
Sekarang bagaimana caranya membawa banyak bunga ini dengan cepat?” tanya Arsenios pada dirinya sendiri dengan menghela napas.
“Player membuka Skill ‘Icechokinesis'. Pindahkan benda yang sudah terlapisi es milik Player tanpa menyentuhnya.” jendela notifikasi muncul secara tiba-tiba.
“ … terjadi lagi, hanya kupikirkan lalu muncul.” gumam Arsenios.
Arsenios membawa segenggam bunga di atas tangannya tanpa menyentuhnya. Dia berkeliling Desa Bharazy dengan tujuan mencari ‘tempat singgah’ sementara, karena bagaimana pun mereka tidak tahu kapan ini semua berakhir. Sehingga mereka membutuhkan tempat singgah, walau jika dilihat dari kondisi desa ini seperti mustahil mendapat tempat tinggal.
Pagi itu langit menjadi kelabu, sepertinya hujan ingin menyegarkan dunia ini. Di tengah mendung yang semakin gelap, tanpa disangka Arsenios menemukan bangunan yang tampak masih utuh atapnya, bangunan yang sangat luas, sehingga Arsenios berpikir sepertinya bangunan ini dahulu adalah Balai Desa Bharazy.
“Apa dahulu mereka memusatkan pembangunan hanya pada bangunan besar ini untuk perlindungan ya?” gumam Arsenios.
Arsenios memasuki bangunan dengan dua pintu tersebut, salah satu pintu sedikit terbuka. Pintu itu sedikit tersendat, mungkin karena umur bangunan yang sudah tua.
Tidak ada yang aneh dengan bangunan ini, dalamnya tampak seperti aula olahraga sekolah dulu tempatnya belajar, pikir Arsenios.
“Mungkin saja perkiraanku benar tentang mereka menggunakan bangunan ini seperti bunker perlindungan, pantas saja pondasi bangunan ini seolah lebih kokoh dibanding bangunan lainnya.” ucap Arsenios berbicara sendiri.
Di ujung bangunan seperti ada panggung kecil, mungkin dipakai kepala desa ini untuk memberi pengumuman, Arsenios berjalan ke panggung itu setelah menaruh bunga wolfsbane di salah satu sisi ruangan.
Arsenios berdiri di atas panggung kecil itu, menatap sekitar. “Mungkin kepala desa menyembunyikan sesuatu yang hal itu hanya bisa dilihat olehnya tapi tidak terlihat oleh warga. Jadi mungkin aku menemukan sesuatu dari sini.” gumam Arsenios lagi pada dirinya sendiri. Namun, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Saat menuruni panggung kecil itu, Arsenios menyadari sesuatu tetang ‘hal yang tidak terlihat’, hal itu hanya berada di bawah panggung tempat ia berdiri, dengan cepat Arsenios ‘menyerang’ panggung kecil itu.
“Ice Crowbar!”
“Selamat Player mendapatkan ‘Item Rare’.”
Jendela notifikasi muncul setelah panggung kecil itu terbongkar sedikit, terlihatnya sebuah kotak kecil dari dalam sana.
Arsenios lalu mengeluarkan kotak kecil dari bawah panggung, kotak yang dikatakan oleh sistem sebagai barang langka.
“Terkunci?” gumam Arsenios.
Terlistass sebuah ide di dalam otak Arsenios, ia mengarahkan jari telunjuk kanannya ke arah lubang kunci.
“Blacksmith of Ice: Key of All!”
Arsenios mengisi seluruh isi lubang kunci dengan aura dingin miliknya lalu memadatkannya, sehingga membuat kunci dari es yang sangat pas dengan lubang kunci kotak itu. Saat kotak itu terbuka, terlihat seperti ada kalung kuno.
“Jimat?”
Terdapat jimat kecil dalam sebuah kalung, jimat berbentuk garis yang saling menyilang, membentuk huruf ‘X’. Selain itu, ternyata ada secarik kertas dalam kotak itu yang bertuliskan. “Hanya dengan perak ini, jantung alpha Werewolf bisa hancur.”
Terlintas dalam pikirannya, untuk mendekati alpha werewolf tidak akan semudah itu, senjata jarak jauh yang bisa terpikirkan Arsenios saat itu hanya panah. Arsenios lalu menggunakan Skill sentuhan panas untuk meleburkan perak itu, lalu membuatnya menjadi seperti ujung anak panah.
“Bahkan tidak cukup untuk dijadikan satu anak panah, hanya terbentuk ujungnya saja.” keluh Arsenios.
Di sisi lain.
“Hei, kau tak apa?” tanya Esve pada Eryk.
“Ya ...” Eryk terlihat terkejut karena efek teleportasi.
“Ayo lah, kau kenal dengan makhluk ini, bukan? Ajak dia cepat.” suruh Esve kepada Eryk.
“Ahh ... iya.” Eryk mulai mengetuk pintu.
Werewolf Rouge tinggal secara menyebar di sekitar pemukiman Bharazy. Karena akan cukup berbahaya jika ada yang ketahuan oleh bangsa Neuri, jadi secara teknis mereka tinggal cukup jauh satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, rencana ini akan memakan waktu yang cukup lama.
Tidak lama Raulin keluar dan terkejut melihat Esve yang berada di belakang Eryk. “Manusia itu berubah?” tanya Raulin.
