I'M The Villainess Sister

I'M The Villainess Sister
Chapter 14 : Too Late?



Edna jatuh koma selama nyaris seminggu penuh usai mengonsumsi teh beracun itu. Dokter berkata bahwa beruntung Edna hanya minum sedikit karena kalau dosisnya lebih sedikit saja, nyawanya mungkin tidak akan bisa diselamatkan


Marchioness Schnee menangis setiap hari melihat kondisi sang putri, sementara suaminya langsung mengamankan semua pelayan keluarga Malhela di penjara bawah tanah untuk diinterogasi dan juga mengeluarkan larangan keluar rumah bagi kakaknya, Viscountess, beserta anggota keluarga Malhela lain selama penyelidikan masih berlangsung


Berita keracunan ini menyebar dan menjadi topik yang heboh di seluruh Kerajaan, bukan saja karena yang jadi korban adalah calon menantu Duke Diven, tetapi juga fakta bahwa Pangeran Mahkota berada di tempat kejadian dan bisa saja ikut keracunan. Sebab nama Pangeran tersangkut di masalah ini, Istana mengirimkan bantuan penuh dan memerintah agar masalah ini diselidiki dengan sejelas mungkin seraya meminta Marquis mempertimbangkan adanya kemungkinan pemberontakan kepada keluarga Kerajaan


Skala masalah menjadi sangat besar sampai dicurigai merembet ke pemberontakan, sementara Edna yang meminum racun itu murni karena lupa dirinya sudah tidak kebal racun, tidak mengetahui keributan yang disebabkannya dan baru perlahan mendapatkan kembali kesadaran ketika hari sudah tengah malam


Dia mengernyit, mengerang pelan. Ada denyut sakit di beberapa bagian tubuhnya, kedua tangan serta kakinya terasa berat dan lemas seolah sudah tidak berfungsi. Edna membuka mata. Yang pertama dilihat adalah langit-langit kamarnya yang terlihat kabur dan gelap, kemudian menoleh ke arah lampu tidurnya yang menyala sayup-sayup menerangi ruangan


Usai diam sejenak untuk memperjelas visualnya, gadis itu mengangkat kepalanya yang masih terasa agak berat seraya menoleh ke belakang hendak memaksa tubuhnya untuk duduk, namun dia dibuat terkejut saat sebuah tangan mencegah dengan menyentuh kepalanya. Edna meluruskan pandangan dan matanya bertemu dengan iris biru Jeffrey


"... Maaf, hanya saja sepertinya lebih baik kau tidak duduk dulu untuk sekarang" ucap Jeffrey pelan seraya membaringkan kepala Edna kembali ke bantal dengan perlahan. "Aku akan panggil seseorang"


Edna membuka bibirnya, "K-Kau... Kenapa... Disini?" ucapnya dengan suara serak


"Jangan bicara dulu, tenggorokanmu pasti kering karena koma 6 hari penuh"


"J-Jeffrey.. "


Tanpa menoleh, Jeffrey menundukkan kepala dan mencengkeram erat tali bel pemanggil pelayan. "... Kupikir kau tidak akan bangun lagi. Saat melihatmu muntah darah usai meminum racun saat itu... Aku sangat panik sampai nyaris gila karena kupikir... Kupikir aku akan kehilanganmu juga. Kalau sampai kau dan ibu tidak ada di dunia ini aku bisa-"


"I-Ibu? Uhuk!" Edna mengernyit karena lehernya yang kering terasa sangat sakit ketika batuk. "... Apa maksudmu? Ibumu... A-Apa saja yang terjadi selama aku koma?"


"......"


"Katakan sesuatu! Uhuk!.. Uhuk!.. Jeffrey Diven, Ibumu baik-baik saja.... 'kan?"


".... Karena kau sudah bangun, dan aku selesai memastikan kau akan pulih mulai sekarang, aku akan langsung pulang. Tolong jaga dirimu baik-baik, Edna.. " Jeffrey tidak menjawab pertanyaan gadis itu, dia membunyikan bel lalu berjalan keluar kamar


"J-Jeff! Uhuk, Jeffrey! Tunggu!"


