Irtum's Game

Irtum's Game
Prolog



Semua kegilaan ini bermula saat siang itu, siang yang tampak seperti hari-hari sebelumnya itu tiba-tiba berubah saat penduduk Desa Manverton dibuat kebingungan dengan fenomena alam yang terjadi di langit pada siang itu, langit cerah yang tiba-tiba berubah menjadi gelap dalam sekejap. Semua orang keluar rumah untuk melihat ke atas langit yang gelap dengan bertanya-tanya, melihat pusaran aneh yang tampak amat besar berada tepat di atas bukit Irtum dan mereka hanya bisa menerka-nerka apa yang akan terjadi.


Saat itu Arsenios Athas sedang berada di sekitar balai Desa, terbilang cukup jauh dari pusaran aneh itu. Arsenios tidak memahami kondisi aneh tersebut, namun yang ia yakini pusaran tersebut bukanlah pertanda baik. Hal pertama yang dipikirkan Arsenios adalah kabur sejauh mungkin dari bahaya. Namun, di mana Nemelia? Pikirnya dengan mencari sosok ‘teman’nya sembari berlari.


Dilihatnya dari kejauhan, kerumunan orang yang seperti penasaran dengan pusaran aneh itu semakin banyak. Sulit mencari satu orang di balik kerumunan orang yang membelakanginya. Sebab itu, mau tidak mau ia harus masuk ke dalam kerumunan, walaupun akan memakan banyak waktu di saat tidak ada yang tahu pasti kapan pusaran itu akan berulah.


Seperti diburu waktu, Arsenios mempercepat langkahnya. Hingga ia menabrak seseorang.


“Aduh, paman Haldir maaf,” ucap Arsenios sembari bangkit dari jatuhnya.


“Tidak apa,” jawab paman Haldir yang seperti dia baru tersadar dari mimpinya, “sedang apa ya aku di sini?”


Dengan cepat, Arsenios menyadari sesuatu. Sepertinya pusaran itu mempengaruhi penduduk Desa.


“Paman, kita harus segera menjauh dari sini,” ucap Arsenios kepada paman Haldir


Paman Haldir seperti ragu-ragu melihat ke ke orang lain.


“Tidak ada waktu menyelamatkan semua orang, paman.” ucap Arsenios seakan mengerti maksud keraguan paman Haldir.


“Bahkan untuk menyelamatkan orang itu?” ucap paman Haldir yang seperti baru menemukan sesuatu dengan menunjuk ke arah seseorang yang berada di atas bukit Irtum, orang yang sedang menuju ke bawah pusaran.


Dengan memicingkan mata, Arsenios mencoba melihat siapakah orang yang dimaksud. Ternyata itu adalah Nemelia, orang yang Arsenios cari sejak tadi.


Dengan cepat Arsenios berlari ke arah bukit, mengubah haluan awalnya.


“Hey, kau bilang tidak ada waktu untuk menyelamatkan orang lain!” teriak paman Haldir kepada Arsenios.


Dengan tingginya yang sekitar 175 cm, tinggi di atas rata-rata untuk para penduduk desa, Arsenios bisa dengan mudah melihat ke atas bukit. Tidak ada orang lain di sekitar Nemelia, mereka seperti memberi ruang untuk Nemelia melakukan sesuatu.


Perawakan Arsenios yang terbilang kurus untuk anak seumurannya memberinya sebuah ide untuk melewati kolong kaki para kerumunan, ide yang cukup berbahaya karena jika terinjak tamat sudah nasibnya.


Tentu tidak semua orang akan dengan lapang hati membukakan kaki mereka untuk jalan Arsenios dan memang tidak semudah yang ia bayangkan. Namun, ia masih bisa menembus kerumunan. Dengan beberapa usaha Arsenios berhasil melewati baris terdepan kerumunan dan segera berlari ke arah Nemelia.


Arsenios terus berlari ke atas bukit dengan melihat Nemelia yang sudah berada tepat di bawah pusaran, ia mengangkat tangannya seperti ingin meraih pusaran itu. Kabar buruknya adalah, bukan hanya Nemelia yang ingin meraih pusaran, tetapi pusaran itu juga meraih tangan Nemelia. Saat ‘tangan’ mereka hampir bersentuhan, Arsenios menabrakkan dirinya ke Nemelia, Nemelia terhempas jatuh menjauh dari pusaran namun nahasnya pusaran itu seperti masih membutuhkan mangsa, kaki Arsenios yang saat itu berada tepat di bawah pusaran seperti ditarik oleh pusaran itu bahkan sebelum Arsenios sempat menyentuh tanah. Setelah menarik kaki Arsenios, dengan sekejap pusaran itu menghilang bersama Arsenios.


Langit perlahan kembali normal, orang-orang seperti baru tersadar dari ‘hipnotis' dan bertanya sedang apa mereka saat itu. Hanya samar-samar saja ingatan mereka tentang kejadian itu, ada beberapa yang tidak sadar ada orang hilang, ada beberapa juga yang ingat ada seseorang yang terhisap pusaran, beberapa lainnya bahkan tidak peduli dengan kejadian itu.


Pembahasan ini segera menyebar di hampir seluruh lapisan penduduk desa, mereka menyebut kejadian itu ‘Pusaran Irtum’. Desas desus orang hilang juga terbahas dan beberapa orang menyadari bahwa itu Arsenios, beberapa orang terdekat berduka atas kehilangan Arsenios, beberapa juga mentertawakannya.


“Hahaha, si bodoh itu bahkan tidak tahu kalau pusaran tersebut berbahaya.”


“Iya payah sekali dia malah menghampiri bahaya, salah sendiri menghilang begitu.”


 Gal dan Gil bersaudara mengulangi gurauan mereka tentang Arsenios sepanjang hari di salah satu kedai Desa.


Haldir mengetahui segala yang terjadi dalam kejadian itu, karena dia yang tersadar pertama dari hipnotis pusaran. Namun, karena sulit mengubah persepsi masyarakat luas tentang kejadian Arsenios, yang bisa Haldir lakukan hanya mencari tahu cara untuk bisa mengembalikan Arsenios.


Langit Desa Manverton kembali seperti normal setelah kejadian pusaran Irtum. Di dalam ruangannya, Haldir membuka buku-buku tua yang membahas tentang kejadian mistis demi mencari cara mengembalikan Arsenios.


“Anak itu ...” hela napas paman Haldir memecah keheningan ruangan.


Paman Haldir memegang dua foto yang terpajang di meja ruangan, foto Arsenios dan foto seorang wanita, wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya, wanita yang juga tewas 35 tahun yang lalu. Rasa ingin mengulang waktu kembali menyelimuti dirinya untuk yang kesekian kalinya, rasa takut saat paman Haldir tidak bisa menyelamatkan istrinya di kebakaran rumahnya kembali lagi setiap dia masuk ke ruangan itu, ingatan rasa bersalah bahwa dirinya tidak bisa bergerak untuk menolong istrinya karena diselimuti rasa takut terasa berbeda kali ini setelah melihat Arsenios yang menyelamatkan Nemelia. Saat itu ia hanya bisa melihat pemandangan terakhir yang mengerikan di rumah itu, orang yang amat ia sayangi dilahap api hingga tak tersisa, penyesalan memang datang terlambat.