
Tak terasa rerumputan di depan mereka sudah berubah menjadi bunga yang bersinar dalam gelapnya malam, wolfsbane. Eryk terlihat menutupi hidungnya dengan tangannya.
“Membekulah!” Arsenios mengeluarkan skill area dingin yang cukup luas. Namun, jika dibandingkan luasnya tanaman wolfsbane merambat, sepertinya yang membeku hanya sebagian kecil yang membentuk jalan lurus.
“Terima kasih, aku sudah bisa bernapas sekarang.” ucap Eryk dengan melepaskan tangan dari hidungnya.
“Dengan ini aku jadi mengerti kalau penciuman hidung kalian tidak bisa menembus lapisan es milikku, sepertinya butuh waktu bagi kawanan Neuri untuk menemukan bau Alarick karena dia membeku.” ucap Arsenios.
Mereka berjalan ke dalam area wolfsbane tumbuh. “Mencairlah!” Tidak lupa Arsenios mencairkan daerah terluar tanaman wolfsbane sebagai ‘perisai’ dari para werewolf.
“Bha ... razy? Sepertinya itu nama pemukiman manusia ini.” Arsenios membaca tanda di perbatasan luar bekas pemukiman itu, tanda yang terbuat dari kayu sudah cukup tua dan ditumbuhi tanaman merambat.
“Aku belum pernah dengar nama itu sih, bahkan dari cerita turun temurun,” balas Eryk.
“Wajar saja sih, kau bilang itu sudah ribuan tahun yang lalu kan. Tapi kukira pemukiman ini memiliki teknologi maju karena bekas pemukimannya tidak hancur bahkan setelah ribuan tahun, ternyata tidak ya.” ucap Arsenios.
“Apa itu teknologi?” kebingungan Eryk terlihat natural sekali.
“Kau ... tidak mengerti? Bagaimana cara menjelaskannya pada makhluk yang belum pernah dengar kata ‘teknologi’ ya, mungkin seperti hal-hal berguna yang dibuat manusia.” ucap Arsenios.
“Seperti senjata ya,” tebak Eryk.
“Ya kau benar, seperti itu lah.” syukurlah dia mengerti, pikir Arsenios.
“Tapi senjata manuia saat itu mampu memojokkan para werewolf, bukankah itu sudah sangat maju?” tanya Eryk.
“Dibandingkan dengan dunia asalku, sepertinya Desa Bharazy tidak lebih maju dalam hal teknologi,” jawab Arsenios sembarang.
Eryk terkagum-kagum mendengarnya, terlihat dari wajahnya. Walaupun Arsenios tidak melihatnya.
Hal yang mengganjal pikiran Arsenios adalah, desa seperti itu adalah desa yang cukup kuno bahkan dalam hal material bahan bangunan. Namun, kenapa bisa bertahan selama ribuan tahun? Seolah waktu tidak mau mengikis desa ini.
Rumah-rumah mereka lewati, bagian dalam rumah-rumah itu sudah hancur, pintu-pintu banyak yang sudah tidak di tempatnya sehingga melihat bagian dalam rumah-rumah itu menjadi mudah. Hingga Eryk berhenti.
“Ada apa?” tanya Arsenios.
“Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang mirip denganmu, anehnya dia tiba-tiba muncul. Padahal sebelumnya aku tidak merasakan apa-apa,” ucap Eryk dengan terkejut.
“Mirip denganku? Apakah itu Player juga? Atau hanya manusia biasa? Karena Eryk belum pernah mengendus bau manusia biasa, jadi aku tidak tahu apakah bau player sama dengan manusia pada umumnya atau sistem menaruh perbedaan.” ucap Arsenios dalam hatinya.
Dengan mengejutkan muncul jendela notifikasi. “Player mendapat Skill ‘Temperature Sense’. Skill yang bisa merasakan hawa makhluk hidup apa pun dengan mendeteksi suhu tubuh makhluk hidup lain.”
“Dia semakin mendekat, dia sema ...” ucapan Eryk terhenti.
“Ice Shield!” Arsenios melompat ke samping kanan Eryk dengan menepis serangan dari orang asing itu.
Orang asing itu mundur beberapa langkah dengan memegang senjata seperti pisau.
“Wanita? Siapa kau?” tanya Arsenios.
“Apa untungnya bagiku untuk menjawab.” ucap wanita misterius itu.
“Teleportasi?” pikir Arsenios.
“Ternyata itu ulahmu ya yang membekukan bunga wolfsbane,” wanita itu kembali berbicara.
“Apa untungnya bagiku untuk menjawab,” balas Arsenios.