Di luar kamar Edna, anak laki-laki bersurai hitam itu menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia mendongak saat mendengar suara langkah kaki dan melihat orang tua Edna serta beberapa pelayan berlari cepat ke arahnya


"Jeffrey, apa... Kenapa kau membunyikan bel? Apa terjadi sesuatu pada Edna?!" tanya Marchioness panik, "Putri Ibu baik-baik saja, kan?"


Jeffrey menatap wanita itu sebelum menyunggingkan senyuman tipis


"Edna baru saja bangun"


"Benarkah putriku bangun?! Oh, terima kasih Tuhan..." dengan perasaan bahagia tidak terkira, ibu Edna itu bergegas masuk ke kamar sang putri bersama Marquis serta para pelayan


Sophia menghela napas lega mendengarnya, dia hendak mengikuti yang lain masuk ke kamar Edna ketika ujung matanya melihat Jeffrey berjalan melewatinya menuju ke arah sebaliknya


"Tuan Jeffrey? Anda hendak kemana? Mari kembali ke kamar nona Edna bersama saya" tanya Sophia bingung. Jeffrey menoleh,


"... Ah, aku ingin pulang. Tadi sudah memastikan Edna baik-baik saja jadi sekarang aku... Ingin bersama ibuku"


Senyum lega di bibir Sophia seketika luntur mendengar itu, wanita itu melirik ke pintu kamar Edna sejenak sebelum memutar tubuhnya dan menghampiri Jeffrey. "Mari, biar saya bantu mempersiapkan kereta kuda serta barang-barang anda, tuan Jeffrey" ucapnya seraya memakaikan selendangnya ke pundak anak itu


"Sekarang sudah tengah malam jadi suhu udara di luar pasti terasa sangat dingin apalagi bagi anak-anak seperti anda, saya harap anda tidak keberatan dengan selendang jelek saya, tuan Jeffrey"


".... Tidak, terima kasih Sophia"


Sophia mengusap pelan pundak Jeffrey, "Bukan masalah. Nah, mari pergi. Saya akan menyampaikan salam anda nanti meski tuan dan nyonya besar pasti sudah mengerti bahwa anda harus cepat pulang"


"Ya."


Jeffrey sempat menoleh ke arah kamar Edna lagi untuk beberapa saat sebelum pergi bersama Sophia


...*****...


Malam itu, semua lampu mansion keluarga Schnee kembali menyala usai ada kabar mengenai nona pertama mereka terbangun dari koma. Para pelayan berkumpul melihat Edna dari pintu, mereka bersyukur gadis itu terlihat baik sekarang


Meski bukan jenis nona yang banyak bicara maupun sering berinteraksi dengan para pelayan, Edna tetap disukai sebab dia adalah anak yang baik dan sopan. Dia menghormati para pekerja yang lebih tua darinya terlepas perbedaan derajat mereka dan sering memaafkan kesalahan pelayan muda yang baru bekerja


Di dalam kamar, Edna diperiksa oleh dokter keluarga untuk memastikan kondisi tubuhnya usai koma selama nyaris satu minggu. Dia melirik ibunya yang berdiri di sisi lain ranjang, sedang mengusap air mata haru dengan sapu tangan, lalu ganti melihat ke arah sang ayah. Mata Marquis tampak berkaca-kaca namun beliau tampak menahan air matanya demi menjaga citra sebagai kepala keluarga


"Jadi bagaimana, dokter? Bagaimana kondisi putriku?" tanya Marchioness usai sang dokter menyelesaikan pemeriksaan nya


"Sebagian besar racun di tubuh nona Edna sudah tidak ada berkat ramuan yang dibawa oleh tuan Jeffrey, namun karena tubuhnya masih lemah usai terkontaminasi racun jadi sebaiknya nona tidak melakukan aktivitas apapun terlebih dahulu, juga rutin mengonsumsi obat yang segera saya buatkan sampai tubuhnya benar-benar pulih" jelas dokter, ayah Edna mengangguk paham


"Terima kasih, dokter Atlas. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat anda"


