
Arsenios yang fokus memecahkan bait ramalan yang rusak itu pun terkejut akan kehadiran Esve yang tiba-tiba itu.
“Sedang apa di sini? Kita diserang! Dan kenapa kau gelap-gelapan?” ucap Esve.
“Apa?” respon Arsenios tidak percaya sembari menyalakan api dengan tangannya.
Cukup terkejut melihat Skill lain Arsenios, Esve masih bisa merespon dengan normal, “Cepat kita tidak punya banyak waktu, mereka bisa diserang tanpa mempersiapkan apa-apa.” Esve dengan cepat meraih tangan lain Arsenios yang memegang buku dan berteleportasi ke pinggir desa.
Saat tiba di sisi desa, Arsenios membekukan tanaman wolfsbane sehingga membuka jalan bagi para pasukan pemberontak. Saat jalan terbuka Eryk dengan cepat memerintahkan semua werewolf rouge yang ada di sana untuk masuk ke desa, mereka pun sudah melihat kedatangan pasukan Neuri dari jauh.
Beruntung, mereka semua bisa masuk desa tepat waktu dan langsung saja Arsenios mencairkan tanaman wolfsbane yang membeku sehingga membentuk benteng alami.
Arsenios menuntun mereka semua ke balai desa yang ternyata cukup untuk menampung mereka semua. Di sana Eryk membuka pembicaraan dengan menyebutkan ramalan, semua werewolf yang hadir juga tidak asing dengan ramalan itu. Eryk membacakan ramalan itu di depan semua yang hadir untuk membangun kepercayaan mereka.
“Anak sekecil itu datang.
Manusia yang sering kita korbankan.
Sekarang berkorban darah untuk kita.
Kita tidak pantas menerimanya, jadi bantu ia dengan segenap nyawamu.
Rebut kembali yang telah direbut dari kita.
Kuncinya adalah dia.”
Arsenios bingung dengan ramalan yang berbeda itu, tapi tidak lama. Sepertinya Arsenios mengerti apa yang terjadi di sini.
“Kupikir ... ada dua ramalan.” ucap Arsenios saat Eryk selesai membaca ramalannya.
“Apa maksudnya itu?” tanya semua dengan heran.
“Kupikir werewolf menyimpan ramalan tentang manusia dan manusia juga menyimpan ramalan tentang werewolf.” ucap Arsenios.
“Hanya di pikiranmu, bukan?” sahut salah satu werewolf.
“Benar, mana buktinya.” timpal yang lainnya.
Arsenios mengeluarkan gulungan yang ia bawa tadi, lalu membacakan ramalan itu di hadapan semuanya.
“Saat itu Dewa Bulan menampakkan sisi merahnya.
Penerus darah asli kembali berdiri atas takhta hak leluhur.
Tiap detik di dalam kehidupannya terlalu menyedihkan.
Pada saat itu pula tidak ada yang menyangka bahwa dia lah sang penerus darah asli, bahkan dirinya sendiri pun.” Arsenios berhenti sejenak.
“Ummmm, bagian selanjutnya rusak. Jadi aku tidak mengerti isinya, lalu bagian akhirnya adalah:
Pemantiknya ialah amarah.”
Ternyata semua werewolf yang hadir di sana tidak mengetahui adanya ramalan kedua.
Lalu ada pertanyaan dari salah satu werewolf yang bernama Rolf. “Apakah pertempurannya dilaksanakan minggu depan? Dewa Bulan mulai merah itu minggu depan.”
“Jadi apa rencanamu?” Rolf kembali bertanya.
Arsenios mengangkat kantung berisi serbuk bunga wolfsbane. “Ini rencanaku, kita gunakan bunga wolfsbane.”
“Kau paham kan kita tidak bisa menyentuhnya.” sahut Eryk.
“Mungkin kalian tidak mengetahuinya, tapi sebenarnya manusia juga terdampak oleh bunga ini, benar bunga ini juga beracun untuk manusia. Tapi lihat aku masih baik-baik saja, karena aku tahu cara mencegah dampak buruknya.” ucap Arsenios.
“Bagaimana?” tanya Eryk.
“Gunakan kain, asal kalian tidak menghirupnya maka kalian tetap aman, aku menemukan banyak di reruntuhan rumah penduduk Bharazy.” jawab Arsenios.
“Bagaimana kau tahu semua ini? Kami bahkan tidak tahu apa-apa tentang ini.” tanya Eryk lagi.
“Para manusia itu membuat banyak catatan sebelum pergi dari pulau ini, kau tahu apa yang sebenarnya membuat mereka pergi?” Arsenios bertanya balik.
