
Setelah beberapa lama, mereka sampai di lereng gunung Arcadia, Arsenios mulai mencoba sesuatu yang dia pikirkan.
“Kau pandai berburu?” pancing Arsenios kepada Eryk.
“Tentu.”
“Bisakah aku mencobanya, tetapi kau harus mengajariku, di samping itu aku juga butuh senjata karena tubuh manusiaku tidak bisa menjadi senjata.”
Eryk mengambil sebuah ranting kayu yang ia temukan di sekitar mereka dan mengukir ujungnya dengan kuku werewolfnya menjadi seperti tombak dan memberikannya kepada Arsenios.
“Bakar ujungnya dengan api obormu, sedikit saja untuk membuat ujungnya lebih kuat.”
Arsenios menurut saja, karena dengan begitu setidaknya dia bisa dengan leluasa menggunakan Skill sentuhan panas dengan aman tanpa takut ditanya bekas api pada mayat hewan yang diburu.
Namun Arsenios tersadar akan sesuatu, dia hanya manusia dan bukan hewan nokturnal, jelas saja dia tidak punya penglihatan malamyang baik. Saat Arsenios baru memikirkan cara agar bisa melihat dalam gelap, lalu muncul notifikasi pembaruan Skill.
Jendela notifikasi yang muncul menjelaskan Skill ‘Torch Eyes’ bisa digunakan sebagai penglihatan malam agar penglihatan bisa lebih terang dibanding nyala api obor.
“Aku hanya memikirkannya lalu muncul?” Arsenios bergumam lalu terdiam sejenak, menyadari suaranya terlalu keras.
“Hewan apa yang muncul?” Eryk menanggapi.
“Ah tidak, sepertinya salah lihat,” Arsenios berdalih.
Sejauh penciuman tajam werewolf milik Eryk, Eryk tidak merasakan hewan apapun di sekitar mereka, jadi Eryk sempat merasa aneh kepada Arsenios.
Mereka melanjutkan perjalanan hingga menemukan aliran sungai kecil, Arsenios berhenti untuk menombak beberapa ikan yang lewat.
“Oh kalian memakan ikan ternyata, bagi kami itu terlalu kecil jadi kami mengabaikannya sebagai makanan,” Eryk mengomentari kegiatan Arsenios.
“Ya begitulah,” Arsenios menimpali singkat.
Setelah berhasil memburu beberapa ikan, terlihat dari jendela profil Arsenios bahwa point levelnya bertambah. Asumsi Arsenios ternyata benar, membunuh hewan liar di luar tujuan quest juga berpengaruh terhadat perkembangannya, Arsenios berhenti berburu saat dia melihat jendela notifikasi kenaikan level menjadi Level 2.
Eryk menunggui Arsenios sedari tadi dan hanya memperhatikan kegiatan Arsenios.
“Kau mau apakan itu?” tanya Eryk kepada Arsenios yang terlihat membuat api unggun.
“Kalian tidak pernah memasak makanan ya?” Arsenios bertanya balik.
“Tidak, untuk apa?”
Percakapan yang hanya diisi pertanyaan terus berlanjut.
“Perut spesies kita berbeda, kau tahu kan? Perut manusia tidak bisa mencerna makanan mentah.”
Eryk hanya mengangguk saja mendengar penjelasan Arsenios lalu menimpali, “tidak praktis ya.”
“Ya ... begitulah,” jawab Arsenios sambil membakar ikan yang tadi ditangkap.
Setelah matang, Arsenios makan dengan lahap di depan api unggun dalam kesunyian. Eryk pun tidak berkomentar lebih banyak dan hanya menunggui Arsenios makan. Setelahnya mereka melanjutkan perjalanan menyusuri hutan pegunungan Arcadia dengan menyusuri sungai tadi dan mengarah ke hulu sungai. Banyak hewan yang terdengar berlari dari mereka. Namun, Eryk hanya mengabaikannya dan menyuruh Arsenios juga agar mengabaikan mereka karena mereka hanya hewan kecil.
