INTER DIMENSION

INTER DIMENSION
TERROR (Teror)



Aku tak mau menambah runyam masalah, aku hanya duduk di sofa dekat pintu. Aku hanya duduk terdiam melihat mereka terus menangis tanpa henti. Disitu ada satu wanita paruh baya, satu anak laki-laki, dan wanita yg seperti nya berumur 30 an.


"Maaf Mas Adam, kita ngobrol di sana aja" Sahutnya yg menunjuk keruangan sebelah.


"Oh iya Pak, maaf kalau saya mengganggu kalian yg sedang berduka" Ucapku yg tak enak hati.


"Iya tak apa" Balas satpam tersebut.


Selang beberapa saat setelah aku masuk keruangan yg mirip tempat kerja pribadi, Satpam tersebut yg bernama Pak Danu menyuguhkan sebuah kopi dan sepiring makanan manis.


"Eh, kamu suka kopi?" Tanya Pak Danu


"Iya pak, saya suka, saya sering ngopi kok" jawabku.


"Oh ok, kebetulan, berarti saya gk salah" Sahutnya dengan senyuman.


"Maaf pak, kalau boleh saya tau, yg meninggal itu siapa yah pak?" Tanya ku yg penasaran.


"Itu putri paling bungsu nya Pak William, Kinanti, dia di siksa dengan sadis, dan dia... mendapatkan tikaman benda tajam dari sekujur tubuhnya. Dia di temukan oleh para warga di dekat sungai kalimaya di Bridgetown" Sahut Pak Danu.


'Hah, Bridgetown? Apa ambulans yg tadi gue liat dijalan' Tanyaku dalam benak yg semakin penasaran.


"Dan wanita yg memegang foto tadi adalah Bu Sri, ibunya non Kinanti, laki-laki nya adalah kakak Kinanti atau putra pertama dari Pak William, dia bernama Brian Prasetyo, dan yg wanita di sebelah nya itu adalah adik dari Pak William atau bibinya dari anak Brian dan Kinanti, dia bernama Mbak Aurel" Sahutnya memperkenalkan ku dengan anggota keluarga Prof. William.


Setelah memperkenalkan ku dengan keluarga Prof. William, dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan mengusap wajah tersebut sebagai tanda bersedih.


Selang beberapa saat, Pak Danu mulai bercerita panjang lebar mengenai kejadian mengenaskan tersebut.


"Sungguh kejam memang orang-orang biadab itu, aku yg bukan dari keluarga ini saja, sudah muak mendengar kabar itu" Sahut pak Danu dengan nada bicara yg sedih sekaligus marah.


"Dia sebenarnya masih bisa berjalan, tapi dalam keadaan merangkak dan dengan kondisinya yg sekarat. Para warga yg menemukan non Kinanti segera menelepon ambulans dan juga menelepon pihak keluarga, kami yg mendapati informasi itu langsung syok seketika. Bu Sri... Kasihan bu Sri... Selain syok dia juga pingsan dengan kurun waktu yg lama dan baru sadar setelah beberapa jam. Kami lalu pergi kerumah sakit dirawatnya non Kinanti, dan dia sempat masih bisa berbicara walaupun hanya sepatah kata, kami yg melihat hal itu menangis takut akan kehilangan non Kinanti. Tapi apalah daya kami, Tuhan berkata lain, beberapa menit dari kami menengoknya ke ruang rawat, dia sudah menghembuskan nafas terakhir nya. Kami hanya bisa menangis dan menangis sejadi-jadinya terutama Bu Sri yg selalu di dekat Kinanti, kami mengantarkan jenazahnya ke pemakan umum, tempat kelahiran non Kinanti. Itulah saat2 terakhir kami melihat non Kinanti." Jelasnya bercerita panjang lebar.


"Dan satu lagi kembarannya non Kinanti yaitu Kirana, yg hilang entah kemana. Dia sudah menghilang selama hampir dua minggu lebih, kini polisi masih mencari jejak2 hilangnya Kirana, semoga dia cepat di temukan" Sahut Pak Danu dengan tangisnya.


"Saya turut berdukacita atas meninggalnya saudari non Kinanti, semoga dia tenang di alam sana, dan Saya turut berdukacita juga atas hilangnya Kirana, semoga dia cepat ditemukan dan dalam keadaan selamat" Sahutku Bersimpati.


"Iya amin... amin... terimakasih atas do'a nya" Ucap syukur Pak Danu yg masih terus bersedih.


"Iya sama2 Pak, maaf saya tak bisa memberi apa2, saya hanya bisa memberikan do'a untuk kalian semua" Sahutku yg penuh simpati.


