ISABELLA

ISABELLA
Wanita Buruk



Di depan gerbang rumah, Carlo melihat Keanu dan Liam yang sedang berdiri di samping bodi mobil mereka. Terlihat dengan jelas kedua laki-laki itu tampak kesal dan geram.


"Kenapa masih di sini?" tanya Carlo.


"Pa, kami datang untuk ...."


"Bukankah Papa sudah meminta kalian untuk tidak datang kemari untuk sementara waktu? Cepat pergi," pinta Carlo.


"Paman, maafkan kami," sela Liam.


"Sebenarnya, apa salah kami sampai Papa melarang kami datang kemari? Ini rumahku juga, Pa. Apa semua ini karena wanita itu?" tanya Keanu. "Sekarang, kami bahkan tidak tahu dimana dia," keluhnya.


"Kembalilah ke kantor, Papa akan menyusul kalian," ujar Carlo.


"Tapi, Pa. Biarkan kami masuk." Keanu memohon. Namun Liam menahan lengan laki-laki itu sambil menggeleng pelan.


Seharusnya mereka sadar, keputusan Carlo tidak pernah bisa ditawar. Mereka hanya perlu menurut agar masalah tidak semakin besar.


Sesuai perintah Carlo, Keanu dan Liam akhirnya pergi dari rumah itu dan langsung menuju kantor. Sementara Carlo, langsung menyusul mereka setelah mengambil beberapa barang penting dari dalam kamarnya.


Sesampainya di kantor, Carlo menemui Keanu dan Liam yang sudah menunggu di ruangan mereka. Dua laki-laki itu tampak resah, bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa. Kemarahan Carlo bisa-bisa membuat Keanu kehilangan perusahaan yang selama ini ia bangun.


Saat tiba di ruangan putranya, Carlo langsung duduk di sofa, menatap dua laki-laki yang sedang menunggu penjelasan atas kesalahan mereka.


"Jadi, apa kalian sudah tahu kesalahan kalian?" tanya Carlo.


"Apa ini soal wanita itu?" Keanu balik bertanya. Carlo diam, menatap tajam putra semata wayangnya.


"Pa, aku sudah bilang akan menyelesaikan masalah itu sendiri. Liam membantuku, Papa tahu sendiri Liam tidak pernah gagal menangani masalah apapun selama ini," jelas Keanu.


"Apa wanita itu masalah bagimu? Bukankah kalian yang menjadi masalah baginya?"


Keanu terpojok, Liam menelan ludah kasar.


"Apa kalian sadar jika kalian sudah membuat wanita tidak bersalah itu menderita? Bahkan tanpa ulah kalian, dia sudah cukup sengsara. Kau tahu itu, Liam?" Carlo menoleh pada Liam.


"Ya Paman," jawab Liam lirih.


"Apa kalian tidak merasa bersalah?" tanya Carlo sambil menatap keduanya bergantian.


"Aku hanya ingin mengetahui tentang bayi dalam kandungannya, itu saja. Tapi dia sangat keras kepala," jawab Keanu.


"Untuk apa kau ingin tahu? Kau tidak berniat merampasnya, kan?"


"Pa ...."


"Cukup!" seru Carlo. "Mulai sekarang, Papa yang akan mengurus masalah itu. Kalian hanya perlu diam dan menunggu. Jangan membuat masalah!"


"Apa Papa tahu di mana dia?"


Keanu hanya bisa menarik napas dalam-dalam sambil menahan rasa penasaran di dadanya. Ia tidak tahu apa yang sedang Carlo rencanakan. Namun ia benar-benar tidak tahan jika harus diam dan menunggu untuk mengetahui kebenaran tentang bayi dalam kandungan Bella.


......................


Sejak hari itu, Keanu dan Liam tidak lagi berusaha menerobos masuk ke dalam rumah Carlo. Mereka tidak punya cukup nyali untuk menentang perintah Carlo dan menyebabkan masalah bertambah runyam.


Kini, Bella telah bekerja di rumah Carlo selama satu minggu. Wanita itu sangat mencintai pekerjaannya. Meskipun ia tengah hamil dan sangat dimengerti oleh pelayan lain, hal itu tidak membuat Bella bermalas-malasan dan manja.


Bella selalu berusaha mempelajari banyak hal. Ia membantu semua pekerjaan pelayan asal ia mampu. Mulai dari memasak, hingga mengurus taman.


Bella sama sekali tidak menaruh curiga terhadap kebaikan Carlo selama ini. Wanita itu justru merasa iba pada Carlo, karena di rumah besar bagaikan istana ini, laki-laki tua itu hidup kesepian tanpa anak dan istri. Bahkan diusianya yang sudah lanjut, harusnya ia sibuk bermain dengan cucunya.


Bella dan Carlo banyak mengobrol diwaktu luang. Bella sering menemani Carlo duduk minum teh di siang hari sambil bercerita.


Carlo ingin tahu banyak hal tentang Bella, sementara Bella juga merasa senang bisa berbagi cerita.


Seperti siang ini, Bella dan Carlo duduk di halaman belakang rumah sambil memberi makan kelinci peliharaan Carlo.


"Bella, putraku melakukan sebuah kesalahan fatal. Dia berbuat jahat pada seseorang dan menyakiti orang tersebut. Menurutmu, hukuman apa yang bisa aku berikan?" tanya Carlo. Ia dan Bella sudah semakin dekat, hingga mereka mulai mengobrol dengan santai.


"Sebagai orang tua, anda memang harus memberi hukuman untuk memberikan efek jera. Namun, yang lebih penting adalah membawa kembali putra anda ke jalan yang benar. Bukankah semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya?"


"Hmm." Carlo mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Aku ingin membantu putraku menebus kesalahannya. Apakah menurutmu perbuatanku benar?"


"Bukankah putra anda sudah dewasa, Tuan. Seharusnya dia lebih jantan untuk menghadapi masalahnya sendiri," jawab Bella.


"Kau benar, Bella. Tapi terkadang, usia saja tidak bisa membuat seseorang tumbuh menjadi dewasa dengan pikirannya. Ada beberapa orang yang menua, namun tidak dengan isi kepalanya."


Bella tersenyum samar. Ia jelas tidak paham dengan maksud dan tujuan Carlo membicarakan hal itu.


"Bella, bolehkan aku bertanya sesuatu?" ucap Carlo. Bella mengangguk.


"Kenapa kau memilih untuk mengurus dirimu sendiri dan berniat membesarkan anakmu seorang diri? Bukankah ada laki-laki yang seharusnya bertanggungjawab atas hal ini?"


Bella menghela napas sebelum memberi jawaban, wanita itu menunduk.


"Mungkin anda akan berpikir jika saya wanita yang buruk karena mengandung tanpa suami. Saya memang tidak pernah mengharapkan hal ini. Tapi, saya tetap bersyukur, dengan adanya bayi ini, saya akan memiliki keluarga, saya tidak akan sendirian lagi."


"Apakah kau akan memaafkan laki-laki yang telah berbuat jahat padamu dan memberimu penderitaan itu?"


Bella tersenyum dan menatap Carlo. "Mungkin saja saya memaafkannya, tapi tidak akan melupakan apa yang dia lakukan terhadap saya," jawabnya.


"Ada seseorang yang harus kau temui, Bella," ujar Carlo lirih.


...****************...