
Arsenios terbangun dalam kehampaan putih, terasa buram namun juga jelas di saat bersamaan. Sebelum berhasil mencerna apa yang terjadi pada dirinya, tiba-tiba muncul sebuah jendela notifikasi tepat di depan wajahnya.
“Selamat datang di Irtum’s Game.”
“Player dipersilakan menggulir dadu untuk mendapat titik Skill, semakin banyak titik semakin banyak kemampuan.”
Dengan setengah bingung Arsenios meraih dadu virtual itu. Namun, sebelum sempat menyentuh dadu itu, dadu tersebut sudah bergulir. Lalu muncul satu titik dari dadu tersebut setelah berhenti bergulir.
“Player hanya mendapatkan satu Skill untuk bertahan hidup, Skill akan dipilihkan secara acak.”
“Bertahan hidup? Hei apa maksudnya!” ucap Arsenios sedikit panik.
Beberapa opsi pilihan terus bergulir di depannya, hingga berhenti dan menunjukkan tulisan ‘Temperature Controller’. Belum selesai Arsenios berurusan dengan kebingungan yangterus berputar di kepalanya, jendela notifikasi itu kembali berganti.
“Kemampuan yang akan Player dapatkan adalah mengendalikan suhu, silakan cek jendela profil untuk melihat keterangan kemampuan.”
“Apa ini?” ucap Arsenios lirih.
Meski bingung Arsenios tetap melakukan apa yang disuruh, tangan Arsenios meraih jendela profil. Namun, belum sempat menyentuhnya tiba-tiba alarm sistem berbunyi.
“Player akan dikirimkan ke dunia lain secara acak, hitungan mundur dimulai. Lima.... Empat.... Tiga.... Dua.... Satu.” Arsenios terhempas jatuh secara cepat seperti saat ditarik pusaran Irtum.
Setelah terhempas selama 30 detik, Arsenios terjatuh di atas padang rumput yang luas dikelilingi pegunungan, saat itu langit sudah mulai oranye dan matahari mulai terbenam dibalik gunung yang paling tinggi di dataran itu.
“Duhh, di mana ini?” dengan cepat pertanyaan Arsenios terjawab dengan jendela notifikasi yang muncul.
“Player tiba di dunia canis lupus.”
“Oh yang benar saja, serigala?” keluh Arsenios.
Untuk berjaga-jaga Arsenios membuka jendela profil, setidaknya untuk mengetahui seberapa bergunanya sesuatu yang ia punya.
“Level player 1. Healt point 100. Mana point 100. Apa ini? Pohon Skill, ada dua, pohon Skill panas dan pohon Skill dingin. Skill area ‘Sahara’ memanaskan suhu sekitar hingga 100 derajat celcius Level 1 bisa bertambah panas seiring kenaikan Level Skill. Skill area ‘Arctic’ mendinginkan suhu sekitar hingga -100 derajat celcius Level 1 bisa bertambah dingin seiring kenaikan Level Skill. Skill ‘Hell’s Hand’ bisa memanaskan suhu dengan menyentuh objek hingga 1000 derajat celcius Level 1 bisa bertambah panas sesuai kenaikan Level Skill. Skill ‘Ice Cristal’ membekukan objek dengan cara menyentuhnya hingga pada tingkat -1000 derajat celcius bisa bertambah dingin sesuai kenaikan level Skill.” Gumam Arsenios.
“Tidak sama rata ya antara Skill panas dan dingin, memang terlihat sama sih jika dibandingkan antara kedua suhunya, namun suhu dingin lebih ekstrim. Untuk harga mana yang diperlukan setiap Skill juga tergolong kecil, untuk Skill area tergantung seberapa luas areanya, dan untuk Skill sentuhan tergantung seberapa luas dampak area yang ku inginkan. Tapi karena Skill sentuhan suhunya jauh lebih ekstrim dibanding suhu area, maka harga mana yang dibutuhkan pun jadi lebih banyak.” Arsenios bergumam sendiri.
“Apa ini? Quest,” Arsenios menyentuh tombol quest tersebut, “harus membunuh Alpha werewolf, cerberus, dan serigala keturunan dewa, batas waktu 30 hari. Bahkan ada hitungan mundurnya ‘29 hari 23 jam 54 menit 32 detik', ya kabar baiknya aku bisa menghitung jam dari hitungan mundur ini. Saat quest ini dimulai itu sekitar jam 6 sore, berarti pergantian hari menurut dari waktu quest adalah jam 6 sore.”
