
Keanu melamun, mengamati makanan yang disajikan dalam keadaan panas di hadapannya. Ia menyesap kopi dari cangkir sambil menghela napas panjang.
"Bos," sapa Liam. Ia baru saja tiba dan langsung duduk di depan Keanu. "Jalanan macet sekali," lanjutnya mengeluh.
"Hmm." Keanu hanya mengangguk.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Liam. Ia melihat Keanu sedang berpikir.
"Kau ingat pelayan hotel itu? Pelayan yang bertemu denganku di rumah sakit beberapa bulan yang lalu?" tanya Keanu.
"Hmm, ada apa? Apa dia buka mulut?" Liam bertanya khawatir.
Keanu menggeleng, ia pun terdiam beberapa saat.
"Jika aku tidak salah lihat, pelayan itu kini bekerja di restoran ini," jelas Keanu. Liam melotot, matanya menyapu ruangan mencari sosok Bella.
"Aku pikir gajinya di hotel cukup besar, mengapa dia bekerja di restoran ini? Apa dia sengaja bekerja di sini karena tahu kau sering datang kemari? Jangan-jangan dia menguntit mu!" seru Liam.
"Aku rasa tidak, dia sendiri tampak terkejut melihatku."
Liam menarik napas dalam-dalam. Ia sudah berusaha menjauhkan Keanu dari masalah, namun masalah seakan selalu mengikuti laki-laki itu karena kesalahannya sendiri.
Berusaha tetap tenang, Liam akhirnya memanggil pelayan dan membuat pesanan untuk makan siangnya.
Setelah mereka selesai makan, secara tidak sengaja, Tyo, yaitu pemilik restoran keluar dari ruangannya. Karena saling mengenal, Tyo pun menyapa Keanu dan Liam yang secara kebetulan hendak meninggalkan meja makan mereka.
Keanu dan Tyo berbincang sambil berjalan keluar dari restoran, sementara Liam berjalan di belakang mereka. Namun secara tidak sengaja, Liam menangkap sosok Bella saat wanita itu sedang membersihkan meja tempat mereka baru saja makan.
Keanu benar, wanita itu bekerja di tempat ini, pikir Liam.
"Ah, Tuan Tyo. Apa kau punya pegawai baru? Sepertinya aku belum pernah melihatnya," ucap Liam bertanya. Ia penasaran.
"Hmm, matamu jeli sekali jika menyangkut wanita cantik," jawab Tyo bercanda.
"Haha! Aku hanya penasaran. Sepertinya dia wanita yang aku kenal," ujar Liam.
"Benarkah? Namanya Isabella. Sebenarnya aku tidak bisa mempekerjakan wanita hamil, tapi karena keponakanku memohon, jadi aku menerimanya," jelas Tyo.
Sontak, jawaban Tyo membuat Liam dan Keanu terkejut. Liam menelan ludah kasar, sementara Keanu langsung berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir.
"Baiklah kalau begitu. Kau sepertinya sedang sibuk, kami juga harus pergi," ucap Liam. "Terima kasih untuk makanannya yang enak!" serunya sambil tersenyum ramah.
Setelah meninggalkan Tyo, Liam bergegas menyusul Keanu yang sudah menyalakan mesin mobilnya. Tanpa bicara apapun, Keanu meninggalkan restoran dan Liam menyusulnya dengan mobilnya sendiri.
......................
Beberapa hari berlalu, Keanu tidak pernah membahas nama Bella di hadapan Liam. Entah apa yang sedang Keanu pikirkan, namun Liam merasa lega karena kabar mengejutkan tentang Bella tidak mengganggu pikiran Keanu.
"Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Carlo pada Liam saat Keanu tengah mandi di kamarnya.
"Tidak, Paman. Aku yakin Bos baik-baik saja," jawab Liam.
Malam ini, Liam dan Keanu sengaja makan malam di rumah Carlo karena hari ini adalah hari ulang tahun laki-laki tua itu. Liam membawa hadiah berupa jam tangan mewah. Carlo tampak sangat senang dan bersemangat hingga menjajal jam tangan itu di depan Liam.
"Bagus sekali, di mana kau membelinya?" tanya Carlo.
"Itu rahasia, Paman. Itu edisi terbatas, hanya ada 3 di negara kita," ucap Liam. Carlo berdecak kagum, ia memeluk Liam dan berterima kasih.
Setelah mandi dan berpakaian, Keanu menuju ruang makan. Di sana, Liam dan Carlo sudah duduk menunggu.
"Lihat, Liam memberi Papa hadiah jam tangan baru. Dia bilang ini edisi terbatas. Wah, Papa senang sekali," ucap Carlo pada putra semata wayangnya.
"Benarkah? Itu terlihat bagus," jawab Keanu. "Aku sibuk, jadi tidak sempat berpikir untuk membeli hadiah. Katakan saja hadiah apa yang Papa inginkan, Liam akan menyiapkannya untukku," lanjut Keanu.
"Kau ini, benar-benar," gerutu Carlo sambil menghela napas berat. Ia tidak terkejut, memang seperti itulah sifat anaknya. Dingin, kaku, keras kepala, dan sulit dikendalikan.
"Liam," ujar Carlo sambil melempar pandangan pada Liam.
"Ya, Paman."
"Apa kau punya kekasih? Sangat bagus jika kau juga segera menikah," ucap Carlo.
"Ah, Paman ini ada-ada saja. Aku sangat sibuk, mana sempat berkenalan dengan wanita."
"Hei, kau harus mengambil jatah liburmu dan melepaskan diri dari anak kurang ajar ini. Kau juga harus menjalani hidupmu dengan normal." Carlo memberi nasehat. Ia tahu, Liam sangat mendedikasikan hidupnya pada Keanu dan mengurus segala masalah Keanu hingga tidak punya waktu untuk dirinya sendiri.
"Paman sudah tua, jika kau menikah, Paman akan punya menantu, dan Paman juga sangat senang jika segera punya cucu," lanjut Carlo.
Mendengar ucapan ayahnya, Keanu tidak lagi berselera makan, ia bangkit dari kursinya dan meninggalkan meja makan begitu saja.
"Bos," ucap Liam berusaha menghentikan Keanu. Namun Keanu tidak peduli, ia melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Paman sebaiknya jangan terlalu memaksanya untuk menikah. Paman tahu betul sifatnya," ujar Liam pada Carlo.
"Umurnya sudah tiga puluh dua tahun, Liam. Apa dia pikir dia tidak bisa mati? Lalu, pada siapa dia akan mewariskan semua kekayaan dan bisnis yang dia kumpulkan? Sia-sia saja dia bekerja keras!" seru Carlo.
"Tapi, Paman ...."
"Jika dia bersikukuh dengan pendiriannya dan mementingkan egonya, Paman akan mengambil alih perusahaan dan semua miliknya!" Carlo mengancam.
Liam menelan ludah kasar, permasalahan keluarga ini memang sepele, namun dampaknya sangat besar dan membahayakan.
...****************...