"Tidak masalah, Marquis Schnee. Saya sendiri juga mengharapkan kesembuhan nona Edna." dokter Atlas tersenyum lalu menunduk hormat kepada pasangan Schnee. "Karena sekarang masih waktunya istirahat, saya akan undur diri supaya nona Edna bisa kembali beristirahat"


"Baik, terima kasih dokter" balas Marquis seraya menunduk sekilas. Pria itu menoleh ke arah putrinya dan menghela napas panjang usai sang dokter serta para pelayan pergi dari kamar


"Putriku yang malang.... Seluruh tubuhmu pasti sakit sekali" ucapnya sedih, memegang tangan kanan Edna dan mengusapnya pelan. "Maafkan ayah karena masih belum menemukan pelakunya sampai sekarang"


"Tapi jangan khawatir, kami akan terus mencari dan menghukumnya sesuai hukum tidak peduli butuh berapa lama" Ibu Edna menyeletuk, beranjak duduk di tepi ranjang lalu memegang tangan putrinya yang satunya. "Ibu dan ayah janji, Edna. Kami pasti akan menemukan orang yang sudah membuatmu seperti ini"


"Baik, bu" balas Edna mengulas senyum tipis, Marchioness ikut tersenyum sebelum menarik selimut sampai ke dada putrinya.


"Sekarang tidurlah kembali, ibu akan menulis surat untuk mengabari bibimu kalau kau sudah siuman" ucap wanita itu lalu mengecup kening Edna, "Kau tahu, sayang? Paman dan bibimu sangat khawatir padamu sampai setiap hari mengirim surat dua kali di sore dan pagi hari. Mereka juga tidak henti menulis kata maaf, sepertinya mereka merasa sangat bersalah karena kau mengalami itu saat berkunjung kesana"


'Mereka tidak khawatir, bu. Mereka ingin memantau kapan aku akhirnya mati' balas Edna dalam hati. Seperti biasa, di luar itu dia mengulas senyum dan berkata, "M-Mereka pasti terkejut sekali, aku harus mengirim surat pada mereka saat sudah lebih baik nanti"


Usai ibu, kini ganti ayah Edna yang membungkuk dan memberi kecupan di dahi putrinya. "Kau tidak perlu melakukannya kalau kau tidak mau, bagaimanapun kejadian traumatis ini terjadi di rumah mereka. Ayah awalnya tidak ingin mengecualikan mereka dari pemeriksaan, tapi ibumu memaksa ayah dengan berkata mereka masihlah bagian keluarga kita" ucap Marquis seraya melirik istrinya yang langsung menghela napas


"Berapa kali aku harus mengatakannya? Aku tidak meminta untuk melepaskan mereka begitu saja. Maksudku kita harus melakukannya diam-diam karena peristiwa ini merupakan topik sensitif di seluruh Kerajaan sekarang, dan mereka memang masihlah bagian keluarga kita. Kalau sampai tersebar rumor yang tidak baik, nanti putri kita juga yang akan terkena imbasnya"


Edna tidak mengatakan apapun, namun di dalam hatinya dia mengerti apa maksud ucapan ibunya barusan. Jika keluarga Edna secara terbuka mencurigai dan memeriksa dengan ketat keluarga Malhela sebagai pelaku dan ternyata mereka terbukti tidak bersalah, maka orang-orang yang mengawasi perkembangan peristiwa ini pasti akan mencemooh keluarga Schnee, khususnya mengkritik sang Marquis karena sudah tega menuduh keluarga kakak perempuannya sendiri yang meracuni putrinya.


Dan tidak hanya itu saja, Edna juga pasti akan terseret imbasnya karena mereka yang tidak berada di tempat kejadian tidak mungkin tidak merasa curiga pada Edna, yang mana akhirnya akan menuntun mereka untuk menuduhnya hanya pura-pura keracunan supaya ayahnya bisa menghukum bibinya yang tidak berdosa


'Tapi mereka memang pelakunya jadi ayah dan ibu sebenarnya tidak perlu sewaspada itu' batin gadis bersurai ungu itu. Namun berhubung dia tidak bisa mengatakannya langsung pada kedua orang tuanya, dia harus menangani hal ini sendiri nanti


