
Aku pergi ke Cafe Gempita tempatku bekerja sore ini. Lulangkahkan kakiku memasuki cafe dan mulai mengganti pakaianku dengan pakaian khas pelayan di kafe ini.
...---o0o---...
Aku mulai bekerja melayani para pengunjung yang datang.
"Liya!" Seseorang menepuk pundakku dari belakang, aku tersentak. Untung saja aku tak memecahkan gelas berisi kopi yang sedang aku racik, bagaimana jika ini jatuh, astagaa bisa dipecat aku. Ku balikan tubuhku untuk melihat siapa yang memanggilku barusan.
"Eh, mbak Nisa? aku kira siapa." Ujar ku di akhiri kekehan.
"Hehe lo kaget ya? Maap lah" Jawabnya sambil cengengesan. Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat kelakuannya dan kembali fokus pada kopi didepanku.
"Li, tolong anterin pesenan ini ke beberpaa pelanggan cafe, alamatnya udah gue taruh di dalem nya"
"Lah? Kok aku? Bukannya itu pekerjaan mba Nita ya?"
"Dia lagi cuti sementara waktu, nyokap nya sakit dan dia harus balik kampung buat ngurus nyokap nya. Mungkin satu bulan kedepan baru dia balik, jadi untuk sementara waktu lo yang gantiin kerjaannya Si Nita. Bisa kan? Gue disuruh bos bilang itu ke lo"
"Iya mbak Insyaa Allah aku bisa. Yaudah mana barang yang harus aku kirim?"
"Udah gue taruh dimotor cafe"
"Yudah, aku berangkat ya mbak. Oyaa, kopi ini buat meja nomor 13. Belum aku aduk, selesaikan ya mba ku cayangg" Kataku guyon, segera aku berlari sebelum terkena omelan mba Nisa.
......o0o......
Sore menjelang malam, satu pesanan belum terantar, ku ambil kertas berisi alamat yang terakhir yang harus aku kunjungi. Mataku membola seketika. What?!! Ini kan alamat club yang cukup terkenal ituuu. Duhh mana udah makin malem pulak, apa aku harus kesana? Atau mengantarkannya besok saja. Ahh gak bisa! Ini amanah yang harus dikerjakan hari ini juga. Semoga tak terjadi sesuatu padaku.
......o0o......
Aku sampai pada tujuanku yang terakhir. Kulangkahkan kakiku memasuki club sambil membawa beberapa makanan yang dipesannya.
Bau alkohol memasuki indra penciumanku saat langkah kakiku memasuki area club. Lampu lampu berkilauwan menyilaukan pandanganku. Kepalaku pening, pandanganku mulai kabur, kupaksakan diri agar tak pingsan disini.
Kuberanikan diri melangkah mendekati seorang wanita berpakaian minim, di pojok ruangan, dengan seorang lelaki yang duduk disebelahnya.
"Emmm mbak, permisi" Kataku ragu. Ia meneatapku angkuh. Aku hanya menatapnya datar dan kembali pada tujuan awalku. "Mbak, saya pengantar barang dari cafe Gempita, dan ini pesanannya mbak." Lanjutku, sambil menahan pening dikepalaku.
"Owh, kok beda sih? Gak kayak biasanya? Si Nita kemana?"
Aku rasa penghuni club ini sudah mengenal Nita, entah sejauh apa aku gak peduli.
Aku tersenyum palsu menjawab pertanyaan wanita tersebut
"Mba Nita nya lagi pulang kampung" Jawabku singkat.
Kepala ku makin pening sekali rasanya. Dunia seolah berputar, pandanganku mulai kabur, bahkan aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang wanita itu katakan. Tubuhku oleng seketika, dan terjatuh ditempat. Tapi sebelum aku kehilangan kesadaranku kulihat lelaki menopang tubuhku agar tak jatuh, aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Kesadaranku mulai hilang perlahan lalu dunia berubah menjadi gelap.
......o0o......
Ku pejapkan mataku sambil menyesuaikan cahaya yang masuk perlahan. Kulihat sekeliling ruangan yang didoninasi warna putih polos dan sebuah lemari dipojok ruangan. Aku rasa aku mengenal tempat ini? Tapii... Ahhh ini kan kamar ganti di Cafe! Kenapa aku bisa ada disini? Aku mecoba mengingat kembali kejadian malam tadi, dan kulihat lelaki yang menopang tubuhku yang tampak tak asing dimataku. Tapi siapa? Astagaa!! Kusibak selimut yang menutupi tubuhku dan membuang nafas lega, saat melihat pakaianku masih utuh walau sedikit kusut.
