I PROMISE

I PROMISE
Chapter 9



1 minggu kemudian...


Hari ini hari dimana aku melaksanakan ujian kenaikan kelas yang pertama.


Kulangkahkan kakiku memasuki area sekolah sendirian, jika kalian bertanya dimana Ferland? Itu karena ia yang memintaku untuk tidak menemuinya sementara waktu. Agar lebih fokus ke ujian katanya.


...Nama : Liya Adira...


...Nomor ujian : 1014...


...Ruang : 13...


Aku menatap kartu ujianku sekilas, dan mulai melangkah menuju ruang ujianku.


Aku berhenti didepan kelas XII IPS 1, disinilah ruangan ku, kulangkah


kan kakiku dan mencari tempat dudukku dan mengambil buku pelajaran untuk mengingat kembali apa yang aku pelajari semalam sambil menunggu bell masuk berbunyi.


"Mohon kerjasamanya selama ujian berlangsung" Sebuah suara mengejutkanku, kutolehkan kepalaku dan melihat seorang lelaki berkacamata dan duduk disebelahku. Aku mengangguk kemudian tersenyum, tak lama bell masuk berbunyi.


......o0o......


Ujian dihari pertama telah usai, kulangkahkan kakiku menuju cafe Gempita untuk bekerja seperti biasa. Aku mengganti pakaianku dan mulai mengantarkan barang, aku rasa hari ini aku akan pulang malam, hahh tak apalah. Lagian aku juga sudah mengingat sebagian pelajaraan untuk ujian besok, tinggal membacanya sekali lagi dan aku siap untuk ujian.


Aku berhenti di Club yang cukup terkenal. Untung saja hari belum melenjelang tengah malam, jadi tak apalah.


Setelah mengantarkan barang tersebut ku putuskan untuk kecafe dan berjalan untuk pulang sebelum hari semakin gelap.


Aku berhenti pada supermarket dekat rumahku dan membeli beberapa bahan masakan juga beberapa jajan untuk cemilan ku dirumah nanti. Cukup lama aku memilih, kuayunkan kakiku menuju kasir untuk membayar belanjaan ku.


"Bener deh mba, saya gak bohong." Keributan terjadi dikasir, aku yang terlanjur penasaran segera menghampiri anak tersebut.


"Alahh, kalo gak bisa bayar ya udah! Bilang aja Lo mau nyuri kan? Ng.."


"Tunggu! Biar belanjaan dia saya yang bayar" kataku memotong pembicaraan sang kasir, ia menatapku dan mulai menghitung belanjaan ku juga milik gadis kecil tadi. Setelah membayar belanjaan, kulangkahkan kakiku keluar supermarket sebelum hari semakin gelap.


"Kak, tunggu!" Seseorang menahan lengaku, ku putar tubuhku dan melihat gadis kecil tadi yang menatapku sambil tersenyum ramah


"Makasih ya kak buat yang tadi, nanti gue ganti deh uangnya! Janji" aku tersenyum dan melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku.


"Gausah kakak ikhlas ko" jawabku tulus.


"Oh iya kak, kita belum kenalan. Kenalin gue Villo, nama Lo siapa kak?" Aku membalas uluran tangannya sambil tersenyum ramah.


"Liya Adira, panggil aja Liya " aku melepaskan tanganku darinya. Cukup lama kami sibuk dengan pikiran masing masing, hingga sebuah suara membuyarkan lamunanku.


"Kamu laper?" Tanyaku sambil terkekeh, ia tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Yaudah yok, kita makan dulu. Kebetulan ada warung belum tutup disana"


"Gak usah deh kak, gue mau langsung pulang aja, soalnya udah malem juga. Takut bunda nyariin."


"Kamu pulang bareng siapa? Kan gak bawa uang?"


"Sama Abang, nanti aku telfon dia"


"Yaudah aku tunggu sampai Abang kamu dateng ya?" Tawarku ramah. Ia hanya tersenyum lalu mengangguk.


Kami berjalan mencari tempat duduk yang nyaman untuk menunggu kakak Villo, obrolan kecil menghisi waktu kami, dan berakhir dengan candaan unfaedah. Aku rasa Villo orang yang cepat akrab dengan orang baru, buktinya sekarang kami sudah saling berbagi cerita. Bahkan tak segan segan ia melempar candaan untukku hingga kami tertawa lepas.


"Udah?" Sebuah suara menghentikan tawaku. Ku tolehkan kepalaku, mataku membola seketika. Ferland? Untuk apa dia disini? Apa jangan-jangan dia kakak Villo? Astaga kenapa dunia sesempit ini?


