INTER DIMENSION

INTER DIMENSION
AN ILLUSION (Sebuah ilusi)



Setelah mereka meng eksekusi ibuku, aku hanya bisa terdiam dan seakan tak percaya dengan apa yg sedang dialami.


Aku mulai merangkak ke bekas pembakaran ibuku, lalu menggenggam sebuah abu jasad dari ibuku dan menangis sejadi-jadinya.


Harapanku adalah ingin ibuku selalu bahagia tanpa ada tekanan sedikit pun, membawa nya kesuatu tempat yg penuh ketenangan tanpa ada cacian dan intimidasi, tapi harapan itu kini sirna seketika, bagai kapal nelayan yg di telan ombak dan tenggelam sedalam dalamnya.


Beberapa warga lalu menghampiri ku dan menyeretku dengan kasar...


"Pak RT, mau kita apakan dengan bocah satu ini, apakah sama kita eksekusi saja!?" tanya beberapa warga menunggu persetujuan.


"Ya, lebih baik kita akhiri saja hidup nya, daripada dia nanti menjadi seorang dukun juga... Kan repot juga para warga sini" Sahut Pak RT yg melihatku dengan penuh amarah.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami dan berkata.......


"Maaf bapak2, saran saya alangkah lebih baiknya kita kasih dia kesempatan, bagaimana!?" Sahut orang tersebut


"Siapa kamu, emangnya kamu punya wewenang apa disini" ujar salah satu warga


"Gini pak yah, dia ini kan masih kecil pak, jadi gk etis aja kalau kita dia eksekusi juga, walaupun dia bersalah, tapi kan anak umur segini mudah terpengaruh lah pak, jadinya gk manusiawi aja!!! "


"Hmmm, gimana Pak RT menurut pendapat orang ini" sahut salah satu warga bertanya.


"Ya sudah, kita cukup usir dia dari kampung ini agar tidak membawa malapetaka" Ucap Pak RT yg mulai iba dengan ku


"Sana pergi kamu dari desa ini, masih bagus kamu di kasih kesempatan untuk hidup" Ucap salah satu warga.


"Ayo bapak2, kita selesai kan saja persiapan pemakaman anak saya" Ucap Pak RT sambil melangkah kan kaki menuju rumah.


"Iya kita buru2 cabut aja, udh mau malem nih jgn sampai kita bermalam di hutan angker ini"


lanjut para warga yg beramai-ramai pergi meninggalkan wilayah angker tersebut bersama dengan orang yg menyelamatkan hidup ku.


Aku sangat2 berterima kasih dengan apa yg dilakukan orang tersebut, karena kalau bukan bantuan dia, mungkin aku sudah tiada.


Kini ku tinggal sendiri dihutan Angker ini.


Badanku mulai lemah, dan tidak berdaya, di penuhi darah di sekujur tubuhku, ingin sekali tubuhku ini istirahat untuk sejenak. karena hari mau malam, aku pun bergegas pulang.


Disaat menuju perjalanan pulang, Tiba-tiba aku melihat darah yg menyusuri jalan tersebut. Karena punya firasat buruk tentang hal ini, aku pun enggan untuk menyusuri jalan ini. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, itu adalah jalan satu satunya menuju arah jalan pulang.


Aku pun terus menyusuri jalan yg penuh darah tersebut dengan gemetar ketakutan ditambah hari mau menjelang malam, itu cukup membuatku merinding.


bercak darah tersebut seperti seonggok mayat yg diseret oleh si pelaku.


aku pun terus berhati-hati dan waspada, karena bisa jadi si pelaku masih ada di sekitar sini.


Aku pun heran dengan bercak darah ini yg seakan akan mendadak terlihat olehku, karena pasti nya para warga melewati jalur ini, apakah para warga selamat???


Dan tiba-tiba, aku malah balik lagi ke tempat dimana ibuku di eksekusi penduduk desa.


aku pun seketika lari sekencang kencang nya menuju arah jalan pulang, akan tetapi, malah balik lagi ke tempat semula.


