
Dua orang gadis datang disaat yang tepat. Mereka berhasil menghentikan pisau yang akan mendarat di jantung Keysha. Bibi Keysha pun jatuh ditanah dengan pisau yang jauh darinya.
"Ketua besar, anda tidak apa-apa?" Tanya gadis berambut panjang dengan khawatir.
"Kalian...?"
"Kita anggota black rose, ketua. Kemarin para anggota perempuan ada misi" jelas gadis berambut pendek.
Kedua gadis itu tampak lelah. Nafas mereka tidak teratur dan bibir mereka pucat.
"Maaf ketua, kita baru saja kembali dari misi dan melihat ketua dalam bahaya, karena itu kita langsung kesini" timpal gadis berambut panjang.
Bibi Keysha berdiri dari tempatnya dan menatap ketiga gadis didepannya dengan tatapan membunuh. "Brengsek kalian!"
"Woi!"
Keysha dan kedua gadis itu berbalik dan melihat banyak preman yang siap menghajar mereka.
"Kalian berdua, cepat pergi!" Bisik Keysha tegas.
"Tapi ketua..."
"Jangan khawatirkan aku! Kalian adalah tanggung jawabku, jadi pergilah! Aku tidak mau kalian kenapa-napa. Pergi dan beritahu yang lain!" Perintah Keysha mendominasi.
"Baik!" Ucap kedua gadis itu kompak.
Keysha perlahan menghajar para preman untuk membukakan jalan agar kedua gadis itu bisa berlari keluar dan kedua gadis itupun berhasil kabur atas usaha Keysha.
Kedua gadis itu berlari sekencang-kencangnya menuju masjid di dekat cafe milik Sammy.
Sedangkan Keysha sekarang sudah berhasil menghajar sebagian dari para preman membuat bibinya marah besar.
Bibinya mengambil sebuah tongkat lalu memukulkannya pada Keysha saat Keysha lengah. Keysha pun berhasil di tumbangkan. Para preman dan bibinya akhirnya menghajar Keysha yang sudah tak bisa apa-apa dengan membabi buta.
Setelah puas menghajar, bibinya mengambil pisau yang jatuh lalu menusukkannya pada Keysha. Mulut Keysha mengeluarkan seteguk darah.
Saat akan menusuk Keysha lagi, seekor kucing lucu datang mencakar tangan bibinya yang membawa pisau. Keysha dan bibinya terkejut melihat kucing itu menjilati darah Keysha yang ada di badan Keysha. Kucing itu menempel pada Keysha dan menggesekkan bulu halusnya pada tangan Keysha yang terkulai.
"Catty?" Keysha benar-benar tidak percaya bahwa kucing ini akan menyelamatkannya.
Bibi Keysha mengambil lagi pisau yang jatuh dan kucing lucu Keysha pun juga menggeram marah.
Catty melompat kearah bibi Keysha yang berhasil ditangkap dengan susah payah oleh preman yang berada di samping bibinya.
Bibinya pun tersenyum miring dan mengarahkan pisaunya pada kucing yang lucu itu.
"Tidak! Jangan!" Teriak Keysha yang tidak dihiraukan oleh bibinya.
"Meong..." Kucing itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ekspresinya seperti meminta maaf karena tidak bisa melindunginya.
Bibinya dengan kejam memutilasi kucing yang lucu itu didepan mata Keysha seperti seorang psikopat yang sudah berpengalaman.
Keysha menatap pasrah langit-langit rumah yang sudah dia tempati belum lama ini. Keysha tersenyum kecut, apa ini akhirnya? Tanya Keysha dalam hati.
Kalo begitu, aku sudah siap.
Aku akan bertemu dengan kak Dicky dan Catty.
Keynan, maafkan kakak. Kakak tidak bisa menjagamu lagi.
Kak Sammy, maafkan aku. Aku tidak bisa bersama kakak lagi.
Ricard, maaf. Aku tidak bisa menemani dirimu lagi. Maaf, aku tidak punya waktu untuk menunggu kamu melamar ku. Padahal aku sangat berharap bahwa hari itu akan tiba. Tapi Tuhan berkehendak lain.
Kak Diva, maaf kalo aku udah ngerebut kebahagiaan kakak.
Kak Rangga, Riana, maaf kalo aku harus pergi, padahal kalian baru datang.
Kak Devan dan teman-temannya maaf kalo aku ada salah.
Desy, dimanapun kamu berada, maafkan aku yang pergi tanpa pamit.
