Irtum's Game

Irtum's Game
Bab 7



Eryk, Esve dan Raulin membagi tim menjadi dua dengan Raulin yang bergerak sendirian. Mereka harus mengajak para werewolf bekerja sama, jelas harus membutuhkan sosok yang dikenal banyak werewolf lainnya juga. Namun, setidaknya Esve masih berguna mempercepat langkah Eryk.


Esve menyadari teleportasi yang mereka lakukan sedikit demi sedikit menguras stamina miliknya, tapi dia memilih untuk tidak mengatakannya pada Eryk. Mereka terus mengajak para werewolf rouge untuk membantu pelengseran takhta Alpha Lycaon, tidak sedikit juga yang memilih untuk tetap bersembunyi. Para werewolf yang ingin ikut berperang mulai bergerak ke pinggir Desa Bharazy bagian barat, tanpa ditemani Eryk, Esve ataupun Raulin.


Rumor tentang mereka pun mulai menyebar di antara werewolf rouge, yang tidak mereka ketahui adalah ada yang membocorkan rumor ini ke Desa Neuri.


“Kau masih harus mengajak lebih banyak werewolf rouge, bukan? Cepatlah!” ucap Fillan kepada Raulin.


Raulin hanya mengiyakan dengan anggukkan.


“Aku masih harus membereskan sesuatu, nanti aku akan ke sana.” ucap Fillan.


“Kau masih membuat peralatan tidak jelas itu?” tanya Raulin sebelum pergi.


Fillan hanya tertawa sambil menutup pintunya dan memperhatikan suara langkah Raulin yang sudah menjauh.


“Gila, mereka pikir mereka akan menang? Bahkan pemimpinnya belum bisa dibilang dewasa bahkan dalam perhitungan umur manusia. Ramalan? Siapa yang masih percaya hal kuno itu. Kekuatan? Tadi Raulin bilang apa ya, aku sampai tidak memperhatikan karena sudah terlalu takut membayangkan perlawanan terhadap alpha Lycaon.” Fillan berputar mengelilingi kamarnya sambil memikirkan rencana untuk selamat baginya.


Akhirnya terpikir ide gila bahkan menurutnya. Yaitu, kembali ke kawanan Neuri, kembali kepada mimpi buruk bagi semua werewolf rouge, bahkan alpha werewolf sendiri sudah mengeluarkan perintah langsung kepada bawahannya agar membunuh semua werewolf rouge tanpa terkecuali karena telah dianggap mengkhianati kawanan dengan melarikan diri.


“Dengan informasi ini, mungkin mereka akan memaafkanku, tapi mungkin juga tidak. Jadi lebih baik ku persiapkan senjata untuk mereka sebagai pertimbangan tambahan.” pikir Fillan.


Dalam pikirannya lebih baik meminta perlindungan kepada hal yang ia takutkan dari pada melawan hal itu, meski itu tandanya pertaruhan antara hidup dan mati, sebab dia tidak tahu akan seperti apa dirinya saat menyerahkan diri kepada kawanan Neuri. Menurutnya meskipun jalan yang dia pilih adalah jalan yang tidak pasti membuatnya selamat, setidaknya ia tak mati konyol di bawah pimpinan bocah manusia yang adalah santapan werewolf.


Dengan membawa banyak perlengkapan, dia membawa gerobaknya menuju Desa Neuri. Gerobak yang desainnya ia lihat dari milik manusia terdahulu ditambah dengan kayuhan dan tempat duduk yang sepertinya ia gabungkan dengan sepeda dari milik manusia terdahulu juga. Ironi memang, tidak percaya pada kemampuan manusia tetapi tetap menggunakan teknologi manusia.


Jalan terdekat menuju Desa Neuri adalah jalan yang hanya bisa dilewati dengan memanjat, jadi Fillan harus memilih jalan yang agak memutar. Ia sampai di desa saat matahari mulai terbenam, semua penjaga langsung menawan Fillan ke hadapan Alpha. Dengan perasaan takut di hadapan Alpha, Fillan membeberkan semua rencana yang ia dengar dari Raulin, lalu menawarkan kerja sama.


“Kerja sama? Dengan pengkhianat?” marah sang Alpha.


“Kau paham betul, bukan? Dengan membawa peralatanmu ke sini kau sudah membuang ‘kegunaan’mu, membunuhmu pun kita tetap dapat peralatanmu.” tambah Alpha.


Fillan menyesali hal yang sudah ia perbuat tanpa pikir panjang. Namun, sepertinya masih ada yang bisa ia ‘jual’ kepada kawanan. “Tunggu, kalian tidak tahu tempat persembunyian para rouge dan manusia itu, bukan?” ucap Fillan.


“Apa maumu?” tanya Alpha.


