Irtum's Game

Irtum's Game
Bab 10



Dua hari sudah berlalu dari kejadian tersebut, Alpha Lycaon memperhatikan tidak ada mata-mata yang kembali dari pemantauan terhadap pasukan pengepung.


“Jika mereka tidak kembali ke desa ini karena bergabung dengan pasukan manusia itu, itu jelas akan mengikis harga diriku sebagai pemimpin. Tapi, jika mereka semua mati akibat manusia itu, maka dibutuhkan persiapan yang lebih matang untuk mendatangi mereka lagi. Namun, melakukan persiapan tanpa mengetahui lawan akan sangat sulit mengingat tidak ada yang bisa memberikan informasi tentang kekuatan mereka.” pikir Alpha Lycaon.


“Hei, kau! Bukankah kau bilang saat mereka mengajakmu bergabung, mereka memberitahukan kekuatan si manusia itu?” tanya Alpha Lycaon kepada Fillan.


“Ma-maafkan aku, Yang Mulia. Kupikir itu adalah omong kosong, jadi aku tidak mengingatnya.” ucap Fillan ketakutan.


“Kalau kusuruh ingat ya ingat, bukannya beralasan!” bentak Alpha Lycaon dengan mencakar dada Fillan.


Fillan hanya bisa meringis kesakitan di hadapan Alpha, tidak berani lagi berteriak walaupun rasa sakit menusuk dadanya.


“Sudahlah, segera persiapkan pasukan, harus aku yang melihat sendiri apa yang terjadi di sana.” ucap Alpha Lycaon.


Dengan merangkak kesakitan, Fillan tertatih keluar ruangan Alpha untuk menyiapkan pasukan.


Darah berceceran dari dada Fillan menyisakan jejak, Alpha Lycaon menjilati cakarnya yang masih berlumuran darah Fillan dan mengumpulkan sisa darah Fillan yang tercecer lalu meminumnya.


“Sudah lama ya rasanya, meski bukan murni darah manusia.” gumam Alpha Lycaon dengan terkekeh.


 


Di sisi lain.


“Laporan hari kedua, sudah banyak dari mereka yang tewas saat mencari pasukan pengepung, sekitar 20 werewolf hari ini.” Esve memberi laporan pada Arsenios.


“Gigih juga rasa ingin tahu mereka, atau lebih tepatnya bisa dibilang bodoh sih, membuat pasukan bunuh diri yang tidak berguna.” ucap Arsenios dengan terkekeh.


“Sepertinya para werewolf tidak pernah memikirkan cara untuk menggali di bawah tanah, karena aku juga tidak menemukan ruang bawah tanah satu pun di desa mereka.” ucap Esve.


“Tapi itu bukan alasan untuk menurunkan pertahanan terhadap jalur bawah tanah.” Eryk menyahut.


“Eryk benar, tetap awasi bawah tanah, Esve. Mereka sempat membuatku kaget karena rencana mundur mereka membuat aku tidak bisa menghabisi mereka dalam sekali hantam, meskipun sampai sekarang semuanya masih sesuai rencanaku sih.” Arsenios berkata dengan sombong dan sedikit tertawa.


“Sepertinya mereka mempunyai informan dari kita, maksudku … mereka menyerang tepat setelah kita mengumpulkan kekuatan.” Esve bergumam.


“Bukankah itu bagus, dengan begitu kita tidak perlu berjalan jauh ke desa itu dan bisa menghemat stamina untuk perang.” ucap Arsenios.


Perkumpulan kecil mereka cukup tertutup, hanya bertiga di bawah tanah ditemani lilin yang menyala. Tidak ada yang menggangu, hening, bahkan sangat hening saat mereka tidak berbicara.


“Bagaimana tentang ramalan atau apa pun itu, aku tidak percaya hal seperti itu, jadi aku tidak begitu mengerti.” tanya Esve.


“Kalau kau tidak percaya kenapa ingin tahu.” sahut Arsenios.


“Cukup bilang kalau kau masih buntu sepertinya susah ya.” balas Esve.


Arsenios mengernyit kesal.


“Sudah-sudah, kita memang buntu, kita tidak mengerti siapa yang dimaksud dari ramalan itu. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa manusia di ramalan werewolf adalah Arsenios, tapi dia tidak ingin dianggap manusia dalam ramalan.” Eryk menengahi.


“Kenapa begitu?” tanya Esve.


“Karena aku bukan narsistik.” ucap Arsenios dengan membusungkan dadanya.


“Kau ini berkepribadian ganda ya.”


“Apa?”


“Kadang kau aneh, kadang sangat aneh.”