Terlihat dari raut wajahnya, wanita itu kesal.
“Kau Player juga, bukan?” Tanya Arsenios lagi.
Wanita itu tidak menjawab.
“Quest kita pasti sama, bukan? Tidak ada ruginya jika bekerja sama,” balas Arsenios lagi.
“Sama? Kau melindungi werewolf dan aku membunuh werewolf, kita tidak sama.” balasnya.
“Quest milikku juga membunuh werewolf. Namun, tidak semua werewolf. Hanya alpha mereka dan beberapa serigala raksasa,” balas Arsenios.
“Apa bedanya, di akhir mereka akan membela pemimpin mereka dan akan membunuh manusia, harusnya werewolf itu kita bunuh.” jawab wanita itu lagi.
“Kau tidak mengerti sejarah mereka, bukan? Bersama mereka, kita bisa menjatuhkan alpha.” jawab Arsenios.
“Bekerja sama dengan monster? Haha. Tidak, terima kasih!” ucap wanita itu.
“Monster ya ...” gumam Eryk.
“Jangan terlalu dipikirkan, merasa paling benar adalah hal yang paling salah yang pernah manusia lakukan,” Arsenios menenangkan situasi, “hey nyonya, kalau kau memang harus membunuh werewolf ini kenapa tidak kau lakukan dari tadi.” Terbesit di pikiran Arsenios untuk menguji kemampuan dirinya dengan memanfaatkan Player lain.
“Nyonya katamu? Aku baru 25 tahun.” protes wanita itu.
Arsenios menatap Eryk seperti memberi tanda.
“Tidak bisa?” Eryk ikut memanasi.
“Kau ...” wanita itu berteleportasi ke belakang mereka.
“Sword of Damascus: Ice Form!” Arsenios mengarahkan pedangnya ke arah senjata wanita itu dan menangkis serangannya.
“Membekulah!” pisau wanita itu tersangkut di pedang Arsenios.
Wanita itu mundur beberapa langkah dengan teleportasi.
“Sadarlah, hanya dengan kemampuanmu itu tidak akan bisa membunuh alpha werewolf. Kita butuh pasukan, meskipun itu dari kawanan mereka sendiri, tenang saja aku punya rencana.” jelas Arsenios.
“Cih ... Baiklah apa rencanamu,” akhirnya wanita itu menyerah.
“Kita gunakan sumber daya yang sangat luas di sini, wolfsbane sebagai senjata melawan mereka. Lalu mengumpulkan para omega werewolf dan rouge werewolf sebagai bala bantuan atau juga sebagai bala informasi. Lalu saat waktu menyerang, kita akan bakar sekitar pemukiman Neuri agar mereka kesulitan menemukan bau kita karena terhalang asap, mungkin saja mereka tidak tahan api dan itu bisa mengurangi kekuatan pasukan mereka.” Arsenios menjelaskan rencananya.
“Kekuatanmu es tapi ingin membuat api? Haha ironi sekali,” sela wanita itu.
“Tanpa Skill milikku, aku bahkan bisa membuat api dari kayu dan daun kering, orang ini tidak pernah pergi berkemah ya,” keluh Arsenios dalam hati, “ya terserah apa katamu, omong-omong siapa namamu? Sebagai tim sementara kita harus bertukar informasi apa pun itu,” tanya Arsenios.
“Esvele Amblecrown, panggil saja Esve,” jawab wanita itu.
“Keturunan bangsawan?” Selidik Arsenios.
“Tidak, hanya nama. Sekarang giliran namamu,” jawab Esve dengan ketus.
“Arsenios Athas,” jawab Arsenios singkat.
“Kupanggil Arse saja, namamu terlalu panjang,” jawab Esve.
“Hei, jangan ubah nama orang sembarangan,” tolak Arsenios.
“Namaku Eryk ... hehe,” sela Eryk dalam obrolan mereka.
Suasana agak canggung untuk beberapa menit selanjutnya.
“Kalian punya nama kedua ya, keren sekali,” ucap Eryk memecah keheningan di antara mereka.
“Nama kedua?” tanya Esve ketus.
“Ya, nama setelah nama panggilan kalian,” lanjut Eryk.
Arsenios dan Esve saling menatap, seolah mengerti apa yang dimaksud Eryk. Namun, mereka tidak mengerti bagaimana cara menjawabnya.
“Umm ... Tidak bisa disebut nama kedua juga sih, kami menyebutnya nama panjang, seperti ... perpanjangan dari nama panggilan ... ya mungkin begitu ... ya benar begitu.” jawab Arsenios dengan terbata-bata.