Aku pun panik seketika, jantung ku terus menerus memompa dengan sangat kencang seakan memacu adrenalin. Ditambah hari sudah semakin gelap, aku pun bergegas menyusuri jalan pulang untuk yg ke 3 kalinya, tapi tetap, aku malah balik lagi ke tempat semula.


Pantang menyerah, aku pun terus berusaha mencari jalan pulang yg benar, dan mungkin saja itu jalan pulang yg salah.


Aku terus berlari dan tak peduli dengan lukaku. Tapi tubuh ku sudah lemah dan tak kuat lagi untuk berlari, ditambah luka di sekujur tubuh ku yg kian melebar, ku memutuskan untuk beristirahat sejenak.


Gemuruh suara burung hantu, dan binatang hutan lainnya riuh di telinga ku. Kondisi malam yg kian pekat dengan kengerian nya.


Tiba-tiba, ada seseorang yg menatap ku dengan tajam sambil tersenyum menyeringai. Dia lalu menghampiri ku dengan darah yg masih segar di mulut dan tangannya yg seperti nya, dia sudah memakan daging mentah. Entah apa yg dia makan.


Sontak aku gemetar ketakutan dan berlari sekencang kencang nya. Berlari terus berlari, hingga akhirnya aku tersandung batu dan jatuh. Batu tajam itu mengenai luka di betis ku yg belum kunjung sembuh, dan kini luka itu kian melebar dan kulitnya mengelupas.


Dalam keadaan terdesak, aku memutuskan untuk terus berlari karena si pembunuh kian mendekat. Tapi saat sampai, aku malah balik lagi ke tempat semula, ke tempat dimana ibuku di eksekusi.


Lutut dan tangan ku tersungkur ke tanah, tanda ku sudah menyerah dan pasrah.


Disaat ku akan menengok ke depan, Tiba-tiba si pembunuh tadi sudah ada di depanku.


Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat mayat yg di seret itu ternyata adalah ibuku.


Si pembunuh itu ternyata menyeret ibuku dengan cara menarik rambutnya, benar2 kejam.


"IBUUUU!?" Teriakku dengan tangis.


"Nggkkk, nggak mungkin, ibuku sudah menjadi abu, aku melihat nya sendiri, kenapa jasad dia masih utuh" Ucapku yg mungkin itu halusinasi.


"Apakah penyiksaan yg kau rasakan itu nyata? dan apakah luka yg kau rasakan itu nyata?" tanya nya dengan senyum seramnya.


"Apa maksud dan tujuanmu menghampiri ku"


tanyaku dengan gemetar.


"AKU INGIN MEMBUNUHMU!!!"


Pernyataan yg dilontarkan si pembunuh membuat raut wajah ku pucat seketika. Jantungan ku yg kini terus menerus berdetak kencang tanpa henti saking takut nya. Aku pun mulai melangkah mundur secara perlahan-lahan dan mengambil ancang2 untuk kabur. Akan tetapi apalah daya, Tubuhku yg penuh oleh luka dan lemah ini akhirnya tersungkur ketanah juga.


"Awwwwww, sakittttt arghhhhhhh" Aku mengerang kesakitan dengan bekas luka yg tadi di betis. Darahnya semakin banyak keluar. Begitu pun dengan luka di sekujur tubuh ku dan terutama di bagian kepala. Kepala ku pusing, dan saat menyentuh Kepala ku, darahnya terus saja keluar.


Aku pun berusaha meninggal kan tempat ini walaupun hanya merangkak.


"Bagaimana??? Rasa sakit dari lukamu itu nyata bukan? Hahahahah" Tawa psikopat nya.


Disaat dia mengangkat satu tangannya ke arahku, tiba-tiba tubuh ku tak bisa bergerak.


Aku lalu berdiri dan berbalik badan Kearahnya seakan dikendalikan.


"Kenapa kau... ingin mem... bunuhku... apa... salahku?" Tanya ku dengan terbatas bata.


"Kau adalah ancaman bagi tuanku!!!"


ucap si pembunuh itu sambil menunjuk ke arahku.


