
Setelah sang Pangeran berkata ingin membuat pesta teh, besoknya seluruh pelayan di Istana pangeran langsung jungkir balik sibuk menyiapkan titah tuan mereka secepat dan se-sempurna mungkin.
Saking hebohnya, keinginan Pangeran Genio ini pun dengan cepat sampai di telinga Raja. Namun bukannya memarahi anaknya karena mengadakan acara dengan mendadak, sang pemimpin negeri justru mengerahkan pelayan di seluruh Istana untuk membantu persiapan. Pria itu sepertinya senang karena putranya yang selama ini sangat pemilih dalam berteman kini tampak ingin mencari teman melalui pesta teh
Atas perintah Raja, surat undangan pun berhasil ditulis dan dikirim ke beberapa rumah bangsawan besar secepat kilat oleh para Ksatria terpilih yang jago berkuda cepat. Bak magis, persiapan untuk pesta teh pun dalam sekejap hampir selesai.
Pangeran Genio duduk di bangku taman favoritnya seraya dari jauh mengamati para pelayan yang sibuk berlarian membawa berbagai barang, seringai muncul di wajah anak itu
"Aku tidak sabar bertemu tunangan Jeffrey"
Sementara itu di lain tempat, tidak ada angin atau hujan, Edna yang tadinya duduk anteng di meja belajar tiba-tiba bersin beberapa kali. Gadis itu mengusap hidungnya yang terasa gatal seraya menggumam, "Apa barusan ada yang membicarakanku ya?"
Dia menggeleng pelan lalu membaca kembali daftar di buku jurnal rahasianya. Daftar itu merupakan rentetan kemalangan dan penyesalan nya di kehidupan kedua yang Edna tulis begitu sadar kalau dia hidup kembali di masa lalu
Tatapan nya kemudian tertuju pada kalimat "Selamatkan Duchess".
Sang Duchess, Sierra Diven, adalah ibu dari tunangannya yang akan meninggal dalam beberapa tahun kedepan diakibatkan oleh sebuah penyakit misterius.
Nama penyakit itu adalah Blue Spider Lily.
Dinamakan seperti itu karena ketika si pengidap penyakit kehilangan nyawanya, sebuah bunga spider lily berwarna biru akan tumbuh dan mekar di dada orang itu seiring dengan seluruh tubuhnya yang ikut membiru. Bak sebuah kutukan, tidak ada yang tahu bagaimana seseorang bisa terinfeksi penyakit misterius ini, juga tidak ada yang bisa menemukan obat penawarnya.
Duchess adalah satu dari beberapa orang di ibu kota yang terjangkit penyakit ini. Berhubung dia adalah nyonya bangsawan besar yang masih sepupu jauh dari keluarga kerajaan, Duchess menerima perawatan terbaik
Namun tentu, itu saja tidak cukup. Semakin lama ruam biru yang muncul di beberapa bagian tubuh wanita itu semakin banyak, intensitas batuk darah serta nyeri di dadanya juga semakin tinggi. Duchess yang cantik dan elegan yang Edna kenal perlahan berubah kurus, rambutnya yang dulunya panjang nan indah juga mengalami kerontokan hebat
Hati Edna rasanya sangat sakit mengingat bagaimana wanita yang sudah seperti ibu keduanya itu terbaring lemah di ranjang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Duke mengutus Jeffrey untuk mencari obat penawar, sementara Duke sendiri sibuk mengurus pekerjaan yang menjadi kacau akibat para bangsawan yang menjauh dan menarik kesepakatan usai mengetahui sang Duchess divonis sakit blue spider lily. Mereka takut tertular, padahal penyakit ini bukan tipe yang menular.
Sebenarnya tanpa sepengetahuan Duke maupun Jeffrey, Edna mengerahkan orang-orang dari wilayah Schnee termasuk Rery untuk mencari apapun yang berkaitan dengan penyakit ini. Meskipun hanya detail kecil yang dianggap tidak berguna, gadis itu menginginkan segala berita baru tentang blue spider lily saking tidak inginnya dia kehilangan sosok Duchess.
Dan ketika Jeffrey justru jatuh cinta di tengah petualangannya mencari obat bersama Eleanor (menurut alur novel), Edna sudah lebih dulu berhasil menemukan asal usul penyakit itu serta resep obat penawarnya.
