INTER DIMENSION

INTER DIMENSION
TROUBLED FAMILY (Keluarga bermasalah)



Disaat malam tiba, ketika aku sudah tidur dan ibuku hendak siap mau tidur, suara ketukan pintu terdengar cukup keras hingga membuat ibuku tersentak kaget seketika.


Tok... tok... tok... "Woy cepetan buka pintunya!!!"


"Iya mas tunggu dulu" sahut ibuku yg segera bergegas menuju pintu.


Terlihat seorang pria yg habis mabuk mabukan dengan bau arak di sekujur tubuhnya yg tak lain adalah ayahku sendiri.


"Kamu kemana aja mas, uhukkk...uhukkk...uhukkk...udh seminggu kamu gk pulang2, beras juga udh mau abis mas" Sahut ibuku dengan kondisi kesehatan nya yg semakin memburuk.


"Halah, cari aja duit sendiri, kamu kan pelakor" Bentak ayahku sambil mendorong ibuku hingga jatuh tersungkur.


"Astaghfirullahalazim mas" Sahut ibuku sakit tersungkur setelah di dorong.


"Mana laki2 itu!? mana!?" Bentaknya membuat ibuku gemetar ketakutan.


"Ng... nggak ada mas, dia udh pergi" jawab ibuku dengan gugup.


"Wah udh berani yah kamu main belakang2" bentak ayahku sambil memelototi ibuku.


"Itu fitnah mas, kamu percaya gitu aja, dia sendiri yg dateng kesini, aku suka usir dia tapi dianya keras kepala, uhukkk...uhukkk...uhukkk... justru kamu yg sering main sama wanita lain didepan mataku sendiri, udh cukup mas!!!" Jawab ibuku dengan sakit hati, karena memang waktu itu ayahku sering membawa perempuan lain kerumah.


"Halah bohong kamu!!!"


Sebuah tamparan keras mengenai wajah ibuku, hingga pipinya pun memerah.


"Mas, ampun mas, kamu kenapa kayak gini mas, aku mohon kamu balik lagi kayak dulu lagi mas" Tangis ibuku sambil memegangi kaki ayahku.


Ku yg mendengar tamparan keras itu segera bangun dan mengecek. Ibuku menangis sejadi jadinya. Sedih??? sudah tentu sedih ku melihat ibuku diperlakukan seperti bukan istrinya lagi. Ku hanya bisa melihat ibuku dari balik tembok dan tak bisa bertindak karena aku juga takut dengan pukulan keras dari ayahku. Sudah beberapa kali pukulannya mengenai wajahku, hingga wajahku bonyok dan berdarah-darah. Trauma sangat mendalam ku di buatnya.


Ketika ayahku hendak ke kamar ibuku dan ibuku mengikutinya, aku pun ikut untuk mengecek karena takut terjadi apa apa dengan ibuku.


"Mas kamu ngapain buka buka laci itu, uhukkk... uhukkk... Itu uang simpenan mas buat belanja kebutuhan sehari-hari" Sahut ibuku sambil memohon.


"Halah, udh diem kamu!!!"


"Mas aku mohon mas, jgn ambil uangnya mas, anak kita lagi sakit mas" Tangis ibuku dengan sangat memohon.


"Bodo amat, dia bukan anak gue!!!" Bentak ayahku, karena memang ku bukan anak yg diinginkan.


Dia menganggap bahwa aku adalah anak pembawa sial.


"Mas, kamu keterlaluan mas, itu anak kamu lagi sakit lho mas!!! uhukkk...uhukkk...uhukkk..." jawab ibuku sambil menunjuk nunjuk ke arah kamar ku.


Menyayat hati mendengar kata yg menyakitkan dari orang tua sendiri.


"Astaghfirullahalazim mas, uhukkk...uhukkk...uhukkk...Kamu gk boleh kayak gitu mas, kamu boleh hina aku, tapi jgn anakmu, anakmu gk sepenuhnya bersalah mas, anggap aja itu suatu musibah dan cobaan yg tengah kita hadapi, jgn sampai kamu terpuruk seperti ini mas" bentak ibuku yg membelaku karena ayahku menganggap bahwa aku adalah anak sial.


"Mas jgn diambil uangnya mas, itu hasil jualan aku buat kebutuhan sehari-hari. Aku nggk ada lagi uang mas" Tangis ibuku memohon.