Segera aku bangun dan berjalan ke ruang atasanku untuk meminta izin untuk ku pulang. Karena ini bukan jadwal piket ku, sebelum hari semakin siang. Duhh bagaimana dengan mama jika tau aku gak ada dirumah? Sementara hari sudah semakin siang aku juga harus menyiapkan sarapan untuk mereka, cepat cepat aku turu dari ranjang dan mengambil tas selempangku lalu berjalan keluar cafe.
"Ehhh, Liyaa!! Lo mau kemana?!" Sebuah suara menghentikan langkahku, lalu kubalikan tubuh dan melihat mba Nisa yang menatapku khawatir.
"Lo udah baikan? Maapin gue yah? Gara gara gue lo jadi kena masalah kayak gini. Lain kali kalo misal club itu pesen sesuatu biar gue aja deh yang nganter, kasian lo nya. Gue gak tega jadinya"
"Gapapa mba, ini kan tugasku, lagian aku sudah diamanahkan sama bos buat gantiin pekerjaannya mba Nita sementara waktu. Dah gak usah ngerasa bersalah gitu" Jawabku lembut, dan berpamitan untukku pulang lalu berjalan menjahui cafe dengan tergesa gesa.
.......o0o.......
Aku berjalan menuju jendela kamarku, dan mulai membukanya. Aku hanya tak ingin mama curiga padaku dan berfikiran yang buruk tentangku nantinya.
Segera ku buka jendela kamarku dengan susah payah. Astaga! Terkunci??!! Bagaimana bisa?! Perasaan aku gak ngunci jendela kamarku, tapi gak mungkin juga aku yang ngunci, aku pergi lewat jendela, dan kuncinya ada didalam, apa jangan jangan kak Luna?!
Kuayunkan kakiku menuju pintu utama. Dan mengetuknya perlahan, tak apa... Semoga tak terjadi sesuatu padaku.
"Maa... Kak Luna?! Tolong buka pintunya!" Kataku sedikit berteriak sambil menggedor gedir pintu rumahku dengan sedikit kencang.
Kemana semua orang? Rumah ini terlihat sepi, tapi lampu rumah sudah mati? Aku yakin mereka ada didalam.
"Kak Luna!!! Mama!! Bukain pintunya!!" Aku kembali berteriak sambil menggedor pintu rumah dengan sedikit lebih kencang.
Aku menyerah, beberapa kali ku panggil nama kak Luna dan mama tapi tak dijawab, apa mereka sedang jalan jalan? Hmm mungkin... Ku baringkan tubuhku di lantai teras rumah dengan penat masih melekat di tubuhku, tak lama kemudian aku kehilangan kesadaranku dan pergi kealam mimpi.
......o0o......
"Heh bangun lo!!"
Sebuah suara mengagetkanku dari tidurku yang lumayan panjang, aku menggeliat mengumpulkan kesadaranku, dan menemukan kak Luna dan mama yang menatapku dengan tajam.
"Habis dari mana lo?! Udah menjelang siang baru pulang?! Dibayar berapa lo?!"
"Maksud kakak apa?"
"Gak usah sok polos lo! Gue tau semalem lo ke club kan?!"
Aku terkejut, bagaimana kak Luna tau?
"Tuh kan diem aja! Bener kan ma! aku gak boong! Dia ini ******! Udahlah ma! Usir aja dia dari sini! Bikin malu keluarga aja!" Kak Luna memandangku remeh, sambil tersenyum sinis.
Aku terkejut dengan perkataannya. Tapi dimana aku tinggal nanti?
"Mah, aku mohon jangan usir aku dari rumah... Aku mau tinggal dimana nanti" Kataku memohon.
"Benar kata kamu Luna! Dari pada kita menampung wanita gak tau diri macam dia!"
"Mah... Aku mohon jangan usir aku dari sini, dengerin penjelasan aku dulu... Sebenernya aku itu kerja di cafe Gempita, dan aku disuruh nganter ba--"
"Alah alesan aja lo! Gue punya bukti kalo lo itu emang ******!" Ucapanku terpotong, kak Luna mengambil ponselnya dan mencari sesuatu disana.
Aku terkejut. Ituu fotoku sedang di gendong dengan lelaki saat aku pingsan semalam. Bagaimana kak Luna bisa tau?
"Kok kak Luna--"
T B C