
Pagi hari yang cerah menyambut Keysha dengan sinarnya yang hangat. Keysha memasuki area sekolah tanpa atributnya.
Rambutnya yang pirang membuatnya mencolok dikerumunan murid-murid. Dengan Sammy yang seperti biasa di sampingnya menjadikan banyak orang iri.
Keysha berjalan bersama Sammy di koridor sekolah dan tanpa sengaja bertemu dengan teman-teman Devan. Keysha dan Sammy berhenti melangkah dan menatap teman-teman Devan bingung.
Teman-teman Devan juga ikut berhenti dan menatap Keysha dengan pandangan tabjub. Tubuh mungil Keysha terlihat karena sudah mengecilkan seragamnya.
"Sha, Devan minta maaf" ucap Axel memulai.
Keysha membuang pandangannya menuju lapangan yang terdapat dua orang, laki-laki dan perempuan berpakaian bebas sedang bermain basket. "Udah dimaafin kok"
"Devan mana?" Tanya Sammy bingung karena tidak melihat Devan sama sekali setelah kejadian itu.
Keysha memandang teman-teman Devan juga untuk meminta penjelasan.
"Em... Gak tau, dia nggak masuk" jelas Rimba tidak tau.
"Oh" jawab Keysha acuh.
"Wih... ini betulan, kan?"
Sebuah suara perempuan terdengar ditelinga masing-masing. Keysha dan Sammy yang jelas mengenal suara itu pun langsung menoleh kearah lapangan. Di depan Keysha sekarang ada seorang gadis cantik dan manis.
Berambut pendek berwarna coklat disamakan dengan poninya yang diatas bahu dengan hat animal berbentuk sapi terpasang dikepalanya yang mungil. Mata hitamnya seperti bisa menghanyutkan orang. Dengan alis seperti bulan sabit yang ditata rapi dan bulu mata yang tebal dan lentik. Berkulit kecoklatan yang sangat cocok dengan dirinya.
Memakai baju tanpa lengan berwarna putih dipadukan dengan jaket levis tanpa lengan berwarna hitam dengan celana pendek berwarna putih dilapisi dengan leging hitam panjang sampai mata kaki. Sepatu berwarna hitam putih yang sangat cocok dengan pakaiannya. Membawa bola basket ditangan kirinya dan tangan kanannya menujuk wajah Keysha.
Dibelakang gadis itu ada seorang pemuda yang tampan persis dengan gadis itu sedang memainkan bola basket dengan santainya.
Sammy yang melihat itu jadi kesal, wajahnya merah karena amarah. Teman-teman Sammy yang baru datang pun takut dengan wujud Sammy yang sekarang.
"ANJING! BRENGSEK! ABANG TERKUTUK!" Umpat Sammy keras seraya berlari kearah pemuda yang menatap Sammy terkejut.
Keysha dan gadis itu yang melihat apa yang Sammy lakukan dengan pemuda itu pun ikut melakukannya. Keysha tersenyum dan memeluk erat adik sepupunya itu. "Ya, ini rencananya tinggal di Indonesia apa balik lagi ke Inggris?" Tanya Keysha.
"Tinggal di Indo, dong kak! Aku tinggal di Tangerang, sedangkan bang Rangga di Surabaya sama kak Keynan dan kak Diva" jelas Riana semangat.
Keysha tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada Sammy dan Rangga yang masih berpelukan.
"Kambing! Badan lo tetep bau aja dari dulu! Udah mandi belum sih?" Tanya Rangga mengejek seraya melepaskan pelukannya dan menutupi hidungnya.
"Eh kutu monyet! Daripada elo, kebiasaan kentut sembarangannya udah di ilangin belom?" Balas Sammy tak mau kalah.
"Monyet! Itu aib goblok!" Ucap Rangga marah.
Sammy terkekeh karena berhasil membuat Rangga marah. Tau gitu, dari dulu Sammy akan menyebarkan aibnya ini agar dia marah sampai mati.
"Whahaha! Rangga takut sama ulet bulu!" Teriak Sammy seperti orang gila.
"Eh! Lo bukannya takut kecoa ya?" Tanya Rangga tenang.
"Apa?!" Jelas teman-teman Sammy terkejut karena tak mengetahui fakta ini.
"Bangke! Daripada Lo, masih ngompol sampe kelas enam!" Jelas Sammy marah.
