
Setelah selesai mengerjakan ujian mapel kedua, kini aku memutuskan untuk pulang, lebih baik nanti saja aku berbicara pada Ferland soal siapnya yang akhir akhir ini berubah denganku.
Aku berjalan memasuki halaman rumahku dengan penat yang masih melekat pada diriku, rasanya aku ingin mandi setelah itu tidur siang, dan bangun malam untuk belajar. Ahh tidak, aku tak ingin tidur siang. Mungkin beberapa cemilan sambil menonton film ide yang bagus.
"Loh om Alvin?" Aku sedikit terkejut dengan kedatangan Om Alvin adik dari mama, papah? Untuk apa mereka kemari?
"Liyaa... Kamu baru pulang?" Tanya om Alvin padaku, aku sedikit gugup mengingat akhir akhir ini aku jarang berkomunikasi dengannya bahakan tidak pernah.
"Hmmm iya om, om ngapain disini? Papah? Papah juga ngapain disini?" Aku menatap mereka dengan penuh tanda tanya, mereka saling pandang sejenak lalu menatapku kembali.
"Liyaa, Liya balik ke rumah ya? Papah kesepian gak ada Liya, soal mama nanti biar papah yang urus" kata papah memelas, aku masih saja bingung dengan semua ini. Bagaimana mereka tau aku disini? Dann apa papah sudah tau jika mama mengusirku tempo lalu?
"Emm, masuk dulu yok om, pah. Gak enak ngobrol diluar, diliatin tetangga" jawabku mengalihkan pembicaraan. Mereka mengangguk lalu mengikuti ku dari belakang dan masuk ke rumahku
"Bentar ya om, pah. Liya ganti baju dulu" pamit ku dan dijawab anggukan oleh mereka. Aku segera membersihkan tubuhku dan menuju dapur untuk membuat minum dan menyiapkan beberapa cemilan
......o0o......
"Diminum pah, om" kataku setelah meletakkan minuman dimeja, suasana hening seketika. Ahh aku jadi gugup sekarang, sebenarnya banyak pertanyaan yang bersarang diotaku saat ini. Bagaimana mereka bisa tau rumahku? Dan mengapa mereka repot repot datang kemari? Apa mereka sudah tau kalo mama mengusirku tempo hari?
"Emmm Li, sebenarnya kedatangan kita kesini mau ngajak kamu pulang lagi sama kita" kuangkat kepalaku dan menatap om Alvin yang menatapku penuh harap.
"Kenapa kalian bisa tau aku disini?" Tanyaku penasaran.
"Itu gak penting sayang, sekarang kamu pulang sama papah ya? Soal mama nanti biar papa yang urus" jawab papah singkat.
"Gak! Liya ikut bareng aku, kasian dia. Dirumah mas cuma dapet bullyan dari ibunya sendiri."
"Tapi Liya itu anakku! Aku lebih berhak atas hak asuhnya!"
"Aku cuma pengin Liya berhenti menderita dengan tinggal di rumahku!"
"Aku juga bisa membahagiakan Liya! Tau apa kamu soal anakku?"
"Tap..."
"STOP PAH! OM" teriaku memberhentikan perdebatan unfaedah mereka, astagaa kenapa mereka malah merebutkan ku?
"Sebelumnya jawab pertanyaanku dulu! Kenapa kalian bisa tau kalo aku disini? Dann apa tadi om bilang? Di bully? Sama mama? Itu gak mungkin, mama itu sayang sama aku" lanjut ku kemudian.
"Soal kamu tinggal dimana papah suruh orang buat cari keberadaan kamu, dan akhirnya papah tau kalo kamu tinggal disini, akhirnya papah sama om Alvin memutuskan buat nyamperin kamu kesini" jawab papah panjang.
"Soal mama kamu, kami udah tau apa yang terjadi sama kamu, dan kamu gak usah ngelak lagi karena kami udah tau kalo mama kamu yang ngusir kamu dari rumah kan?" Lanjut om Alvin. Aku terkejut dengan pernyataan nya barusan, berarti mereka....?
