Irtum's Game

Irtum's Game
Bab 3



“Hahaha, tidak perlu lari dari makhluk brengsek seperti ini,” ucap Arsenios.


Arsenios memikirkan senjata yang ingin dia buat sendiri lalu muncul sebuah jendela notifikasi.


“Player telah membuka Skill ‘Temperature Weapons’ perpanjangan Skill dari Skill sentuhan, gunakan untuk membuat senjata dengan menyesuaikan suhu.”


“ICE SPEAR!” teriak Arsenios.


Dingin menyebar dengan cepat di sekitar mereka, membuat semua makhluk yang berada tak jauh dari mereka merinding kedinginan, lalu sebuah tombak terbentuk, tombak yang sangat panjang dan mengarah ke jantung Alarick lalu menembusnya.


Alarick dan Eryk menatap Arsenios seolah sedang mencerna apa yang terjadi, nampaknya serangan itu cukup efektif menghentikan lawan meskipun tidak langsung membunuh.


“Apa ... i ... ni?” ucap Alarick saat jantungnya mulai membeku, lalu Alarick ambruk ke tanah.


Eryk dan Arsenios saling tatap.


“Pertanyaannya nanti saja,” ucap Arsenios.


“Hah?” tanya Eryk.


“Tadi dia bilang kalau dia sedang memastikan agar kau tidak kabur ‘kan, artinya dia werewolf yang cukup memiliki pengaruh di kelompokmu kalau perkiraanku benar. Jadi setelah dia menghilang maka dia akan cepat dicari, lalu cepat juga diketahui bahwa dia tewas, lalu secepat itu pula lah kau akan jadi buronan.” jelas Arsenios terburu-buru.


“Oh iya,” Eryk seperti masih kebingungan dengan apa yang terjadi mencoba mencerna apa yang terjadi, dia menatap mata Arsenios dan sadar bahwa hidupnya tidak akan sama setelah bertemu Arsenios, apa lagi perasaan bersalah masih menyelimutinya karena dia berniat membawa Arsenios untuk menggantikannya dalam ritual persembahan.


“Ayo kabur bodoh, saat ini hanya kau yang diincar, mereka belum tahu ada spesies lain yang mampu membunuh werewolf,” Arsenios menarik tangan Eryk dan mereka berlari ke arah bekas pemukiman manusia.


Sudah agak lama mereka berlari lalu Eryk berhenti.


“Tunggu, di sini sudah aman,” Eryk menahan tangannya dari Arsenios, “ini sudah di luar area penciuman mereka, aku juga sudah mulai mencium bau wolfsbane.”


“Sudah dekat dengan pemukiman?” selidik Arsenios.


Eryk menggeleng, “tidak juga, kau tidak tahu kan seluas apa tanaman liar itu merambat.”


Arsenios hanya menatap Eryk menunggu jawaban.


“Tanaman itu bahkan jadi lebih luas dari pemukiman manusia itu sendiri. Jadi melewati daerah tanaman merambat itu terasa seperti melewati dua desa, jadi serbuk bunganya bisa menyebar dengan sangat jauh seperti sampai ke sini,” jelas Eryk.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih santai, lalu Arsenios membuka obrolan, “tidak ada pertanyaan?”


“Rasanya tidak etis mempertanyakan suatu hal yang sudah menyelamatkan hidupku,” Eryk hanya menjawab tanpa melihat Arsenios karena masih diselimuti perasaan bersalah.


“Aku tidak keberatan,” Arsenios juga hanya membalas tanpa melihat Eryk, “baiklah sepertinya harus aku sendiri yang menjelaskannya, asal kau mau melepaskan diri dari mereka lebih baik kita saling membantu. Kau akan ditumbalkan, bukan? Tidak ada untungnya berdiri untuk orang yang akan membunuhmu.”


“Ya, tapi bagaimana cara melawan mereka,” Eryk merasa hidupnya tidak lama lagi karena pasti dirinya akan diburu ribuan werewolf dalam waktu dekat.


“Tidak mengapa, kastaku memang rendah,” Eryk mengakuinya.


“Baik, aku jelaskan diriku terlebih dahulu lalu kau jelaskan dirimu setelahku,” ucap Arsenios. Arsenios pikir, jika dibandingkan dengan werewolf yang tadi ia bunuh, jelas werewolf di depannya tidak ada apa-apanya, lagi pula yang Arsenios butuhkan hanyalah pengetahuan tentang daerah ini dari werewolf ini, jadi tidak ada pilihan lain selain mendapatkan kepercayaannya dan membuatnya mengkhianati kawanannya.


“Kurasa aku tidak punya pilihan selain mengkhianati kawanan,” hela napas Eryk terdengar dalam sunyi di antara mereka.


“Aku manusia biasa awalnya. Namun, karena suatu tragedi aku mendapat kekuatan mengendalikan suhu, tombak es yang waktu itu merupakan salah satu kemampuanku. Karena suatu hal juga aku harus membunuh alpha kalian, entah apa yang akan terjadi denganku jika tidak bisa melakukannya.” Arsenios memulai pertukaran informasi.


