
Namaku Keynan, aku adik kembarnya kak Keysha yang tinggal jauh dariku. Aku anak kesayangan mama setelah kakakku, Dicky, meninggal. Kakak laki-lakiku itu... sempurna bagiku.
Dia ganteng, aku aja kalah ganteng. Dia juga pinter, tapi aku gak kalah pinter. Sayangnya, aku nakal jadi otakku kalah terkenalnya sama kelakuanku. Kakakku itu sayang adek-adeknya, sayang banget malah. Dia slalu bisa bikin adek-adeknya tersenyum. Aku aja yang laki nyaman dideket dia.
Oke, kembali ke ceritaku.
Setelah aku pulang dari Bekasi, aku nganggur dirumah sambil nunggu masa skrosku abis. Aku nggak bakal pulang ke Surabaya kalo mama nggak nyuruh pulang.
Ya, aku sih nggak bisa apa-apa kalo itu perintah mama. Tapi, hari-hari itu aku habisin untuk nyari tau lebih dalam tentang dunia kedokteran. Kayaknya aku bakal berubah. Aku pengen masuk jurusan kedokteran seperti kata kak Keysha.
Drrtt...
Hapeku bergetar di saku celanaku, alamat telfon dari pacarku lagi. Bukan pacar sih, lebih tepatnya calon mantan pacar kata kak Keysha.
Besok aku bakal putusin dia karena dia berani selingkuh dibelakangku sama temenku pula, kan sakit banget.
Aku tidak peduli dengan hapeku yang sudah berhenti bergetar. Aku berjalan menuju kamar kak Diva yang sedikit terbuka.
Sang pemilik sudah pasti sekolah, tapi entah karena apa belakangan ini kak Diva jadi sering tersenyum. Syukurlah, karena sememjak kematian kak Dicky, kak Diva yang menjadi kembarannya pun selalu murung.
"Permisi" ucapku seraya membuka pintu kamar kak Diva.
Kamar yang rapi, warna pink yang mendominasi. Memang, kakakku itu suka sekali sama yang warnanya pink.
Mataku tak sengaja melihat foto yang terpajang di meja belajarnya. Ah... itu foto kita. Iya, foto kita, kak Dicky, kak Diva, Kak Keysha, dan aku waktu ulang tahunku dan kak Keysha.
Di belakang foto itu ada boneka Pororo pemberian dari kak Keysha untuk kak Diva.
Aku tertawa pelan ketika melihat fotoku dan kak Keysha yang masih ompong terpajang di dinding meja belajarnya. Ada juga fotoku dan kak Keysha yang masih kecil yang digendong oleh kak Dicky dan kak Diva.
Aku duduk di ranjang kak Diva yang empuk. Aku tersenyum ketika mengingat dulu kita pernah berkumpul ber-empat bersama dan bermain perang bantal disini.
Senyumku membeku ketika melihat foto yang ada di atas laci samping tempat tidur kak Diva... rasanya sedikit familiar.
Siapa dia? Aku pernah melihatnya, tapi dimana? Tapi kak Diva terlihat sangat bahagia dengannya di foto itu. Aku pun merasa bahagia.
Aku berjalan keluar kemar tapi langkahku terhenti ketika mengingat siapa yang ada di foto itu. Aku mengertakkan gigiku dan menggepalkan tanganku erat-erat.
"Sialan! Brengsek kau! Barani-beraninya dia memaikan perasaan kedua kakak perempuanku!" Ucapku marah. Aku berbalik dan menatap foto itu lagi.
Memang benar, itu dia! Dia pacar kak Keysha yang ketahuan selingkuh didepan mata kak Keysha sendiri.
Aku semakin marah ketika mengetahui bahwa si brengsek itu selingkuh lagi, bahkan dengan kakak pacarnya sendiri.
Sepertinya si brengsek itu butuh pukulan keras di kepalanya, biar otaknya nggak miring.
"Ngapain kamu disini?"
Aku menoleh ketika mendengar suara itu. Ternyata sang pemilik kamar sudah pulang sekolah.
Kak Diva menatap Keynan sambil mengerutkan alisnya lalu Kak Diva berbaring di tempat tidurnya sambil senyum-senyum menatap hapenya.
Aku memgambil hape kak Diva yang membuatnya kaget.
"Apasih?" Tanyanya kesal.
"Siapa dia?" Tanyaku sambil menunjuk fotonya dengan pacar kak Keysha.
