
Kringgg kringgg
Bell istirahat berbunyi dengan nyaringnya. Ku ambil kertas ujianku dan memberikannya pada guru pengawas.
"Semua lembar jawab sudah terkumpul?" Tanya guru pengawas.
"Sudah buuu!!"
"Baik, ibu akhiri pertemuan kali ini. Semoga kalian mendapatkan nilai yang memuaskan." Lanjutnya kemudian.
"Aamiin!!" Jawab siswa kompak.
Aku membereskan alat tulisku dan mengambil bekal di dalam tasku. Kulangkahkan kakiku menuju area belakang sekolah, sendirian. Kalo saja Rere 1 Ruangan denganku, mungkin aku tak kesepian sekarang. Aku duduk dibawah salah satu pohon yang cukup lebat disana.
Tempat ini lumayan sepi. Ku buka bekal makanan dan mulai memakannya dengan tenang, soal Ferland? Ia belum membalas pesanku dari semalam. Ingin rasanya aku bertanya secara langsung tentang postingannya di Instagram beberapa hari lalu, tapi Ferland belum memperbolehkan aku bertemu dengannya selama ujian. Ah sudahlah lebih baik aku habiskan bekalku sekarang sebelum bell masuk berbunyi.
"Aku sayang banget sama kamu"
Aku terkejut sesaat, ada orang lain kah disini? Tapii aku rasa aku mengenal suara ini? Ku tengokan kepalaku kebelakang dengan badan yang masih bersembunyi dibalik pohon. Aku melihatnya. Disana? Ferland sedang bersama kakakku Luna. Drama macam apalagi ini?
"Apa kamu masih mau bertahan sama wanita murahan itu? Sudah beberapa bukti aku tunjukkan kalo dia itu kerja diclub malam jadi ******, tap..."
"Cukup Luna! Berani beraninya Lo ngejelek jelekin adek Lo didepan gue! Dan Lo bilang apa tadi?! Club' malam? Asal Lo tau ya! Pacar gue gak semurah itu!! Ohh gue tau!! Lo pasti mau ngerusak hubungan gue sama Liya kan? Tapi maaf, soal itu gak akan pernah terjadi. Sampai. Kapan. Pun! Ingat itu!" Samar samar aku mendengar pembicaraan mereka, aku tersenyum senang melihat Ferland yang mau mempertahankan hubungan kami. Segera ku balikan tubuhku dan kembali bersembunyi dibalik pohon, sebelum kak Luna melihat keberadaan ku.
Aku terkejut, melihat Rafa dihadapan ku sekarang. Astaga, untuk apa dia kemari?! Apa dia mendengar percakapan Ferland dan kak Luna?
"Rafa?!! Buat apa kamu kesini?!" Kataku sewot.
"Ssttt, diem! Nnti Lo ketahuan sama Luna?!" Katanya sambil menutup mulutku dengan telapak tangannya.
"Aarghh sialan! Kenapa susah banget sih ngedapetin Lo Land?! Kurang apa lagi coba gue!! Kenapa dia malah milih cewek cupu itu?! Inget ya Liya! Gue bakal ngehancurin lo apapun caranya!!" Samar samar aku mendengar kak Luna berbicara sendirian. Dan... Apa katanya tadi? Menghancurkanku? Perasaanku mulai tak enak sekarang. Apa yang akan kak Luna lakukan padaku?
Setelah dirasa aman, Rafa segera melepaskan tangannya dari mulutku. Dan duduk disebelahku dengan tenang. Aku rasa ia sedang butuh sandaran sekarang.
"Kamu ngapain disini Raf?!" Kataku kemudian.
"Gue tadi ngikutin Luna dari belakang, soalnya. Gak kayak biasa dia langsung ninggalin kelas tanpa nunggu gue dulu. Ternyata ini alasannya, gue rasa kecurigaan gue bener. Kalo selama ini Luna berusaha ndeketin Ferland yang lebih segalanya dari gue." Jawabnya panjang. Aku memandang Rafa sekilas dan segera memalingkan pandanganku kedepan.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin kak Luna orangnya setia, mungkin dia lagi datang bulan. Makannya sifatnya berubah ubah." Jawabku singkat sambil memandangnya sekilas.
"Oya, aku ada bekel. Kamu mau?" Tawarku setelah terjadi keheningan beberapa menit yang lalu. Ia memandangku sekilas lalu menggeleng singkat.
