I'M The Villainess Sister

I'M The Villainess Sister
Chapter 15 : Underground Jail



Penjara bawah tanah bukanlah hal yang asing lagi bagi seorang mantan bos antagonis semacam Edna Schnee


Dulu dia sering pergi ke tempat yang dingin, gelap, serta menyeramkan seperti itu untuk menghukum dan menyakiti orang-orang yang mempunyai salah padanya. Eleanor adalah salah satu korban yang membuat Edna menghabiskan banyak waktunya disana hanya untuk melihatnya disiksa tanpa ampun


Tapi entah pengaruh dari dirinya yang kembali ke tubuh anak-anak atau bagaimana, kini penjara bawah tanah terasa sangat asing dan menyeramkan. Lantai yang dingin dan lembap, jeruji besi menjulang tinggi dan ruangan dengan pencahayaan minim, hanya ada beberapa obor menyala di lorong di malam hari.


Gadis bersurai ungu itu meringkuk memeluk kedua kakinya yang kedinginan, matanya menatap kosong ke arah langit malam berwarna merah yang sesekali mengeluarkan suara menggelegar di udara dari balik jendela teralis kecil sel penjara tempatnya


Sebenarnya dimana yang salah? Apa dan bagaimana masalah itu muncul? Edna memikirkan ramuan léčitel lagi berkali-kali sejak dibawa kesini untuk menemukan apa yang salah, tapi dia tidak mengingat adanya satupun kesalahan. Semua bahan ditakar hati-hati dan tidak ada masalah apapun terkait pengolahannya karena dia sangat tidak ingin hal semacam ini terjadi


Kalau begitu harusnya tidak ada masalah, tapi kenapa...


'Apa ini akibat dari berusaha merubah takdir sekali lagi? Atau ini hukuman untukku karena sudah berani merubah takdir sekali?' batin nya


"Kenapa harus Duchess yang terkena imbasnya.. Harusnya hukum aku saja langsung" gumamnya. Hatinya terasa sakit ketika ingatan pilu akan Duchess yang kondisinya langsung memburuk usai meminum léčitel tadi kembali terputar di otaknya


Duchess yang tadinya masih bisa berbicara banyak tiba-tiba terbatuk begitu keras dan memuntahkan darah di tangannya, lalu seolah itu tidak cukup, ketika hendak dibawa ke penjara tadi Edna sempat melihat dari kejauhan bahwa wanita itu mengalami kejang.


Duke berlutut di pinggir ranjang dan menggenggam erat tangan istrinya sementara semua orang terlihat panik dan bergerak cepat kesana-kemari berusaha untuk memegangi tubuh Duchess sambil menunggu dokter datang


Air mata Edna turun bebas ke pipi. Ini semua salahnya.


Seandainya Duchess tidak meminum obat sialan itu, beliau pasti masih hidup sekarang meskipun waktunya sudah tidak tersisa banyak.


Pintu luar penjara bawah tanah berderit terbuka dan ada langkah kaki keras yang semakin mendekat dengan setiap langkah. Edna bergerak cepat mengusap air matanya, ini pasti Duke yang datang untuk menyiksanya.


Gadis itu memejamkan mata, bersiap menerima nasib buruk yang sedang mendatanginya ketika telinganya mendengar suara seseorang familiar


"Edna! Ternyata kau disini"


Mata Edna reflek terbuka lebar, kemudian tersentak pelan karena silau dengan lampu yang dibawa oleh sosok itu. Dia mengerjap sejenak, menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya


"Kau... K-Kenapa?" tanya nya terkejut


"Kau baik-baik saja? Tunggu sebentar, aku akan segera membuka pintunya"


"Tidak, jangan. Jangan dibuka." tolak gadis bersurai ungu itu cepat, dia memalingkan pandangan karena tidak sanggup bertatapan dengan iris biru orang itu. Jeffrey Diven.


".... Aku akan mengeluarkan mu"


"Pergilah, Jeffrey" usirnya, namun seolah tidak mendengar penolakannya, Jeffrey tetap bergerak cepat membuka sel Edna


Klang!


Begitu pintu terbuka, Jeffrey bergegas melangkah masuk kemudian meletakkan kasar lampu di tangannya dan berjongkok meraih kedua pundak sang tunangan


"Edna, kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Biar kulihat.." tanya nya dengan suara khawatir seraya celingukan mengecek kondisi tubuh Edna.


".... Sudah kubilang jangan dibuka"


"Kau baru saja pulih dari keracunan, tubuhmu pasti masih lemah. Bisa-bisanya mereka tega membuatmu berada di tempat mengerikan seperti ini?"