“Sebenarnya kau tidak lapar, ‘kan?” tanya Arsenios dalam keheningan malam.
“Haha ketahuan ya,” Eryk hanya terkekeh menjawabnya.
“Sudah jelas bukan, aku adalah mangsamu tapi tidak kau serang,” ucap Arsenios, tentu dalam hati, “ya tadi kan ada rusa yang lewat, itu bukan hewan kecil untuk jenis kalian,” Arsenios mengalihkan jawaban.
“Sudah lah, sepertinya kau juga seperti terobsesi membunuh hewan,” balas Eryk singkat.
“Ya sepertinya begitu,” bagaimana pun juga Arsenios membunuh bukan karena ingin membunuh. Namun, karena ia perlu membunuh dan agar tidak kehilangan alasan membunuh, Arsenios hanya mengiyakan hal tentang ketagihan membunuh itu.
Setelah perdebatan kecil itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan, hingga tiba di sebuah gua, gua yang tidak terlalu besar dengan terpasang pintu di mulut gua. Di sekitar gua itu ada werewolf lain, dari percakapan singkat mereka diketahui bahwa nama werewolf itu adalah Raulin, dia menjadi werewolf rouge bahkan sejak alpha kelompok Neuri sudah berganti dua kali, singkatnya dia menjadi werewolf rouge saat manusia dan werewolf masih berperang, dia jelas terlihat jauh lebih tua dibanding Eryk.
“Apa? Kalian ingin pergi ke desa Neuri?” tanya Raulin dengan tidak percaya, “nak, kau tahu kan kalau kau itu adalah mangsa kami?” Raulin bertanya kepada Arsenios dengan penuh heran.
Arsenios hanya menjawab dengan anggukkan, tentu saja hal itu dibalas oleh ceramah dari Raulin.
“Kau hanya menyerahkan dirimu pada kematian kalau begitu, nak. Kau juga Eryk, kau ingin memangsanya? Bagaimana kalau peperangan antar ras terulang kembali,” Raulin masih terus memarahi mereka.
“Benarkah itu, nak?” Sorot mata Raulin mengarah kepada Arsenios.
“Aku tidak terlalu paham situasi yang terjadi saat itu, aku hanya terbangun di tanah ini, hanya itu yang ku ketahui,” ucap Arsenios yang tentu saja menutupi beberapa kebenaran yang ada.
“Itu menghapus kemungkinan bahwa kau adalah keturunan manusia yang sempat menduduki wilayah ini, sehingga sepertinya tidak akan ada perang dalam waktu singkat. Namun, tetap saja apa kau ingin mati?” Ceramah Raulin ternyata berlanjut.
“Bukan ingin mati sih …” ucap Arsenios. “Namun, waktuku tidak banyak,” pikir Arsenios.
Arsenios terpikirkan suatu cara agar lepas dari ceramah membosankan Raulin. “Hey Eryk, kau bilang ada pemukiman bekas manusia kan di sekitar sini, kalau begitu aku ingin pergi ke sana saja.”
Raut wajah Raulin mulai kendur menandakan amarahnya menurun.
“Pergi lah ke sana untuk bersembunyi, nak. Lewat jalan memutar agar tidak melewati area penciuman werewolf desa Neuri.”
Eryk hanya mengiyakan dan melanjutkan perjalanan diikuti Arsenios.
“Kuharap kau bisa menyembunyikan manusia itu selama mungkin!” teriak Raulin pada Eryk sebelum punggung mereka menghilang dari pandangannya.
Tanpa menjawab mereka tetap berjalan.
Raulin merasa aneh pada dirinya sendiri, “mengapa aku mengkhawatirkan makhluk itu ya, entah mengapa aku teringat ramalan yang sudah mustahil terwujud itu, namun ya sudah lah. “
Eryk dan Arsenios sedikit menuruni lereng untuk mengindari daerah penciuman werewolf di desa.