"Ibu, aku mengantuk..." Edna mengucek matanya dan berpura-pura menguap, mengusir mereka secara halus


Ibu terkesiap pelan, baru sadar bahwa dia mengganggu anaknya yang sudah mengantuk. "Ya ampun, maaf, sayang... Ibu dan ayah akan pergi, tidurlah yang nyenyak ya? Ibu menyayangimu"


"Hm.... Aku juga, bu" Edna tersenyum simpul lalu menutup mata. Marquis dan istrinya berjalan keluar kamar, mereka sempat berdiri di ujung pintu menatap putrinya yang terlelap cukup lama sebelum mematikan lampu kamar dan menutup pintu


"Selamat malam, Edna"


Setelah langkah kaki kedua orang tuanya tidak terdengar, Edna membuka matanya kembali dan menghabiskan malam menyusun rencana untuk membalas perbuatan paman serta bibinya


...*****...


Pagi hari menyinari mansion keluarga Schnee yang berangsur-angsur kembali bahagia. Edna memulai hari dilayani kembali oleh Sophia karena Marchioness tidak merasa tenang meninggalkan putrinya yang sakit di tangan gadis yang sama kecil seperti Sarah


Mengetahui hal itu, Edna tentu saja senang sebab setidaknya dengan begini dia tidak perlu khawatir Sarah diam-diam menambahkan dosis racun di tubuhnya ketika dia masih tidak berdaya


Dokter Atlas datang lagi ke kamar gadis bersurai ungu itu untuk mengecek perkembangan tubuhnya, dan beliau berkata tidak ada masalah mengenai pemulihannya jadi Edna tidak perlu terlalu khawatir maupun stress


"Terima kasih, dokter" ucap Edna dan sang dokter tersenyum simpul seraya berkata,


"Sebenarnya daripada saya, lebih tepat rasanya jika nona berterima kasih kepada tuan muda Jeffrey yang sudah membawakan elixir. Sebab tanpa elixir itu, saya sendiri tidak yakin kapan anda akan terbangun lagi"


"Jeffrey membawa elixir?" tanya Edna bingung. Elixir adalah ramuan obat yang ditemukan oleh Jeffrey di kehidupan dulu sebagai hasil dari petualangannya bersama Eleanor mencari penawar blue spider lily, tetapi bahkan ramuan sekelas elixir yang kala itu digadang bisa menyembuhkan segala penyakit pun ternyata tidak mampu menyembuhkan Duchess.


"Ya, usai membawa anda kembali ke rumah, tuan muda pergi selama dua hari dan datang membawa elixir. Kami sempat melarangnya karena kondisi Duchess lebih membutuhkan obat itu, tapi tuan Jeffrey terus saja bersikeras-"


"Apa Duchess sedang sakit?" sela Edna cepat. Sebenarnya dari kemarin dia ingin bertanya tentang Duchess pada Jeffrey begitu bangun tidur hari ini, tapi dari pagi tidak ada yang memberitahunya dimana Jeffrey. Bahkan Sophia yang biasanya tahu segalanya pun mengalihkan pembicaraan tadi


"Ah... Sepertinya anda belum diberitahu. Maaf, nona. Saya sendiri berpikir sebaiknya anda tidak memikirkan hal lain dan fokus pada pemulihan terlebih-"


"Jangan bilang... Sudah terjadi?" tanya gadis itu lagi-lagi memotong ucapan sang dokter, dia memaksakan senyuman namun rasa takut terlukis jelas di wajahnya. "Tidak kan? Duchess hanya sakit biasa, kan?... Bukan blue spider lily... atau semacamnya, kan?"


"....."


Pria paruh baya itu tidak menjawab, hanya menunduk dan membiarkan pertanyaan Edna menghilang tidak terjawab di antara udara yang ada di kamar hening ini.


Edna menggigit bibirnya, matanya memanas karena mengerti apa arti keheningan yang mencekik itu. "Se-Sejak kapan?" tanya nya dengan suara bergetar


"...."