"Apa... maksudmu... aku... tak mengerti?" Tanyaku dengan dadaku yg seakan sesak nafas.


"Sudah bosan aku mendengar kata2 itu, lebih baik kau mati saja!!!" Ucapnya sambil menjilati tangannya yg penuh dengan darah segar.


"ARGHHHHHH, SAKIIIIIIITTTTT" Teriakku sambil meringis kesakitan. Tubuh ku seakan ditikam oleh seribu anak panah, karena begitu sakitnya sampai2 tak kuat menahan dari luka dalam yg terus menerus keluar.


"Lihatlah bagaimana mereka menyiksa mu, mereka menyiksa mu bagaikan seekor binatang, dan kau di paksa menyaksikan ibumu di eksekusi secara sadis dan kejam.


Kau meringis kesakitan ditambah kau kehilangan orang yg kau sayangi, Dan kini, kau seorang diri, tak ada orang yg peduli lagi pada mu.


Dan lihatlah, tubuhmu sudah lemah tak berdaya, kau takkan sanggup bertahan di dunia luar, dunia luar itu lebih kejam asal kau tahu.


Lebih baik, ku akhiri saja hidup mu saat ini juga, untuk mengakhiri penderitaan mu."


Ucapnya dengan senyum menyeringai bagai seekor Harimau yg menatap mangsanya.


"Baji... ngan...!!!!" Bentak ku dengan terbata bata


"Eittsss, sebelum kau ku bunuh, aku ingin bermain main denganmu terlebih dahulu, Hahahahah"


"JA... JANGAN!!! TOLONG... JA... NGAN...!!!"


Si pembunuh itu lalu menggorok leher ibuku dengan sadisnya sampai putus.


Aku pun berteriak histeris melihat kejadian sadis yg ke-3 kalinya. ( Eps.4 PSYCHOPATH \= Psikopat ).


Lalu, aku terkejut ketika melihat kepala ibuku yg tadi putus, bergerak, dengan mulut yg menganga, dan tertawanya yg sangat seram.


"HAHAHAHAH... HAHAHAHAH..." Tawa dari kepala ibuku yg baru saja di penggal oleh si pelaku menggunakan samurai katana.


itu membuat ku gemetar ketakutan dan wajah ku yg pucat karena melihat seonggok kepala hidup dan tertawa seram menyeringai.


Aku pun berusaha memfokuskan pikiranku bahwasannya itu adalah ilusi.


"Aku pernah berjanji padamu, bahwa aku akan membunuhmu jika tubuh asliku menemukanmu. Dan skrg, tubuh asli ini sudah menemukan targetnya. Ini adalah waktu yg tepat"


Dan ternyata aku baru ingat, si pembunuh yg ada di depanku adalah si pembunuh yg sama, yg membunuh targetnya dihadapanku setahun yg lalu. ( Eps. 4 PSYCHOPATH \= Psikopat ).


Alasan dia tak membunuh ku waktu itu oleh bayangan nya adalah karena aku belum memenuhi syarat untuk dijadikan tumbal olehnya. Dan kini targetnya telah memenuhi syarat untuk dijadikan tumbal.


"Sudah cukup bermain main nya, ku akhiri saat ini juga"


Sriiiingggg.......


Tiba-tiba tangannya yg kanan berubah menjadi sebuah pedang runcing nan tajam.


'Siallllll, aku tak bisa bergerak' Ucap ku dalam hati.


Aku menangis tanpa suara sambil menatap langit yg gemerlap penuh bintang, air mata mulai turun ke wajahku, hati mulai pasrah seakan inilah akhir hidupku.


"Inilah waktunya!!! ku persembahkan untukmu tuan, ambillah seluruh energinya agar kau bisa cepat2 terbebas dari belenggu itu".


Si pembunuh lalu mengangkat tangan kirinya ke arahku.


Dan tiba-tiba saja tubuh ku terhempas ke sebuah batang pohon.


Dan bersamaan dengan itu.......


Jlebbbbbbb.......