“Sebentar, apa yang akan terjadi jika aku tidak menyelesaikan quest ini? Kemungkinan terbaiknya aku akan kembali ke tempatku, tapi kemungkinan terburuknya kematian, tidak ... bahkan bisa lebih buruk lagi seperti terjebak di dunia aneh ini selamanya.” pikir Arsenios sembari menghela napas dengan sedikit pasrah menatap sekitar.
Arsenios mulai menelusuri padang rumput yang luas itu dengan terpaksa, saat itu dia menuju gunung tertinggi di dataran itu, gunung yang sangat tinggi sehingga menjadi tempat terbenam matahari, tempat yang kini Arsenios pijak akan lebih cepat gelap dibanding area sisi lain gunung itu. Tetapi setelah beberapa saat Arsenios berjalan, dia mendengar seseorang memanggilnya, mungkin bukan seseorang tetapi melainkan sesuatu.
“Hey, kau yang di sana!” panggil suara itu, Arsenios mencari sumber suara dan ternyata suara itu berasal dari makhluk berbulu dan sedikit berlari dengan membungkuk, dengan waspada Arsenios menjaga jarak.
“Jadi ini yang dimaksud canis lupus di dunia ini, werewolf?” ucap Arsenios dalam hati.
“Tenang kawan aku tidak bermaksud menakutimu, aku hanya penasaran kenapa ada manusia di sini, sudah lama sekali pulau ini tidak kedatangan manusia.” ujar makhluk itu dengan menenangkan Arsenios.
“Jelas tidak ada yang ingin ke sini kalau ada makhluk sepertimu bodoh,” pikir Arsenios.
“Sedang apa manusia di sini?” tanya werewolf itu dengan mendekat pada Arsenios.
Arsenios menelisik werewolf itu dengan penuh curiga.
“Jaga jarakmu!” Arsenios memperingati.
“Tenang kawan, aku tidak memakan manusia.” werewolf itu berhati-hati juga dalam mendekati Arsenios.
Dengan terus menatap tajam, Arsenios tetap menjaga jarak.
“Oke … apa maumu?” tanya Arsenios.
“Aku ... hanya penasaran kepada manusia,” ujar werewolf itu.
Saat itu Arsenios terpikirkan rencana untuk menggali informasi dari makhluk ini, jika dia bisa memberitahukan tempat tinggal mereka, maka mungkin itu akan membantunya menyelesaikan quest ini, dengan begitu juga Arsenios tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengelilingi dunia ini mengingat keterbatasan waktu quest.
“Generasiku tidak ada yang sempat melihat manusia, jadi aku baru pertama kali melihat manusia,” werewolf itu kembali berbicara.
“Apa yang terjadi pada para manusia itu, kalian menghabisinya?” Arsenios menyelidik.
“Tidak juga, mereka bermigrasi entah ke mana. Panjang sekali ceritanya,” ujar werewolf itu, “omong-omong, namaku Eryk,” werewolf itu menjulurkan tangan.
“Arsenios,” jawab Arsenios singkat tanpa menjawab uluran tangan Eryk.
“Oke Arsenios, bagaimana jika kita pergi ke Desaku, kawananku pasti akan terkejut melihat manusia lagi setelah satu generasi atau ribuan tahun tanpa manusia di pulau ini. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang menganggap kalian mitos,” jelas Eryk.
“Atau mungkin kalian akan mengulitiku hidup-hidup,” pikir Arsenios saat itu.
Namun, untuk mengetahui sesuatu maka ia harus pergi ke sana. Ya kemenangan tidak akan didapatkan tanpa rasa sakit, bukan? Dengan perasaan ragu Arsenios menjawab, “baiklah.”
Eryk berjalan menyusuri padang rumput diikuti Arsenios, mengarah ke arah gunung yang menjadi tempat terbenamnya matahari seperti arah awal Arsenios berjalan. Arsenios merasa harus mendapatkan informasi sebanyak mungkin sebelum masuk ke dalam jebakan mereka.
“Kalian tinggal di sana?” Arsenios memulai dengan percakapan basa-basi.
“Ya, itu gunung Arcadia. Gunung tertinggi di sini, kawanan kami yaitu kelompok Neuri menetap di lereng bagian timur gunung Arcadia yang dipimpin oleh alpha kami, kami menjuluki alpha kami sebagai Lycaon. Walaupun kami sudah menjadi therians dan bukan manusia lagi karena sudah sangat lama tidak bertemu manusia, mungkin selama ribuan tahun.”
“Apa perbedaan jenis kalian?”