Esve hanya memutar matanya mendengar jawaban Arsenios.
“Jadi begitu ya.” jawab Eryk.
“Bisakah kita sudahi percakapan konyol ini, bukankah kita tidak punya waktu untuk ini?” sela Esve.
“Kita masih punya 4 minggu, tuh.” jawab Arsenios saat melihat ke waktu quest.
“Bukan itu maksudku, aku harus segera kembali ke duniaku secepatnya.” ucap Esve.
“Kau sudah coba teleportasi ke duniamu?” pertanyaan Arsenios itu membuat Esve seolah baru menyadari sesuatu.
“... akan ku coba,” Esve mengambil ancang-ancang.
Muncul jendela notifikasi di depan Esve.
“Level Skill belum cukup untuk membuka Skill ‘Teleportasi antar dunia’. Dibutuhkan Skill lain yang mencapai tingkat tertentu untuk membukanya.”
“Tidak bisa?” Eryk berbasa-basi.
“Jangan tanya.” jawab Esve singkat.
“Omong-omong apa saja Skill milikmu, mungkin aku bisa mengatur strategi untukmu kedepannya, aku kan pintar haha.” tanya Arsenios pada Esve.
“... saat perputaran dadu, aku dapat dua titik. Skill Teleportasi dan Skill GPS. Dua Skill yang saling berhubungan menurut sistem, tapi aku tidak mengerti sepenuhnya pada awalnya.” jawab Esve.
“Untuk tingkatannya?” tanya Arsenios lagi.
“Untuk Skill Teleportasi, tingkat pertama berupa perpindahan tempat sejauh maksimal 100 meter tanpa tahu apa yang ada di tempat tujuan, aku baru membuka tingkat pertama. Tingkat kedua aku bisa merasakan bahaya di tempat tujuan sebelum sampai ke sana dan jarak teleportasiku semakin jauh. Tingkat ketiga aku memiliki dua cabang, jika aku ambil cabang atas dijelaskan aku bisa meninggalkan ragaku untuk teleportasi tanpa batasan, seperti bisa mencari informasi tanpa ketahuan, kalau cabang bawah kecepatan teleportasi milikku ditingkatkan hingga 5000% lalu aku bisa seperti terbang atau membuat diriku terlihat banyak karena kecepatan teleportasiku.” jelas Esve.
“Untuk Skill GPS?” tanya Arsenios lagi.
“Ya aku bisa tahu semua tentang pulau ini, aku bisa memproyeksikan peta lengkap dengan makhluk hidup di dalamnya. Dengan itu aku bisa sedikit menutupi kekurangan Skill Teleportasi tingkat satu milikku. Tingkat keduanya aku bisa mendeteksi peta dalam tanah dan aku bisa mendapat informasi secara akurat dari setiap makhluk hidup yang ku temui. Untuk tingkat lanjutnya aku bisa mengetahui informasi dari tempat yang bahkan belum pernah ku datangi.” Jelas Esve.
Arsenios terlihat berpikir, “Untuk sekarang, Skill satu GPS miliknya kurang berguna karena kita masih memiliki Eryk di sini. Warga asli yang jelas lebih mengetahui tanah kelahirannya sendiri. Teleportasinya sendiri cukup berguna untuk menyampaikan pesan kepada rouge werewolf lainnya agar tidak terlalu memakan waktu.”
“Baiklah, kau bisa berteleportasi dengan membawa Eryk dan sampaikan ke seluruh rouge werewolf untuk berkumpul di sini, katakan tidak perlu takut pada wolfsbane, aku sudah ‘menetralkan’ baunya. Aku akan meracik racun wolfsbane di sini, jadi sementara waktu aku akan sibuk,” ujar Arsenios kepada Esve dan Eryk.
“Tunggu! Kau pikir aku mau membawa dia berkeliling dunia, lagi pula aku bahkan tidak tahu caranya membawa werewolf besar ini berteleportasi,” sanggah Esve pada rencana Arsenios.
“Kau mau mengajak werewolf rouge itu seorang diri dan menjadi santapan bagi mereka? Lagi pula untuk membawa sesuatu kau hanya perlu menyentuhnya, bukan? Karena itu juga kan yang kau lakukan pada pisaumu dan juga pakaianmu.” jawab Arsenios.
“Aku bahkan tidak pernah memikirkannya,” jawab Esve dalam hati.
“Sudah-sudah, lebih cepat memulai rencana, semakin baik, bukan?” lerai Eryk.
“Baiklah, kita akan berangkat,” dengan ragu-ragu Esve meraih tangan Eryk.
Lalu mereka pun berteleportasi.