Rangga tersenyum tenang dengan tangan bersedekap dada. "Lo kalo tidur ngiler, ngorok juga. Terus Lo pernah ditolak cewek gegara kurang tampan. Terus Lo pernah diselingkuhi. Pernah ditikung juga. Terus Lo pernah nangis belum lama ini. Terus Lo pernah ditonjok sama cewek gegara kurang ajar--"
"SETOP!" Sammy berlari menuju Rangga yang juga sedang berlari menghindari Sammy.
"Abang laknat! Ngumbar aib adeknya sendiri!" Teriak Sammy sambil berlari.
Ini sih bukan Rangga yang dia buat kesal sampai mati. Tapi dirinya yang dibuat kesal sampai ingin memakan orang.
"Bodoamat, wlee!" Rangga menjulurkan lidahnya dan berlari memutari lapangan.
"Kayak anak kecil" desah Riana yang melihat kelakuan kakak-kakaknya itu.
"Ya meskipun gitu kalo salah satu dari mereka ada yang sakit pasti yang lainnya bakal khawatir banget" jelas Keysha yang mendengar ucapan Riana.
"Iya itu betul! Pernah kan, bang Rangga sakit waktu di Inggris, terus kak Sammy yang denger kabar itu langsung ke Inggris jagain bang Rangga setiap hari" jelas Riana yang mengingat masa lalu.
Keysha tersenyum dan mengacak-acak rambut pendek Riana. "Ish! Kamu kok makin lucu aja sih!"
"Ya iya dong! Aku pasti bisa ngalahin pesona kakak!" Ucap Riana sambil bergaya sok cantik.
Keysha yang melihat itu terkekeh geli. Adiknya ini belum berubah sama sekali, tetep aja genit.
"Berhenti goblok! Capek tau!" Teriak Rangga yang sudah ngos-ngosan.
"Iya, capek!" Timpal Sammy yang langsung duduk ditengah lapangan di samping Rangga dengan nafas yang tak teratur.
"Kak Sammy!" Riana berlari dan langsung memeluk Sammy tanpa peringatan yang membuat Sammy jatuh tidur ditengah lapangan dengan Riana diatasnya.
"Iya, iya!" Sammy pun tak mempermasalahkannya dan memeluk balik Riana seraya membelai rambut lembutnya.
Keysha tersenyum dan berjalan tenang menuju Rangga tapi pandangannya tak lepas dari Sammy dan Riana.
Rangga menatap bergantian Keysha dan Sammy beserta Riana. Tanpa basa-basi Rangga langsung menggendong dan memeluk Keysha yang lebih pendek darinya.
"Aah!" Keysha pun sepontan berteriak, tapi setelah sadar langsung memeluk balik abangnya itu.
"Abang denger dari Sammy katanya kamu sakit" ucap Rangga yang masih memeluk Keysha.
"Cuma sakit kecil kok bang" Keysha memeluk Rangga dengan erat.
Mereka berempat masih berpelukan sampai sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.
"Bang Rangga? Riana?" Sebuah suara yang sangat familiar bagi mereka terdengar ditelinga masing-masing.
Keysha melepaskan pelukannya dan berdiri sendiri di tanah menatap kakak kandungnya yang masih terkejut.
Keysha tersenyum dan berlari memeluk Diva yang masih belum sadar. Diva tambah terkejut melihat kelakuan tiba-tiba cewek yang baru dihajarnya kemarin.
"Keysha, kenapa?" Tanya Diva bingung.
"Emang gak boleh? Kakak, kan, kakakku" ucap Keysha yang masih memeluk Diva.
Tanpa sadar, air mata Keysha turun. Dirinya sudah siap untuk pergi. Dirinya sudah bahagia sekarang. Dirinya sudah iklhas. Perasaan antara sedih dan senang bercampur aduk.
Sedih karena harus meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Senang karena akan bertemu kakak tertuanya.
Keysha sadar, dengan penyakitnya yang semakin parah sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa sembuh.
Diva membalas pelukan Keysha dan saat itu juga isakan tangis terdengar dilapangan yang sunyi.
"Keysha, kenapa?" Tanya Diva khawatir. Dia menatap wajah Keysha yang merah dengan air mata yang tak berhenti turun.
Keysha menutupi matanya dengan isakan yang masih keluar dari mulutnya. "Aku... Aku akan pergi kak" ucap Keysha disela-sela isakannya.