Namun sayangnya, Duchess sudah lebih dulu menghembuskan napas terakhirnya saat Edna dalam perjalanan menuju duchy membawa obat tersebut
Di hari Pemakaman Sierra Diven, seharian sinar matahari tidak muncul sama sekali. Langit tertutup oleh awan berwarna abu-abu yang meneteskan air hujan yang deras seolah ikut bersedih atas kepergian wanita itu
Karena masih banyak yang takut tertular, hanya ada beberapa orang yang ikut hadir di prosesi pemakaman. Menyaksikan bagaimana peti mati yang berisi Duchess perlahan diturunkan menorehkan luka besar tidak hanya di hati Duke serta Jeffrey selaku keluarganya, melainkan juga di hati kecil Edna yang sudah rapuh.
Jeffrey berdiri dengan kepala tertunduk di pemakaman ibunya tanpa memakai payung karena merasa bersalah pulang ke rumah tidak dapat menemukan obat, sedangkan di sebelahnya Edna berdiri diam seraya mencengkeram erat gagang payung hitam yang dipakainya guna menahan tangis dan sesal
"Andai saja aku satu detik lebih cepat membawa penawarnya... " Gadis bersurai ungu itu mengucap apa yang ada di kepalanya waktu itu. Dia menghela napas panjang sebelum menuliskan sesuatu di buku
Léčitel.
Benar, ini adalah nama dari obat penawar itu. Kunci penting yang nantinya bisa menyelamatkan hidup Duchess. Sayangnya, léčitel adalah obat yang dibuat oleh Edna di masa depan supaya tidak ada yang kehilangan keluarga seperti dia kehilangan Duchess sehingga sekarang pasien blue spider lily masih belum punya pilihan selain bersiap kehilangan nyawa mereka
Tapi berita baiknya, Edna mengingat seluruh kehidupan pertama dan keduanya. Alur asli novel maupun cara meracik obat léčitel dengan benar, semuanya tersimpan rapi di kepalanya. Dia bisa membuat obat itu kapan pun dia mau selama ada bahan-bahan yang diperlukan
"Sekarang masalahnya bahan utama untuk membuat obat itu di masa ini masih dipandang sebelah mata dan jarang digunakan oleh para ahli obat-obatan...." Edna mengetuk mejanya dengan jari telunjuk. "Dimana aku bisa mendapatkannya dengan jumlah yang cukup?... "
Tok tok!
"Permisi nona Edna, sekarang sudah waktunya untuk kelas privat" Sophia muncul dari balik pintu untuk mengingatkan, keningnya berkerut ketika melihat sang nona tengah memijit pelipisnya pelan. "Anda baik-baik saja, nona?" tanya nya
'Untuk sementara aku harus meminimalkan resiko Duchess terkena penyakit blue spider lily' pikir Edna, tidak mendengar suara pengasuhnya barusan
"Nona Edna? Apa terjadi sesuatu?"
".. Hah? Oh, aku hanya berpikir bahwa sepertinya bagus mengirim Duchess Diven teh rosella sekarang"
"Teh rosella?"
Edna mengangguk, bangkit dari kursi. "Iya, teh rosella. Belikan dan kirim juga sekarang ya, Shopia. Maaf aku terus memberimu perintah, ibu belum memberiku pelayan pribadi" ucapnya sambil tersenyum masam
"Saya sih tidak apa-apa, bagaimana pun pengasuh juga seorang pelayan. Tapi apa boleh saya bertanya alasan nona Edna memutuskan untuk mengirim teh rosella pada Duchess sekarang juga?" Sophia bertanya, tapi sebelum sang nona sempat menjawab, dia buru-buru menambahkan. "Maaf atas pertanyaan tidak sopan saya, nona. Saya hanya... Merasa ini terlalu tiba-tiba"
'Aku tidak bisa mengatakan pada Sophia bahwa teh rosella bisa mengurangi resiko Duchess terkena penyakit blue spider lily...' batin Edna, dia memutar otak mencari alasan dan untung saja sebuah ingatan muncul di saat yang tepat
"Aku ingin berhubungan baik dengan sang Duchess. Ibu selalu bilang bahwa kami akan menjadi satu keluarga ketika aku menikah dengan Jeffrey nanti jadi harus mulai membangun hubungan baik mulai sekarang" gadis itu menjawab dengan ekspresi yang dibuat sepolos mungkin untuk menutupi kebohongan kecilnya. "Apa aku terlalu tiba-tiba?" tanya nya kemudian pura-pura tidak tahu
Sang pengasuh terdiam sebentar sebelum menggeleng, wanita itu mengulas senyuman tipis pada Edna. "Saya akan segera menyiapkan dan mengirimkan permintaan anda ke kediaman Diven"
Edna tersenyum lebar, lega karena sepertinya Sophia tidak mencurigai akting buruknya. "Bagus. Kalau begitu aku pergi ke kelas dulu"
"Baik, nona. Semoga anda dapat menerima pelajaran dengan baik hari ini" Sophia membungkuk hormat, dia menegakkan punggung ketika sang nona sudah meninggalkan kamar dan satu helaan napas keluar dari bibirnya. "Saya berharap semua yang terbaik untuk anda, nona Edna"
...*****...
