
Pada malam harinya dari sisi pasukan pengepung.
“Alpha memanggilmu.” ucap Blevine kepada Clell.
“Ada masalah apa?” tanya Clell.
“Kau pikir Alpha akan memberitahukan hal itu kepada pembawa pesan?” jawab Blevine ketus.
Tak lama Clell pun menghadap sang Alpha dengan Fillan yang berada di samping Alpha.
“Kau tahu, bukan. Kalau mereka tidak berdaya melawan kita.” tanya Alpha saat Clell menghadap.
“Benar, Yang Mulia.” jawab Clell dengan membungkuk.
“Tapi tetap saja, mereka tidak boleh kita remehkan.” sambung sang Alpha.
“Benar, Yang Mulia. Saya tidak meremehkan mereka.” jawab Clell masih membungkuk.
“Untuk itu, kita butuh sedikit rencana.” lanjut sang Alpha.
“Sebuah kehormatan bagi saya selaku pemimpin regu kecil, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memikirkannya, Yang Mulia.” jawab Clell lagi dengan memandang sang Alpha.
“Tidak perlu, aku sudah dapat rencana. Tapi untuk rencana itu kita harus menarik sebagian besar pasukan kembali ke desa.” ucap sang Alpha.
“Jadi, apakah saya akan memimpin pasukan yang kembali, Yang Mulia?” tanya Clell.
“Tidak bodoh, kau yang bertugas memimpin pasukan pengepung.” jawab sang Alpha.
“Maafkan saya atas kebodohan saya, Yang Mulia.” Clell kembali membungkuk.
“Tak apa, sudahlah.” jawab sang Alpha.
“Bolehkah saya bertanya, Yang Mulia?” tanya Clell dengan takut.
“Silakan.” jawab singkat sang Alpha.
“Yang Mulia mengatakan untuk tidak meremehkan mereka, tapi untuk pengepungan hanya aku, si pemimpin regu kecil ini yang memimpin. Apakah itu tidak meremehkan mereka?” tanya Clell dengan takut.
“Hahaha ... tenang saja, kita hanya akan pergi satu hari, sedangkan mereka pasti datang menyerang minggu depan, sesuai ramalan.” jawab Alpha dengan remeh.
“Baiklah, sesuai perintah Anda.” jawab Clell sambil pergi meninggalkan ruangan sementara untuk sang Alpha.
“Hahaha ... sesuai perkataanmu, dia penurut.” ucap sang Alpha kepada Fillan.
“Siapa juga yang berani menentang pemimpin.” ucap Fillan, tentu hanya dalam hatinya.
“Mereka punya dua makhluk sekaligus yang kemungkinan besar adalah makhluk yang diceritakan ramalan itu, manusia yang baru datang itu dan juga Eryk.” ucap Alpha.
“Jelas kita tidak bisa meremehkan mereka, kita harus mengukur kemampuan mereka. Tentu dengan harga yang sedikit, jelas tidak akan kukorbankan pasukan terbaikku untuk melihat kemampuan mereka.” lanjut sang Alpha seperti berbicara sendiri.
“Benar, Yang Mulia. Jika mereka mengerti ramalan itu, mereka pasti paham untuk menyerang kita akan lebih efektif kalau minggu depan, tapi mereka juga pasti mengerti kalau kita tidak akan menunggu sampai minggu depan. Kemungkinan paling besarnya adalah mereka menyerang besok pagi atau paling lambat dua hari lagi.” ucap Fillan menanggapi Alpha.
“Benar, untuk itu kita harus pergi sekarang.” jawab sang Alpha.
Malam itu, sebagian besar pasukan Neuri kembali ke desa. Menyisakan sebagian kecil pasukan pengepung yang dipimpin oleh Clell.
Hingga pagi, Clell masih memikirkan beban yang ditanggungnya begitu besar meskipun dia belum memiliki pangkat terpandang di pasukan.
Pagi itu, matahari belum genap memunculkan dirinya. Namun, sudah ramai kepanikan tersiar bahwa pasukan pemberontak mulai menyerang.
Pasukan pengepung yang masih menyebar itu pun terkejut atas serangan dadakan ini, saat itu jumlah mereka hanya sekitar seperempat dari pasukan awal. “Clell bilang mereka tidak akan berani menyerang hingga setidaknya seminggu lagi, kenapa mereka menyerang sekarang?” teriak salah satu pasukan pengepung.
“Lawan saja jangan mengeluh.” sahut pasukan Neuri lainnya.
Clell yang kebingungan perlahan menyadari mereka ditipu oleh Alpha.
“Bukankah kemarin jumlah mereka jauh lebih banyak? Kau tidak mengetahui ada perubahan rencana pada pihak lawan?” tanya Arsenios kepada Esve.
Arsenios hanya menggaruk kepala yang tidak gatal dan kembali bertanya. “Jadi ... berapa jumlah mereka sekarang?”
“300 werewolf.” jawab Esve.
Setelah itu Arsenios menghadap pasukannya dan berteriak dengan lantang.
“SEMUA ... BUNUH SETIDAKNYA DUA WEREWOLF ... SERANG!”
