
Setelah kejadian itu, Keysha dan Keynan pulang ke rumah. Saat ini Keysha sedang bersantai yang tak pernah ia rasakan sejak tinggal di rumah bibinya.
Rasanya... Seperti kembali ke masa lalu...
Keysha tersenyum penuh arti saat mendengar tawa bibinya yang ada di depan tv bersama Keynan. Meskipun tak ada Dicky dan Sammy, Keynan ada untuk melindunginya.
Teringat hal yang lalu saat dirinya di bully oleh teman-temannya. Keynan datang dimasa yang paling kritis seperti pahlawan. Saat masih memakai baju putih biru, setelah merubah penampilannya.
Keynan tak ada niat untuk menjadi pahlawan bagi kakaknya. Itu sudah kewajiban Keynan yang menjadi adik laki-laki untuk melindungi kakak perempuannya.
Alhasil, air bekas yang akan disiramkan ke Keysha tumpah ke Keynan. Karena masih terkena cipratan air beserta keringat yang sudah membasahi badannya karena menahan amarah, baju Keysha yang berwarna putih menjadi transparan.
Keynan mengambil jaket yang ada di dalam tasnya lalu memakaikannya pada dia. Dengan memakai seragam yang berbeda, Keynan menggendong Keysha menuju parkiran.
Keysha tak bisa menahan senyum saat mengingat hal itu.
Sudah sejak dulu Keynan menjadi pahlawannya. Keysha bersyukur mempunyai Keynan di sisinya.
Perut yang awalnya baik-baik saja terasa sangat menyakitkan saat ini. Keysha berguling-guling diatas ranjang dengan keringat yang sudah ada di dahinya. Pusing yang menyakitkan melanda kepalanya yang awalnya baik-baik saja.
Tok. Tok. Tok.
"Kak" panggil Keynan yang sudah membuka pintu kamarnya.
Melihat Keysha yang kesakitan, Keynan jadi khawatir. Keynan duduk diranjang kakaknya seraya meletakkan kepala Keysha ke pahanya. Keynan membelai dengan lembut rambut Keysha yang membuat Keysha merasa nyaman, "Sakit banget ya?" Tanya Keynan.
Keysha menggeleng seraya melihat wajah tampan Keynan. "Nggak kok"
"Nggak apanya!? Sampe pucet gitu!" Bantah Keynan.
"Udahlah, nggak papa" ucap Keysha lemah. "Key, kakak mau tanya"
Keynan membelai rambut Keysha lagi, "Apa?"
"Kalo kakak pergi... Apa yang bakal kamu lakuin?" Tanya Keysha penasaran.
"Ikut kakak" jelas Keynan.
"Kalo kakak ngelarang kamu buat ikut, gimana, key?"
Keynan membeku ditempat. Tangan yang dibuat membelai rambut Keysha berhenti di udara seraya gemetar ketakutan. "Maksud kakak apa? Mau pergi kemana? Kenapa aku nggak boleh ikut?"
Keysha menatap Keynan yang sedang bingung. Keysha memberikan senyum palsunya lalu membuang muka. "Nggak kok, cuma tanya aja"
"Kak! Hidung kakak berdarah!"
Keynan langsung membawa Keysha duduk diatas ranjangnya. Keysha memakai tangannya untuk menjadi wadah dari darah yang sudah menetes dari hidungnya. "Tissue-nya di laci"
Keynan yang panik pun langsung membuka laci dengan tangan gemetar ketakutan. Membawa sekantong tissue dan langsung merawat Keysha dengan hati-hati. Keynan begitu paniknya sampai keringat sudah membasahi wajahnya.
"Kakak kenapa? Nggak mungkin, kan, datang bulan sampai buat kakak mimisan? Mau ke rumah sakit?" Tawar Keynan dengan lembut.
Keysha menggelengkan kepalanya lalu membuang tissue yang sudah dipenuhi darah kesekian kalinya. "Key, janji sama kakak, dong"
"Apa?"
"Janji kalo kakak pergi jagain mama, papa dan kak Diva, ya?" Ucap Keysha lirih.
"Ngomong apa, sih? Mau pergi kemana? Sama siapa?"
"Key, umur kakak udah nggak lama lagi" jelas Keysha pelan.
"Apa?" Tanya Keynan lagi.