"Kami sudah tau sayang, maafin papah baru menyadari kalo kamu pergi karena mama"
Flashback on
"Assalamualaikum" salam Ferdi setelah sampai dirumah,
"Waalaikumussalam, papah?!!" Jawab Luna antusias dan segera menghampiri papahnya lalu memeluknya erat.
"I Miss you dad" lanjutnya lirih. Ferdi membalas pelukannya sekilas dan melepaskannya segera.
"Liya mana Lun? Ko dia gak kelihatan?" Tanya Ferdi kemudian.
"Liya? Aku gak tau pah, beberapa hari ini dia gak pulang, waktu aku mau cegah dia buat pergi, dia malah marahin aku. Katanya aku gak boleh ngadu papah kalo Liya pergi dari rumah, aku udah berusaha cegat dia, tapi dianya gak mau dengerin omongan aku" dusta Luna. Ferdi memandang putrinya dengan tatapan ragu, ia rasa ada yang tidak beres disini. Karena ia yakin Liya-nya tidak seperti itu.
"Emmm, yaudah biar nanti papah yang urus. Kamu tidur gih, ngapain masih bangun jam segini?"
"Hehe, Luna nunggu papah pulang, soalnya Luna kangen banget sama papah yaudah Luna nunggu papah sampai pulang" jawabnya antusias.
"Yaudah gih tidur, besok kita bisa ngobrol lagi. Oya mama mana?"
"Mama udah tidur duluan, kata mama kalo papah udah pulang suruh nemuin mama dikamar" jawab Luna singkat. Ferdi mengangguk singkat dan segera berpamitan untuk istirahat.
Ferdi membuka pintu perlahan dan mendapati istrinya yang sudah tidur terlelap.
"Eh, mas Ferdi?" Kata Paula istri Ferdi, ia segera menghampiri sang suami dan mengambil tas yang dibawa suaminya lalu meletakkannya di meja.
"Aku siapin air panas dulu ya mas" katanya kemudian. Segera ia pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air.
......o0o......
"Emm La, mas mau tanya. Tapi kamu jawab yang jujur ya?" Kata Ferdi memecah keheningan setelah beberapa saat terjadi. Dan dijawab anggukan sekilas oleh istrinya.
"Liya dimana ya? Tadi mas cek kekamarnya kenapa dia gak ada? Apa kamu tau dia dimana?" Tanya Ferdi kemudian. Paula memandang sang suami dengan tatapan tidak sukanya.
"Kenapa kamu harus mikirin anak sialan itu?!" Jawab Paula sedikit menaikan nada suaranya. Untunglah seluruh kamar dirumah ini kedap suara, jadi tidak ada yang mendengar suara walau sebesar apapun itu.
"Kok kamu marah? Aku tanya baik baik?! Dimana Liya?!" Kata Ferdi terpancing emosi. Ia segera bangkit dari posisinya dan duduk ditepian ranjang.
"Buat apa kamu nanyain anak sialan itu?! Dia udah mempermalukan keluarga kita mas?!! Kamu selama ini dibodohi sama dia! Kenapa kamu selalu mikirin dia?! Sedangkan anak kamu?! Gak pernah kamu perhatikan sedikitpun." Paula menatap suaminya marah, untuk apa dia menanyakan anak sialan itu? Gak penting juga! Emang dasar anak sialan! Suka bikin orang menderita!
"Aku bukannya gak pernah mikirin Luna, anak kita. Dia yang terlalu manja sama mas! Semuanya mas kasih! Sedangkan Liya? Dia selalu menolak apa yang mas mau kasih kedia!"
"Kenapa sih kamu selalu bela anak sialan itu! Dia udah mempermalukan keluarga kita! Dia..."
"MEMPERMALUKAN BAGAIMANA MAKSUDMU HAH?! Bagaimana bisa kamu mempercayai gosip yang gak jelas asal usulnya itu!"
T B C