"Pacar kakak, kenapa? Ganteng ya?" Tanyanya seraya tersenyum lebar.
"Kau tau dia siapa?" Tanyaku.
"Dia manusia bernama Devan" jawabnya enteng.
"Aku serius!" Bentakku, aku menatap kak Diva tajam. Sudah cukup penderitaan kak Keysha. Biarkan dia bahagia sekali saja. Kali ini aku akan mendukung kak Keysha karena kak Diva bisa mendapatkan apa yang tidak kak Keysha dapatkan.
"Kenapa sih?" Tanya kak Diva bingung. "Dia pacar kakak, ketemu di Bekasi waktu jemput Keysha" jelasnya.
"Putusin" ucapku memerintah.
"Kau kenapa sih?" Kak Diva mulai marah, dia berdiri didepanku. "Dia pacarku, jadi kau gak usah ikut campur!"
Aku berjalan keluar dari kamarnya tapi berhenti didepan pintu. "Kau tau, kak Keysha nggak bisa mendapatkan apa kau dapatkan. Jadi biarkanlah dia bahagia sekali ini saja" ucapku dingin.
"Maksudmu apa?" Tanyanya.
Aku menatapnya dengan kebencian dimataku, aku tau kalo kak Diva gak akan melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya, seperti psikopat.
"Dia pacar kak Keysha, dan kau hanya menjadi selingkuhannya!" Jawabku lalu keluar dan menutup pintu kamar kak Diva dengan keras.
Aku memasuki kamarku lalu menutup pintu kamarku dengan keras
"Aggrh! Sialan!" Umpatku seraya meninju dinding kamarku.
Tanganku berdarah tapi aku tak merasakannya. Aku berbaring di tempat tidurku sambil memikirkan berbagai cara agar kak Keysha tidak bersedih. Aku terlalu memikirkan itu sampai aku berjalan menuju alam mimpiku.
Ah...
Mimpi itu lagi...
Mimpi sialan yang datang setelah aku bangun dari koma dan mengikuti diriku terus-menerus sampai sekarang.
Aku menatap datar kak Keysha yang ada di mimpi itu. Mimpi ini terjadi di depan mataku, terasa begitu nyata.
Aku menjadi penontonnya, lebih tepatnya penonton transparan. Sedangkan kak Keysha dan bibi menjadi pemeran utamanya dibantu oleh para preman yang menjaga rumah bibiku itu. Ending dari mimipi ini adalah...
Kakakku meninggal karena ditusuk oleh bibiku.
Itu nggak masuk akal!
Bibi adalah orang yang ramah. Aku sudah membuktikannya dengan cara mengunjunginya. Nyatanya, bibi tidak menyiksa kakakku, bila bibi benar-benar menyiksa kakakku, kenapa itu terjadi?
Kakakku bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi kenapa aku harus khawatir mimpi ini akan menjadi kenyataan? Kakakku tidak mungkin tidak berdaya bila ada yang menyiksanya seperti di mimpi ini.
Setelah ditusuk, dalam mimpi ini kakakku selalu menatapku sambil tersenyum sebelum menutup matanya.
Aku membuka mataku perlahan, "Kenapa selalu mimpi itu?" Gumamku.
Ternyata aku sudah tidur dari kemarin sore. Aku belum makan malam, aku sangat lapar.
Aku bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Sudah pagi dan masa skrosku sudah habis. Hari ini adalah hari kembalinya aku bersekolah.
Kadang aku berpikir, untuk apa ada ruang makan dan ruang keluarga bila tidak digunakan? Ah, aku terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting.
Aku mengambil sebuah roti yang sudah berisi daging dengan telur mata sapi yang nikmat. Masakan mbak Lika memang selalu enak.
Aku keluar rumah lalu memasuki mobilku yang terparkir rapi di bagasi.
Aku mengendarai mobilku sambil memakan roti itu. Sekolah, uh... aku sudah rindu sekali padamu.
Setelah melakukan perjalanan yang sedikit jauh, akhirnya aku sampai di sekolahku yang sangat aku rindukan.
Aku keluar dari mobil dan berjalan menuju lapangan sekolah yang luas. Sekolah ini sempurna bagi para pelajar SMP kelas akhir, tapi tak sempurna bagiku karena kak Keysha yang tak ada di sini.
"Key"
Aku menoleh dan menatap seorang gadis yang dulu aku cintai. "Hm?"
"Keynan nanti jalan-jalan yuk" ajaknya.