"Pergi kemana? Mau liburan?" Tanya Diva bingung.
Keysha membuka matanya dan menatap kakaknya. "Kak, jaga diri baik-baik ya!" Ucap Keysha lalu pergi berlari menuju kamar mandi.
Saudara-saudara Keysha menatap punggung Keysha dengan bingung.
Riana celingak-celinguk kanan kiri menatap situasi. Tapi, matanya tanpa sengaja melihat bayangan putih bercahaya yang mengikuti Keysha. Riana pun membeku ditempat.
Aura dari bayangan putih bercahaya itu sangat menakutkan. Itu bisa membuat hati seseorang yang melihatnya menjadi seperti akan kehilangan seseorang dan ketakutan.
Riana berbalik untuk bersembunyi dipelukan kakaknya. Tapi saat akan melangkah, Riana melihat Dicky yang sedang menatap jalan yang dilewati Keysha tadi.
"AAH!" Sepontan Riana berteriak seraya mundur beberapa langkah. Wajahnya yang pucat membuat Rangga bingung.
Rangga menoleh ke belakang dan saat itu juga matanya bertemu dengan mata Dicky yang awalnya dingin berubah menjadi hangat. Rangga membeku ditempat dan menatap Dicky takjub.
Dicky tersenyum menatap Rangga dan berjalan kearahnya lalu memeluknya. Dicky yang sudah transparan pun tak bisa menyentuh Rangga tapi dia bisa berusaha memeluk Rangga meskipun harus dia tahan agar tak menembus Rangga.
"Abang" ucap Dicky pelan.
Rangga tersenyum miris dengan perasaan kesal. Nih anak, pikirnya, waktu meninggal sampai belakangan ini udah aku cari-cari arwahnya, tapi nggak muncul-muncul. Dan sekarang entah akan terjadi apa, setan terkutuk ini muncul tanpa tanda-tanda.
"Adik brengsek" gumam Rangga kesal tanpa membalas pelukan Dicky tapi matanya sudah berkaca-kaca.
Logika, jika Rangga membalas pelukan Dicky yang tak bisa terlihat oleh orang biasa, dia akan dipikir gila oleh saudara-saudaranya yang ada disini.
Riana yang tadinya takut pun berjalan mendekat. "Kak?" Sapa Riana pelan.
Diva dan Sammy yang melihat kelakuan aneh kakak beradik itupun menjadi bingung tapi tak bicara.
Dicky mengalihkan tatapannya pada Riana yang gembira. "Adikku"
"Ada apa, kakak kesini?" Tanya Riana pelan.
"Akan ada seseorang yang akan meninggalkan kalian" ucap Dicky lalu menghilang ditempat.
Riana dan Rangga menatap kanan kiri untuk mencari Dicky, tapi tak menemukannya.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Sammy yang sudah tak tahan untuk bertanya.
"Gak ada apa-apa, cuma bang Rangga lagi halu" jelas Riana acuh lalu mulai bermain basket lagi.
Rangga pun juga ikut bermain basket tanpa memperdulikan ucapan Sammy. Hatinya masih bingung dengan maksud Dicky dan pikirannya sedang berpikir keras.
Sammy jadi kesal tapi tidak memperdulikan. Sammy berjalan menuju teman-temannya yang menatap Riana takjub.
Sammy berdecak kesal seraya berjalan menuju kelas terlebih dahulu. "Gak usah tanya-tanya tentang adik gue" ucapnya memperingatkan.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Semua murid-murid masuk ke kelas mereka masing-masing. Sedangkan Diva, Rangga dan Riana sedang duduk-duduk di lapangan sekolah.
Diva sudah tak memperdulikan Devan lagi. Diva belajar untuk melupakannya. Diva kemari untuk meminta maaf pada adiknya, bukan untuk Devan. Lagian tadi Diva melihat teman-teman Devan tapi tidak melihat Devan.
"Aku pulang dulu ya" ucap Diva seraya berjalan keluar sekolah.
Adik kakak yang berada dilapangan berdua itupun jadi bingung akan melakukan apa. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang juga.
Tidak lama bel pulang sudah berbunyi dan saat itu juga cuaca berubah menjadi buruk.
Langit menjadi gelap, hujan turun dengan lebatnya yang menyebabkan murid-murid yang akan pulang tak jadi pulang. Belakangan ini banyak orang yang sakit, jadi murid-murid takut terserang penyakit juga.