Sebuah batangan besi tajam nan panjang menusuk perutku hingga tembus ke belakang batang pohon. Alhasil, aku tak bisa bergerak.


Rasa sakit yg kurasa semakin menjadi jadi. Darah pun keluar dari mulut dan hidungku. Darah dari tusukan itu terus mengalir tiada henti.


Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, karena batangan besi itu tertancap sampai ke belakang pohon.


Aku hanya bisa menangis merasakan penderitaan fisik maupun batin. Dan aku hanya bisa berteriak karena saking sakit nya luka ini.


Dan tiba-tiba, dia menusukkan pedang di tangan kanannya ke leherku sebagai eksekusi terakhir.


Aku tak dapat berteriak lagi, dengan luka yg sobek dileherku. Darah menyembur keluar dari batang leherku, hingga membuatku sulit bernafas.


"Nikmati mimpi burukmu, hahahahah" Tawanya yg menyeringai.


Dan seketika, hewan melata seperti kelabang menghampiri ku dengan beramai-ramai dan mulai melahap tubuh ku.


Disaat para kelabang semakin banyak menghampiri ku dan menghalangi pandangan ku.......


( TIME LINE : NOV - 2023 )


Tiba-tiba ku terbangun di suatu tempat yg entah dimana. Dan aku heran, kenapa luka2 ku tak separah sebelum nya, yg ada hanya luka di tangan, pipi, dan lutut, selebihnya baik2 saja. Aku masih trauma dengan apa yg aku lihat. Mimpi itu serasa nyata dan luka2nya pun terasa nyata bagiku, itu membuat ku hampir gila.


'Apakah itu hanya sebuah halusinasi?' Tanya ku dalam benak.


Aku serasa asing dengan tubuh ku, karena pada dasarnya aku memang lah seorang anak kecil, dan sekarang menjelma menjadi orang dewasa.


Tak peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi, toh yg penting aku masih bisa selamat. Aku pun mulai berjalan jalan dan menemukan suatu rel kereta api menuju terowongan. Aku lalu menyusuri terowongan tersebut walaupun agak ngeri, guna menemukan suatu petunjuk, kenapa aku bisa terkapar disini.


Aku terus menyusuri terowongan hingga di pertengahan terowongan, ku menemukan sebuah jam tangan berlambang kan elang dan bertuliskan VEBRA. Karena penasaran, aku lalu memakai jam tangan tersebut. Jam tangannya cukup bagus dan kayak nya masih baru memang, mengingat diriku yg ingin jam tangan dan akhirnya menemukan nya secara cuma2


Perjalanan terus berlanjut, hingga akhirnya ku sampai di ujung mulut terowongan dan menemukan sebuah daerah perkotaan.


Disaat aku merogoh seluruh saku, ternyata ku menemukan mata uang lembaran yg tampak asing bagiku dan menemukan sebuah kartu Identitas bertuliskan namaku.


"Apa ini memang kartu Identitas ku?, tapi disini tertulis namaku, dan....... Apaaaa???


aku... aku anggota VEBRA?" Tanyaku terheran heran pada diri sendiri.


"Dan apa mungkin, aku tidak ingat dengan semua hal yg terjadi?, Apa aku amnesia???"


Tanyaku lagi pada diri sendiri.


Disaat ku sedang mengecek detail dari kartu Identitas yg ku temukan di saku ku, tiba-tiba saja kepala ku pusing.


Aku segera menepi di sebuah toko makanan dekat stasiun kereta api. Terlebih perutku keroncongan dan lapar.


Pusing di Kepala ku berangsur hilang. Dan disaat aku sedang melihat-lihat suasana, perhatian ku kini terfokus pada suatu tulisan di papan tiang bertuliskan "AUSTIN CITY".


"Apaaa, AUSTIN CITY??? Apa aku gk salah liat? Ini di negara mana sih? waduh merepotkan pastinya kalo ini beneran di luar negeri" Ujarku yg panik seketika dengan suasana yg memang terkesan asing dilihat.