"Yaudah kalo gak mau, ini enak loh. Aku sendiri yang bikin, gak sempet sarapan soalnya tadi pagi. Takut telat" jelasku kemudian.
bluss.
Astaga malu sekali rasanya. Kenapa juga aku harus cerita sama orang yang gak terlalu dekat denganku. Ahh sudahlah, sebaiknya aku habiskan saja bekalku dan cepat cepat masuk ke kelas.
"Makannya biasa aja. Gak usah buru-buru gitu, gue cuma bercanda tadi" aku rasa Rafa memandangku sekarang. Ku tolehkan kepalaku dan mendapati Rafa yang terkekeh melihat kegugupanku.
"Oya, kita belum kenal, tapi kok Lo udah tau nama gue? " Kata Rafa setelah menghentikan tawanya. Aku menggaruk dahiku yang tak gatal.
"Emmm, soal itu.. anuu aku..."
"Gue tau! Lo pasti tau gue dari anak anak baileen school kan? Banyak banget yang gosipin gue kalo gue anak haram. Padahal sebenernya gak" jelasnya singkat. Aku melihat Rafa yang memandang kosong kedepan. Rasa iba muncul dalam diriku. Ku angkat tanganku dan mengelus pundaknya sekilas.
"Kamu yang sabar ya. Aku percaya kok sama kamu, aku yakin kamu bukan anak haram. Pasti ada cerita dibalik seorang Rafa Gibran Ramanda" jawabku sambil tersenyum. Kurasakan tubuhnya sedikit menegang saat aku menyebutkan nama lengkapnya.
Keheningan terjadi beberapa saat, tak lama kemudian bell berbunyi dengan nyaringnya.
"Emmm, aku duluan ya Raf. Jangan sedih terus, aku yakin kak Luna baik. Dan soal perkataan anak anak gak usah terlalu dipikirin ya, aku yakin kamu laki laki yang kuat. Aku duluan." Kataku berpamitan. Ia memandangku sambil tersenyum lalu mengangguk.
Ku ayunkan kakiku menuju ruang ujian. Mapel ke-2 ini adalah Sosiologi. Untung saja aku memahami mapel ini, jadi cukup baca sekilas aku langsung paham.
Ujian dimulai dengan hening menyelimuti, aku berkonsentrasi penuh untuk ujian ini agar aku bisa mendapat nilai memuaskan. Kata kata Ferland waktu itu masih terngiang di otakku, menambah semangat untukku menghadapi ujian kedepan. Selain itu, aku juga ingin buktikan pada mama bahwa aku bisa sukses, bahwa aku bisa berdiri walaupun peran seorang mama tak pernah aku dapatkan.
......o0o......
Bell sekolah berbunyi dengan nyaringnya. Pertanda bahwa ujian dihari kedua sudah habis. Kata kata umpatan terdengar ditelingaku, hahaha aku rasa mereka belum sempat mengisinya semua. Kubereskan alat tulisku dan mengambil kertas ujianku diatasnya meja lalu melangkah menuju meja guru dengan santai. Setelah selesai aku segera keluar dari ruangan dan menuju halte bis seperti biasa.
Aku menunggu bis yang tak kunjung datang, hari mulai gelap. Untung saja aku cuti kerja sementara waktu karena sedang ujian, aku sungguh berterimakasih pada bos ku yang baik hati. Ia selalu mengerti posisiku saat saat seperti ini. Bahkan ia yang menyuruhku untuk bercuti agar bisa fokus keujian katanya.
Tinnn tin..!!
Aku tersentak dalam lamunanku dan mendongakkan kepala segera. Rafa?! Untuk apa dia disini?
"Kamu kenapa disini?!" Kataku kesal. Bagaimana tidak?! Ia mengagetkanku tiba tiba dengan tampang watadosnya. Ingin rasanya ku cakar cakar muka tanpa rasa bersalah itu!
"Kenapa Lo belum pulang? Pulang bareng gue yok!" Mataku membola seketika. Apa? Pulang bareng dia? Ahh yang ada malah aku diajak mati olehnya! Aku menggelengkan kepala pertanda aku tidak mau mengikutinya
"Ck, ayoo! Gak akan ada bis sore sore gini!" Betul juga katanya, hari sudah semakin gelap. Tapi apa Ferland akan marah jika melihat ku berboncengan dengan laki laki lain? Tapi bagaimana? Hari sudah semakin gelap.
"Ck, iya iya" putusku kemudian. Aku menaiki motor metik nya dan perlahan motor itu berjalan menjauhi area sekolah.
T B C