Teman-teman kak Sammy, maaf kalo aku bersikap kurang ajar.
Para anggotaku, maaf kalo aku tidak bisa menjadi ketua yang baik.
Mama, papa, maafkan anakmu ini yang tidak berbakti. Maaf, kalo aku selalu ngerepotin kalian. Maaf kalo aku menjadi beban. Maaf kalo aku udah menjadi penyebab kematian kak Dicky. Maaf kalo aku selalu buat kalian susah. Maafkan aku.
Dan terimakasih untuk semua waktunya. Terimakasih sudah membuatku bahagia diakhir hayatku. Terimakasih sudah menyayangiku.
Padahal, untuk yang terakhir kalinya, aku ingin bertemu mama dan papa. Tapi aku sadar diri kok.
Maaf dan terimakasih semuanya.
Keysha menutup matanya dan satu air mata jatuh. Keysha tersenyum saat bibinya mengangkat pisaunya lagi lalu menusuknya tepat di jantung.
Saat itu juga, jantung Keysha berhenti. Keysha menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyum tercetak diwajahnya.
Terlambat.
Sammy dan kawan-kawannya terlambat.
Disisi lain sebelum Keysha ditusuk, kedua gadis itu berpencar. Gadis berambut pendek masuk ke cafe smash milik Sammy sedangkan yang lainnya melanjutkan larinya ke masjid.
Dia melihat ada Diva dan Riana yang sedang berbincang. Dengan cepat gadis itu menghampiri Diva.
"Kak Diva! Kak! Tolong ketua! Ketua Keysha! Tolong!" Gadis itu bicara dengan nafas yang tidak teratur.
Riana berdiri dari duduknya lalu menatap gadis itu. "Kak Keysha kenapa?" Tanya Riana khawatir.
"Pembunuh! Ada pembunuh!" Ucap gadis itu seraya menangis.
"Tolong! Dirumah!" Ucap gadis itu lagi.
Disaat itu, gadis berambut panjang langsung memasuki masjid dan berteriak. "Tolong!"
Para anggota black rose dan Sammy beserta Rangga yang akan berdoa menatap gadis itu bingung.
"Tolong! Tolong ketua Keysha! Dia mau dibunuh!" Teriak gadis berambut panjang keras.
Dengan cepat Sammy, Rangga dan para anggota black rose berlari keluar dan menuju rumah.
Ditengah jalan, kedua kubu bertemu satu sama lain. Diva dan Riana sudah menangis khawatir. Mereka semua berlari menuju rumah yang berada cukup jauh dari lokasi mereka saat ini.
Mereka hampir terlambat lagi!
Saat mereka tiba, banyak warga yang melihat dari rumah di samping rumah milik Sammy. Mereka tak berani menegur karena banyak preman yang menjaga. Mereka sudah memanggil polisi tapi polisi juga butuh waktu untuk perjalanannya.
"BERHENTI ***!" Teriak Sammy saat melihat mayat Keysha akan dibakar.
"SERANG!" Teriak si ketua yang sudah marah.
Pertempuran antara anggota geng black rose dan para preman pun tak terhindarkan.
Sammy berlari dan langsung menyerang ibu tirinya itu. "***!"
"Mati kau! Temani dia dalam kubur!" Teriak Sammy yang sudah tak memperdulikan bahwa membunuh itu dosa.
Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah membunuh orang yang telah membunuh adik tersayangnya.
Diva dan Riana langsung menghampiri mayat Keysha yang sudah kaku dengan senyum diwajahnya. Mereka berdua menangis sekeras-kerasnya sambil menggoyangkan tubuh kaku Keysha.
"HUAAHH! KAK KEYSHA! BANGUN!" Teriak Riana keras.
"BANGUN DEK! HUHU... BANGUN!" Teriak Diva seperti orang gila.
Tidak lama, keduanya pingsan tepat disamping mayat Keysha. Keduanya sangat berharap bisa menemani Keysha dimanapun dia berada sekarang.
Polisi datang tidak lama setelahnya dengan ambulance yang sudah di telfon oleh salah satu warga. Polisi menghentikan pertempuran yang terjadi antara kedua kubu itu tapi tidak bisa menghentikan Sammy yang masih menghajar ibu tirinya yang sudah pingsan.
"Mati! Mati kau! Mati kau!" Gumam Sammy saat menghajar wanita didepannya. Air mata sudah lama keluar dari mata Sammy. Dia tidak menyangka semua ini akan terjadi. Benar-benar tidak menyangka.