“Lindungi aku, aku akan kembali mengabdi kepadamu, Yang Mulia. Lagi pula tanpa diriku, kalian bisa diserang tanpa pengumuman.” bela Fillan.


“Kau sudah pernah berkhianat, apa kau bisa membuktikan kau dapat dipercaya?” tanya Alpha.


Fillan terdiam.


“Untuk membuktikan aku tidak punya belas kasihan kepadamu, akan kucabut sebelah matamu.” Alpha tiba-tiba menyerang Fillan.


Fillan hanya bisa berteriak kesakitan.


“Itu buktinya kalau aku tidak main-main soal pengkhianatan, mungkin kau ku ampuni sementara karena informasi itu. Namun jika informasi itu palsu, kau mengerti apa konsekuensinya.” ancam Alpha.


“Perintahkan semua pasukan untuk bersiap, kita akan diserang paling lama sekitar dua hari lagi.” perintah Alpha Lycaon terhadap tangan kanannya.


“Paling lama rasa sakitmu hanya lima menit, jangan berpura-pura. Setelah itu bantu pasukan agar mengerti peralatan yang kau bawa.” perintah Alpha Lycaon dengan sinis kepada Fillan.


Anehnya setelah lima menit mata Fillan tidak beregenerasi, dengan bingung Fillan menatap Alpha dengan mata yang tersisa.


“Kemampuan yang bangsa kita bangga-banggakan tidak bisa bekerja dengan baik? Hahaha, kau kira kenapa ritual ‘Full Moon Goddess’ bisa membunuh werewolf? Aku bisa mengatur regenerasi makhluk yang kulukai.” jawab Alpha Lycaon tanpa menunggu Fillan bertanya.


Fillan hanya terdiam pasrah merelakan mata kirinya.


“Sedang apa kau? Bantu persiapan pasukan, cepat!” perintah Alpha Lycaon.


Dengan perasaan takut, Fillan cepat-cepat berjalan meninggalkan Alpha Lycaon.


 


Menjelang matahari terbenam, di sisi lain para pasukan pemberontak sudah berkumpul di bagian barat batas tumbuhnya bunga wolfsbane di bawah langit jingga, jumlah mereka sekitar 150 ekor werewolf rouge dan tentu satu manusia.


Esve saat itu sudah kehabisan tenaga untuk mengantarkan mereka semua ke dalam desa, tampak sekali dari postur tubuhnya yang sekarang agak lesu.


“Sekarang apa?” tanya salah satu werewolf rouge yang ikut mereka.


“Tenang semua,” Eryk menenangkan suasana, “hey, kau teleport sendirian saja aku akan menjaga mereka, cepat lah panggil Arsenios, dia harus membuka jalan untuk kita.” ucap Eryk pada Esve.


Esve hanya mengangguk.


Lalu dia menghilang ke dalam desa untuk mencari Arsenios.


Kemampuan proyeksi peta milik Esve tidak bisa mendeteksi Arsenios sama sekali, karena kebetulan Arsenios sedang berada di bawah tanah dan Skill GPS Esve baru mencapai tingkat pertama.


Esve menghela napas sembari bersandar pada salah satu dinding rumah yang belum hancur.


Stamina Esve belum pulih karena memaksakan batas dirinya, hingga tak terasa matanya mulai terpejam dan mulai bermimpi. Dalam mimpinya ia ditampakkan wajah seseorang, seseorang yang harus ia temui secepatnya. Orang itu selalu menyebut namanya, sampai Esve tidak rela kehilangannya lagi meskipun dalam mimpi. Wajah orang itu terlihat lebih bercahaya bagi Esve sekarang, tapi cahaya itu seperti pecah. Esve berteriak memanggil orang itu, tetapi percuma, cahaya itu semakin retak, suara orang itu juga mulai pudar, yang Esve dapat ddengarkan hanya. “ ... ingin cepat bertemu, maka ... hal yang kau mulai.”


Esve terbangun dengan keringat di sekujur tubuh, dia memandang langit di atasnya sudah sangat gelap. Dia merasakan sesuatu yang aneh, sepertinya Skill GPS tingkat dua miliknya sudah terbuka. Esve merasakan Arsenios berada di bawah tanah, lalu Esve juga merasakan adanya gelombang pasukan yang datang dari arah gunung Arcadia. Alasan Esve tidak merasakan Fillan yang malah pergi menuju Desa Neuri adalah karena Skill yang Esve miliki tidak bisa digunakan secara bersamaan, jadi tadi dia hanya fokus pada teleportasi karena batasan stamina miliknya, staminanya yang hanya sedikit juga yang membuatnya tak bisa membuang stamina untuk hal lain.


Setelah menyadari hal berbahaya sedang menuju ke arah mereka, Esve langsung berteleportasi ke tempat Arsenios.