“Mengapa tidak ada werewolf di sekitar sini,” Arsenios memecah keheningan malam.
Dengan dibalas pertanyaan Eryk menjawab, “kau tahu kenapa para manusia itu bisa bertahan hidup? Padahal werewolf bisa dengan mudah mengepung pemukiman manusia, meski ada yang kabur juga pasti sulit bagi mereka untuk bertahan hidup sendirian tanpa menjadi puncak rantai makanan.”
Arsenios hanya menggeleng menjawab pertanyaan itu.
“Itu karena mereka menemukan bunga yang bisa mengusir spesies kami, wolfsbane. Mereka menanam bunga itu di sekitar pemukiman mereka sehingga leluhurku tidak bisa menembus pemukiman manusia saat itu, ya bahkan hingga sekarang sih,” Eryk menjelaskan.
“Jadi bunga itu sekarang menjadi tanaman liar sehingga kalian pun malas untuk menelusuri di sekitar bekas pemukiman itu?” tanya Arsenios.
“Ya begitulah ... huh?” Eryk seperti terkejut dengan sesuatu sebelum menyelesaikan ucapannya.
“Sedang bersenang-senang dengan makhluk mitos ya, sepertinya kau ingin menikmati hidangan langka sebelum pengorbanan diri hahaha,” ucap sesuatu dari balik kegelapan.
“Alarick? Sedang apa kau di sini?” Eryk terlihat mengendalikan diri karena terlihat takut.
“Hanya memastikan werewolf yang terpilih untuk mengorbankan diri saat ritual ‘full moon goddess’ tidak melarikan diri apa lagi nekat berlindung di balik bunga wolfsbane,” ucap Alarick dengan berjalan semakin mendekat, “namun yang terjadi di sini lebih gila dari yang kuduga, siapa sangka makhluk yang hampir kami kira sebagai mitos ternyata muncul seminggu sebelum ritual suci diadakan.”
“Ritual?” bisik Arsenios pada Eryk.
“Hey manusia, tidak perlu berbisik, kau tahu kan pendengaran werewolf sangat baik, tidak ada yang bisa kau sembunyikan,” Alarick menatap tajam pada Arsenios.
“Oh ya?” senyum Arsenios seperti menantang Alarick.
“Sepertinya ada yang kau sembunyikan ya manusia, sepertinya aku harus membawamu kepada alpha Lycaon. Eryk bersiaplah hukuman penahanan karena menyembunyikan manusia dari alpha, lagi pula kau tahu kan dengan begitu pengorbananmu semakin mundur jadi akan semakin mudah bagimu untuk kabur, oh atau memang itu maksudmu, mengorbankan manusia ini demi keselamatanmu,” Alarick terus mendekati mereka.
Eryk menatap Arsenios dengan penuh penyesalan.
“Haha sampah tetaplah sampah, hanya bisa mengorbankan orang lain, makhluk dengan kasta terendah hanya bisa merangkak untuk hidup, jadi semakin menjijikan bahkan hanya dengan melihatmu,” ucap Alarick semakin dekat.
“Sepertinya aneh,” ucap Arsenios tiba-tiba.
“Arsenios ...” ucap lirih Eryk.
“Bukan kah kalimatmu bisa kau gunakan untuk dirimu yang mengorbankan dia.” ucap Arsenios kepada Alarick dengan menunjuk Eryk.
“Beraninya kau manusia, tidak kah kau paham situasinya, makhluk lemah beraninya membangkang saja!” teriak Alarick.
“Haha boleh juga, ayo susun ulang tingkat rantai makanan sekarang,” ujarArsenios.
“Kau menantangku makhluk lemah!” Alarick melompat ke arah Arsenios.
“Lari Arsenios!” teriak Eryk.