"AKU TANYA SEJAK KAPAN?!" seru gadis bersurai ungu itu keras, mendesak sang dokter untuk menjawabnya


"... Duchess jatuh pingsan satu hari setelah anda keracunan, nona"


Kali ini ganti Edna yang terdiam usai menerima jawaban, dia menatap kosong kedua tangannya sementara otaknya sibuk menghitung sejak kapan Duchess terjangkit penyakit itu jika beliau sudah jatuh pingsan ketika dia keracunan


Blue spider lily sebenarnya bukan penyakit yang tiba-tiba muncul, namun penyakit ini sulit dideteksi pada awal kemunculannya karena gejalanya yang mirip flu biasa, sehingga sering baru ditemukan ketika penyakit ini sudah berkembang banyak di dalam tubuh.


".. Nona Edna?"


Edna mengedip cepat, selesai dengan perhitungannya. Dia menatap pria di depannya sejenak sebelum menyingkap selimut dengan gerakan panik dan beranjak turun dari ranjang. Namun sayangnya kondisi tubuh gadis itu masih lemah sehingga dia pun langsung terjatuh ke karpet begitu mencoba berjalan


Bruk!


"Astaga, nona! Tubuh anda masih belum pulih jadi tolong jangan bergerak dulu.."


Ketika dokter atlas menarik bel pelayan, Edna menggeleng kuat dan mencoba untuk bangkit lagi. "Tidak.. Aku harus pergi sekarang, waktu yang tersisa tidak banyak"


'Kalau sudah pingsan satu minggu lalu, itu tandanya Duchess terjangkit penyakit ini di waktu yang sama dengan Ibu Calista Belva'


"Anda punya banyak waktu, nona. Jika anda khawatir pada Duchess Diven, sebaiknya fokus pada kesehatan anda dulu"


Mengabaikan ucapan dokter, gadis bersurai ungu itu bergegas mengulurkan kedua tangan ketika melihat Sophia masuk ke kamarnya


"Sophia! Bantu aku berdiri, aku tidak punya banyak waktu" perintahnya. Sophia yang datang karena bunyi bel pun segera menghampiri nonanya


"Astaga, nona.. Bagaimana anda bisa jatuh seperti ini?"


"Kita tidak punya waktu untuk itu. Cepat bawa aku ke tempat itu. Apa Calista Belva sudah kembali?"


".... Belum, nona"


Edna memejamkan mata lalu menghembuskan napas frustasi, rencana yang sudah dia susun sebaik mungkin jadi berantakan semua


'Ini semua karena racun sialan.... Tidak, ini salahku karena kurang cepat mempersiapkan léčitel' batinnya menyalahkan diri sendiri. Dia sudah mengirim teh rosella pada Duchess untuk mencegah wanita itu terkena penyakit blue spider lily sementara Edna mencari penawarnya, namun ternyata teh rosella tidak berhasil mengulur waktu untuknya


"Nona Edna, orang yang anda tunggu masih belum datang jadi anda masih punya banyak waktu yang bisa digunakan untuk memulihkan diri sampai orang tersebut datang." nasihat dokter Atlas


"Benar apa kata tuan dokter, saya akan mengerahkan para ksatria untuk mencari Calista Belva dan membawanya pada anda secepat mungkin, tapi dengan syarat anda harus tetap istirahat di ranjang dan memulihkan tubuh sampai Calista Belva datang"


Tidak merasa punya solusi yang lebih baik saking beratnya pikiran di otaknya sekarang, Edna pun akhirnya setuju kembali naik ke ranjang


"Segera bawa padaku begitu kau menerima barangnya dari Calista Belva" pesannya, Sophia mengangguk seraya menarik selimut sampai perut nonanya


"Baik, nona. Kalau begitu saya dan tuan dokter akan undur diri sekarang"


...*****...


Sembari menunggu para ksatria, Edna memerintah Sophia untuk mengambil bahan-bahan yang sudah disiapkan nya di tempat rahasia karena mereka tidak mungkin punya waktu untuk pergi kesana jadi mau tidak mau dia harus meracik léčitel di mansion


"Nona, hari ini saya yang akan melayani anda karena kepala pelayan akan pergi ke suatu tempat"


Edna melirik Sarah sekilas lalu kembali membaca buku di tangannya, "Aku tahu. Aku yang memerintah Sophia"


"Ah.... Nona, apa anda ingin minum sesuatu sebagai teman membaca?" tawar sang pelayan, namun si gadis bersurai ungu menolak seraya membalik halaman buku


"Tidak perlu, aku tidak haus"


"Kalau begitu camilan?"