Murid-murid juga tidak membawa jas hujan atau payung karena mereka tidak berpikir akan terjadi hujan. Saat ini adalah musim panas dan hujan ini tiba-tiba datang seperti mau menjemput orang untuk dibawanya pergi.
Keysha yang ada di koridor menatap senang hujan yang sedang turun. Keysha perlahan menuju tengah lapangan yang sepi. Keysha dengan senang bermain air hujan yang membuatnya bahagia. Keysha menangis ditengah hujan dengan bibir tersenyum. Keysha memutar badannya, menari ditengah hujan.
Keysha tak memperdulikan murid-murid yang sedang menatapnya di koridor sekolah, tempat mereka berlindung termasuk teman-teman Devan dan Sammy dkk.
Pikiran Keysha sedang jatuh pada Desy. Setelah kejadian dimana kakaknya, Devan, bertengkar dengan Sammy. Desy tidak terlihat lagi setelah itu sampai saat ini. Hal itu juga berlaku untuk kakaknya yang sama hilangnya bagai ditelan bumi.
Sammy sedikit khawatir dengan keadaan Keysha awalnya. Tapi setelah melihat air mata yang turun bersamaan dengan air hujan di matanya, Sammy tak jadi menegur Keysha.
Tidak lama setelahnya, kepala Keysha menjadi pusing. Keysha sedikit oleng dengan memegangi kepalanya. Sammy yang sedang duduk-duduk bersama teman-temannya pun langsung menghampiri Keysha tak peduli dengan bajunya yang sudah basah.
"Lagi sakit juga, sok ujan-ujan" ucap Sammy kesal. Sammy memeluk tubuh mungil Keysha dengan erat.
"Gak papa kok kak!" Ucap Keysha semangat membalas pelukan Sammy lalu melepasnya seraya berjalan menjauhi Sammy. Baju batik yang melekat ditubuh Keysha perlahan terkena tetesan darah.
"Sumpah, Lo dek!" Sammy perlahan menuju Keysha yang sedang menghapus darah di hidungnya. "Ngeyel banget sih!" Bentak Sammy tak suka.
Sebuah mobil memasuki lapangan sekolah yang menjadi pusat perhatian murid-murid. Seseorang keluar dengan payung yang dibawanya. Orang itu pun terkejut melihat baju Keysha yang basah dan terdapat darah.
Orang itu langsung membuang payungnya dan melepaskan jaket yang melekat ditubuhnya. Orang itu berlari menuju Keysha dan memakaikan jaketnya pada Keysha diikuti oleh orang bertubuh besar yang keluar untuk memayungi orang itu.
"Masih bandel ya!" Ucap orang itu tidak suka.
"Ricard?" Keysha menatap tak percaya orang didepannya.
"Ya, ini Ricard" ucap Ricard diikuti oleh senyumannya.
"Mau kemana? Kok rapi banget?" Tanya Keysha bingung.
Ricard membuang nafas lalu memeluk Keysha dengan erat. "Aku mau pamit, Keysha"
"Mau kemana?" Tanya Keysha bingung.
"Aku mau pindah ke Paris"
Jawaban itu mampu membuat hati Keysha hancur berkeping-keping. Keysha menggeleng seraya membalas pelukan Ricard. "Jangan pergi, hiks"
"Keysha, aku bakal kembali" ucap Ricard menenangkan.
Keysha melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah. Keysha menghapus dengan kasar air matanya yang tadi keluar.
Mereka seperti langit dan bumi dengan Keysha yang langsung terkena rintikan hujan dan Ricard yang tidak terkena rintikan hujan.
Keysha membuka tasnya dan mengambil sebuah boneka panda dari Keynan lalu memberikannya pada Ricard.
"Jaga baik-baik ya. Anggep aja kenangan dariku meskipun sebenarnya itu dari Keynan" ucap Keysha lirih seraya menutup lagi tasnya.
Ricard mengambil boneka itu dengan senyum diwajahnya. "Pasti" ucapnya dengan penuh tekat.
Keysha menundukkan kepalanya sambil berpikir, dia sudah jatuh cinta dengan lelaki di hadapannya ini sejak dulu tetapi dia tidak berani untuk mengungkapkannya.
Keysha mendongak, "Yaudah, aku pulang dulu ya!" Ucap Keysha sedih seraya pergi menuju tempat parkir dengan tangan yang menggandeng tangan Sammy.