"Hmph! Sama Nathan aja sana, kan dia pacarmu" ucapku sinis
"Keynan! Kamu kenapa sih?!" Rajuknya.
Aku menatap dia dengan datar, dasar jalang! Pengen banget aku ucapin kata-kata itu, tapi harus sabar kata kak Keysha.
"Aku mencintaimu seperti bola basket, yang selalu ku jaga dan tidak boleh direbut. Dimana kata-kata itu sekarang?" Tanyanya datar.
"Pfft! Bwahaha!" Aku nggak bisa nahan tawa ketika mendengar ucapan itu. "Itu kata-kata cowok yang masih berlaku kalo ceweknya nggak selingkuh!"
"Aku selingkuh karena kamu nggak bisa ngertiin aku!" Bentaknya membela.
Aku menatapnya sinis lalu mendekatkan wajahku padanya. "Aku yang nggak bisa ngertiin kamu atau kamu yang terlalu egois?" Tanyaku sinis.
"Keynan, kamu!" Jelas dia marah.
"Aku? Kenapa?" Tanyaku datar.
"Kamu!..." Saking marahnya dia sampai kehabisan kata-kata.
"Ya, aku minta putus" ucapku santai.
Dia melebarkan matanya. "Apa?!"
"Kita udahan" ucapku lalu meninggalkan dia sendiri.
Aku melewati lapangan sekolah yang sedang dipakai oleh teman-temanku. Salah satunya adalah Nathan, temen sekelas dari kelas satu SMA yang selingkuh dengan mantan pacarku.
"Woi, key! Sini!" Teriak bang Rangga.
"Kagak ah! Eh iya tan! Aku punya berita bagus" ucapku berteriak.
Nathan pun menghentikan kegiatannya dan menatapku dengan rasa ingin tau. "Wih, apaan tuh?"
Aku menatapnya dingin sambil tersenyum miring. "Gak usah pacaran sembunyi-sembunyi lagi brengsek! Kau udah bebas, karena aku udah putus sama pacarmu itu. Langgeng ya!" Aku berteriak seraya berjalan menjauhi teman-temanku yang sedang terkejut.
Aku memasuki kelas yang saat ini menjadi hening saat aku masuk. Ah... sepertinya hari ini adalah hari yang panjang. Aku duduk di tempat dudukku lalu membuka hapeku dan menelfon kakak sepupuku.
Tut...
"Apaan njing?"
Permulaan yang menjengkelkan. Pikirku seraya tersenyum kesal.
"Woh, sans kak" ucapku yang sudah jelas dan pasti merasa kesal.
"Apaan?" Tanyanya lagi.
"Kak, si brengsek itu kayaknya pengen kena pukul di bagian kepala deh. Soalanya otaknya miring, pukul atas namaku ya kak? Aku titip maksudnya!" Jelasku.
"Si brengsek? Siapa? Elo?" Tanyanya mengejek.
"Anjing" ucapku kesal.
"Siapa si brengsek?" Tanyanya rada kepo.
"Itu, pacarnya kak Keysha" jawabku malas menyebut 'si brengsek' itu sebagai pacar kakakku.
"Emang kenapa sama si Devan?" Tanyanya menyelidik.
"Ah iya! Devan namanya! Tau nggak sih kak?--"
"Nggak!" Jawabnya dingin memotong ucapanku.
Oke, sabar Keynan.
"Oh, yaudah" ucapku berpura-pura acuh pada tujuan utamaku.
"Eh! Apaan anjing! Jangan bikin kepo dong!" Teriaknya nyolot.
"Dia selingkuh sama kak Diva" jelas aku tidak peduli dengan dia selingkuh pada siapapun. Tapi kenapa harus selingkuh pada kakak tertuaku dan kenapa juga pacarnya adalah kembaran ku?
"Apa?!" Teriaknya kaget.
"Makanya--"
Tut...
"Anjing" umpatku kesal.
Hah! Baiklah, kak Keysha. Jangan khawatir karena ada kak Sammy disana. Tunggu aku kak! Saat liburan tiba, aku akan berkunjung kesana dan kita akan menghabiskan waktu bersama.
Aku tersenyum saat mengingat wajah kakak kembarku itu.
Rasanya, sudah rindu sekali aku sama dia.
Tiba-tiba aku teringat oleh mimpi itu.
"Jangan kemana-mana ya kak, tunggu aku. Kalo kakak mau pergi, ajak aku juga" gumamku takut.
like.