"Tidak perlu, masih kenyang"


Tanpa mengalihkan pandangannya dari buku, Edna bisa mengetahui bahwa Sarah sekarang sedang mengerutkan kening tidak suka karena ditolak terus


'Sebentar lagi aku harus membuat léčitel jadi tidak ada waktu untuk keracunan lagi' batinnya.


Kemudian ruangan kembali hening, Edna terlihat sibuk membaca buku yang tampak asing di mata Sarah dan mengabaikannya.


Sarah berdiri di samping ranjang sang nona, memutar otak mencari topik pembicaraan dan kontan tersenyum miring begitu teringat sesuatu


"Anu, nona Edna. Saya sering melihat kepala Sophia pulang-pergi membawa berbagai kotak, apa itu juga perintah nona?"


"Ya."


"Nona, apa... Tanaman-tanaman itu sangat penting?"


Satu kerutan muncul di kening Edna karena tidak ingat memberitahu apa isi kotak itu, namun dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya pada anak itu. "Itu bukan urusanmu" balasnya dingin, Sarah menundukkan kepala dan membungkuk


"Maaf, nona. Saya tidak bermaksud mencampuri urusan anda"


"Hm."


"T-Tapi, nona... "


Mendengar nada suara anak itu yang ragu-ragu, Edna menoleh cepat menyadari Sarah pasti berbuat sesuatu pada kotaknya


'Aku akan memaafkan nya selama dia tidak menghancurkan bahan-bahan ku' janji Edna dalam hati


"Tapi apa?"


"Se-Sebelumnya maafkan saya, nona. Waktu itu saya mengikuti kepala Sophia diam-diam murni karena penasaran, dan saya melihat kepala pelayan meletakkan kotak itu di ruang kesehatan pelayan. T-tapi kemudian saya melihatnya membuka kasar kotak itu dan menghancurkan tanaman di dalamnya.. "


"...."


"Maaf, nona. Jika saja saya tahu itu sangat berharga, saya pasti akan menghentikan kepala Sophia.. "


"Sarah," Edna memanggil seraya beranjak berdiri, Sarah yang melihat ekspresi sang nona menggelap menyunggingkan seringai tipis sebelum bergegas mendekat dengan ekspresi takut


"Y-Ya, nona?"


"Kenapa kau melakukannya?"


Sarah tersentak, "Apa? Bukan saya yang melakukannya, nona! Kepala Sophia pelakunya! Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri" sanggahnya tidak terima


Plak!


"Akh! Nona Edna! Apa yang anda lakukan pada saya?!"


"Aku tidak peduli jika kau menyakitiku, tapi jangan sentuh Sophia maupun bahan-bahanku" desis Edna tajam, Sarah memegang pipinya yang baru saja ditampar dengan tangan gemetar


Dia menggertakkan gigi kesal lalu mengangkat tangan hendak balas memukul, namun Edna sudah lebih dulu mencekik lehernya sampai dia mundur beberapa langkah


"U-Ukh!"


"Aku bisa saja membunuhmu disini sekarang juga, jangan coba-coba berniat melawan ku kalau masih mau hidup, bocah"


Sarah mengangguk panik, dia menepuk-nepuk tangan sang nona dari lehernya. "M-Maafkan... Ukh! Saya"


"Enyah dari hadapanku" usir Edna seraya melepaskan cekikan dengan kasar, Sarah terbatuk-batuk namun mengangguk dan bergegas lari dari kamar


Sophia yang baru saja kembali mengerutkan kening melihat Sarah keluar kamar nonanya sambil menangis dan batuk. Khawatir terjadi sesuatu pada  Edna, dia pun masuk ke kamar dengan tergesa


"Nona, saya melihat Sarah keluar dengan menangis.. " Kepala pelayan keluarga Schnee itu menggantung ucapannya saat melihat Edna menyisir rambutnya ke belakang dengan ekspresi yang terlihat luar biasa kesal


"Sophia,"


"Ya?"