"Iya gpp, tak masalah, do'a saja sudah cukup bagi kami" Ucap Pak Danu.


"Pak William nya kemana yah pak, dia baik2 aja kan?" Tanyaku yg penasaran.


"Untung nya dia masih sempat selamat, walaupun dia sempat terkena tembakan di bagian perut dan bahunya" Jelas pak Danu.


"Huuhh, Alhamdulillah kalau kayak begitu" Ujarku merasa tenang.


"Kita gk bisa bercerita panjang lebar, saya beserta keluarga pak William akan segera bersembunyi di sebuah tempat yg tak diketahui orang pastinya. Takutnya kalau kami masih tetap disini, para anggota FIREFLY bisa2 membunuh kami dengan cara apapun, mereka bisa saja menyamar menjadi orang biasa yg berkunjung, lalu setelah masuk, kemudian mereka membantai kami yg ada di dalam, meskipun pastinya orang tersebut mati oleh penjaga keamanan kami. Orang seperti ini yg harus kita waspadai, makanya tadi saya awal2 bentak kamu, nanya siapa kamu dan nyari siapa, Maaf kalau soal itu saya gk bermaksud kasar, itu demi melindungi kami semua yg ada disini" Jelas pak Danu panjang lebar.


"Iya pak, gpp wajar bagi saya, terlebih dengan kejadian viral hari ini, pastinya akan terus waspada" Balas ku dengan pengertian.


"Dan setelah saya tahu nama kamu, saya baru ngeh dan akhirnya kamu boleh di persilahkan untuk masuk. Mungkin kalau kamu bukan orang yg dikenal oleh saya, pastinya kamu tak akan diizinkan masuk. Pak William sering menceritakan kamu waktu itu, jika saya bertemu kamu, pak William menyuruh saya untuk mengajak kamu, ajak aja dia kerumah katanya, ajak juga dia berbincang-bincang tentang masalah pekerjaan, kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya, begitu mas Adam, karena Pak William orang nya terkenal sibuk" jelasnya.


"Oh gitu yah pak, pak William orang nya baik Pak" balasku yg tampak senang yg akhirnya ada orang yg mau memperhatikan nya.


"Yah dia memang baik orang nya, ya sudah mas Adam, kita langsung saja pergi ke pak William, dia mungkin sudah berada di tempat rahasia nya para anggota VEBRA" jelasnya yg menyuruhku untuk segera pergi ke tempat tujuan.


Terlihat olehku Bu Sri yg sudah duduk di sofa yg panjang yg awalnya duduk di lantai sambil memegangi foto anaknya, sebagai pertanda bahwa dia dalam keadaan mulai tenang.


"Bu mohon maaf, kita harus segera pergi ke tempat tujuan" Sahut Pak Danu.


"Oh iya Pak Danu, Segera persiapkan aja perbekalan nya" Sahut Bu Sri sambil mengusap air matanya.


"Kamu... Adam yah?" Tanya Bu Sri yg baru ngeh ada aku.


"I-iya bu, Saya Adam, Adam Bramatya, Mahasiswa di kampus Universitas Jayaputra, dan Pak William Adalah Dosen saya" Kelasku yg agak gugup.


"Oh ternyata Adam yah, bagus kalau kamu datang kesini" Ucapnya yg mulai tersenyum.


"Emmm, dia siapa Mbak Sri" Tanya Mbak aurel sambil berbisik.


"Itu lhoh, anak yg sering di ceritain sama Abangmu (Pak William)" Jelas Bu Sri.


"Oh ini toh orang nya" Sahutnya yg sambil senyum kepadaku.


Dia terus menatap ku, hingga beberapa menit pun dia masih menatap ku. Aku hanya bisa diam dan risih melihat tahapannya seperti itu.


'Ni tante2 kenapa ngeliat gua sampe segitunya, apa ada yg salah sama penampilan gue? atau gua orangnya aneh?, hmmm wajar sih, mungkin yah gue pendatang baru. Tapi tetep aja gue risih diliatin kayak begitu terus' Ucapku dalam hati sambil memalingkan muka ke arah lain.


Selang beberapa saat, Pak Danu yg sudah mempersiapkan barang perbekalan, siap untuk berangkat.


"Bu, barang perbekalan nya sudah siap, alangkah lebih baiknya, kita berangkat skrg" Ucap Pak Danu yg Mulai khawatir.


"Iya kita berangkat aja, gk aman kalau kita disini terus, kamu juga ikut yah Kak Adam" Ucap bu Sri yg segera bersiap siap berangkat.


"Iya, baik bu" balasku


Setelah semua dirasa cukup, kami berangkat lewat pintu belakang rumah. Dengan membawa 20 pasukan khusus untuk berjaga jaga, dan pasukan lainnya menjaga rumah.


