Irtum's Game

Irtum's Game
Bab 6



Arsenios menumbuk bunga Wolfsbane untuk dijadikan sebagai bubuk racun, lalu menaruh bubuk racun itu di kantung minum yang ia temukan di ruangan itu.


“Mungkin hanya perasaanku, tapi sepertinya wolfsbane ini juga memiliki efek samping untuk manusia, meski tidak separah kepada werewolf. Untuk berjaga-jaga tidak boleh ada yang menyentuhnya secara langsung.” gumam Arsenios.


Arsenios keluar dari Balai Desa Bharazy, lalu pergi ke salah satu bekas rumah penduduk yang kondisinya setengah rusak.


“Biasanya orang penting di suatu daerah memiliki tempat tinggal yang dekat dengan tempat perlindungan, bukan mustahil jika rumah miliknya pun kokoh karena memiliki beberapa hal rahasia yang harus dilindungi.” pikir Arsenios.


Pintu rumah yang hampir lepas dari engselnya berderit saat digeser oleh Arsenios, saat masuk ia langsung disambut oleh ruangan yang penuh reruntuhan, ruangan itu sebenarnya cukup luas tanpa reruntuhan, sepertinya ruangan itu terlihat seperti ruang tamu dalam Desa Manverton. Ruangan itu merupakan ruangan yang atapnya hancur, Arsenios berpikir bahwa sepertinya tidak ada yang bisa disembunyikan dalam ruangan tersebut karena orang licik tidak akan membiarkan orang lain dekat dengan hal yang ia sembunyikan, lagi pula ruangan ini terlalu ‘rapuh’ untuk menyimpan sesuatu yang berharga.


Arsenios berjalan pindah ke ruangan lain, hingga ia menemukan ruangan yang atapnya tidak hancur. Seperti ruangan kerja, ada banyak kertas berserakan, juga buku-buku dengan simbol aneh pada sampulnya. Semuanya seperti habis diacak-acak oleh pemiliknya sebelum dia meninggalkan ruangan itu.


Saat menelusuri ruangan itu, Arsenios menemukan sebuh toples berisi kunci yang seperti direndam dalam cairan minyak di dalam sebuah toples yang tergeletak di lantai, orang yang meninggalkannya seperti tidak ingin kunci itu terkena oksigen yang menyebabkan besi menjadi berkarat, dan juga sepertinya orang yang membuat ruangan ini ingin ada seseorang yang memecahkan teka-tekinya. Dibandingkan membuat kunci dari es lagi, Arsenios berpikir sepertinya lebih cepat jika ia mengikuti teka-teki yang ditinggalkan orang itu karena di ruangan ini ada banyak sekali laci yang terkunci, lagi pula jika dia menggunakan kunci es, maka Arsenios tidak akan mengerti maksud yang ingin disampaikan pembuat teka-teki ini.


Pertama Arsenios mencoba kunci tersebut dengan laci di meja kerja yang ada di depannya, tak disangka ia langsung berhasil. Dengan bantuan cairan minyak yang tersisa dari kunci itu, laci karatan itu cukup mudah dibuka. Terdapat sebuah gulungan dan sebuah kunci lain yang dimasukkan ke dalam toples kecil yang sepertinya berisi cairan minyak juga.


Gulungan itu bertuliskan. “Saat itu Dewa Bulan menampakkan sisi merahnya.”


“Apa mungkin ... ini salah satu sajak ramalan yang dikatakan Eryk?” gumam Arsenios.


Arsenios kembali mencari lubang kunci yang pas untuk kunci yang baru ia temukan. Saat itu perhatian Arsenios tertuju pada sebuah lemari baju, lemari itu cukup tipis untuk disebut lemari baju, jadi cukup mencurigakan baginya, lalu Arsenios mencobanya pada lemari tersebut. Namun, ternyata kunci itu tidak pas, benar-benar ada perbedaan antara lubang kunci dan kunci itu.


Arsenios kembali mencari lubang kunci yang pas, hingga akhirnya dia menemukannya setelah mencoba berulang kali, salah satu dari banyak pintu laci yang ada di deretan atas lemari lain.


