ISABELLA

ISABELLA
Amarah Carlo



Carlo terus merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Bella. Ia pun bertanya pada pegawai restoran karena sudah tiga hari lamanya ia datang dan pergi dari restoran namun tak kunjung melihat sosok Bella.


"Dia dipecat, Tuan," jawab salah seorang pegawai saat Carlo bertanya.


"Dipecat?" Carlo bertanya balik, ia terkejut. "Apa terjadi sesuatu? Dia sakit atau bagaimana?"


"Maafkan saya, Tuan. Semua orang juga tidak tahu alasan dia dipecat, tapi itu sudah keputusan manager restoran. Kami tidak bisa memberitahu anda karena itu bersifat rahasia."


Carlo menghela napas panjang. Ia memberikan sebuah tip pada salah seorang pegawai restoran agar mendapatkan alamat rumah Bella. Saat itu juga, Carlo bergegas meminta sopir pribadinya untuk mengantarnya ke alamat yang tertulis dalam secarik kertas.


Setelah sampai di rumah yang sesuai dengan alamatnya, Carlo mengetuk pintu, namun tak terlihat ada siapapun di sana. Suasana rumah tampak sepi, Carlo bahkan mengintip di jendela dan melihat sebuah koper besar sudah tertata di ruang tamu.


Hampir satu jam lamanya menunggu, Carlo tak bisa menemui wanita itu. Ia akhirnya pulang dan meminta Liam serta Keanu datang menemuinya. Carlo mempunyai firasat buruk, jika apa yang terjadi pada Bella adalah ulah mereka.


Setibanya di rumah, Carlo duduk di ruang tamu dengan perasaan cemas. Meskipun ia belum tahu pasti bayi siapa yang sedang Bella kandung, namun laki-laki tua itu merasa iba dan bersalah karena Keanu juga turut andil sebagai penyebab penderitaannya.


Hanya berselang beberapa menit, Liam dan Keanu datang dengan tergesa-gesa.


"Ada apa, Pa? Mendadak sekali, aku sibuk. Ada rapat penting satu jam lagi," keluh Keanu saat tiba.


"Lupakan rapat!" seru Carlo.


Mendengar nada suara serta melihat raut wajah Carlo yang tidak bersahabat, Keanu pun tidak membantah. Liam sedikit ketakutan, sepertinya Carlo tahu sesuatu dan itu adalah sebuah kesalahan.


"Apa yang kalian lakukan pada wanita itu?" tanya Carlo.


Keanu mengernyitkan dahi. "Wanita itu?" Ia balik bertanya.


"Isabella!" seru Carlo.


Liam menelan ludah kasar, jantungnya hampir meloncat dari rongga dadanya. Kini ia benar-benar takut.


"Itu urusanku, Pa. Aku akan menyelesaikan sendiri masalahku," jawab Keanu. Laki-laki itu pun bangkit, hendak pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Liam pun tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya mengikuti langkah kaki Keanu karena bingung.


"Dasar anak nakal!" seru Carlo. "Apa kalian akan pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun?" tanyanya.


"Sudahlah, Pa. Jika itu yang ingin Papa bicarakan, aku tidak akan mengatakan apapun. Aku akan pergi," jawab Keanu.


"Katakan sesuatu, Liam. Ke mana Isabella pergi? Kalian yang membuat dia dipecat dari pekerjaannya?" tanya Carlo sambil mengalihkan pandangan pada Liam.


"Benar, Paman." Liam mengangguk. Keanu melirik Liam sambil menghela napas.


"Bukan salah Liam, ini semua ideku," sela Keanu.


"Ya Tuhan, dosa apa yang aku lakukan hingga aku membesarkan anak-anakku seperti ini? Kalian sama sekali tidak punya hati nurani? Bagaimana bisa kalian melakukan itu? Kau, Keanu! Menggunakan kekuasaanmu seenaknya untuk menindas dan menghancurkan kehidupan orang yang lemah. Dan kau, Liam! Apa kau tidak bisa membantah dan menasehati Bosmu?"


Carlo marah besar, Liam dan Keanu hanya bisa berdiri mematung dan diam mendengarkan. Jika sekata saja mereka membantah, maka riwayat mereka akan tamat segera.


"Apa yang kau lakukan pada Isabella, dan apa yang kau ketahui tentang wanita itu?" tanya Carlo sambil mengarahkan tongkat jalannya di depan Liam.


"Aku membuatnya dipecat dari restoran, dia juga dipecat dari hotel karena hamil. Rentenir dari desa mengejarnya karena dia telat membayar cicilan. Aku meminta pemilik rumah kontrakan untuk mengusir Bella jika dalam waktu dekat dia tidak bisa membayar biaya kontrakan rumah untuk satu tahun kedepan, karena masa sewa akan segera habis," jelas Liam.


Carlo menggelengkan kepala pelan, tidak habis pikir dengan perbuatan jahat dua orang di hadapannya.


"Apa yang kalian harapkan dengan melakukan itu?"


"Aku ingin dia pergi bersamaku ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Dia butuh uang, aku akan menjanjikan uang yang besar padanya," jawab Keanu.


Carlo menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menyangka jika Keanu bisa berpikir selicik itu untuk mendapatkan keinginannya. Carlo sedih, karena ia merasa gagal mendidik putra semata wayangnya. Bahkan Liam yang sangat ia percaya untuk berada disamping Keanu pun, turut bertindak ceroboh dan memalukan.


Carlo akhirnya menyuruh Keanu dan Liam pergi. Ia pun memerintahkan orang lain untuk mencari keberadaan Bella, menyusuri setiap sudut kota untuk menemukan wanita itu.


...****************...