“Baik, giliranku. Aku lahir dalam kawanan itu, kawanan Neuri yang dipimpin alpha Lycaon, alpha Lycaon sudah memimpin kawanan bahkan sejak aku belum lahir. Lalu untuk sistem kasta dalam kawanan kami adalah Alpha sebagai pemimpin, Luna sebagai pasangan Alpha, Beta mirip seperti wakil bagi Alpha dan jadi pengawal di sisi alpha juga, Gamma diisi jendral kepercayaan Alpha, Alarick ada di kasta Gamma jika itu penting bagimu, Delta sebagai masyarakat biasa, lalu kastaku yaitu Omega, kasta terendah. Memang benar kastaku rendah, bahkan tidak ada yang berani membantu ibuku saat menjadi tumbal tidak lama setelah aku lahir, mungkin sekitar 20 tahun.” Eryk menghentikan ceritanya.


“Tidak lama? Hidupku bahkan belum genap 20 tahun.” Arsenios hanya bertanya dalam hati dengan heran.


“Mungkin kau tidak mengerti tumbal ini untuk apa, tapi kami menyebutnya ‘Full Moon Goddess’, itu adalah ritual untuk Dewa Bulan. Ritual saat bulan menjadi merah dan menjadi lebih besar dari biasanya.” Eryk menjelaskan.


“Blood Moon?” Arsenios menyelak.


“Jadi manusia menyebutnya seperti itu ya, kami percaya ritual itu akan menjadikan Alpha semakin kuat dan bisa melindungi kawanan dengan lebih hebat setelah memakan mayat korban ritual. Awalnya ritual ini hanya menumbalkan manusia, harus ada darah manusia yang tumpah di dalam ritual ini, lalu alpha yang saat itu memimpin terpikirkan bagaimana jika manusia habis, maka dicarilah darah manusia dari dalam kawanan untuk jaga-jaga menggantikan manusia asli yang diperkirakan bisa habis, yang dimaksud darah manusia dalam kawanan adalah seperti anggota kawanan yang awalnya manusia lalu diubah menjadi werewolf atau keturunannya, atau juga werewolf yang terlahir dari persilangan manusia dan werewolf. Oleh karena itu, sistem kasta dibuat dan tetap bertahan hingga sekarang. Tembok pemisah antara werewolf asli dan pemilik darah manusia yang mengalir dalam tubuhnya yang disebut Omega, agar lebih mudah dicari untuk ditumbalkan. Makanya banyak dari Omega yang memilih melarikan diri dan menjadi werewolf Rouge, ya seperti kabur dari ritual, tetapi tidak sedikit juga Rouge yang tertangkap lalu dijadikan tahanan untuk stok korban ritual.” Eryk menjelaskan.


“Jadi mayoritas Rouge ini tidak ada yang lebih muda darimu, bukan?” tanya Arsenios.


Eryk dengan sedikit bingung menjawab, “bagaimana kau tahu?”


“Karena werewolf omega sepertimu tidak melarikan diri, sebabnya jelas karena ada stok tumbal. Jadi menurut perkiraanku werewolf omega yang seumuran denganmu hanya tinggal duduk santai karena dilindungi stok tumbal tadi. Namun, sepertinya ada hal yang mengubah urutan ditumbalkannya werewolf omega yang menyebabkan dirimu yang tidak sempat kabur pun sudah menjadi calon tumbal berikutnya.” jelas Arsenios.


“Kau benar, tapi apa itu penting untuk sekarang,” ucap Eryk ragu.


“Artinya karena mereka sudah lebih lama hidup maka mereka lebih mengerti kelemahan dan rahasia kawanan, mereka juga takut diburu kawanan, bukan? Artinya mereka juga bisa kita ajak memberontak.” Arsenios menjelaskan rencananya.


“Kau tahu kan alasan mereka melarikan diri? Karena mereka takut pada kawanan. Lalu kau menyuruh mereka melawan penyebab pelarian diri mereka?” sanggah Eryk pada rencana Arsenios.


“Kau benar juga, aku tidak memikirkan hal seperti sisi psikologis hewan buas. Tapi, apa tidak bisa kita coba terlebih dulu?” Arsenios menghela napas kecil.


“Kalau kau menjelaskan kekuatanmu kepada mereka, mungkin dengan itu mereka jadi punya harapan,” ucap Eryk.


“Jika seperti itu maka rumor akan terbawa kepada kawanan Neuri, sehingga mereka punya waktu memikirkan cara mengantisipasi seranganku, tetapi jika tetap harus dilakukan boleh saja sih,” gumam Arsenios.


“Sebenarnya ada ramalan tentang manusia yang akan menghancurkan sistem kasta Neuri dan membunuh para petinggi. Namun, semenjak manusia menghilang dari pulau ini ramalan itu juga ditinggalkan, meskipun ada yang berpikir maksud manusia dalam ramalan itu adalah pemegang darah manusia dari werewolf yang ditinggalkan alias werewolf omega. Mungkin kita bisa menggunakan ramalan ini untuk mengajak mereka,” ujar Eryk.


“Bagus, kita hanya perlu ke pemukiman bekas manusia dan lalu mengajak mereka, karena aku juga punya ide terhadap ‘wolfsbane’ yang tadi kau ceritakan,” ujar Arsenios.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pemukiman bekas manusia.