“Singkatnya di antara para werewolf, hanya alpha kami seekor lycan yang bisa mengubah manusia menjadi werewolf, namun karena sudah tidak ada manusia lagi selama ribuan tahun jadinya aku tidak tahu apakah alpha kami bisa mengubahmu atau tidak haha. Untuk therians, karena kami sudah tidak bertemu manusia dalam waktu lama jadi tidak memiliki kemampuan menjadi manusia lagi, karena kemampuan itu dirasa tidak diperlukan lagi bagi kami, tubuh kami secara alami membuang kemampuan itu. Lalu ada juga rouge, mereka adalah werewolf yang memilih hidup di luar kawanan.”
“Hanya kalian makhluk yang bisa berbicara seperti ini saat ini?”
“Tidak juga, ada penjaga daratan ini, kabarnya ada di tengah benua, sedangkan tempat ini berada di pinggir daratan benua. Bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya, konon katanya ia disebut Cerberus. Lalu ada lagi mahkluk lain, leluhurku mengatakan ia adalah anak dewa, dia besar sekali bahkan kalau dia berdiri tingginya bisa lebih tinggi dari gunung-gunung selain Arcadia, karena tidak ada yang bisa mengalahkan tinggi gunung Arcadia kami haha, konon dia ada di belakang barisan bukit arah tenggara itu, tentu saja kita tidak ingin membangunkannya jadi tidak pernah ada yang pergi ke sana. Konon juga katanya dia dibelenggu oleh dewa yang menangkap ayahnya makanya dia tidak bisa berkeliaran, ya itu hanya cerita lama sih aku tidak tahu kebenarannya.”
“Werewolf suka bergosip juga rupanya, berapa jumlah kalian?”
“Sekitar 5.000 kurasa.”
“Kalian menjadi puncak rantai makanan di pulau ini, kan?”
“Tentu kalau tidak menghitung dua makhluk tadi. Namun, meskipun werewolf adalah puncak rantai makanan, dahulu kami sempat diburu manusia saat itu, mereka menciptakan berbagai senjata untuk menyerang kami, tapi itu semua berakhir saat mereka memutuskan pergi dari pulau ini.”
“Di mana para manusia itu tinggal sebelum pergi?”
“Di sisi lain gunung Arcadia, sekitar pantai. Bekas permukiman mereka pun masih ada hingga sekarang.”
Arsenios sedikit berpikir, “kalau pemukiman mereka masih tersisa bahkan setelah ribuan tahun, semaju apa teknologi mereka,” pikir Arsenios dalam hati.
Langit sudah gelap namun mereka masih cukup jauh dengan gunung Arcadia, Arsenios berhenti untuk membuat obor dengan bahan seadanya dan dengan Skill sentuhan panasnya, tentu Skill itu dia sembunyikan dengan pura-pura memantik api dengan batu.
Masih cukup berbahaya untuk percaya pada para werewolf, karena jika Eryk mengetahui Arsenios bukan manusia biasa maka dia bisa menghubungi kawanannya agar bersiap untuk kemungkinan terburuk saat berhadapan dengan Arsenios, jadi Arsenios memutuskan berlaga layaknya manusia biasa yang lemah.
Dari hitungan mundur quest, Arsenios menebak sepertinya sekarang sekitar jam 8 malam.
“Bisakah aku membunuh mereka dengan Skill yang kumiliki sekarang? Untuk mencoba-coba pun terlalu beresiko, jika salah satu dari mereka tidak mati setelah aku menyerangnya, maka selesai sudah riwayatku. Bahkan jika aku bisa membunuh alpha mereka apakah aku bisa melarikan diri, sepertinya mustahil masuk ke pemukiman mereka lalu membunuh alpha dan selamat dari ribuan werewolf. Bahkan jika aku tidak membuat keributan apa pun, aku tidak tahu kapan mereka akan menjadikanku sebagai hidangan karena sekarang aku seperti sedang menyerahkan diri untuk disantap mereka,” pikir Arsenios dalam kepalanya.
Hewan-hewan nokturnal mulai berkeliaran di padang rumput di sekitar mereka, lalu Arsenios bertanya-tanya dalam pikirannya, “apakah aku bisa menaikan level dari hewan-hewan tersebut, ide itu terdengar lebih aman dibanding mencoba membunuh werewolf untuk sekarang. Tapi bagaimana cara menyembuhkan mana point dan healt point, lalu apa pula yang terjadi jika aku kehabisan healt point, apakah aku akan mati, atau hidup kembali seperti dalam game, atau malah kembali ke Desa Manverton sebagai tanda berakhirnya mimpi buruk ini? Meski begitu, karena kemungkinan pertama, mati terlalu beresiko untuk dicoba.”