E D N A
Ibu memujiku setelah tahu aku mengirim teh rosella pada Duchess dengan alasan membangun hubungan baik, beliau juga berkata bahwa teh adalah minuman favorit ibu Jeffrey sejak muda.
Tanpa diberitahu pun aku sudah tahu itu, mau bagaimana pun aku pernah menjadi calon menantu favorit keluarga Diven selama 10 tahun meski tidak ada yang berakhir baik. Entah itu kesehatan Duchess, maupun hubunganku dengan putra mereka.
Berbicara mengenai Duchess dan Jeffrey, aku masih harus mencari bahan baku utama obat léčitel tapi tidak bisa kemana-mana sekarang semenjak Jeffrey sudah datang ke rumah. Secara misteri kereta kudanya selalu muncul bertepatan dengan kelas privatku yang baru saja selesai. Aku jadi sedikit curiga, dia tidak mungkin memata-matai ku, 'kan?
Yah, meskipun seandainya bisa pergi sekarang, aku ragu Jeffrey tidak akan berkata ingin menemani atau menggunakan alasan mengawal untuk ikut denganku. Tidak, tidak, bisa hancur rencanaku jika anak itu benar-benar ikut.
Aku mengerutkan alis seraya menjauh sedikit, "Tidak mau. Untuk apa aku harus memberitahumu?" tanyaku tidak suka. Hari ini Rery tidak bisa datang lagi karena sibuk dengan kelas privat jadi terpaksa aku harus menerima ketika Jeffrey berkata ingin duduk di sebelahku
"Yah... Siapa tahu aku bisa membantumu lalu membuatmu tersenyum lagi dengan cantik seperti waktu itu" balasnya, dia lalu mengulas senyuman manis dan menunjuk ke arah lesung pipinya. "Seperti ini. Aku ingin melihat senyuman mu lagi yang seperti ini"
"Mimpi saja sana" ketusku seraya memutar mata
"Oh ya, aku dengar dari Ibu mertua kalau kau mengirim teh rosella pada-"
"Tunggu sebentar, Ibu mertua?" aku menatap Jeffrey dengan tatapan tidak percaya, "Siapa yang kau panggil ibu mertua?"
"Tentu saja ibumu, Marchioness Schnee. Siapa lagi memangnya?"
"Sejak kapan dia jadi ibu mertua mu? Kita saja belum pasti akan menikah di masa depan"
"Tidak." Jeffrey menjawab yakin, dia menatapku serius. "Aku pasti menikahimu di masa depan. Aku jamin itu dengan kehormatanku sebagai penerus keluarga Diven."
"...."
Aku..... tidak bisa membalas lagi. Tidak, lebih tepatnya aku kehabisan kata-kata karena tidak mempercayai apa yang kudengar. Dapat kurasakan jantungku yang berdenyut perih seiring mataku yang perlahan memanas seolah ingin menangis
Jeffrey Diven, kau tidak boleh seperti ini padaku. Ini terlalu kejam untuk didengar olehku yang sudah menyukaimu sampai akhir hayatku di kehidupan kedua.
Kau bahkan tidak mungkin menyadari apa efek dari ucapanmu barusan karena kau hanya anak kecil sekarang, tapi aku dulu mati tanpa bisa merasakan sedikitpun balasan kasih sayang darimu. Bayangkan betapa besar efeknya saat aku mendengar ini sekarang, ketika aku sudah bersumpah untuk melepaskanmu di kehidupan ini.
Rasanya seperti keputusanku untuk mempertahankan keluargaku digoyahkan, dan aku tidak menyukai bagaimana diriku yang goyah karena termakan harapan kecil dimana kau di kehidupan ini mungkin saja berbeda, dan mungkin saja kau akan membalas perasaanku kali ini.
".... Edna?"
"Kau yang terburuk, Jeffrey Diven" ucapku pada Jeffrey sebelum bergegas berlari pergi dari ruang bermain, sekilas dapat kulihat raut bingung di wajah lelaki itu karena aku tiba-tiba mengumpatinya, tapi aku tidak peduli.
Sampai di kamar, kututup pintunya dan tubuhku langsung merosot ke lantai. "Haaaah... Aku sangat membencinya" gumamku seraya mengusap cairan bening yang turun dari sudut mata.
...*****...
