I PROMISE

I PROMISE
Chapter 7



Aku terkejut. Ituu fotoku sedang di gendong dengan lelaki saat aku pingsan semalam. Bagaimana kak Luna bisa tau?


"Kok kak Luna---."


......o0o......


Aku sampai pada rumahku yang kedua, jika kalian bertanya mengapa aku bisa mempunyai rumah sendiri? Itu karena hasil kerjaku selama ini, lalu aku mengumpulkan uang untuk membeli rumah ku sendiri untuk berjaga jaga.


Telefonku berbunyi dengan nyaring, ku ambil ponsel di meja dan melihat nama Ferland disana. Buru buru kuangkat telfon dari Ferland.


"Selamat malam pacar"


Aku terkekeh pelan mendengar perkataannya.


"Selamat malam juga pacar" Jawabku singkat sambil tersenyum.


"Kamu sibuk gak?"


"Enggak tuh. Kenapa?"


"Temenin aku cari makan, kamu siap siap gih. Nanti aku jemput"


"Emm, Ferland... Sebenernya aku udah gak dirumah mama aku lagi"


"Kok bisa? Sekarang kamu dimana?"


"Aku ngekost sementara waktu, nanti aku share lok" Jawabku berbohong.


"Yaudah kamu siap siap gih"


"Siapp kapten. Alamat nya udah aku kirim, udah masuk belum"


"Ehh iya ini udah masuk. Oke aku on the way kesana"


......o0o......


Aku menunggu Ferland di teras rumah sambil memainkan hp ku, tak lama kudengar suara mobil memasuki halaman rumahku. Kudungakan kepala lalu tersenyum melihat Ferland yang turun dari mobil sambil tersenyum.


"Yuk berangkat" Aku tersenyum lalu mengangguk menanggapi ucapannya.


Hening tercipta disepanjang perjalanan, aku rasa aku tak perlu menceritakan kejadian saat aku diusir dari rumah dengan tidak layak, lebih baik aku diam.


"Kita mau kemana Land?" Tanyaku memecah keheningan.


"Makan dulu yuk, kamu pasti belum makan kan?"


"Eh, kok tau aku belum makan? Kamu cenayang yaa" Jawabku bergurau sambil terkekeh


"Insting seorang pacar" Aku tertawa mendengar perkataannya, serasa asing ditelingaku saat Ferland mengatakan itu.


Kami menyantap makanan dengan tenang, sesekali Ferland menanyakan sesuatu padaku dan dijawab singkat olehku. Setelah selesai kami segera beranjak dari sana dan menuju tujuan kami yang ke dua, entah Ferland akan membawaku kemana kali ini.


Keheningan terjalin didalam mobil, hingga kami sampai disuatu tempat. Ferland membukakan pintunya untukku dan menuntun ku menaiki bukit yang tak terlalu tinggi. Setelah sampai puncak, aku ternganga melihat pemandangan diatasku, bintang bintang bertaburan dilangit.


Aku duduk disamping Ferland lalu menatap langit kembali, masih tetap pada rasa kagumku. Baru kulihat pemandangan seindah ini, ahh rasanya aku takĀ  ingin pergi dari sini.


"Ra, aku mau tanya boleh?" Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Ku torehkan kepalaku dan melihat Ferland yang menatapku serius.


"Tanya apa?" Aku melihat wajah Ferland yang tampak ragu, lalu kuulurkan tanganku dan memegang pundaknya lembut. "Tanya aja, selama aku bisa jawab bakal aku jawab" Lanjutku lebut.


"Kalo boleh tau... Kenapa kamu pergi dari rumah?" Aku terkejut atas pertanyaannya, Ferland memandangku dengan penuh tanda tanya, aku kembali menatap kedepan tanpa menjawab pertanyaan nya. Apa aku harus menceritakan masalahku padanya? Entah kenapa aku merasa kalo aku tak perlu membicarakan masalah ini pada Ferland. Biarlah waktu yang menjawab.


"Emm, gapapa sih. Aku gak pengin kak Luna keberatan dengan keberadaanku, selama ini mama selalu memperhatikanku dan selalu memojokan kak Luna, itulah kenapa aku dan kak Luna tak pernah akur, karena tercipta kecemburuan, dan dia menyuruhku pergi. Kali ini aku gak akan membantah, gak apalah, lagian juga aku kan bisa cari uang sendiri, hehe" Jawabku memutarbalikan fakta. Apa aku salah? Aku hanya belum siap dengan masalahku yang diketahui orang lain.


"Kalo suatu saat kamu butuh bantuan, kamu boleh hubungi aku, jangan sungkan sungkan, aku ini pacar kamu, udah seharusnya aku yang mendengar semua keluh kesah kamu" Aku menatap Ferland lembut, rasa bersalah bersarang dihatiku. Apa aku salah jika aku tidak menceritakan hal yang sebenarnya?


Keheningan terjalin beberapa saat, lalu kami memutuskan untuk pergi dari sana, karena hari sudah semakin larut.


"Mau ke minimarket dulu?" Tanya Ferland, setelah mobil berjalan menjauhi area taman.


"Emmm boleh deh, aku mau beli cemilan juga bahan makanan buat besok" Jawabku singkat.


Mobil Ferland berhenti beberapa meter di depan menimarket, aku berjalan mendahuluinya dan mulai memilih bahan makanan untuk besok dan beberapa cemilan. Setelah durasa cukup, aku membayar semua barang belanjaanku dan keluar dari sana sambil menjinjing dua kantung kresek disetiap tanganku.


Aku memasuki mobil dan menaruh belanjaanku di kursi belakang, tak lama mobil pun berjalan menjauhi area minimarket.


Selama perjalaan Ferland membuat candaan yang tak bisa berhenti membuatku tertawa. Ia menceritakan banyak hal tentang dirinya dirumah, dari mulai bundanya yang cerewet, adik kecilnya yang manja dan ayah yang suka menggoda dirinya, hingga kedua lelaki itu beradu mulut. Aku sedikit iri dengan keluarganya yang harmonis, aku tersenyum getir dan menghentikan tawaku seketika.


Mobil Feland memasuki halaman rumahku dan berhenti beberpa meter di depan pintu utama. Aku turun dari mobil dan disusul Ferland yang membawa barang belanjaanku. Aku membuka pintu utama dan mengambil alih belanjaanku dan meletakannya di meja TV.


"Mau mampir dulu?"


"Emmm, gak usah deh, kapan kapan aja. Lagian ini udah malem, jangan lupa istirahat, gak boleh bergadang!"


"Siapp boss!" Jawabku mantap.


Ia mengecup dahiku lembut, dan memeluk tubuhku erat. Aku membalas pelukannya.


"Makasih buat malam ini, makasih kamu udah buat aku banyak ketawa. Makasih." Kataku sambil terus memeluknya erat.


"Udah jadi kewajiban aku buat selalu ada buat kamu." Ia melepaskan pelukanku dan memegang pipiku lebut dengan kedua tangannya. Dan kembali mengecup dahiku lembut, aku memejamkan mata dan membukanya perlahan. Lalu tersenyum melihat senyumnya.


Mobil Ferland menjahui halaman rumahku. Aku mulai menata barang belanjaan ku di dapur dan membersihkan diriku setelahnya.


Setelah membersihkan diri, ku putuskan untuk tidur karena hari semakin larut. Tak kama aku memasuki alam mimpi.


T B C