Setelah lelah dan di tarik oleh para polisi, Sammy duduk lemas didepan mayat Keysha. Tanpa basa-basi, Sammy langsung memeluk mayat Keysha dan menangis sekeras-kerasnya diikuti oleh Rangga yang juga memeluk mayat Keysha dan menangis.
Mereka berdua sangat terpukul, mereka sudah membuang harga diri mereka saat menangis di depan para anggota dan warga setempat.
Polisi sudah membawa bibi Keysha beserta para preman ke kantor polisi.
Para reporter yang mendengar laporan warga pun sudah banyak yang datang. Berita itu disiarkan secara langsung karena Keysha adalah anak dari dua pengusaha yang cukup terkenal.
Disisi lain, Ningsih-mama Keysha sedang bersantai diruang kerjanya sambil menghidupkan tv tapi tidak dilihatnya.
"Pemirsa, sekarang saya sedang berada di Bekasi, tepatnya di lokasi pembunuhan yang terjadi"
Suara reporter itu menarik perhatian Ningsih. Dia menatap tv yang berlokasi tidak asing baginya.
"Korban adalah anak dari dua pengusaha kaya. Korban yang bernama Keysha Edward ditemukan tidak bernyawa dan mayatnya hampir dibakar oleh bibinya sendiri"
Pyar...
Ningsih membekap mulutnya sendiri dan menangis. Dirinya kehilangan buah hatinya, sekali lagi. Dirinya tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan Keysha saat akan membawanya pergi ke Bekasi akan menjadi kenyataan. Tanpa basa-basi, dia langsung pergi menuju bandara setempat.
Begitu pula dengan Keynan yang sebelumnya sedang asik bercanda bersama teman-temannya dikantin sekolah.
Perhatian seluruh warga kantin teralihkan pada tv yang menyiarkan berita kematian Keysha. Saat mendengar berita itu, Keynan membeku ditempat dengan air mata yang mengalir.
Keynan melemparkan sebuah gelas kaca ke tv yang menyiarkan berita itu. Emosinya sekarang sangat tidak karuan.
Apa karena ini tadi jantungnya terasa sangat sakit? Pikir Keynan.
"BRENGSEK! PEMBUNUH! TUNGGU AKU DIPENJARA! AKAN KU KIRIM KAU UNTUK MENEMANI KAKAKKU!" Keynan berteriak seperti orang gila sebelum pergi dengan tergesa-gesa menuju parkiran mobilnya.
Keynan yang masih mengenakan seragamnya pun langsung melajukan mobilnya menuju bandara setempat.
Dengan tergesa-gesa, Keynan memasuki pesawat pribadi milik papanya. Keynan duduk diam di pesawat, melamun tanpa henti. Setelah ingat satu hal, Keynan membuka handphonenya dan menemukan pesan dari Keysha.
Keysha
Keynan menangis kencang didalam pesawat. Dia merasa tidak becus menjaga kakak perempuannya. Dia sangat menyesal meninggalkan kakaknya dengan bibinya. Tapi penyesalan itu sudah tidak ada gunanya lagi.
Saat ini Anton-ayah Keysha yang kebetulan juga berada di Bekasi pun langsung menuju lokasi tempat anaknya dibunuh setelah mendengar berita dari tv.
Disaat itu, Sammy dan yang lain sedang melamun dengan posisi Sammy yang masih memeluk mayat Keysha.
Para polisi pun tidak bisa apa-apa untuk membawa mayat Keysha agar bisa diotopsi.
Cukup lama untuk menunggu Sammy menjadi tenang, setelah itu jasad Keysha dibawa oleh pihak rumah sakit. Sammy dan lainnya masuk ke dalam rumah yang penuh darah di lantainya. Ada tubuh kucing yang sudah dipotong-potong tergeletak disana.
Mereka pun mengambil peralatan kebersihan lalu membersihkan rumah Sammy sampai tidak ada debu. Mereka mengubur tubuh kucing yang sudah terpotong-potong itu ditanah belakang rumah Sammy.
Sammy mengambil boneka monyet pemberian Keysha yang dia letakkan di laci samping tempat tidurnya. Sammy mencium boneka itu lama lalu meneteskan air mata.
"Pergilah, bila itu bisa membuatmu bahagia. Maafkan kakak yang tidak bisa membuatmu bahagia sampai kamu memilih ikut dengan kakakmu. Kakak senang sekali kamu bisa menjadi saudara kakak. Kakak nggak akan melupakan kamu, kakak sayang kamu Keysha"
***
Sammy membuka matanya perlahan saat merasa tidurnya terganggu. Yang pertama Sammy lihat adalah Riana yang tersenyum menatapnya. Sammy memegangi kepalanya dan tersenyum.