Arsenios menurunkan isinya yang ternyata sebuah gulungan dan kunci baru yang tersimpan di dalam toples berisi cairan minyak. Kali ini tulisan dari gulungan itu adalah. “Penerus darah asli kembali berdiri atas takhta hak leluhur.”


Dengan melihat kunci lainnya yang ada bersama gulungan itu, Arsenios berpikir, “ternyata belum selesai? Bahkan kalimat dua ini harusnya sudah bisa menjadi ramalan.”


Arsenios melanjutkan pencarian lubang kunci lainnya untuk memecahkan teka-teki yang ditinggalkan ini. Saat itu Arsenios menemukan kotak di bawah meja, agak tertutup oleh barang-barang lainnya, saat mencoba kunci ke kotak tersebut ternyata bisa.


Isi kotak itu sama seperti laci lainnya, sebuah gulungan dengan kunci yang terjaga dari korosi. Perbedaannya hanya isi tulisan dari gulungan, bahkan kunci yang ada di dalamnya hampir mirip satu dengan lainnya.


Isi dari gulungan ketiga itu adalah. “Tiap detik di dalam kehidupannya terlalu menyedihkan.”


Isi dari gulungan itu adalah. “Pada saat itu pula tidak ada yang menyangka bahwa dia lah sang penerus darah asli, bahkan dirinya sendiri pun.”


“Hanya seminggu waktu untuk mencari orang itu, orang yang bahkan tidak tahu kalau dirinya adalah orang yang diramalkan.” ucap Arsenios dengan menggaruk kepala.


Arsenios kembali melanjutkan pencarian lubang kunci selanjutnya, lalu menemukan lubang kunci yang pas di bagian atas lemari baju yang tipis tadi. Setelah membuka kuncinya, Arsenios menurunkan laci tadi agar lebih mudah dilihat. Namun, ada yang berbeda dari laci itu. Toples kunci tidak ada isi cairannya dan seperti ada retakan di badan toples, dengan cemas Arsenios membuka gulungan itu. Benar saja, kertas itu menjadi buram karena cairan minyak yang tumpah entah sudah berapa ribu tahun yang lalu, cairan yang bahkan sudah mengering.


Arsenios terdiam pasrah, semuanya sedang bersiap perang. Tetapi dirinya tidak bisa memecahkan arti ramalan.


Ada kunci lainnya, apa mungkin sisa kertas ramalannya memiliki nasib yang sama seperti kertas tadi? pikir Arsenios kacau.


Kunci itu berbeda dari kunci lainnya, kunci yang terlihat lebih besar dari yang tadi terus ia dapatkan dan Arsenios mengerti lubang kunci yang pas untuk kunci itu.


Arsenios menghadap ke arah lemari tipis tadi dan mencoba kunci itu, dan ternyata berhasil terbuka. Saat pintu lemari itu terbuka, mulai terlihat seperti ada jalan rahasia di dalamnya, jalan menurun dengan tangga lengkap dengan pegangan tangga di kedua sisinya.


Dengan menggunakan skill ‘Torch Eyes’ Arsenios pun menuruni tangga itu. Anak tangga demi anak tangga dituruni, dengan skill ‘Temperature Senses’ juga Arsenios tidak merasakan ada makhluk lain di dalam sana.


Hingga sampai lah Arsenios di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup luas, anehnya meskipun luas tapi hanya ada sofa, meja dan sebuah buku di atas meja. Arsenios mengambil buku itu dan ada yang terjatuh dari sela-sela buku tersebut, secarik kertas. Yang ternyata itu adalah bait ramalan terakhir dari yang sudah ia kumpulkan dari tadi. Tulisan ramalan terakhir itu adalah. “Pemantiknya ialah amarah.”


Arsenios mengumpulkan semua kertas ramalan termasuk yang buram tadi, jika dikumpulkan isinya kurang lebih.


“Saat itu Dewa Bulan menampakkan sisi merahnya.


Penerus darah asli kembali berdiri atas takhta hak leluhur.


Tiap detik di dalam kehidupannya terlalu menyedihkan.


Pada saat itu pula tidak ada yang menyangka bahwa dia lah sang penerus darah asli, bahkan dirinya sendiri pun.


...


Pemantiknya ialah amarah.”