
Keesokan harinya, Carlo kembali ke rumah Isabella. Namun lagi-lagi wanita itu sudah pergi. Salah seorang anak buah Carlo memberi kabar jika Bella sedang berada di sebuah yayasan penyalur tenaga kerja. Tanpa berpikir panjang, Carlo menuju ke tempat tersebut.
Akan sangat mencurigakan jika Carlo tiba-tiba datang menemui Bella tanpa alasan. Laki-laki tua itu tidak gegabah untuk bertindak. Ia hanya ingin memastikan Bella aman dari Liam dan Keanu.
Siang hari, saat matahari bersinar cukup terik dan membakar kulit, Bella duduk di halte bus sambil sesekali mengusap keringat yang menetes di dahinya.
Bella tampak semakin kurus, hingga kehamilan yang baru berusia kurang dari empat bulan pun cukup terlihat buncit.
Carlo yang sudah lama mengamati Bella dan menunggu wanita itu keluar dar kantor yayasan penyalur tenaga kerja, perlahan mendekati wanita itu dan duduk di sampingnya.
"Halo, apa kabar?" sapa Carlo sambil tersenyum.
Bella menganggukkan kepalanya dengan sopan. Ia pun tersenyum ramah.
"Tuan, kenapa anda di sini? Kabar saya baik," jawab Bella.
"Hmm, hanya berkeliling. Tidak menyangka jika bisa bertemu denganmu di sini," jawab Carlo. "Ngomong-ngomong, saya tidak pernah melihatmu di restoran. Apa kau sedang cuti?" tanya Carlo pura-pura tidak tahu.
"Ah, itu. Saya di pecat," jawab Bella. Ia tetap tersenyum, seolah hal itu bukan masalah.
"Wah, sayang sekali mereka menyia-nyiakan karyawan baik sepertimu," gumam Carlo. "Lalu, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
"Saya memakluminya, Tuan. Mungkin karena kehamilan saya, jadi saya tidak bisa bekerja seperti karyawan lain. Saya sedang mendaftarkan diri ke yayasan penyalur tenaga kerja. Saya butuh pekerjaan," jawab Bella.
"Bagaimana jika bekerja untuk saya?" tawar Carlo.
Bella menoleh, kedua matanya berbinar. Ia pun tersenyum senang.
"Apakah anda memiliki lowongan pekerjaan untuk saya?" tanya Bella.
"Hmm, tentu saja." Carlo mengangguk. "Jika kau tertarik, datanglah ke alamat ini besok pagi, kau bisa langsung bekerja. Dan, ya, sudah disediakan tempat tinggal untukmu juga."
"Benarkah? Apa anda serius?" tanya Bella senang. Carlo mengangguk.
Melihat bagaimana usaha Keanu dan Liam menarik paksa Bella untuk memenuhi keinginan mereka, Carlo bisa menebak bahwa Bella bukanlah wanita biasa. Bella punya mental yang kuat dan berpendirian. Carlo tidak mungkin secara terang-terangan menjelaskan bahwa ia adalah ayah dari laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya. Carlo yakin Bella akan menolaknya.
Dan satu-satunya cara melindungi Bella adalah menjaganya agar lebih dekat.
...****************...
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bella memesan taksi. Ia berpakaian rapi dan bersiap untuk menemui Carlo. Saat taksi memasuki kawasan perumahan elite, Bella melongo. Ia bahkan bertanya pada supir taksi, apakah mereka tidak sedang tersesat?
Saat taksi berhenti tepat di sebuah rumah yang dikelilingi oleh gerbang besar. Saat turun dari taksi, Bella disambut oleh security untuk menanyakan maksud serta tujuannya datang.
"Saya ingin bertemu Tuan Carlo, nama saya Bella," jelas Bella. Ia memberikan secarik kertas berisi nama serta alamat yang sesuai.
Setelah security menghubungi Carlo untuk memastikan, Bella akhirnya diizinkan masuk setelah membayar biaya taksi.
Saat masuk ke halaman rumah, Bella takjub dengan kemegahan yang ada di depan matanya. Bella tidak menyangka jika ia bertemu dengan seorang milyarder dan kini akan bekerja padanya.
Setelah tiba di depan pintu utama, seorang pelayan menyambutnya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Bella.