Tanpa alasan yang jelas, Edna mengurung dirinya di kamar hari itu. Gretta sempat menuding Jeffrey yang menyebabkan semua ini karena kakaknya sempat mengatai lelaki itu sebelum pergi, tapi Jeffrey sendiri tampak bingung dimana letak kesalahannya kali ini
"Maaf, Jeffrey. Sepertinya Edna ingin sendiri hari ini"
Marchioness Schnee menghampiri Jeffrey usai dari kamar Edna. "Ibu tidak tahu apa yang terjadi, tapi tolong biarkan dia sendiri dulu hari ini. Edna... Tidak ingin keluar kamarnya" ucapnya seraya menghela napas
".... Baik." balas lelaki bersurai hitam itu dengan kepala menunduk lesu. "Tolong sampaikan permintaan maaf saya untuk Edna, Marchioness"
"Panggil ibu sa— hah, baiklah. Padahal hari ini ibu sengaja pulang bekerja jauh lebih awal karena ada berita baik untuk kalian, sayang sekali"
"Berita baik?"
Wanita bersurai hitam dengan mata ungu seperti Gretta itu mengangguk, "Ada undangan dari Istana untuk Edna dan Gretta. Menurut undangan, Pangeran Mahkota mengundang kita untuk hadir di pesta teh yang akan diselenggarakan besok"
"Besok.. " Jeffrey menggumam dengan kening berkerut, seingatnya Genio tidak mengungkit apapun soal pesta teh ketika mereka bertemu waktu itu tapi tiba-tiba saja.... Pesta teh? Apa yang diinginkan anak itu?
"Ibu pikir ini bisa menjadi kesempatan bagus bagi Edna dan Gretta mencari teman baru. Tidak harus berteman dengan Pangeran sepertimu, ibu sudah senang apabila anak-anak setidaknya mempunyai teman baru selain kau dan Rery" ucap Marchioness seraya meletakkan tangan di pipinya. "Edna dan Gretta sangat tertutup dan pemalu dengan orang asing jadi Ibu sedikit khawatir... "
"Mereka anak yang baik jadi pasti dapat teman baru disana, Marchioness tidak perlu khawatir." Jeffrey tersenyum lembut, melihat senyuman anak itu membuat Ibu Edna jadi semakin penasaran dengan alasan putrinya mengambek padanya
"Maafkan Edna ya, Jeffrey.."
"Saya yang seharusnya terus minta maaf pada Edna. Kalau begitu saya akan pamit dulu untuk hari ini supaya Edna bisa lebih tenang, Marchioness"
Marchioness mengangguk, dia melambaikan tangan "Hati-hati di jalan ya.. Besok bertemu di pesta teh tolong bantu Edna dan adiknya mendapat teman baru ya"
"Tentu, Marchioness" balas Jeffrey seraya membungkuk hormat
----------------------------------------------
To be continued....
(*) A/n : Halo, ini Kirena. Tolong jangan silent read ya teman-teman pembaca... Vote, komen, dan tip kalian adalah sumber tenaga aku buat terusin cerita ini :)
Selain itu, kalian bingung nggak sih sama bagian bonus yang biasanya aku tulis di bawah kata bersambung? Kalo ada yang terganggu atau bingung, aku bisa hapus aja mulai chapter besok, tapi kalau nggak ada yang mempermasalahkan, aku bakal terus taruh disini
(**) Bonus
Dalam beberapa hari ini, para penjahat yang sembunyi karena tidak ingin dipenjara mendadak muncul kembali, namun dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Waktu itu Rouvin Blume tiba-tiba ditemukan bunuh diri menggantung di sebuah jembatan, kali ini ada penjahat lain yang juga bernasib sama
Bedanya, Chayton Ferr tidak terlihat seperti bunuh diri. Tubuhnya ditemukan di tengah hutan dengan kondisi tercabik-cabik seperti terkena serangan binatang buas. Tapi, lagi-lagi ada yang aneh dengan mayat-mayat ini
Annora Schnee, sang Marchioness, menerima laporan adanya bekas tusukan di beberapa bagian tubuh Ferr yang tidak terkena cabikan, bahkan bekas cabik-cabik itu sendiri tidak terlihat alami seperti bagaimana normalnya hewan buas melakukannya, ini lebih seperti ada seseorang yang membunuh sang narapidana dan berusaha menyamarkan kematian nya.
Tok tok!
"Maaf mengganggu anda, nyonya. Ada surat yang baru datang dari Istana untuk anda"
"Berikan padaku"
Annora membuka suratnya, dan alisnya reflek terangkat begitu membaca isinya. "Undangan... Pesta teh Pangeran Mahkota?" gumamnya kaget, dia lalu melirik berkas mengenai kematian misterius Chayton Ferr dan Rouvin Blume, namun dia mendorongnya menjauh sebelum bangkit dari mejanya
"Kita urus itu nanti, sekarang ayo pulang dan beritahu anak-anak!"