
Bella sangat menikmati pekerjaannya sebagai pelayan restoran, ia memiliki rekan kerja yang baik dan sangat perhatian padanya. Di restoran ini, semua pegawai tahu jika Bella sedang hamil, dan mereka dengan suka rela membantu setiap pekerjaan Bella agar wanita itu tidak bekerja terlalu keras demi kesehatan bayinya.
Malam hari saat restoran sudah hampir tutup, para pengunjung berangsur pergi, tersisa hanya beberapa orang yang masih menghabiskan makanan mereka.
Saat itu, Carlo datang seorang diri. Dengan tongkat jalan di tangannya, Carlo berjalan masuk ke dalam restoran.
Secara kebetulan, Bella datang menyapa dan memberikan buku menu.
"Saya tidak tahu, makanan apa yang bisa saya pesan," ujar Carlo.
Bella tersenyum dan mengambil alih buku menu.
"Apa makanan kesukaan anda?" tanya Bella.
"Ah, saya memiliki kadar kolesterol yang cukup tinggi. Jadi saya harus berhati-hati memilih makanan," jawab Carlo.
"Saya bisa menyarankan anda untuk makan makanan yang rendah lemak, sebaiknya lebih banyak makan sayur dan kacang-kacangan," terang Bella.
"Tapi saya ingin makanan yang lezat. Semua orang hanya menyuruh saya makan sayur, saya bosan!" keluh Carlo.
Bella mengangguk pelan. "Bagaimana jika steik salmon? Salmon mengandung lemak sehat. Selain enak, itu juga tidak akan membahayakan kesehatan anda," jelas Bella.
"Tentu saja, saya pesan steik salmon, dan segelas jus jeruk tanpa tambahan gula," ujar Carlo.
Setelah menerima pesanan, Bella segera ke dapur untuk menyerahkan catatan pada koki restoran.
Carlo tersenyum kecil, ia sengaja datang ke restoran ini hanya untuk melihat lebih dekat siapa wanita yang telah menjadi korban kegilaan anaknya. Carlo merasa kasihan pada Bella, wanita muda itu, pasti sangat menderita karena ulah tidak bertanggungjawab Keanu.
Hanya berselang lima belas menit, Bella datang membawa pesanan. Bella meletakkan steik salmon terlebih dahulu di atas meja, kemudian segelas jus jeruk sesuai permintaan.
Namun, secara tidak sengaja Carlo menyenggol gelas kaca berisi jus jeruk yang masih penuh. Dengan cepat, gelas itu jatuh ke lantai. Bella sedikit mundur, ia berjengit kaget. Sesaat, Bella merasakan sesuatu menyakiti kulitnya. Pecahan gelas berserakan dan jus pun tumpah membanjiri lantai.
Meski begitu, Bella bergegas mengambil tisu dan mengelap kaki Carlo. Wanita itu melihat kaki Carlo tergores pecahan beling hingga mengeluarkan darah, Bella membersihkannya dengan hati-hati.
"Maafkan saya, anak muda," ujar Carlo.
Bella kembali dengan cepat, ia pun membersihkan kaki Carlo dan mengolesnya menggunakan obat merah. Tidak lupa, Bella juga menempelkan plaster luka untuk mencegah luka terinfeksi.
Carlo tersenyum, ia mengamati Bella dan berterima kasih atas kebaikan wanita itu. Carlo melihat kaki Bella, bahkan wanita itu tidak sadar jika kakinya sendiri terluka. Darah segar mengalir dari tungkai bawahnya.
"Nak, kakimu terluka," ucar Carlo.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya baik-baik saja," jawab Bella. Ia pun pamit untuk pergi, namun sebelum itu ia kembali ke dapur untuk meminta koki membuat jus jeruk yang sama sebagai ganti jus yang tumpah.
Carlo bisa melihat dengan jelas kebaikan hati Bella, ia mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Meskipun Carlo tahu bahwa melayani pelanggan dengan baik adalah tuntutan pekerjaan, namun ketulusan Bella sangat terlihat jelas di matanya.
Setelah meninggalkan Carlo, Bella menuju ruang pegawai, ia membersihkan kakinya yang terluka. Namun, wanita itu melamun beberapa saat. Ia seperti pernah melihat Carlo, mereka seakan pernah bertemu, namun Bella tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
...****************...
Sejak malam itu, Carlo mulai sering datang ke restoran. Ia mengamati Bella diam-diam, sekaligus ingin tahu lebih banyak hal tentang wanita itu.
Namun sayangnya, hari ini Carlo tidak bisa menemukan wanita itu dimanapun. Saat ia datang pagi hari, tidak terlihat Bella ada di sana. Carlo bahkan kembali datang saat sore dan malam hari, namun tak kunjung menemukan keberadaan Bella.
Rupanya, wanita itu tidak lagi bekerja. Sang pemilik restoran, tiba-tiba memberhentikannya tanpa alasan yang jelas. Baru saja wanita itu merasa nyaman dengan pekerjaannya, namun kini ia harus kembali menganggur.
Bella tidak tahu di mana letak kesalahannya, ia tidak pernah merasa berbuat salah atau melakukan pelanggaran sebagai pegawai. Namun belum genap satu bulan ia bekerja, ia justru dipecat.
Bella melihat amplop putih berisi uang, ia membuka amplop tersebut dan menghitungnya.
Hari ini, ia harus mentransfer sejumlah uang pada seorang rentenir dari desa asalnya. Karena sebuah masalah di masa lalu, orang tuanya terjerat hutang besar dengan bunga yang tinggi. Sampai kini, Bella harus terus mencicilnya karena hutang yang tak kunjung lunas.
Sementara itu, awal bulan depan Bella harus membayar biaya sewa tahunan rumah yang kini ia tinggali. Karena saat ini ia menganggur dan tidak mungkin lagi bekerja dengan bayaran yang cukup tinggi, maka Bella berencana untuk mencari rumah yang lebih kecil.
Bella memejamkan matanya, ia ingin menangis, namun air matanya seakan mengering. Ia harus kuat, ia harus bangkit. Ia tidak boleh lemah, karena kini ia tidak sendiri.
...****************...