"Akhirnya kau sampai. Apa kau sudah sarapan?" tanya Carlo. Bella terdiam, ia bahkan tidak sempat membeli sarapan pagi karena terlalu bersemangat untuk datang.
"Sudah, Tuan," jawab Bella berbohong. Ia malu sekaligus tidak enak hati jika kunjungan pertamanya menimbulkan kesan yang buruk.
"Ah, saya bahkan belum sempat sarapan. Ayo ke ruang makan, kita sarapan bersama sekaligus berbincang," ajak Carlo.
"Tapi, Tuan ...."
"Ayo, wanita hamil pasti mudah lapar. Tidak ada salahnya dua kali sarapan," ujar Carlo sambi tertawa kecil.
Bella pun mengangguk dan tersenyum. Ia mengikuti langkah kaki Carlo menuju ruang makan.
Di ruangan tersebut, terdapat meja makan dengan ukuran yang cukup besar. Dengan jumlah delapan kursi, Bella berpikir jika Carlo memiliki keluarga besar. Namun, tidak satupun terlihat ada orang lain selain pelayan di tempat ini.
Carlo duduk di kursi paling ujung, Bella dipersilahkan duduk di sampingnya. Jumlah air liur dalam mulut Bella seakan meningkat pesat saat melihat hidangan yang sangat banyak dan beragam. Dari jenis sayur-mayur, ikan, daging, serta buah-buahan, semuanya tersedia dalam satu meja.
"Ayo makan, makan apa saja yang kau suka," ujar Carlo. Bella bingung, apakah hanya ada mereka berdua?
"Apakah kita tidak menunggu orang lain?" tanya Bella.
"Semua makanan ini untuk kita. Saya tinggal sendiri. Jadi, nikmatilah," jawab Carlo.
Bella merasa sangat senang. Berkali-kali ia berterima kasih atas kebaikan hati Carlo padanya. Meskipun Carlo mempersilahkannya memakan apa saja ia inginkan, Bella dengan tahu diri hanya mengambil makanan secukupnya.
Sambil menikmati sarapan, Carlo bertanya pada Bella tentang wanita itu. Tentang pengalaman kerja, keluarga, dan hal-hal yang Bella sukai.
"Saya tidak yakin apakah anda benar-benar membutuhkan saya. Sepertinya, anda sudah memiliki banyak pekerja di rumah ini," ujar Bella.
"Saya punya riwayat kesehatan yang cukup buruk. Saya tinggal di rumah ini sendirian, saya butuh teman untuk mengobrol," jawab Carlo.
Bella tidak tahu, pekerjaan apa yang bisa ia lakukan. Melihat besarnya rumah ini serta jumlah pelayan yang sedari tadi mondar mandir mengurus banyak hal, Bella yakin Carlo sudah memiliki pekerja yang cukup.
"Sebelum menentukan pekerjaan untukmu, kau bisa membantu pelayan di rumah ini. Lakukan apa saja yang kau bisa, lalu kau bisa pilih pekerjaan apa yang ingin kau kerjakan," terang Carlo. Ia tidak ingin membuat Bella berpikiran buruk.
"Ah, baik. Saya mengerti."
Tidak hanya mendapatkan pekerjaan, Bella juga mendapatkan tempat tinggal. Untuk sementara, Carlo menyiapkan kamar yang sama seperti kamar para pelayan di rumah ini, yaitu rumah khusus di bagian belakang rumah utama sebagai tempat tinggal para pekerja.
Semua pekerja rumah ini mendapatkan fasilitas lengkap, dari keperluan pribadi hingga jaminan kesehatan.
Untuk beberapa hari kedepan, Carlo sudah menghubungi Liam dan Keanu agar mereka tidak menginjakkan kaki ke rumah ini. Carlo merasa jika belum saatnya mereka menemui Bella. Carlo ingin mereka merenungi kesalahan mereka agar tidak meremehkan orang lain. Selain itu, Carlo ingin Bella merasa nyaman dan aman terlebih dahulu.
"Sepertinya Paman benar-benar marah pada kita. Paman pasti sangat muak melihat kita sampai-sampai melarang kita datang ke rumahnya," keluh Liam pada Keanu setelah mendapatkan telepon dari Carlo.
...****************...