"Eh bang Land, hehe maap ya kita terlalu terbawa suasana jadi gak tau Abang Dateng"


"Oya bang, kenal ini dia kak Liya, yang tadi bayarin belanjaan gue"


Ferland menatapku sambil menatapku penuh tanda tanya.


"Dira? Kok kalian bisa barengan?"


"Loh kalian saling kenal?" Aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal, apa yang harus aku jawab?


"Dia pacar gue" aku mendongakkan kepalaku dan menatap Ferland dengan senang, jadi gini rasanya dianggep pacar didepan salah satu keluarga nya?


"Beneran?!! Wahh gak nyangka! Dunia sempit banget gila! Tapi gak papa sih, kalian cocok. Kak Liya cantik bang Ferland juga lumayan lah" aku hanya terkekeh menanggapi ucapan Villo.


"Duhh gimana ya?"


"Udahlah ayok, bang! Anterin kak Liya pulang sekalian yah? Gue juga pengin tau rumahnya dimana, kali aja gue gabut jadi gue bisa main ke rumah dia." Kata Villo membujuk Ferland. Aku hanya menatap kakak beradik tersebut dengan tatapan iri, andai saja hubunganku dengan kak Luna sedekat ini.


"Ya udah yok" putus Ferland kemudian. Tak lama mobil pun melaju menjauhi area minimarket.


Candaan menghiasi perjalanan kami, ah ralat tepatnya hanya aku dan Villo, sesekali Villo menceritakan ke usilan Ferland saat bersamanya dirumah, aku hanya tersenyum menanggapi nya kadang juga ikut menggoda Ferland yang nampak acuh dengan kedekatan Villo dan aku.


"Makasih ya Land, Vill" ucapku setelah turun dari mobil.


"Sama sama. Kapan kapan gue boleh lah ya mampir kesini?" Aku hanya tersenyum menanggapi dan mengangguk sekilas.


Setelah cukup lama kami berbincang, mobil Ferland berjalan menjauhi area rumahku. Mungkin hanya perasaanku saja, ataukah memang Ferland yang berubah. Malam ini ia sama sekali tak mengajakku berbicara, bahkan ia tak memandangku sama sekali. Apa yang aku perbuat?. Ah sudahlah, lebih baik aku masuk dan mengistirahatkan diriku. Karena besok juga harus ujian sekolah.


Kurebahkan diriku setelah membersihkan diri, kuambil hp dinakas dan membuka sosial media yang aku miliki. Jariku mengetik nama Ferland , ada beberapa akun disana, tapi fokusku hanya 1 akun. Paling atas, mungkinkah ini akun Ferland?


Jariku berhenti disalah satu postingan Ferland terakhir kali. 1 jam yang lalu? Lalu siapa perempuan ini? Apa ini Villo? Tapi kalo bener, terus kenapa harus pake emot love gini?


...



...


Disukai oleh Lunaqueen17 dan 2000 lainnya.


💗


Lihat semua 200 komentar...


Lindcans siapa itu?


Villl_ Woi bang! Pacaran mulu lo!


Candragans Gitu ya Lo! Dah jarang ngumpul, malah ngebucin disemak semak.


Dll...


Mataku memanas tiba tiba, jadi ini alasan Ferland mengacuhkan ku tadi? Segera ku buka aplikasi WhatsApp dan mencari nama Ferland disana.


^^^You^^^


^^^Land? Udah tidur?^^^


^^^✓✓^^^


Ferland Richolas


Knp?


^^^You^^^


^^^Aku mau tanya boleh?^^^


^^^✓✓^^^


Ferland Richolas


Ap?


^^^You^^^


^^^Soal postingan di IG kamu? Emm kalo boleh tau, dia siapaa?^^^


^^^✓✓^^^


Aku menatap layar ponselku dengan perasaan gugup, apa Ferland terganggu dengan pertanyaanku? Tapi tak salahkan jika aku menanyakan ini pada Ferland, sedangkan status kami bukan hanya sebagai senior dan junior tapi sepasang kekasih.


Aku menyerah, beberapa menit aku menunggu balasan darinya hanya sia sia. Ku letakan hp ku dinakas dan membaringkan tubuhku di ranjang dengan perasaan yang sulit diartikan.


Sudahlah lebih baik aku tidur sekarang! Soal postingan tadi, mungkin itu saudara Ferland. Positif thinking Liya. Cukup lama aku berkutat dengan pikiran ku, tak lama aku memasuki alam mimpi.


T B C