Pasukan rouge pemberontak yang dipimpin oleh Arsenios mulai menyerang pasukan pengepung Neuri. Pertarungan pun tak terelakkan.
Mereka menyerbu pasukan Neuri yang masih terpencar itu.
Arsenios membentuk busur panah dari es lalu memasukan anak panah esnya ke dalam kantung racun. Esve juga memasukan pisaunya ke dalam kantung racun lalu berteleportasi ke belakang pasukan lawan dan menusuk perut lawan dari belakang, efek dari racun wolfsbane menyebabkan makhluk apa pun yang pembuluh darahnya disusupi oleh racun tersebut akan mengalami kejang-kejang hebat.
Dengan racun ini, jelas pasukan pemberontak unggul, apa lagi tidak ada kesiapan apa pun dari pasukan pengepung Neuri.
Pasukan pemberontak ada yang berhasil membunuh dua pasukan pengepung tapi ada juga yang hanya satu. Meskipun begitu, itu jelas sudah menyebabkan lebih dari setengah pasukan pengepung jatuh kejang-kejang di atas tanah. Sedangkan, luka yang dialami oleh pasukan pemberontak bisa cepat sembuh karena faktor tambahan dari pelindung es buatan Arsenios yang dengan cepat membekukan bagian tubuh yang terluka.
Melihat banyaknya pasukan pengepung yang jatuh kejang-kejang, Clell pun memerintahkan pasukan pengepung Neuri untuk mundur.
“Esve, jangan biarkan mereka kabur!” teriak Arsenios.
Esve memegang tangan Arsenios dan berteleportasi ke depan pasukan yang kabur itu.
“Bagaimana cara membuat mereka tak bisa bergerak?” batin Arsenios.
Lalu muncul notifikasi pemberitahuan. “Selamat Player telah membuka Skill ‘Ice Altar’, penjelasan Skill bisa dibuka dalam Pohon Skill.”
“Tidak ada waktu,” pikir Arsenios, “lagi pula Skill yang muncul selalu yang ku butuhkan.”
Tanpa pikir panjang, Arsenios langsung menggunakan Skill baru itu.
“Ice Altar!” teriak Arsenios.
Terciptalah sebuah altar es yang mengelilingi mereka dan membekukan kaki semua orang yang berada dalam lingkup altar, termasuk Arsenios dan Esve.
“Musuh tidak bisa bergerak, waktu yang tepat untuk membaca informasi dari Skill.” pikir Arsenios.
Dalam penjelasannya, Skill itu membuat kekuatan dingin milik Player bertambah kuat sekitar 200% dan Player bisa membuat bentuk es apa saja dari area altar.
Arsenios melepaskan kakinya dari perangkap es dengan mudah, sedangkan Esve dan para pasukan Neuri yang terjebak masih memukuli es yang memerangkap kaki mereka.
Arsenios berjalan ke arah pasukan Neuri. Saat itu Arsenios berada di hadapan Clell, Arsenios mengangkat telapak tangannya lalu tiba-tiba muncul jarum es yang besar dari bawah salah satu werewolf dan jarum es itu menembus dari bawah perutnya hingga kerongkongannya. Tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun, Clell tewas seketika.
“Dengan ini, akan lebih hemat persediaan racun.” pikir Arsenios.
Lalu Arsenios melanjutkan aksinya dengan cepat, hingga semua pasukan Neuri yang tersisa menjadi tertancap di jarum es. Jelas itu menguras tenaga Arsenios dengan cepat juga.
Namun, kabar baiknya. Pasukan pemberontak tak berkurang satu pun, pertempuran yang lebih seperti pembantaian itu pun berakhir dengan cepat.
Dengan menghadap ke arah pasukan pemberontak, Arsenios memerintahkan sesuatu. “Kubur mereka semua, agar membingungkan pasukan utama Neuri.”
“Wah, nak. Kau meremehkan penciuman werewolf ya?” tanya Raulin.
“Jangan lupa campur tanah untuk penguburan dengan serbuk wolfsbane yang tersisa. Dengan begitu, siapa pun yang mencoba mengendus mereka akan bernasib sama seperti yang dikubur.” perintah Arsenios lagi.
“Tenyata tidak jadi menghemat racun.” pikir Arsenios.
Lalu semua bergerak mengikuti arahan Arsenios.
Penguburan pasukan Neuri itu pun selesai saat matahari berada tepat di atas kepala mereka dan Arsenios memerintahkan semua pasukan untuk kembali ke Desa Bharazy.
Saat di perjalanan, Eryk bertanya kepada Arsenios. “Bukankah lebih mudah menyembunyikan mereka di dalam desa? Bau mereka pasti akan terhalang bunga wolfsbane secara alami.”
“Masih terlalu banyak hal yang belum ku ‘gali’ tentang desa itu, lagi pula kita tidak ingin mengotori tempat singgah kita dengan mayat mereka, bukan?” jawab Arsenios.
Eryk hanya mengangguk mengiyakan, meskipun dia tidak sepenuhnya paham apa maksud Arsenios