I PROMISE

I PROMISE
Chapter 8



Tak terasa beberpa bulan belalu, kini hubunganku dengan Ferland sudah memasuki bulan ke enam, dan minggu depan adalah hari ujian kenaikan kelas, aku bersungguh sungguh untuk ini. Karna Ferland pernah berjanji padaku akan mengajaknya ke suatu tempat yang mungkin aku akan menyukainya.


Untuk menjawab rasa penasaranku, akhirnya aku belajar sungguh sungguh untuk ini. Doakan saja, agar aku bisa mendapatkan tiga besar lagi ditahun ke tujuh selama aku menuntut ilmu.


......o0o......


Pagi ini, seperti biasa Ferland menjemputku dengan mobil sportnya yang baru berhenti dihalaman rumahku. Ia menatapku sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya.


"Pagi sayang" Pipiku terasa panas seketika, aku tersenyum dan menghampiri Ferland yang menatapku lembut.


"Pagi juga sayang" Astagaa pasti pipiku memerah sekarang. Ferland menarik tubuhku dan memelukku erat, sambil mengusap ramputku dan mencium kepalaku sekilas. Aku membalas pelukannya.


"Berangkat sekarang?" Katanya setelah melepas pelukan yang cukup lama tadi. Aku mengangguk sambil tersenyum dan mulai memasuki mobil Ferland.


Tawa menghiasi perjalan kami menuju sekolah, sesekali aku menceritakan bagaimana usilnya mba Nisa saat aku sedang bekerja, aku terus menceritakan banyak hal pada Ferland. Tapi tidak dengan masalahku, aku rasa Ferland tak perlu mengetahuinya sementara waktu, ia pun tak  memaksaku untuk bercerita.


Mobil Ferland memasuki halaman sekolah, sekolah lumayan ramai pagi ini. Mungkin karena jam sudah menunjukan setengah tujuh.


Aku turun dari mobil setelah Ferland membukakan pintunya untukku. Aku melihat sekeliling, banyak yang menatapku dengan tatapan yang berbeda beda. Aku mengacuhkan nya dan kembali menatap Ferland yang menatapku lembut dan menggandeng tanganku menjahui area parkir sekolah.


"Belajar yang bener! Bentar lagi ujian, jangan ketiduran dikelas! Gaboleh bolos!" Kata Ferland setelah kami sampai didepan kelasku. Aku tersenyum lalu mengangguk.


"Siap pak!" Kataku semangat, ia mengelus rambutku sekilas lalu berpamitan dan melangkah menjahuiku. Aku memasuki kelas dan duduk disebelah Rere.


"Pagi Re" Sapaku semangat. Ia menatapku penuh tanda tanya.


"Kenapa lo? Seneng banget kaya nya"


"Iyalah, bentar lagi kan ujian kenaikan kelas. Jadi aku harus semangat biar dapet 3 besar tahun ini"


"Lo gak usah belajar juga udah pinter Rut. Lah gue? Otak dibawah rata rata, makin puyeng gue mikirin ini ujian"


"Jangan patah semangat gitu dong Re! Kalo kamu mau nanti kita belajar bareng. Tapi harus bener bener belajar! Jangan gibah ato malah nonton drakor! Apalagi habisin cemilan aku"


"Hehe duhh gimana ya Rut. Gue males banget belajar. Apalagi dirumah lo ada si nenek lampir itu! Gue jadi males liatnya"


Aku tersdiam beberapa saat. Rere memang mengetahui hubungan ku dengan kak Luna, tapi hanya dia dan Ferland yang tau. Baru saja aku ingin membalas perkataannya, bell masuk berbunyi dengan nyaring. Aku mendengus seketika, dan melihat Rere yang cekikikan melihat raut kesalku.


......o0o......


Bell pulang berbunyi dengan nyaring, sebuah kebahagiaan bagi para pelajar siawa Baileen school. Kulangkahkan kakiku menuju parkiran sesekali mambalas sapaan adik kelas yang mengenalku.


"Hai Land" Sapaku dengan senyum yang masih melekat pada wajahku.


"Pulang sekarang yok" Ferland menggandeng tanganku lembut, tak memperdulikan kak Luna yang menatapku tajam.


Aku masuk kemobil Ferland, dan mobil pun berjalan menjahui area sekolah. Hening tercipta di perjalanan kami. Tak lama kami sampai pada rumahku.


"Makasih ya Land"  Ia tersenyum padaku. Aku turun dari mobil dan melambai padanya.


Segera aku membersihkan tubuhku dan belajar untuk ujian yang akan datang.


......o0o......


"Ayah... Ayah!! Gak dokter! Liya mau masuk! Liya mau liat ayah didalem, Liya tau kalo dokter pasti boong! Ayahh!! Dokter izin in Liya masuk... Hiks hiks ayahh!!! Ayahhh!! Liya mohon keluar! Ayahhh!!!


"AYAH!!!" Nafasku memburu, ingatan delapan tahun lalu kembali teringat jelas diotakku, keringat bercucuran didahiku. Aku memegang kepalaku, air mata mengalir tanpa perintah. Aku menangis didalam keheningan malam, sendirian. Kuambil foto dinakas dan air mataku semakin deras turun tanpa aba aba. Aku menangis terisak, kenangan itu kembali menghantui pikuranku


"Haha ayah ayo kejar Liya" aku berlari kesana kemari dengan ayah yang terus mengejarku, ia menangkapku dan aku merasakan geli disekitar perutku. Aku tertawa keras tanpa beban.


"Haha ayahh... Udah berhenti.. Ini geli ayahh! Haha.... Ayah udah" Kataku dengan terus tertawa, ia menghentikan pergerakan tangannya pada perutku, lalu memeluk ku erat. Aku membalas pelukannya sambil tersenyum.


"Makasih Ayah, udah selalu ada buat Liya."


"Udah jadi tugas ayah buat jagain kamu terus. Ayah sayang Liya" Aku tersenyum lebar lalu mengangguk.


"Liya juga sayang ayah. Ayah janji gak akan ninggalin Liya kan? Ayah bakal liat Liya sukses nanti kan?"


Ia melepaskan pelukannya padaku lalu tersenyum dan mengangguk.


"Ayah janji"


"Promise?" Aku mengangkat jari kelingkingku didepan dadanya, ayah menautkan jari kelingkingnya padaku, lalu mencium kedua pipiku dan keningku lembut. Aku tersenyum, bahagia. Rasanya aku ingin waktu  berhenti sebentar agar aku bisa menikmati waktu bersama ayah lebih lama.


"Yes, i promise" Jawabnya kemudian setelah melepaskan kecupannya padaku.


"Liya rindu ayah... Hiks. Kenapa ayah harus ninggalin Liya? Mama jahat ayah. Mama gak mau dengarin penjelasan Liya. Hiks.. Liya butuh ayah, sekarang Liya sendiri. Hiks hiks." Aku terus menangis hingga terasa lega dan akhirnya aku menuju alam mimpi karena kelelahan akibat menangis.


T B C