"Pak, yg lainnya gk ikut juga supaya kita bisa lebih aman" Sahutku yg penasaran.


"Oh, yg lainnya gk ikut, pasukan khusus itu tetap berjaga dirumah sebagai pengalih perhatian dan juga kita bisa menghalau pergerakan musuh terlebih dulu" Jelas oaak Danu.


"Oh gitu yah pak"


'Kayak umpan dong. Yah mau bagaimana lagi sih, sudah tugas para tentara tersebut' Ucapku dalam hati.


Lalu kami menaiki sebuah mobil Jeep khusus jalan ekstrem, yg memang tempat tujuan kami yaitu ke markas rahasia ANGGOTA VEBRA tepat nya di pegunungan Andes. Sebuah Mobil Jeep di naiki oleh 5 orang, Bu Sri, Mbak Aurel dan Brian berada dibelakang, sedangkan aku berada di posisi depan bersama Pak Danu sebagai supirnya. 20 pasukan elite tersebut mengendarai 5 buah mobil khusus tentara, dan tentara yg berada di posisi belakang mobil tersebut mengawasi dan siap siaga dengan senjanya, jika ada yg menyerang secara tiba-tiba. Ternyata semua ini sudah di persiapkan sedemikian rupa.


'Baguslah kalau begitu' Sahutku yg takut akan penembakan yg brutal.


Setelah sampai di 3/4 perjalanan, tepatnya di kaki pegunungan Andes, kami istirahat sejenak beserta para tentara yg tengah waspada terhadap kondisi disekitar.


"Lumayan jauh yah, pak" Sahutku yg berusaha memecah keheningan.


"Iya memang jauh, tapi sedikit lagi kita sampai kok" Balas Pak Danu.


"Saya jadi ngeri Pak, kalau misalkan kita di serang..." Sahutku yg mulai was was.


"Husss, nggk boleh ngomong gitu, mudah2an aja kita bisa selamat" Ucap Pak Danu menyela omonganku.


"Iya amin pak, mudah2an kita selamat" sahutku yg berusaha tetap tenang.


Lalu kami melanjutkan perjalanan kami.


Selang beberapa saat, Tiba-tiba saja ada sekumpulan pasukan dari FIREFLY yg siap menyerang.


"Siap siaga... siap siaga semua... warning... warning... " Peringatan dari pasukan elite VEBRA.


Drrrttttt... drrrttttt.... drrrttttt


Beberapa peluru dari senjata sub machine gun anggota FIREFLY mengenai sebagian anggota VEBRA.


Tiiinggg... tiiinggg... tiiinggg


beberapa peluru yg mengenai bagian belakang dan samping body mobil tentara tersebut.


Kami yg melihat itu langsung panik seketika. Suasana mencekam yg kian memuncak membuat kami gemetar ketakutan. Beberapa peluru juga mengenai body mobil yg kami tumpangi.


Para Anggota FIREFLY berhasil di pukul mundur. Akan tetapi, sebagian pasukan anggota VEBRA tewas seketika. Meskipun begitu, kami tak ada luka dan bekas tembakan, kami juga masih bisa bernafas lega dan selamat, itu berkat para pasukan VEBRA yg siap siaga melindungi kami.


Akan tetapi, rasa aman itu kini sirna seketika. Ban dari mobil yg kami tumpangi Kini pecah dan bocor akibat terkena jebakan polisi tidur.


mobil kami tergelincir dan akhirnya kami menabrak suatu pohon yg besar dengan sangat kencang. Begitu pula dengan pasukan kami, yg terkena jebakan. Lalu para pasukan anggota FIREFLY menyerbu kami dari berbagai arah dan menghabisi semua pasukan kami.


Brukkk....


Bemper mobil Jeep tersebut hancur seketika. Badanku terjepit bemper mobil hingga mendapatkan luka dalam di bagian tulang rusuk, dan kepala ku mengenai pecahan kaca mobil tersebut, membuat kepala ku mengalami pendarahan dan pusing.


Begitu juga dibagian belakang yg mendapat kan luka walaupun tak separah lukaku dan Pak Danu.


kami sangat amat takut dan pasrah akan keadaan ini. Begitu juga aku yg sangat gemetar ketakutan. Wajah ku pucat seketika saat tak ada yg melindungi kami lagi. Jantung ku berdetak sangat kencang dan tak bisa di kontrol. Dengan kepala ku yg masih pusing akibat benturan keras, aku tetap berusaha untuk lepas dari jepitan.