"KEYSHA! TUNGGU AKU! SETELAH AKU KEMBALI AKU AKAN MELAMAR KAMU!" Teriak Ricard keras.
Keysha yang mendengar ucapan itu tersenyum kecil. "Aku takut tidak akan ada kesempatan seperti itu" gumam Keysha kecil yang bahkan tidak terdengar oleh Sammy yang berada di sampingnya.
Keysha masih berjalan tanpa menatap Ricard lagi. Keysha sangat sedih saat memikirkan kalau kesempatan seperti itu tidak akan pernah datang.
Keysha masuk ke mobil milik Sammy lalu mobil itu berjalan keluar dari area sekolah. Perjalanan hanya ditemani dengan suara hujan yang masih terdengar. Tak lama hujan pun berhenti, disaat yang sama Keysha dan Sammy pun sudah sampai dirumah.
Keysha berjalan keluar terlebih dahulu lalu berhenti untuk menunggu Sammy didepan pintu rumah.
Sammy membuka kaca mobilnya. "Keysha, kakak mau solat Jum'at dulu sama anggota lain. Kakak tinggal gak papa kan?" Tanya Sammy memastikan.
Keysha tersenyum dan mengangguk. "Tapi baju kakak gimana? Masa solat pake baju basah?" Tanya Keysha polos.
Sammy mengatupkan kedua giginya dengan kuat. "Ada baju di cafe kakak" ucap Sammy yang gemas dengan wajah Keysha sekarang.
"Oh, yaudah. Hati-hati ya kak! Jangan kangen sama Keysha ya!" Ucap Keysha dengan penuh ketulusan.
"Idih, ngapain juga kakak kangen sama kamu? Orang kamu-nya ada di rumah. Ya kalo rindu sih, kakak bakal pulang. Gampang kan?" Timpal Sammy seraya melajukan mobilnya pelan.
Keysha tersenyum mendengar ucapan Sammy. Iya juga, pikirnya, ngapain kak Sammy kangen sama aku? Aku ini kenapa sih? Kok dari tadi omongannya kayak mau mati aja.
Keysha terkekeh memikirkan itu. Banyak keraguan muncul setelah dia memikirkan itu.
Mungkin memang aku akan mati, batin Keysha saat kembali teringat tentang penyakitnya.
"Yaudah ya sha! Kakak pergi dulu!" Teriak Sammy dari dalam mobilnya.
Sammy pun pergi meninggalkan Keysha tanpa tau bahwa kelak dia akan sangat rindu pada Keysha.
Tidak Sammy ketahui bahwa percakapan tadi adalah percakapan terakhir mereka. Pelukan tadi adalah pelukan terakhir mereka. Dan senyuman tadi tidak akan bisa dilihat Sammy lagi di masa depan.
Disaat Sammy bisa mendengar suara Keysha dan senyumnya lagi, disaat itulah akhir pertemuan mereka. Perpisahan menghampiri mereka dengan ganasnya membawa Keysha pergi.
Keysha masuk kedalam kamarnya lalu mengganti bajunya. Keysha tidur dengan santai diatas ranjangnya. Hari ini Keysha tidak melihat bibinya, padahal Keysha sudah siap kena omel karena tidak pulang kemarin.
Sudah setengah jam Keysha berada diatas kasurnya. Keysha perlahan membuat pesan kepada Keynan dan mengirimnya. Setelah itu, dirinya merasa lega. Keysha berjalan keluar lalu membuka pintu rumahnya dan disambut oleh bibinya yang membawa pisau dapur di depan pintu. Keysha membeku ditempat menatap bibinya dengan tatapan memohon.
Ya, memang hati Keysha mengatakan bahwa dia akan pergi meninggalkan dunia ini. Keysha pikir dirinya akan mati karena penyakitnya. Keysha tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan mati dibunuh dengan konyol.
Ah kematiannya ini persis dengan kematian kak Dicky.
Mati kecelakaan sebelum dibunuh.
Sayangnya, kata-kata yang memiliki makna yang sama itu tidak cocok untuk Keysha saat ini.
Mati dibunuh sebelum mati karena penyakit.
Itu kata-kata yang cocok untuknya.
"Kau sudah menghancurkan keluargaku! Mati saja kau!" Teriak bibinya seraya berlari kearah Keysha.
like.