
"MEMPERMALUKAN BAGAIMANA MAKSUDMU HAH?! Bagaimana bisa kamu mempercayai gosip yang gak jelas asal usulnya itu!"
......o0o......
Ferdi menatap sang istri dengan marah, nafasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi, ia masih menetralkan degub jantungnya yang tak beraturan. Keheningan terjadi beberapa saat, masih menunggu apa yang sebenarnya terjadi pada putri kecilnya.
"Kamu tau mas? Aku benci dia! Karena dia! Yang sudah menghalangi pernikahan kita dulu! Karena dia yang sudah membuat hidupku menderita! Karena dia harus lahir dari rahim ku, dan itu adalah darah daging orang yang selama ini tak aku cintai!" Kata Paula memecah keheningan, Ferdi menatap sang istri dengan tatapan tidak sukanya.
"Itu bukan alasan untuk kamu benci sama dia! Dia masih terlalu muda, dari kecil kamu selalu menyiksanya, kamu selalu melampiaskan emosi kamu sama dia, apa kamu sadar selama ini kalo dia butuh kasih sayang seorang ibu? Enggak kan? Mas gak pernah membandingkan Luna dengan Liya, mereka anak mas. Walaupun Liya bukan anak kandungku, itu bukan berarti aku harus membencinya kan?" Jawab Ferdi panjang, ia menghela nafas sejenak. Dan menatap sang istri yang masih tertunduk, semoga dengan ini Paula-nya sadar atas perlakuannya selama ini.
"Benar mas, mungkin aku keterlaluan selama ini, gak seharusnya aku membencinya, bagaimanapun didalam tubuhnya ada darah dagingku, aku jadi merasa bersalah pada Liya. Lalu bagaimana? Liya ku pergi dari rumah karena aku sendiri, bisakah mas mencarinya? Aku mohon..." Kata Paula panjang, Ferdi menatap sang istri dengan binar bahagia. Apa ia tak salah dengar? Paula-nya sudah sadar atas apa yang dilakukannya pada sang putri, ia segera menarik sang istri dalam pelukannya, mengucap syukur beberapa kali.
"Kamu memaafkan Liya? Makasih sayang, terimakasih" lirih Ferdi yang masih memeluk tubuh sang istri.
Flashback off
".... Jadi bagaimana Liya? Apa kamu mau kembali tinggal sama papah?" Aku menatap papah yang memandangku penuh harap. Bagaimana jika mama hanya berpura pura? Apa kak Luna memaafkan ku? Apa ia sudah berhenti membenciku? Haruskah aku ikut dengan papah pulang ke rumah lagi?
"Liyaa... Papah mohon, pulanglah. Papah ingin keluarga yang utuh, papah ingin keluarga kita lepas dari masalah selama ini, papah mohon..." Aku terbuyar dari lamunanku, dan menatap papah dengan pandangan ragu. Mungkinkah aku harus memaafkan mereka?
"Emmm, iya pah, Liya mau kembali kerumah lagi." Putusku kemudian, papah mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatapku dengan binar bahagia. Aku tersenyum senang, aku harap ini keputusan terbaik. Bagaimanapun ia ibuku juga kan? Semua orang berhak dimaafkan, sudahlah. Mungkin lebih baik kita akhiri permusuhan ini,.
"Terimakasih Liya, papah sayang sama kamu." Ucap papah sambil memelukku erat, aku membalas pelukannya. Hangat dan nyaman. Seperti saat ayah memelukku dulu, aku melepaskan pelukannya lalu tersenyum padanya.
"Yaudah Liya siap siap dulu ya pah, om. Sekalian mau ngambil beberapa baju" kataku kemudian, lalu berjalan memasuki kamarku untuk bersiap siap dan membawa beberapa pakaian.
......o0o......
"Assalamualaikum" salam kami saat sampai didepan pintu.
"Waalaikumus.... LIYA?!! BUAT APA LO KESINI?!" Bentak kak Luna saat ia melihat ku di depan pintu. Aku sedikit terkejut dengan bentakannya, lalu aku memandang papah Ferdy yang sedari tadi bungkam. Kak Luna mengikuti arah pandangnya dan terkejut sesaat.
"Pa...pah" katanya lirih tapi masih bisa didengar olehku.
"Mulai sekarang dan seterusnya Liya kembali tinggal dirumah ini, jangan ada yang menyakiti dia, atau pun membuat berita gak jelas tentang dia" kata papah seakan menyindir kak Luna. Aku menatap kak Luna yang memandang ku remeh.