Tak peduli dengan hal itu, aku langsung menuju suatu toko untuk membeli sebuah makanan.


"Hmmm, kan aku gk bisa bahasa asing, bagaimana caraku untuk bertransaksi? merepotkan!!!" Pikirku yg sedang kelaparan.


"Hmmm, masa bodoh lah, kan cuma ngasih barang nya buat di cek harga, ngasih uangnya, terus udh deh pergi" Pikirku yg tak mau basa basi.


Lalu aku segera masuk ke toko tersebut untuk memilih makanan.


Aku tak mau banyak2 membeli makanan karena takutnya tidak cukup.


Setelah ku rogoh lagi saku ku ternyata uangku hanya selembar uang bernilai 500 Rivs. Entah berapa 500 Rivs itu, tapi aku langsung membeli satu makanan yaitu sebuah roti yg agak besar berharga 120 Rivs , lalu memberikannya ke seorang kasir.


"Anyone want to buy again Mister?" Sahut kasir tersebut.


"Hmmm, mbak bisa bahasa Indonesia gk?" Sahutku yg kebingungan.


"Oh iya maaf, ada lagi yg mau di beli pak?"


Sahut kasir tersebut bertanya.


"Sudah cukup!!!" Sahutku yg agak risih dipanggil "pak"


"Emmm, mbak dari Indonesia yah?" Tanyaku yg penasaran.


"Saya asli kelahiran disini mas" ujarnya sambil mengecek komputer.


"Kok mbak bisa fasih bahasa Indonesia?" tanyaku yg terheran heran.


"Kami memang bisa semua bahasa, apa mas tidak tahu? kebijakan ini sudah beratus-ratus tahun lamanya, jadi kami gk asing lagi dengan suatu bahasa karena semua bahasa kami pelajari" jelasnya sambil mengecek komputer


"Oh gitu yah mbak?" Sahutku yg bingung dengan orang-orang disini


"Ini kartu nama saya mas, jikalau mas mau menghubungi saya untuk membeli suatu kebutuhan makanan bisa hubungi nomor ini saja"


"Oh iya mbak, nama mbak, Maya yah?"


"Iya mas"


"Yaudh mbak makasih yah"


"Iya mas hati2 dijalan"


Aku segera menepi di suatu tempat untuk memakan makanan yg ku beli.


Setelah perutku terisi kini ku melanjutkan perjalanan ku untuk mencari sebuah tempat peristirahatan sementara.


Aku mulai melamun memikirkan tragedi sebelumnya yg membuat ku trauma. Dan disamping itu, hampir saja ku tertabrak oleh truk.


Alangkah terkejutnya aku dengan kejadian itu. Aku lalu memfokuskan diriku untuk tak memikirkan hal2 yg membuatku trauma lagi dan lagi.


Saat pertengahan perjalanan, tiba-tiba kepalaku merasakan pusing kembali. Dan bersamaan dengan itu, jam tangan yg ku temukan dan ku pakai tadi itu, kini memancarkan sinar merah pekat. Tiba-tiba saja ku teringat dengan kejadian sebelumnya, yaitu kejadian kenapa aku bisa terkapar disini.


Dan kini ku telah mengingat semuanya.


Apa yg sebenarnya terjadi???.......


...****************...


2 Hari sebelum nya.......


Sedikit demi sedikit mataku mulai terbuka. Badan dan kepala ku terasa pusing dan sakit. Kejadian pembegalan itu membuatku babak belur dan koma selama satu minggu lebih.


(Eps. 3 BAD LUCK \= Bernasib sial)


Dan untung nya, Prof. William melewati jalan tersebut dan menemukan ku terkapar di jalan tersebut.


Entah masih beruntung atau apa, tapi aku masih bisa selamat walaupun aku sempat tak sadarkan diri, dan Prof. William yaitu dosen ku segera membawaku ke ruang medis anggota VEBRA. Entah kenapa Prof. William membawaku ke ruangan khusus tersebut dan tak membawaku ke rumah sakit umum saja.