Ternyata cuma mimpi, pikirnya.
"Udah pagi kak, kakak belum makan dari kemarin" jelas Riana dengan senyumnya.
Sammy langsung bangun dan menatap Riana. "Keysha udah berangkat sekolah?"
Senyum Riana membeku dan menatap Sammy sendu. "Kak..."
"Kenapa?" Sammy bingung menatap wajah sedih Riana. "Penyakit Keysha kambuh lagi? Yaudah kalo gitu ayo bawa ke rumah sakit!" Sammy langsung berdiri dan membuka pintu kamarnya.
Betapa terkejutnya dia setelah melihat Keysha yang sudah dipakaikan kain kafan dan ditangisi oleh kerabatnya termasuk orang tuanya.
"Ini..." Bukan mimpi!.
Sammy berlutut ditempatnya dan menatap jasad Keysha tak percaya.
Sammy melamun sedari tadi sampai sekarang saat pemakaman Keysha. Mata Sammy tidak lepas dari tubuh Keysha yang sudah terbungkus kain putih dan terletak di tanah yang akan ditutup.
Air matanya jatuh tiba-tiba.
Ini benar-benar... Nyata? Ini bukan mimpi!, Pikir Sammy.
Liang kubur ditutup kembali dengan tanah, Sammy pun masih diam ditempatnya.
Bau bunga melati yang sangat pekat tercium setelah orang-orang pergi meninggalkan kerabat Keysha. Dan sekali lagi semua kerabat Keysha menangis termasuk Sammy yang sudah sadar.
Tidak jauh dari sana terdapat tiga bayangan putih dan satu kucing yang berada diatas kepala Keysha yang sedang menatap pemakaman.
Keysha tersenyum lalu menggandeng tangan kakaknya dan sahabatnya lalu menariknya menuju pemakaman.
Keysha dengan senang hati memeluk satu persatu kerabatnya sedangkan Dicky dan sahabatnya menunggu Keysha disamping pemakamannya. Sampai saatnya tiba memeluk Riana.
Riana membeku ditempat, menatap Keysha tidak percaya. Sedangkan Keysha memiringkan kepalanya, menatap Riana bingung.
"Kak Keysha" ucap Riana pelan dan terkejut ketika melihat kucing yang berada atas dikepala Keysha.
Keysha menatap Riana terkejut.
"Keysha?" Rangga juga bersuara dan saat itu juga semua perhatian mengarah padanya.
"Maksud abang?" Tanya Keynan bingung.
"Itu Keysha! Keysha ada disini!" Jelas Rangga yang membuat semuanya terkejut termasuk Keysha.
"Hehehe" Keysha pun tertawa pelan dan menatap kedua saudara itu takjub.
"Kalian bisa ngeliat aku ya? Kalo gitu seru dong" kekeh Keysha seraya berjalan mundur perlahan.
Keysha menggenggam tangan Dicky dan sahabatnya yang berada di sampingnya. "Mereka semua nggak bisa melihat kita. Jadi... Maaf. Kita pergi dulu"
Tubuh ketiga arwah dan seekor kucing itu perlahan menghilang bagaikan tidak pernah ada disitu.
"Dimana kakakku?!" Tanya Keynan sedikit senang.
Rangga dan Riana menatap kosong tempat yang Keysha, Dicky dan satu arwah lainnya pijak tadi. Riana membuka mulutnya,
"Dia pergi bersama kak Dicky"
***
Satu bulan setelah itu...
Sammy berjalan dengan lesu menuju koperasi sekolahnya. Ujian sudah dilakukan kemarin, jadi sekarang murid-murid kelas akhir bebas di sekolah. Mata Sammy tidak sengaja menatap gadis yang dicintainya. Gadis itu melambaikan tangannya dan menghampiri Sammy.
"Keysha mana?" Tanya Thalita langsung.
Sammy tersenyum lalu membawa Thalita menuju mobilnya dan melajukannya.
Setelah sampai tujuan, Sammy turun diikuti Thalita yang bingung.
"Sammy? Kenapa ke kuburan?" Tanya Thalita bingung.
Sammy tidak menjawab pertanyaan Thalita. Sammy tetap berjalan sambil menatap lurus dengan pandangan kosong.