"Owh, oke... Yaudah ayo masuk pah, gak enak ngobrol diluar." Ayah masuk terlebih dahulu dan kak Luna segera mencegah ku untuk masuk saat aku baru akan melangkah kaki memasuki rumah.
"Penderitaan Lo! Segera dimulai" kata kak Luna tajam, sambil memandang ku sinis. Aku menelan ludahku susah payah mendengar penuturannya barusan, aku rasa kembali kerumah bukan pilihan yang tepat. Kak Luna memasuki rumah dengan angkuhnya dan disusul olehku dibelakang.
"Li, kamu langsung istirahat aja ya, kamar kamu masih sama, belum berubah, barang barang kamu juga masih utuh" Kata papah dan dijawab anggukan singkat olehku.
"Yaudah pah, makasih ya. Liya keatas dulu" pamit ku. Ahh semoga saja tidak terjadi sesuatu padaku esok hari.
......o0o......
Setelah bersiap siap untuk kesekolah aku berjalan ke ruang makan untuk sarapan bersama keluargaku lagi.
Aku segera duduk didepan mama dan segera mengambil makananku.
"Biar mama aja sayang" Tangan ku menggantung di udara, dan piringku sudah berpindah ke tangan mama. Aku memandangnya tak enak hati, juga senang. Momen seperti inilah yang aku inginkan sejak dulu, aku harap aku bisa merasakannya untuk waktu yang lama.
"Makasih ma." Kataku lembut, setelah mama meletakkan piringnya dihadapan ku. Kami makan dengan hikmat, sesekali mama menanyakan bagaimana keseharianku, aku dengan senang hati menceritakannya.
"Pagi semua?!!" Sapa kak Luna ditengah keheningan setelah beberapa terjadi. Aku memandangnya sekilas dan tersenyum.
"Ma, pah aku berangkat dulu ya" pamit ku dan dijawab anggukan oleh mereka.
"Gak mau berangkat bareng kakakmu nak?" Tanya mama lembut. Aku hanya menggeleng sekilas sambil tersenyum.
"Gak usah ma, Liya bisa berangkat sendiri." Jawabku singkat. Aku segera mencium punggung tangan orangtuaku dan berjalan menjauhi rumah.
......o0o......
Bell berbunyi dengan nyaring, segera aku berlari menuju ruang ujian dengan tergesa-gesa, ahh untungnya pengawas ujian belum datang. Huffft selamat.
"Kenapa lo? Kesiangan?" Aku menoleh ke asal suara dan melihat kak Vero yang memandang ku dengan penuh tanda tanya, dan kembali menatap buku dihadapannya. Benar benar kutu buku!.
"Emmm, ya begitulah kak, hehe. Untung pengawas ujian belum masuk" jawabku sedikit berbohong, harusnya aku berangkat bersama kak Luna tadi, mungkin aku tak akan terlambat seperti ini. Tapi ya sudahlah, sudah terjadi juga.
"Selamat pagi anak anak" sapa Bu Linda pengawas ujian setelah memasuki kelas.
"Pagi buu!" Jawab siswa kompak.
"Baik, sebelum memulai ujian dihari ke-lima ini, alangkah baiknya kita berdoa dahulu, semoga diberi kemudahan dalam mengerjakan. Berdoa dimulai" para siswa serentak menundukkan kepalanya dan mulai berdoa dengan hidmat.
"Selesai." Lanjut Bu Linda setelah mengakhiri doa, ia segera membagikan kertas ulangan dan keheningan terjadi selama ujian berlangsung.
......o0o......
Kringgg
Bell sekolah berbunyi dengan nyaring, mapel kedua baru saja selesai dilaksanakan, aku segera mengumpulkan kertas ujianku dan berjalan untuk pulang, hari ini entah aku tak melihat Rafa. Ehh? Apa peduliku? Biarkanlah, lagian juga, hidupku sedikit lebih tenang.
Itukan Ferland? Aku berdiri beberapa meter dibelakang gerbang, dan melihat Ferland disana, sendirian. Dimana kak Luna? Bukankah mereka selalu bersama? Ahh ini kesempatan untukku berbicara dengan Ferland.
Baru beberapa langkah aku akan menghampiri Ferland, kulihat kak Luna datang dengan senyumnya. Terlihat Ferland mengelus kepala kak Luna lembut, sakit? Tentu saja, wanita mana yang tidak sakit melihat lelakinya mengusap kepala wanita selain dirinya?
Cairan bening turun tanpa aba-aba dari mataku, segera aku hapus dengan kasar dan segera aku pergi untuk pulang.
T B C