ISABELLA

ISABELLA
Mengenal Lebih Dekat



Isabella, wanita itu memutuskan untuk menerima tawaran kerja dari Carlo. Meskipun ia tidak yakin bisa bekerja sebaik pelayan lainnya, ia akan berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.


Carlo meminta Bella untuk segera mengemasi barang-barang di rumah lamanya dan pindah hari ini juga. Bella pun sudah melihat-lihat kamar yang telah disiapkan oleh Carlo.


Dengan senang hati, Bella pun menuruti perintah Carlo. Ia diantar oleh salah seorang sopir dan kembali ke rumah lamanya. Pakaian dan barang-barang pribadi yang sudah beberapa hari ini ia kemas karena masa kontrak rumah akan segera habis, langsung ia masukkan ke dalam mobil. Beruntung, barang-barangnya tidak terlalu banyak. Jadi ia tidak kesulitan untuk membereskan semuanya.


Hari pertama di rumah Carlo, Bella mendapatkan pakaian baru berupa seragam yang sama dengan semua pelayan di rumah ini. Jika semua kamar pelayan diisi dengan dua orang perkamar, Bella mendapatkan kamar khusus yang hanya ia tempati sendiri. Carlo beralasan karena mereka belum membutuhkan pelayan tambahan.


Semua pelayan memperlakukan Bella dengan sangat baik. Sebagai permulaan, Bella membantu di bagian dapur. Ia mempelajari tentang menu-menu masakan yang biasa dihidangkan di rumah ini. Termasuk masakan kesukaan, jenis makanan yang dilarang, serta apa saja yang harus ia lakukan untuk menyiapkan hidangan.


Bella merasa sangat senang dan beruntung bisa bertemu dengan Carlo. Bahkan dalam keadaannya yang sedang hamil seperti saat ini, Carlo tidak keberatan untuk mempekerjakannya.


Hari pertama berjalan dengan lancar. Bella bahkan tidak merasa pekerjaan ini menjadi beban untuk dirinya. Bella menjalani semuanya dengan perasaan senang dan penuh rasa syukur.


Di hari berikutnya saat sarapan pagi, Bella membantu menyajikan makanan di ruang makan. Bella pun bertugas untuk menyampaikan pada Carlo jika menu sarapan telah siap. Wanita itu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Carlo dengan hati-hati.


"Tuan, makanan anda sudah siap," ucap Bella pada Carlo.


"Ah, kau, kemarilah, Bella. Saya butuh bantuanmu," ucap Carlo. Bella pun masuk ke dalam kamar dan mendekati Carlo yang berdiri di depan lemari.


"Ada yang bisa saya bantu?" tawar Bella.


"Pagi ini saya akan menghadiri undangan peresmian cabang hotel baru oleh salah seorang rekan. Bisakah kau memilih pakaian yang cocok?" pinta Carlo.


Sejenak, Bella terdiam. Ia melihat barisan rapi setelan kemeja dan jas dengan berbagai warna.Di sisi lain, deretan dasi dari warna polos hingga bermacam motif pun tersedia. Bahkan Carlo memiliki laci kaca penuh dengan koleksi jam tangan mewah.


"Jika anda menghadiri acara di pagi hari, saya bisa menyarankan anda memakai kemeja biru muda dengan setelah celana berwarna biru tua yang senada dengan warna jas. Itu akan membuat anda tampak lebih muda," ujar Bella sambil menunjuk pakaian yang ia maksud


"Wah, seleramu bagus sekali. Bagaimana bisa kita memiliki pikiran yang sama? Tadi saya sudah berniat memakainya, tapi masih ragu," jawab Carlo.


Bella pun tersenyum dan mengangguk. Ia juga membantu Carlo memilih dasi dan jam tangan. Setelah itu, Bella kembali ke ruang makan untuk menunggu Carlo selesai bersiap.


Berselang lima belas menit, Carlo telah tiba di ruang makan. Ia melihat Bella berdiri bersama dua pelayan lainnya tidak jauh dari meja makan. Carlo memanggil wanita itu agar mendekat.


"Kau sudah makan?" tanya Carlo. Bella terdiam, ia menoleh pada pelayan lain. Tidak satupun pelayan di rumah ini makan sebelum majikan mereka makan. Bukan karena Carlo tidak mengizinkannya, hanya saja mereka enggan melakukannya.


"Ayo, ayo. Duduklah," ajak Carlo.


"Tapi, Tuan ...." Bella berusaha menolak.


"Tuan, saya akan sarapan setelah anda selesai," ucap Bella. Ia merasa tidak enak dengan pelayan lain.


"Tidak, tidak. Ayo makan bersama," ujar Carlo memaksa.


Bella pun akhirnya menurut. Ia menemani Carlo makan sambil berharap jika pelayan lain tidak merasa iri hati padanya. Bella tidak mau, jika ia menimbulkan masalah serta ketidaknyamanan di antara para pelayan.


Saat sarapan pagi mereka hampir selesai, seorang pelayan datang dan berbisik pada Carlo. Saat itu juga, Carlo membulatkan matanya lebar.


"Jangan biarkan mereka masuk, pastikan mereka pergi!" perintah Carlo. Pelayan tersebut mengangguk dan berlalu pergi.


Rupanya, di luar gerbang rumah itu, Liam dan Keanu datang. Setiap beberapa kali dalam seminggu, mereka selalu datang untuk menemani Carlo sarapan pagi. Namun saat ini, mereka merasa seperti tidak dibutuhkan lagi.


"Apa kau tidak berniat kembali ke desa asalmu?" tanya Carlo pada Bella setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi bersama.


"Saya tidak memiliki orang tua lagi, ibu saya anak tunggal, sementara saya tidak terlalu tahu tentang saudara dari ayah saya. Jika pulang ke sana pun, saya tidak punya tempat tinggal. Mungkin saya hanya ingin berkunjung ke makam orang tua saya," jelas Bella.


Carlo mengangguk pelan. Betapa malang nasib wanita ini? Carlo benar-benar merasa sangat bersalah.


"Hmm, Bella. Saya punya anak semata wayang, laki-laki. Usianya memang tidak muda, tapi sikapnya masih kekanak-kanakan dan meresahkan. Dia tidak mau menikah, tapi bagaimana saya akan menghabiskan masa tua saya sendirian?" keluh Carlo.


"Semoga anak anda segera bertemu dengan jodohnya dan menikah, Tuan. Anda pasti bahagia jika nantinya memiliki cucu," ujar Bella menghibur.


"Hmm, sayang sekali dia sangat pembangkang. Kau harus tetap di sini meskipun nanti kehamilanmu semakin tua bahkan anak itu lahir."


"Tapi, mungkin saya tidak bisa bekerja untuk sementara waktu. Apa anda tidak keberatan?"


"Ah, jangan khawatir. Kedepannya kita akan membicarakan masalah itu."


Bella tampak senang. Carlo pun kini merasa tenang melihatnya. Entah mengapa, Carlo merasa sangat iba pada wanita itu. Meskipun nantinya anak dalam kandungan Bella tidak terbukti sebagai anak biologis dari Keanu, Carlo tidak akan mempermasalahkannya. Ia benar-benar berniat membantu wanita malang itu.


Tidak berselang lama, seseorang kembali datang dan berbisik pada Carlo. Saat itu juga Carlo pamit pada Bella dan meninggalkan ruang makan.


"Anak-anak nakal itu selalu saja membuat masalah!" gumam Carlo kesal. Ia berjalan tergesa-gesa keluar rumah menuju gerbang.


...****************...