“Karena ingin damai dari perburuan kaum kami, bukan?” jawab Eryk.
“Tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar juga. Alasan sebenarnya mereka pergi adalah karena mereka tidak bisa mengatur pertumbuhan tanaman wolfsbane yang semakin liar, banyak anak kecil yang jika tidak diawasi sebentar saja langsung memegang bunga wolfsbane, apa lagi para remaja malah menjadikan bunga wolfsbane sebagai tantangan agar terlihat keren. Namun, mereka juga tidak bisa memusnahkan bunga ini karena meskipun berbahaya, bunga ini tetap membentengi mereka dari kalian.” jawab Arsenios.
Beberapa yang hadir di sana yang pernah memburu manusia pun merasa bersalah. “Aku mewakili werewolf yang pernah memburu kaum kalian memohon maaf yang sebesar-besarnya.” Raulin membungkuk kepada Arsenios dan Esvele.
“Dengar, kami bukan bagian dari kelompok mereka, jadi rasanya agak kurang pas kalau kami membawa maaf kalian kepada mereka.” ucap Arsenios dengan menggaruk kepala.
Suasana itu menjadi canggung sejenak.
“Baiklah, bukankah kita harus secepatnya menyiapkan sesuatu seperti ... senjata, agar kita tak harus menyentuhnya.” Eryk memecah suasana.
“Baiklah, kita mulai membuat senjata untuk sekarang, apa kalian tahan dingin?” tanya Arsenios.
“Kami serigala, bung. Mana mungkin tidak tahan.” ucap salah satu werewolf yang bernama Raff.
“Baiklah, kalian akan kubuatkan racun terlebih dahulu, kalian bawa kantung racun itu untuk ‘memperbarui’ racun di senjata kalian saat berperang, kalau terdesak kalian bisa melempar racun itu ke arah musuh.” jelas Arsenios.
Malam itu Arsenios dan Esve membuatkan racun wolfsbane, dengan semua werewolf yang tetap berjaga di luar. Meskipun wolfsbane juga berbahaya untuk manusia, tetapi itu jika dan hanya jika tersentuh kulit, wolfsbane lebih berbahaya kepada werewolf karena bisa meracuni mereka meskipun hanya mengendus bau bunga itu.
Saat ingin membuatkan senjata, Arsenios terpikir bagaimana caranya menjaga agar es miliknya tidak cepat mencair. Lalu muncul notifikasi pembaruan Skill.
“Selamat, Skill ‘Temperature Weapons’ telah meningkat menjadi Skill tingkat tinggi.”
“Terjadi lagi, ini karena pikiranku menginginkannya atau karena aku membutuhkannya ya?” gumam Arsenis.
Skill ‘Temperature Weapons’ tingkat tinggi memungkinkan Player menjaga senjata buatannya dalam bentuk tetap tanpa harus fokus menahan suhu senjatanya, Player juga bisa memproduksi masal. Itu lah yang tertulis dalam penjelasan Skill.
Dengan memikirkan beberapa kemungkinan, Arsenios lebih memilih membuatkan senjata yang bisa dipasangkan di tangan mereka, karena sepertinya para werewolf tidak terbiasa dengan senjata yang dipegang jadi ditakutkan senjata itu malah akan mengurangi pergerakan mereka. Maka dari itu dibuatkan lah senjata berbentuk cakar panjang yang akan menempel pada tangan mereka, tidak lupa juga penutup hidung dan pelindung dada.
Arsenios berencana menyerang pasukan pengepung dari Neuri besok pagi, karena menurut perkiraan Arsenios, persiapan mereka baru selesai saat matahari terbit. Hal yang tidak diketahui Arsenios adalah pihak lawan juga memiliki pengrajin senjata, lalu beberapa petinggi kawanan Neuri memilih pulang untuk menyiapkan beberapa persiapan baru, sebenarnya juga karena mereka sangat percaya diri pada pasukan yang ditinggalkan untuk pengepungan.
Malam itu menjadi malam persiapan perang, semua kubu sibuk menyiapkan sesuatu tanpa diketahui kubu lain.
Hingga tiba lah saat matahari terbit, Arsenios baru mengatakan rencananya pada semua pasukan saat pagi itu, seperti rencana dadakan. Namun, ini dilakukan agar meminimalisir rencana yang bocor ke pihak lawan, dia memang belum bisa sepenuhnya percaya pada semua yang di pihaknya saat ini.
Arsenios membagikan senjata dan pelindung ke semua pasukan, Esve bagian yang membagikan kantung racun. Matahari belum terlihat sempurna saat itu, tapi Arsenios sudah membuka jalan keluar ke arah timur, tempat pasukan pengepung memblokade desa dari dunia luar.