“Kau tidak membantu, jadi diam saja.”


“Jangan macam-macam.”


Eryk sudah lelah melerai keributan dua manusia yang tiba-tiba muncul di dunianya itu pun hanya bisa menghela napas.


Perkumpulan mereka pun berakhir tidak menghasilkan apa-apa, entah sudah yang ke berapa kalinya berakhir seperti itu.


“Ya setidaknya persiapan untuk perang sudah tidak perlu dipikirkan, walaupun ini terlihat seperti bersiap-siap untuk bermain-main.” pikir Arsenios.


Bersiap-siap untuk bermain-main dimaksudkan seperti orang yang lebih cepat menyiapkan suatu pekerjaan agar waktu bersantai lebih banyak.


“Hei Eryk, kau tidak kenal werewolf yang sekiranya adalah werewolf dalam ramalan?” tanya Arsenios setelah semua keributan berakhir.


“Aku tidak terpikirkan siapa pun.” jawab Eryk.


Esve saat itu sedang mencari catatan dari tumpukkan buku tua di bawah tanah itu, dia mencarinya menggunakan Skill GPS.


“Tidak ada keterangan dari buku-buku ini yang menunjukkan kalau buku-buku ini berhubungan dengan ramalan, kecuali satu catatan ini.” Esve melaporkan hasil pencariannya dengan memberikan Arsenios catatan itu.


“Di sini tertulis. ‘Terkadang yang kita cari pada orang lain adalah sesuatu yang menempel erat pada kita', terdengar seperti pepatah untuk larangan menghina orang lain, apa di sini ada hantu yang mendengar hinaan satu sama lain dari kita tadi, jadi mereka menyindir kita dengan memberikan catatan ini.” ucap Arsenios dengan heboh.


“Omong kosong apa itu.” Esve menanggapi.


“Apa itu hantu?” sela Eryk.


“ … “


“ ... “


Arsenios dan Esve menoleh ke arah Eryk.


“Kenapa reaksi kalian seperti itu?” tanya Eryk dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kau tidak pernah mengalami suatu hal yang tidak masuk akal?” tanya Arsenios pada Eryk.


“Pernah, saat bertemu dengan kalian. Kekuatan kalian tidak masuk akal di sini.” jawab Eryk.


“Bukan itu maksudku.” jawab Arsenios dengan bingung.


“Lalu bagaimana?” tanya Eryk kembali.


“Peradaban werewolf cukup berbeda ya, kalian percaya Dewa tanpa percaya adanya hantu.” Esve menanggapi, “mungkin kau tidak paham hubungannya. Tapi dalam peradaban manusia, mereka menemukan entitas jahat seperti hantu terlebih dahulu lalu berharap kepada entitas yang mereka anggap lebih berkuasa, yaitu Dewa.” Esve melanjutkan.


“Mungkin karena dahulu werewolf sudah menganggap manusia sebagai entitas jahat itu, sehingga mereka hanya memerlukan sosok harapan.” Arsenios ikut menanggapi.


“Masuk akal.” Eryk akhirnya bersuara setelah diam mendengarkan.


“Tapi bukannya manusia yang lebih memerlukan ‘Dewa’ dari pada werewolf? Peradaban manusia kan tidak langsung menjadi modern dan sebelum manusia membuat senjata, werewolf lah yang memburu manusia.” jawab Esve.


“Mungkin mereka punya Dewa, tapi masalah utamanya tidak ada yang bisa menceritakan Dewa mereka kepada kita, ya kita seperti menganggapnya tidak pernah ada karena tidak pernah kita dengar.” sahut Arsenios.


“Lagi-lagi penjelasan dari kalian masuk akal.” Eryk lanjut menanggapi.


“Ya ... bukan hal besar.” ucap Arsenios dengan terkekeh.


“Untuk sementara, bukankah kita harus menyiapkan bubuk racun lagi?” ucap Esve.


“Benar, jika otak tidak menghasilkan sesuatu, maka biarkan otot yang menghasilkan sesuatu.” ucap Arsenios yang bangkit dari duduknya.


Lalu mereka bertiga keluar dari ruangan bawah tanah itu dan kembali ke Balai Desa Bharazy, dengan Arsenios dan Esve yang akan membuat bubuk racun dan Eryk kembali memimpin penjagaan di sekitar perbatasan. Dipilihnya pembagian tugas seperti itu karena pertahanan tubuh werewolf yang lebih sensitif terhadap bunga wolfsbane sehingga harus manusia lah yang membuat bubuk racun sebagai upaya meminimalisir kerugian di pasukan mereka.