Seperti nya, mereka para pasukan anggota FIREFLY sudah tahu dengan rencana kami. Mereka ternyata sudah lebih mempersiapkan segala sesuatu nya dibandingkan kami.


Para anggota FIREFLY mengepung kami, aku hanya bisa berdoa dan berharap keajaiban segera muncul. Keringat dingin terus membanjiri sekujur tubuhku. Aku tak bisa mengatur nafasku, aku hanya bisa diam dan menutup mata.


"Habisi mereka, ini pembelajaran bagi mereka yg menuduh atas tuduhan yg tak ada bukti. Agar mereka rasakan, bagaimana rasanya kehilangan orang yg dekat dengannya" Ucap pemimpin pasukan anggota FIREFLY dengan amarahnya.


'Tuduhan? apa maksud semua ini?' Tanyaku dalam hati yg tak mengerti dengan apa yg sebenarnya terjadi.


"Kepercayaan kami sudah sirna berkat kalian, CEPAT, HABISI MEREKA SEMUA!!!" Teriaknya dengan penuh dendam.


Sebagian dari kami keluar secara paksa dan menghadang para pasukan FIREFLY karena saking ketakutan nya. Mereka Brian dan Mbak Aurel.


"BRIANNN... AURELLL... JANGAN KELUAR... TETAP DISINI... JANGAN KELUAR...PLEASE... IBU... MOHON..." Teriak histeris Bu Sri.


Akan tetapi, itu semua percuma, anggota FIREFLY itu ada banyak sekali dan juga mereka bersenjata. Mudah sekali bagi mereka untuk membunuh kami. Alhasil, Brian dan Mbak Aurel tewas di tempat secara mengenaskan, di tembak secara brutal dengan beberapa peluru Sub machine gun.


"IBU BILANG JANGAN KELUAR..." Teriak histeris dan tangis kencang dari Bu Sri. Begitu juga dengan ku dan Pak Danu.


Aku seakan tak percaya dengan apa yg kulihat, seseorang yg hidup itu kini hanya seonggok mayat dengan darah yg berceceran dimana mana. Bu Sri yg melihat itu langsung syok. Nafas Bu Sri menjadi tak beraturan, dan mulai sesak nafas.


Drrrttttt... Drrrttttt... Drrrttttt...


Pasukan anggota FIREFLY menghujani peluru ke arah mobil kami yg membuat mobil kami berasap dan mengeluarkan api. Aku segera berusaha keluar dari jepitan sambil menghindari tembakan peluru yg tembus ke dalam mobil.


Begitu pun dengan Pak Danu yg berusaha keluar dari jepitan itu. Akan tetapi, jepitan itu sangat kuat. Semua usaha yg dilakukan percuma. Bu Sri yg dalam keadaan sesak nafas akhirnya tertembak beberapa peluru dan meninggal di tempat. Begitu juga dengan Pak Danu yg tewas seketika.


beberapa peluru itu juga mengenai lengan, bahu, pinggang. Sakitnya bukan main.


Aku makin panik dengan pendarahan yg ku alami.


Saat Ku berusaha keluar, Tiba-tiba sinar merah pekat menghantamku dan membuat ku silau seketika.


'Apa yg terjadi, kenapa semua terdiam' Tanyaku dalam benak.


Pergerakan dari anggota FIREFLY tiba-tiba menjadi slow motion, terkecuali aku yg terkena sinar merah pekat yg mengelilingi tubuhku.


"Arrrggghhh... " Teriaku yg kesakitan.


Tiba-tiba saja sinar merah pekat itu menarik ku keluar secara paksa yg membuat tulang rusuk ku seakan mau patah.


Aku akhirnya keluar dari mobil dalam keadaan penuh luka. Dalam situasi yg aneh ini, aku terus berusaha berdiri walaupun agak pusing dan penuh luka pendarahan.


'Apakah ini suatu keajaiban bagiku... ini kesempatan ku, aku harus lari dari tempat mengerikan ini' Ucap ku dalam benak penuh penekanan.


Tak peduli dengan apa yg terjadi, aku segera berlari. Disaat akan melangkah kan kakiku, tiba-tiba aku di hadang oleh energi sinar merah pekat dan tersungkur ke tanah.


Brukkk.... "Arrrggghhh... "


Pinggang ku yg tadi terkena peluru, kini semakin banyak mengeluarkan darah. Aku segera berdiri kembali walaupun sangat sulit bagiku. Disaat susahnya berdiri, mataku melotot seketika, saat ku melihat seseorang yg membuat ku terancam kembali.


"Sialan... wanita itu lagi... "


Ucap ku.


"Kita bertemu lagi, hahaha... " Tawa melengking dari wanita tersebut.


NEXT PART\=\=\=}