengandung anakku?" tanya Keanu. Ia bertanya tanpa menoleh, matanya fokus menatap jalanan yang lenggang.
Liam terdiam sesaat. "Sejauh yang aku tahu, dia tidak punya kekasih dan tidak menjalin hubungan dengan laki-laki manapun," jelas Liam. Ia tahu betul, karena sebelumnya ia sudah mencari tahu segala hal tentang Bella.
"Lalu, bagaimana jika anak dalam kandungannya itu benar anakku?" tanya Keanu.
Entah apa yang ada dalam pikiran Keanu, Liam tidak bisa memberi jawaban.
"Bagaimana cara mengetahuinya?" tanya Keanu lagi. "Haruskah aku berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan tes DNA?"
"Tentu, aku akan mengaturnya. Kau mengambil langkah yang tepat, Bos," jawab Liam sambil menganggukkan kepala. Entah sejak kapan Keanu memikirkan hal ini, namun Liam yakin jika Keanu sudah benar-benar mengambil keputusan.
Keesokan harinya, Liam menghubungi dokter kenalannya untuk menanyakan perihal tes DNA yang bisa dilakukan untuk mengetahui ayah biologis dari bayi yang masih berada dalam kandungan. Dokter menjelaskan jika tes DNA sudah bisa dilakukan jika kandungan sudah berusia lebih dari sepuluh minggu, namun hasilnya akan lebih akurat jika menunggu hingga minggu ke dua belas.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Liam langsung menyampaikannya pada Keanu. Tanpa banyak berpikir, Keanu menyempatkan diri untuk datang ke restoran tempat Bella bekerja sebelum pergi ke kantornya.
Pagi itu, restoran bahkan belum buka. Keanu duduk menunggu di mobil dan mengamati para pegawai yang mulai berdatangan untuk bersiap membuka restoran.
Beberapa saat kemudian, Keanu melihat seorang wanita dengan dress putih selutut dan jaket jeans sedang memasuki restoran. Wanita berambut panjang bergelombang itu menyapa rekan kerjanya dengan ramah dan sopan.
Setelah yakin jika wanita itu adalah orang yang ia cari, Keanu bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran.
"Maaf, Tuan. Kami belum buka," tegur salah seorang pegawai.
"Aku ingin bicara dengan salah satu pegawai di sini, Isabella namanya," ujar Keanu.
"Ya!" Keanu mengangguk.
Seorang pegawai pun langsung bergegas masuk ke ruang pegawai dan memanggil Bella.
Saat tahu jika seseorang yang sedang mencarinya adalah Keanu, Bella hendak berbalik dan pergi, namun Keanu buru-buru menarik lengannya.
"Aku ingin bicara," ucap Keanu dengan tatapan mata yang tegas dan tajam.
"Kita tidak ada urusan lagi. Jangan pernah menemuiku," tegas Bella. Ia menepis tangan Keanu dan berbalik, berjalan beberapa langkah meninggalkan Keanu.
"Apakah itu anakku?" tanya Keanu. Nada suaranya lantang, hingga terdengar dengan jelas oleh sebagian pegawai yang sibuk menata meja dan menyiapkan keperluan restoran.
Bella memperhatikan sekelilingnya, semua orang yang mendengar tampak penasaran. Mereka diam, seolah sedang menunggu jawaban apa yang akan Bella ungkapkan.
"Tidak!" seru Bella tegas.
"Siapa ayah dari anak itu?" tanya Keanu. Mengapa ia justru terlihat tidak puas dengan jawaban Bella? Bukankah itu yang ia harapkan?
Mendengar pertanyaan itu, Bella kembali, ia mendekat tepat di hadapan Keanu. Jarak keduanya kini sangat dekat.
"Bukankah itu lancang dan kurang ajar jika menanyakan privasi orang lain seperti ini. Siapapun ayah dari anak ini, itu bukan urusanmu!" seru Bella. Tatapan matanya tajam, tidak ada sedikitpun keraguan dalam kata yang ia ucapkan.
Keanu terdiam, menatap wanita itu dengan tenang. Ia bisa saja menyeret wanita itu keluar dari restoran dan membawanya pergi untuk melakukan tes DNA saat ini juga. Namun mengingat situasi yang mereka hadapi, Keanu tidak boleh terpancing emosi.
Bella berbalik, berjalan meninggalkan Keanu yang masih berdiri mematung. Sementara Keanu menggertakkan giginya, tidak percaya jika wanita itu cukup berani bersikap dingin di hadapannya.
...****************...