"Halah, minggir kamu!!!" bentaknya sambil menendang ibuku.


Ibuku pun tersungkur jatuh lagi.


"Astaghfirullahalazim ya Allah".


Orang biadab itu pergi begitu saja, dengan meninggalkan luka di hati dan juga fisik. Selain itu, dia juga mengambil seluruh uang hasil jualan ibuku selama ini untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah ku. Skrg kami harus bertahan dengan apa yg masih kami miliki.


beruntung ibuku masih mau bertahan dengan orang seperti dia. Karena kami pun bingung mau kabur kemana. Karena percuma punya saudara, mereka tidak peduli dan selalu iri hati dan dengki dengan kesuksesan kami di masa lampau. Dan kini setelah kami terpuruk, mereka seakan senang dan puas dengan kondisi kami saat ini.


Dari dulu ayahku selalu menomorduakan ku dengan adikku. Yah wajar sih menurut ku, kan dia anak bungsu.


Skrg adikku sudah tiada meninggalkan kami, karena insiden tabrak lari 2 tahun yg lalu.


Beberapa tahun sebelumnya saat kecelakaan itu terjadi...


Disaat kami keluar dari mobil menuju suatu tempat yg dituju untuk refresing, adikku yg sedang dalam pengawasan ku atas perintah dari ayahku, tiba-tiba saja dia berlari untuk mengejar sesuatu, dan secara mengejutkannya, mobil misterius tiba-tiba muncul dan entah dari mana, kini menabrak adikku sampai tubuhnya hancur seketika. Aku yg melihat langsung syok lalu memanggil kedua orang tuaku. Kedua orangtuaku terkejut atas insiden itu dan ayahku menyalahkan ku atas keteledoranku dalam mengawasi adikku. Sejak insiden tabrak lari itu, dia semakin terpukul karena kehilangan anak yg dia sayangi dan yg diidamkan nya.


Dia selalu menyalahkan ku atas insiden itu. Selama bertahun-tahun aku merasa bersalah atas insiden itu dan merasa menjadi orang yg tak berguna. Dan akhirnya pada saat itu dia mencapku sebagai anak pembawa sial. Dan dari awal kelahiran ku, Ayahku tak menanti kehadiran ku karena memang aku anak yg tak di inginkan. Dari situlah awal mula kehancuran keluarga kami. Dimulai dari adikku satu satunya meninggal membuat ayahku terpukul hingga merembet ke usaha milik ayahku yg bangkrut dan kini sudah menjadi milik hak pesaingnya.


Begitu stress nya ayahku waktu itu, hingga seperti nya kepalanya mau meledak. Tak asing bila aku dan ibuku jadi bahan pelampiasan amarah ayahku yg terus memuncak. Hampir setiap hari kami jadi bahan pelampiasan nya.


Sudah 2 tahun lamanya ayahku jadi begini, sejak insiden itu terjadi pada adikku satu satunya yg harus meninggal di tempat.


Ayahku mengalami kebangkrutan yg teramat besar, hingga ia terpaksa menjual seluruh aset2 sekaligus perusahaan nya, untuk menutupi kerugian dan hutang yg telah menumpuk. Akan tetapi itu semua tak cukup.


Sejak saat itu, Ayahku mulai mencoba mencari uang instan yaitu judi. Sebuah grup judi yg tak tahu namanya itu membuat ayahku tergila-gila dengan hasil yg di dapat. Tak jarang juga dia mendatangi sebuah bar untuk bersenang-senang jika dia mendapatkan hasil yg besar dari judi itu. Tapi sialnya Ayahku, dia selalu mengalami kerugian akhir akhir ini. Dan pada akhirnya, hutangnya pun menumpuk hingga membuat ia stress lagi.


Membuat onar sudah menjadi hal biasa bagi ayahku yg seorang pemabuk dan pemain wanita, hingga membuat para tetangga tak tenang dan jengkel dibuat nya. Yg kena imbasnya pun aku dan ibuku yg harus menerima cercaan, makian, dan intimidasi dari para tetangga, sampai2 mereka mau mengusir kami dari desa ini, untung pak RT masih memberikan kami kesempatan. Ditambah dengan masalah ibuku yg tiba-tiba datang, yg membuat kami harus di usir nantinya jika sudah kelewat batas.


Aku dan ibuku hanya bisa pasrah akan keadaan ini.


NEXT PART\=\=\=}