"Ada kabar dari Calista?"


"Ya, saya menerima pesan dari burung merpati bahwa Lady Calista Belva sudah ditemukan dan sedang dalam perjalanan menuju mansion"


"Bagus, setidaknya ada yang berhasil" balas Edna seraya menghela napas panjang. "Ah.. Sepertinya aku harus menyuruhmu membeli ulang semua bahan-bahanku"


"Ya? Apa ada yang salah dengan bahan-bahan nya, nona?" tanya Sophia bingung


"Tidak, tapi ada tikus sia— maksudku, orang yang merusaknya" gadis bersurai ungu itu meralat ucapannya secepat kilat, dan untungnya sang kepala pelayan tampak tidak menyadarinya sama sekali


"Ah, baik. Saya akan segera membelinya lagi, anda istirahat saja disini"


Edna mengangguk, duduk di ranjangnya lagi. "Terima kasih, Sophia"


"Ah, nona,"


"Apa?"


Sophia yang hendak menghilang dari pintu melangkah mundur dan menolehkan kepalanya kepada sang nona, "Seorang Lady yang terhormat tidak boleh mengumpat secara terbuka"


".... Aku mengerti, maaf" cicit Edna takut


...*****...


Calista sampai di mansion Schnee dua hari kemudian, dia berlari terburu-buru kepada Edna dengan sebuah pot di tangannya


"Nona! Ini Sendagilea yang anda inginkan!"


"Terima kasih," balas Edna seraya menerima pot tersebut, namun dia melirik sekitar dan keningnya berkerut. "Tapi, kau tidak mungkin jauh-jauh kesana hanya untuk membawa kembali satu pot, kan?"


"Beberapa pot sedang dalam perjalanan di kapal, saya hanya membawa satu karena saya pikir anda pasti sudah sangat memerlukannya" balas Calista, Edna mengangguk dan hendak mempersilakan wanita itu untuk masuk menerima upah tambahan, namun gelagatnya yang aneh membuatnya lagi-lagi mengerutkan kening


"Apa terjadi sesuatu, Calista Belva?"


"Ah.. Iya. Saya harus segera pulang karena Ibu saya didiagnosis blue spider lily" balas wanita itu, dia lalu menunduk hormat pada Edna. "Maaf, nona. Saya mungkin lancang tapi sepertinya saya harus pulang sekarang, saya setidaknya ingin berpamitan dengan ibu"


Edna terdiam mendengar itu, dia mengerjap cepat keluar dari pikirannya ketika Sophia menyentuh bahunya


"Baik, pergilah. Aku akan mengantarkan bonusmu nanti" ucapnya, Calista menunduk sekali lagi sebelum pergi


Usai melihat kepergian Calista, Edna menatap pot dipelukannya lalu menggumam pelan,


".... Sepertinya aku bisa membuat dua léčitel dengan tanaman ini"


"Sophia, " panggilnya, Sophia menoleh lalu menjawab bahkan sebelum dia ditanya, "Bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia di ruang kesehatan pelayan seperti yang anda inginkan, nona"


"Bagus. Aku tidak punya waktu jika ingin menyelamatkan keduanya, ayo masuk sekarang"


Edna membawa sendagilea lurus masuk ke ruang kesehatan untuk para pelayan berobat lalu mengunci pintunya rapat-rapat dan mulai mengekstrak tanamannya


Untungnya Edna masih diwajibkan untuk tetap di kamar, sehingga keluarganya tidak ada yang curiga kenapa putri sulung mereka tidak hadir saat makan bersama. Di dalam ruangan itu, dia dibantu oleh seorang dokter muda yang kebetulan berjaga di sana


Namanya Hugo Itsvan, dokter baru yang juga merupakan murid dokter Darius Atlas, dokter utama yang bertugas merawat keluarga Schnee


Salah satu alasan Edna memilih ruang kesehatan pelayan adalah Hugo, di kehidupan sebelumnya Hugo juga merupakan orang yang membantunya menciptakan léčitel dengan sempurna


Sophia menunggu di luar ruangan, dia bertugas sebagai pengawas Marquis dan Marchioness seandainya menanyakan Edna, juga mengirimkan makanan ke dalam ruangan supaya nutrisi sang nona dan dokter tetap terjaga


Dan setelah empat hari tanpa tidur sama sekali, Edna serta Hugo Itsvan benar-benar berhasil menciptakan penawar penyakit blue spider lily, Léčitel.


