
Pagi ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah untuk ujian dihari ke 4, kali ini aku tidak berangkat sendiri seperti biasa. Rafa menjemputku pagi ini atas paksaan ia padaku,
Flashback on
"Besok berangkat bareng gue!" Kata Rafa setelah aku turun dari motornya
"Gak usah Raf, aku bisa sendiri. Lagian kan jarak dari rumah ke sekolah gak jauh" tolakku halus.
"Gak terima penolakan! Sekali gue bilang harus ya harus! Besok gue jemput! " Katanya memaksa. Aku mendengus kesal atas permintaannya. Bagaimana jika lak Luna tau? Pasti ia akan marah padaku nantinya.
"Tenang aja. Luna gak bakal marahin Lo! Gue jamin itu" lanjut Rafa seakan tau isi pikiran ku sekarang. Aku berdecak kesal.
"Ck, iya iya. Tapi gimana kalo Ferland marah!? gak gak, akugak mau" tolakku sekali lagi.
"Harus! Gue jemput besok jam setelah tujuh! Bay!" Baru saja aku akan memprotes ucapannya. Ia meninggalkanku dengan melakukan motornya menjauhi area rumahku.
Flashback off
"Yok berangkat!" Kataku ketus.
Segera aku menaiki motornya dan berjalan menuju sekolah. Tawa menghiasi perjalanan kami, oh ralat. Maksudku hanya untuk Rafa, tidak denganku. Ia malah semakin gencar membuatku marah hingga rasanya otakku mendidih. Kalo saja ia tak memaksaku, mungkin aku sudah berangkat dengan angkot sekarang. Menikmati pagi dengan menghrup udara segar.
Motor Rafa memasuki halaman sekolah, bisik bisik mulai terdengar saat aku berada dibelakang Rafa.
Wehh, itu Liya sama Rafa?! Kok bisa sih mereka barengan?!"
Aku turun dari motor Rafa dan melihat Ferland yang menggandeng tangan kak Luna lembut menjauhi parkiran sekolah. Aku menatap keduanya sedu, entahlah. Hubungan ku dengan Ferland diambang kepupusan, apa Ferland tau jika akhir akhir ini Rafa dekat dengan ku?
"Li?! Kenapa Lo? Jangan nglamun!" Sebuah suara membuyarkan lamunanku, aku menatap Rafa sekilas dan tersenyum paksa.
"Emma, gak papa. Ya udah aku duluan ya Raf, makasih tumpangannya" jawabku, dan segera pergi dari parkiran menuju kelas. Rasanya hari ini aku sama sekali tak bersemangat, pertama karena hubungan ku dengan Ferland yang sudah memasuki bulan ke-7 esok, kini entah bagaimana nasibnya. Kedua, aku tak tau harus bagaimana menjelaskannya pada Ferland? Ahh sudahlah, lebih baik aku fokus keujian dulu, masalah Ferland aku bisa fikirkan nanti.
Kududukan diriku di kursi, dan mendapati kakak kelasku yang sudah datang lebih dulu.
"Tumben berangkat siang? Biasanya Lo dulu yang berangkat?" Aku menoleh kearah nya dan tersenyum kikuk, bagaimana tidak? Aku dan dia selama duduk bersama tak pernah berbicara sepatah kata pun.
"Emmm, gapapa ada Masalah kecil tadi" jawabku singkat. Ia hanya mengangguk singkat dan kembali pada buku dihadapannya.
Tak lama bell masuk berbunyi dan ujian dimulai dengan tenang.
......o0o......
Bell istirahat berbunyi dengan nyaring, setelah mengumpulkan kertas ujianku, kuambil kotak bekal ditas dan berjalan ke taman belakang seperti biasa.
"Rafa?!!" Aku terkejut saat melihat Rafa didepan kelasku dengan tampang watadosnya. Untuk apa dia kemari?
"Buat apa kamu kesini?" Tanyaku ketus. Ia menyengir tak jelas dan menggandeng tanganku agar aku mengikutinya.
"Ikut gue kekantin" jawabnya singkat. Aku mencoba melepaskan tangannya pada pergelangan tanganku, tapi aku rasa itu semua sia sia.
"Ish, aku gak mau! Gimana kalo kak Luna tau?! Raf! Kamu udah punya kak Luna! Bisa aku sih jangan gangguin aku terus!" Kataku sedikit berteriak. Ia tampak acuh dan terus menarik pergelangan tanganku. Aku mencoba melepaskan tanganya dari tangan ku.
"Raf!" Aku merasakan geli di sekitar perut ku, aku tertawa kegelian.
"Rafa udah!" Kataku memohon agar ia berhenti menggelitiku. Tanpa sadar aku melepaskan bekal yang sedang ku pegang. Aku menatap tajam pada Rafa! Astagaaa bekal ku...
"Kamu apa apaan sih Raf?!! Bekal aku jadi jatuh kan! ganti!" Kataku sewot. Bagaimana tidak? Aku sudah menyiapkan ini dengan keringat ku sendiri! Dan kini jatuh sia sia di tanah. Itu karena perlakuan Rafa yang terus menggelitiku.
"Yaudah, sebagai gantinya.... Lo temenin gue makan di kantin!" Jawabnya enteng. Ahh ingin rasanya aku jambak rambutnya yang sudah mulai gondrong itu! Dan mencakar tampang watadosnya! Sabar Liya sabar...
"Enak aja! Gak gak?!" Tolakku kasar.
"Kalo gak mau yaudah. Itu sih terserah Lo, emang Lo mau kelaparan di kelas pas ujian mapel kedua nanti?" Bener juga katanya. Ahh sudahlah lebih baik aku mengikutinya untuk kali ini.
"Iya iya" putusku kemudian. Ia menatapku dengan senyum kemenangan.
Rafa dan aku berjalan menuju kantin, orang orang menatap kami dengan pandangan yang berbeda beda. Aku jadi risih sendiri ditatap seperti itu. Ah sudahlah, lebih baik aku menunduk untuk menghindari kontak mata dengan siswa lainnya.
"Itu Liya kan? Mentang mentang cantik cowok ganteng di sekolah digebet semua"
"Udah punya Ferland masih aja mau milikin Rafa."
"Kasian ya, udah gak dianggep sama Ferland, eh larinya ke Rafa"
Aku semakin menunduk dengan kata kata menyakitkan itu, andai mereka tau kebenarannya, apakah mereka tetap membullyku dengan kata kata kasar itu?
Kami duduk di pojok kantin yang jarang dilewati para siswa. Aku mengamati sekitar kantin dan menemukan Ferland sedang bersama kak Luna lagi.
Pandanganku bertemu pada Ferland dan ia langsung memutuskan pandangan dariku segera, aku rasa ada yang tidak beres dengan Ferland. Apa aku punya salah? Lebih baik aku tanyakan saja nanti.
T B C