Sammy berhenti disebuah makam dan Thalita pun juga ikut berhenti. Thalita menatap kuburan itu dan membaca nama dari pemilik makam itu. Thalita membekap mulutnya tak percaya, air matanya jatuh bersama dengan badannya yang lemas dan jatuh berlutut.
"Ini... Keysha?"
Thalita sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Thalita menangis histeris seraya memukul tanah makam milik Keysha.
"Kenapa kamu harus membawa adikmu Dicky?! Kenapa?!" Teriak Thalita tidak terima.
Sammy hanya bisa diam ditempat sambil menatap makam milik Keysha.
Sammy menatap Thalita yang makin histeris didepan makam keysha. Sammy menghampiri dan memeluk tubuh Thalita yang bergetar lalu membawanya pergi dari makam. Semua kegiatan yang dilakukan keduanya terlihat jelas oleh tiga bayangan yang berada diatas pohon tidak jauh dari makam itu.
Dicky menatap Thalita dengan penuh kerinduan bersama dengan Keysha yang sedang memangku kucingnya. Sedangkan sahabatnya sedang menatap orang yang mengunjungi makamnya yang kebetulan tidak jauh dari makam Keysha.
Jelas Keysha tau siapa orang yang mengunjungi makam sahabatnya itu karena tadi orang itu juga mengunjungi makamnya. Lelaki yang pernah dicintai Keysha dulu. Lelaki yang pernah selingkuh dengan kakaknya. Lelaki itu sudah cukup lama menangis didepan makam adiknya dengan seragam SMA-nya.
Keysha juga tidak akan pernah menyangka bahwa sahabat yang dia cari sebelum meninggal ditakdirkan untuk ikut bersamanya.
Penyebabnya kehilangan nyawanya sama dengan penyebab kematian kakak tertuanya.
Setelah Sammy dan Thalita pergi, seorang pemuda menghampiri makam Keysha dengan seragam putih abu-abunya.
"Aku bener-bener nggak percaya kalo kamu bakal ninggalin aku secepat ini sha" pemuda itu menghela nafas panjang. "Padahal aku mau ngelamar kamu disaat aku balik ke Indonesia"
"Kamu tau, sha? Setelah mendengar kabar kematianmu, aku langsung balik ke Indonesia dan pindah ke Tangerang disekolah yang sama dengan adik sepupumu. Aku nggak bisa pindah ke Bekasi, tapi aku akan selalu mengunjungimu, sha"
"Aku mencintaimu, sha. Kamu adalah cinta pertamaku, teman masa kecil yang paling aku cintai. Aku nggak akan melupakan kamu, sha"
"Jaket ini" pemuda itu menunjuk jaket yang dia pakai. "Hadiah dari kamu saat ulang tahunku juga sweater yang kamu kasih sebelum kamu pindah bersama papamu. Aku akan menjaganya seperti menjaga barang paling berharga milikku, sha. Terima kasih untuk semuanya" ucap pemuda itu seraya meletakkan sebuket bunga dan pergi meninggalkan pemakaman.
Diatas pohon, Keysha menatap pemuda tadi dengan senyum di wajahnya. "Aku juga mencintaimu, Ricard"
Keysha menatap Dicky dengan tatapan memohon, "Kakak aku ingin menemani Ricard untuk yang terakhir kalinya"
Dicky menatap Keysha, "Baiklah, kita akan berada di dunia ini sebentar"
***
Keysha dengan senyum lebar yang tercetak diwajahnya sedang memejamkan matanya sambil merentangkan tangannya untuk menikmati dunia ini karena waktu mereka sudah habis.
Dicky tersenyum menatap adiknya dan sahabat adiknya beserta kucing yang selalu menempel diatas Kepala adiknya itu. "Ayo pergi" ucap Dicky.
"Yuk" Keysha membuka matanya lalu berdiri di tengah-tengah Dicky dan sahabatnya.
Tubuh mereka bertiga perlahan menghilang dimakan oleh cahaya yang sangat menyilaukan. Mereka tersenyum menerima takdir mereka yang sudah ditentukan. Mereka menggenggam tangan masing-masing. Mereka akan menghilang dengan tenang.
"Selamat tinggal dunia" ucap mereka bersama sebelum lenyap dan meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**End.
Kunjungi profil saya dan temukan cerita Jack, sekuel cerita I'M TIRED, di sana.
Maaf kalo saya mengecewakan kalian dengan ending yang nggak jelas ini:')
Bagi yang ingin tau bagaimana keadaan Ricard setelah Keysha meninggal bisa mengunjungi akun wattpad saya, dasar_kampret**.