"Berhasil... Akhirnya"


"Kita memang berhasil membuatnya... Tapi apakah ini akan benar-benar efektif, nona? Maksud saya, kita kan sama sekali belum mencoba obatnya pada manusia"


Edna, yang sadar dirinya hanya punya waktu sangat sedikit, sibuk menuang cairan itu ke dalam dua botol


"Ini pasti bekerja. Saya menjaminnya dengan nyawa saya" balasnya, dia lalu menoleh pada Hugo. "Dokter Hugo Istvan, saya akan menggunakan nama dokter Itsvan sebagai penemu tunggal ramuan penawar ini jika ada orang yang bertanya."


"Ya? Tapi, kenapa? Nona kan yang sudah bersusah payah menemukan dan meracik obatnya, kenapa malah saya yang hanya membantu beberapa malah mendapat kredit penuh atas hal itu?"


"Karena orang lain tidak akan percaya ramuan ini dibuat oleh seorang gadis bangsawan berusia 12 tahun, mereka akan lebih mudah menerimanya jika dokter muda bernama Hugo Itsvan yang melakukannya"


Melihat Hugo yang kontan terdiam, Edna meletakkan salah satu botol berisi léčitel ke tangan pria itu


"Tidak usah terlalu dipikirkan, dokter Itsvan," ucapnya, "Saya tidak sekedar meminjam nama anda saja, resep ramuan ini akan menjadi milik dokter begitu saya dapat menyelamatkan Duchess Diven. Dokter bisa mempelajari maupun menjual resepnya, tapi saya sarankan lebih baik anda mempelajari nya karena ramuan ini pasti akan berharga sangat mahal"


"Tapi kenapa anda ingin memberikannya pada saya? Karena nona meminjam nama saya?"


Edna mengangkat bahu, dia menjawab tanpa menoleh. ".... Entahlah. Mungkin karena setelah menyelamatkan Duchess nanti, saya sudah tidak memerlukannya lagi?"


'Aku tidak peduli yang lainnya selama bisa menyembuhkan Duchess' batinnya


".... Terima kasih, nona. Saya akan menggunakan resep ini sebaik mungkin dan menjualnya atas nama Schnee" ucap Hugo seraya membungkuk, Edna mengangguk lalu menunjuk obat di tangan lelaki itu


"Berikan obat itu pada Calista Belva, toko bunga kvetina di jalan Caro. Aku akan pergi ke wilayah Diven sekarang"


"Baik, nona. Selamat jalan" Hugo membungkuk sekali lagi, dan baru menegakkan punggungnya setelah suara langkah kaki Edna tidak terdengar lagi


Pria itu menatap botol léčitel di tangannya, ada rasa tidak percaya ketika melihat bahwa tangannya sekarang sedang memegang obat yang sangat diinginkan oleh seluruh penderita blue spider lily di dunia ini. Dan yang lebih tidak bisa dipercaya, orang yang membuat ramuan ini adalah seorang gadis berusia 12 tahun dan dibantu oleh dokter muda berpengalaman rendah sepertinya


"Tidak, nona Edna bukan sembarang gadis. Nona Edna adalah jenius sejati karena berhasil menciptakan obat ini" ucap Hugo pada dirinya sendiri


-----------------------------------------------


To be continued.....


A/n : Halo, ini Kirena. Cuma mau ngasih info kalo ketelatan ku update adalah karena nggak ada kuota :"


Terus chapter ini nggak ada bonusnya. Chapter ini panjaang banget kalo disatuin jadi terpaksa dipotong dan ditaruh di part 2, tungguin aja ya!