Setelah beberapa menit kemudian, barulah Pak William mengajak ku berbicara sedikit demi sedikit.


"Masih pusing nak Adam?"


"Udh mendingan kok Pak"


"Alhamdulillah kalau kayak begitu" Sahutnya dengan tersenyum.


"Emmm, maaf Pak, saya bolos kuliah beberapa hari ini, dan bapak juga udh nyelametin hidup saya, saya sangat2 berterimakasih kepada bapak" Sahutku dengan perasaan sedih


"Iya gpp, saya ikhlas kok membantu kamu, saya sudah di beri izin untuk kamu libur beberapa minggu ini" Sahutnya.


"Iya pak, makasih atas perhatian bapak terhadap saya, kalo saya sembuh, saya akan langsung menjalani proses kuliah saya" Sahutku dengan perasaan bersyukur.


"Iya gpp, anggap saja saya walinya kamu, terlebih kamu, maaf2 yah... anak yg broken home" Ucap Prof. William dengan sopan.


"Emmm, saya sekalian aja mau bicara tentang hal ini sama nak Adam, sebenarnya saya udh lama pengen membicarakan hal ini sama kamu" Ucap Prof. William yg pembicaraan nya mulai intens.


"Emangnya bapak mau bicara tentang hal apa yah?" Tanyaku yg penasaran.


"Maaf yah nak Adam kalau pembicaraan ini terkesan kurang tepat, karena harus dibicarakan sesegera mungkin disaat saya masih sempat"


"Iya gpp pak utarakan saja, memangnya ada hal apa yah pak?" Tanyaku yg penasaran.


"Jadi gini nak Adam, saya ingin kamu bergabung dengan kami di anggota VEBRA, apa kamu keberatan, jikalau belum ada jawaban untuk saat ini tak apa, saya akan menunggu jawaban dari nak Adam" Jelasnya.


"Emmm memangnya apa itu anggota VEBRA? dan apa yg mereka lakukan" Tanyaku yg ingin tahu.


"Singkat nya kami melakukan penelitian rahasia dan di jaga ketat oleh beberapa anggota militer dari VEBRA itu sendiri guna menjaga dokumen rahasia tentang penelitian kami. Jadi nak Adam, jgn sampai orang tahu


tentang hal ini" Jelasnya.


"Oh begitu yah pak" Sahutku yg mulai tertarik dengan penelitian karena diriku pun suka meneliti suatu hal, jadi cocok denganku.


"Iya jadi gitu nak Adam. Dan juga, ini adalah amanah dari seseorang agar kamu bergabung dengan kami"


"Siapa orang tersebut pak?" Tanyaku yg penasaran


"Maaf nak Adam, saya tak bisa menyebutkan orang tersebut" sahutnya yg tak bisa menyebutkan nama dan ciri dari orang tersebut karena suatu alasan.


"Hmmm, saya siap kok pak untuk bergabung dengan para anggota VEBRA" Sahutku dengan anggukan. Aku juga benar-benar bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan sampingan untuk menutupi semua hutang2 ku.


"Alhamdulillah kalau kayak begitu, sebagai simbol kamu bergabung dengan kami, ini saya ada jam tangan khusus untuk kamu, untuk berjaga jaga saja" Ucapnya sambil mengeluarkan benda tersebut dari tasnya


Model jam tangan tersebut seperti biasa2 saja, berwarna hitam tapi mempunyai lambang elang dari logam tipis di jam nya tersebut. Dan di sisi jamnya bertuliskan VEBRA.


"Memang nya, jaga2 untuk apa yah pak" Tanyaku yg lagi2 membuat ku penasaran.


"Pakai saja dulu, soalnya saya ada keperluan mendadak rupanya, nanti saya jelaskan lebih detail" Ujarnya.


"Wah bagus pak, makasih"


"Iya sama2. Ini saya ada uang buat simpenan kamu 500 € , kan kamu habis kena musibah waktu itu. Uang ini mohon kamu terima dan pakai dengan sebaik-baiknya yah" Ujarnya sambil memberiku uang selembar 500 € itu.