“Tidak Raulin, mereka orang yang berbeda.” jawab Eryk dengan menggaruk kepalanya.
“Kau bilang sebelumnya hanya ada satu manusia di dunia ini, apakah akan ada perang antar ras lagi? Lalu di mana manusia pejantan itu? Apa kalian sempat dihadang kawanan Neuri lalu dia ditahan?” tanya Raulin terburu-buru.
Alarick.” jawab Eryk dengan sedikit ragu.
“Baik-baik saja bagaimana? Dia bahkan tidak punya senjata yang mengerikan itu.”
bantah Raulin.
“Sebenarnya itu tujuan kami ke sini, ingat ramalan itu? Ternyata dia bukan manusia
biasa, mau kah kau membantu kami mewujudkan ramalan itu?” tanya Eryk pada Raulin.
“Tunggu, kalian tidak menyebutkan soal ramalan tadi, jadi aku tidak tahu apa-apa.”
tanya Esve kepada Eryk.
“Ramalan apa? Kami sudah meninggalkan ramalan itu ribuan tahun lalu ,Eryk. Sudah
tidak perlu balas dendam.” ucap Raulin.
“Mungkin kau benar, tapi bukankah ini cara untuk mengembalikan semangat kesatuan werewolf sebelum Alpha Lycaon berkuasa? Dia merusak segalanya tentang kawanan.” Eryk mencoba terus membujuk Raulin.
“Aku ingin sekali mendukungmu, nak. Tapi pikirkan keselamatanmu, kau bahkan belum lahir saat ramalan itu pertama terdengar. Kau seperti mencoba maut, apalagi manusia yang kau katakan itu tidak lebih tua dibanding manusia itu. Pejantan itu masih kanak-kanak.” ucap Raulin membandingkan Arsenios dengan Esve.
“Aku ... tua?” gerutu Esve dengan kesal, tentunya dalam hati.
“Tapi dia bahkan membunuh Alarick.” sanggah Eryk kepada pernyataan Raulin.
Raulin terlihat terkejut.
“Anak itu membunuh Werewolf Gamma?” tanya Raulin seolah tidak percaya.
“Bahkan kalau dia mau, dia sudah membunuhku sejak awal.” sambung Eryk.
“Kau berada di bawah tekanannya sekarang?” tanya Raulin.
“Bukan begitu, maksudku dia bahkan lebih kuat dari kita. Untuk kualitas kekuatan kita bisa serahkan padanya. Namun, dia juga membutuhkan kuantitas pasukan.” jelas Eryk.
Raulin berpikir sejenak, jelas peperangan bukan permainan semata, pasti ada yang kehilangan nyawa dalam peperangan. Memulai peperangan pasti memulai mimpi buruk lainnya, Raulin jelas tidak ingin memulai perang hanya karena dendam.
“Perkara ini tidak mudah dimulai, kau paham?” tanya Raulin sedikit marah, “namun jika aku tidak mengawasi kalian, pasti terompet perang itu kalian yang akan membunyikannya. Aku harus mengawasi kalian, anak nakal seperti kalian pasti punya markas, antar aku ke sana.” pinta Raulin.
“Sebenarnya ada hal yang belum kuberitahukan kepadamu, Raulin.” ucap Eryk sebelum mereka memulai perjalanan.
“Apa lagi omong kosong yang akan kau katakan.” Raulin menunggu jawaban dengan tangan bersedekap.
“Aku akan jadi korban ritual ‘Full Moon Goddess’ selanjutnya.” ucap Eryk.
“Apa lagi hal yang tidak kuketahui ini.” ucap Esve dalam hati, dia enggan bertanya karena suasananya menjadi aneh sekali.
Tidak ada kata yang terucap setelahnya, hening di antara mereka bertiga. Raulin seperti tidak percaya hal yang ia dengar, hingga ia coba bertanya.
“Bagaimana dengan Sirhaan? Dia sudah berjanji akan menjagamu dari pemilihan daftar korban itu.” Raulin memecah hening.
“Dia berakhir di gua tahanan, karena membelaku sepanjang dekade terakir ini.” jawab Eryk sedih.
“Kenapa kau tidak pernah menceritakan hal itu?” tanya Raulin.
“Kau pasti akan memulai perang demi diriku. Namun jika perang dimulai tanpa persiapan, maka itu hanya akan berakhir menjadi bunuh diri massal. Tetapi sekarang aku sudah menemukan motivasi untuk melawan, jadi aku siap untuk perang.” jawab Eryk.
“Kau yakin?” Raulin memastikan.
“ ... yakin.” Ucap Eryk sedikit ragu-ragu.
“Hahaha kau terlihat ragu. Wajar saja, kita hidup sebagai puncak rantai makanan selama ribuan tahun. Makhluk yang sangat yakin bahwa spesiesnya kuat justru adalah makhluk yang paling tidak siap mati, biarkan aku membantu kalian untuk perang ini. Akan kukumpulkan para Rouge di arah selatan, jika kita berpencar maka akan semakin cepat, bukan?” ucap Raulin.
Eryk dan Esve senang mendengar hal itu.
“Baiklah, saat matarahi terbenam kita berkumpul di perbatasan vegetasi Wolfsbane sebelah barat.” ucap Eryk pada Raulin.