Keysha menatap Keynan dengan wajah pucatnya lalu menggeleng. "Nggak papa. Kakak mau tidur"
"Aku temenin! Tapi, kakak nggak minum obat dulu?" Khawatir Keynan.
"Udah tadi" jelas Keysha seraya tidur di paha Keynan lagi.
Dengan tangan yang masih dingin, Keynan membuka handphonenya lalu senyum-senyum sendiri seperti orang kurang waras. Keysha yang melirik Keynan pun tidak bisa tidak bicara, "Gila"
"Apaan sih kak! Etapi, gimana dong? Aku baper nih chatting sama dia" curhat Keynan.
"Salahmu" ucap Keysha acuh.
"Kok, aku yang salah?" Tanya Keynan bingung.
Keysha membuang nafas panjang lalu menatap atap kamarnya. "Dia ngetik pake jari, kamu baca pake hati"
"Kok, kesel ya dengernya?" Tanya Keynan kesal.
"Pengen jadi apa?"
"Hah? Maksudnya?" Tanya Keynan tak mengerti.
"Kamu nanti kalo udah gede pengen jadi apa?" Tanya Keysha sekali lagi.
"Pengusaha" jawab Keynan malas.
"Jangan" larang Keysha.
"Kenapa?" Tanya Keynan penasaran.
"Banyak musuh. Nanti kamu kenapa-napa" timpal Keysha tulus.
Keynan tersenyum miring seraya membelai rambut Keysha lagi. "Ngapain takut? Kan, ada kakak"
"Nggak bisa"
"Kenapa?" Keynan mengerutkan alisnya.
"Nanti kamu tau sendiri. Pokoknya jangan jadi pengusaha, biar kak Diva aja yang ngelanjutin usahanya mama"
"Terus perusahaannya papa?" Tanya Keynan.
"Key, kamu tau nggak sih apa cita-cita kakak?"
"Emang apa?"
Keysha menatap Keynan dengan penuh harap. "Sejak kak Dicky kecelakaan, kakak punya cita-cita buat jadi dokter biar bisa menyelamatkan nyawa orang. Agar... Keluarganya tidak merasa kehilangan"
"Cita-cita kakak... Besar banget! Aku bakal dukung cita-cita kakak, kok" ucap Keynan tulus.
Keysha menggeleng lemah. "Kayaknya nggak bisa deh"
"Kenapa?" Tanya Keynan heran.
"Sstt! Jangan jadi pengusaha, oke? Nanti kasihan keponakanku" jelas Keysha. "Key, kak Dicky awalnya mau dibunuh. Tapi udah keburu kecelakaan"
"Hah!?"
"Key, jadi pengusaha itu bakal banyak saingannya. Bisa aja kan saingan usahamu nanti bakal ngerencanain rencana yang sama kayak kak Dicky" jelas Keysha.
"Kakak tau--"
"Suatu hari setelah kak Dicky meninggal, kakak ke cafe buat nenangin diri. Kakak nggak nyangka bisa denger seseorang ngomongin rencana mereka untuk Dicky Edward. Kakak marah sekaligus sedih! Kakak nggak bisa apa-apa waktu itu karena luka-luka ditubuh kakak. Yang kakak tau, kecelakaan itu memang benar-benar kecelakaan dan nggak direncanain sama sekali" sela Keysha.
"Makanya, kakak pengen kamu jagain mama, papa, dan kak Diva. Jangan lupain dirimu sendiri juga. Kakak juga nggak pengen ngeliat kamu kehilangan salah satu anakmu. Karena disaat itu tiba, kakak nggak bisa ngelakuin apa-apa. Kakak harap kamu bisa ngerti apa maksud kakak melarang kamu. Kakak capek, mau tidur" lanjut Keysha.
Setelah itu, Keysha membuang nafas lega lalu menutup matanya. Keysha seperti tidur tapi tak tidur! Keysha pingsan, bukan tidur! Sayangnya, Keynan tak tau itu.
"Makasih kak, mimpi indah" ucap Keynan seraya membetulkan posisi tidur Keysha lalu mengecup kening Keysha dan meninggalkan kamar Keysha.
Kali ini Keynan mendapatkan motivasi. Disaat Keynan sudah menggapai cita-citanya, sayangnya, Keysha sudah pergi. Meninggalkan Keynan sendiri dengan cita-cita yang awalnya ingin ditunjukkan pada kakaknya.
like.