Dan ternyata uang yg ada di saku ku adalah pemberian dari Pak William.


"Ini beneran pak, kebanyakan lho ini" Sahutku yg tak enak hati menerima uang yg lumayan agak besar menurut ku.


"Iya beneran, mohon terima yah!!!Assalamu'alaikum" Sahutnya yg langsung beranjak keluar.


"Walaikumsalam salam, terima kasih banyak Pak William".


Setelah perbincangan singkat, Prof. William lalu pamit keluar karena ada suatu rapat penting.


Setelah beberapa lama, tiba-tiba saja seseorang bertudung masuk dengan senyum menyeringai.


"Sudah lama kita tidak bertemu, hahahah" Tawanya yg begitu menggelegar


Seketika aku panik seketika saat aku melihat lagi si pemuja yg dulu pernah ku lihat.


Dia lalu menarik ku dengan paksa menggunakan energi kekuatan nya dan memasukan ku ke sebuah portal menuju tempat terowongan dimana aku menjatuhkan jam tangan pemberian dari Pak William waktu itu. Panjang terowongan tersebut berkisar 4-5 Km.


Dia lalu mengarahkan tangan kirinya ke arahku. Aku pun seketika tak bisa bergerak, dan tubuhku dikendalikan olehnya. Leherku serasa sedang di cekik dan susah untuk bernafas. Sedikit demi sedikit, lalu aku menghampiri si pemuja tersebut dengan sendirinya.


Kini ku jelas melihat wajah aslinya, yaitu seorang perempuan akan tetapi memiliki taring menyerupai vampir dengan eye shadow dan lambang pentagram di dahinya.


"Tidurlah, mimpi yg indah, hahahahah" Tawanya yg menyeramkan.


Lalu, si pemuja memegang kepalaku lalu mencekik ku dengan tangan kanannya dan menyerap hampir seluruh energi kehidupan ku hingga ku tak sadarkan diri. Sebelum tak sadarkan diri, jam yg ku pakai tiba-tiba lepas dan menyerang leher si pemuja hingga dia terkejut dengan efek dari radiasi yg di hasilkan dari jam tersebut hingga dia tersungkur ke tanah.


Mungkin, inilah yg dimaksud Prof. William untuk berjaga jaga, seakan Prof. William sudah tahu apa yg akan terjadi.


Si pemuja lalu menarik paksa jam canggih tersebut karena saking sakitnya sengatan dari radiasi tersebut hingga membuat leher dan hidung dia berdarah seketika.


"Arrrggghhh, sialan!!!" Rintihnya.


Jam itu terus berbunyi dan memancarkan sinar merah pekat.


"Sialan, awas kau!!! Lihat saja nanti!!!" Teriak si pemuja sambil menunjukku, hingga akhirnya dia kembali ke dimensinya dalam keadaan yg berdarah-darah.


Cekikan dari orang itu sangat kuat hingga membuat ku hampir mati saat itu juga. Akan tetapi, hampir seluruh energiku hilang, dan jika energi ku hilang dan kesadaran ku tak ada yg menopang, maka otomatis orang yg kehilangan energi tersebut bisa2 kehilangan kesadaran dan berhalusinasi.


Sedikit demi sedikit pandangan ku mulai gelap dan kabur, kesadaran ku mulai hilang, Aku tak mengingat kejadian setelah itu, hingga aku tersadar dan terkapar di tempat yg entah dimana.


Butuh beberapa jam bahkan beberapa hari untuk memulihkan kesadaran ku hingga ku menemukan jam pemberian dari Pak William dan kesadaran ku kembali seutuhnya.


Pantas saja aku linglung waktu itu, dan seakan aku memang dari masa lalu tersebut.


Dan ternyata, itu semua hanyalah halusinasi dari mimpi buruk ku yg kembali teringat ke masa lalu, akibat efek dari penyerapan energi oleh si pemuja tersebut.


Seakan ini adalah ilusi yg nyata dan yg nyata seperti ilusi.......


NEXT PART\=\=\=}