"Jeffrey... " Edna menahan pundak Jeffrey dan memaksanya untuk menatap matanya meski sebenarnya terasa sulit. "Apa yang sedang kau lakukan disini?"


"Lihat saja, aku tidak akan mengampuni siapapun yang melukaimu lagi" ucap lelaki itu tak acuh pada pertanyaan Edna, ibu jarinya bergerak mengusap debu dari pipi Edna. "Mereka juga sudah membuat pipimu jadi kotor-"


Bugh!


"Jeffrey Diven!" Edna memukul bahu Jeffrey dengan kedua tangannya seraya berteriak, dia kemudian mencengkram baju tunangannya dengan kuat. "Sadarkan dirimu! Ini bukan waktunya untuk omong kosong!"


Lelaki bersurai hitam itu tersentak pelan sebelum mengangguk, menarik lepas tangan Edna dari bajunya kemudian menggenggamnya. "Kau benar, ini bukan waktunya omong kosong. Kalau begitu ayo, kita pergi dari sini sekarang juga" ucapnya seraya beranjak berdiri


Namun alih-alih ikut bersamanya, Edna melepaskan paksa genggaman tangan mereka sebelum mengalihkan pandangan.


"Tidak. Kau saja yang pergi. Enyahlah dari sini"


"Apa maksudmu? Aku kesini untuk mengeluarkanmu jadi tentu saja kau harus ikut denganku. Ayo pergi"


Jeffrey mengulurkan tangannya menyentuh pundak sang tunangan, akan tetapi gadis itu malah beringsut menjauh.


"Tidak mau. Aku tidak akan keluar dari tempat ini."


"Kenapa? Tempat ini pasti tidak nyaman buatmu yang baru saja sembuh"


Edna menunduk lalu menggumam, "... Kau tidak akan mengerti. Aku pantas berada di tempat ini karena.... Karena perbuatanku"


"Pergilah, Jeffrey." putusnya. Gadis itu menekuk kedua lututnya lalu membenamkan wajah disana.


Meski ada sebagian dari dirinya yang tidak terima karena yakin léčitel buatannya tidak mungkin salah, tapi sebagian yang lain tidak seperti itu sebab kondisi Duchess memang memburuk setelah minum obatnya


Kenyataan yang menyakitkan. Gara-gara itu sekarang Edna bahkan tidak mampu bertanya pada Jeffrey bagaimana kondisi terkini ibunya karena takut mendengar jawaban negatif seperti yang sudah otak kecilnya bayangkan daritadi


Sementara Edna sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, Jeffrey menghela napas panjang kemudian meletakkan tangannya di atas kepala gadis itu sebelum mengusap rambutnya lembut


"Berhenti menyalahkan diri. Ini bukan salahmu, Edna" ucapnya yang membuat tubuh Edna kontan mendongak. "Apa yang terjadi pada ibu... Mungkin memang sudah waktunya seperti itu"


Edna menepis tangan tunangannya dengan kening berkerut, "Apa maksudmu? Duchess masih bisa sembuh!"


"... Tidak, Edna. Waktu ibu memang sudah tidak banyak"


"Jangan bicara seperti itu, ibumu jelas-jelas masih dalam kondisi baik sebelum aku... Se-Sebelum aku datang"


Ada jeda hening beberapa saat sebelum Jeffrey kembali berjongkok dan membalas. "Tidak, ibu terlihat baik karena pandai menyembunyikan rasa sakitnya. Sebelum penyakitnya diketahui, aku sering memergokinya mimisan tapi beliau berbohong kalau itu karena cuaca yang terlalu panas. Ini bukan salah obatmu" ucapnya


".... Kenapa kau begitu percaya padaku sekarang?" tanya Edna murung, dia mengimbuhi dalam hati 'Padahal di kehidupan sebelumnya kau tidak mempercayai ku sedikitpun'


"Aku selalu percaya padamu, Edna. Selalu. Nah, untuk sekarang ayo pergi-" Jeffrey berhenti bicara saat mendengar suara langkah kaki asing yang mendekat, dia mengerutkan kening sejenak sebelum berdiri di depan Edna dengan gestur melindungi gadis itu


"Tuan-"


".... Berani kau sentuh Ednaku, akan kubuat kau menyesal seumur hidup" ancam Jeffrey serius bahkan sebelum orang itu selesai memberi salam padanya


Sang ksatria yang diancam Jeffrey menundukkan kepala hormat. "Tuan muda, tuan Duke memerintahkan kami untuk membawa anda berserta nona muda Schnee ke kamar Duchess sekarang juga" ucapnya


"Bilang pada Ayah bahwa Edna akan pulang, tidak perlu ke kamar ibu lagi karena itu bisa membuatnya trauma"


"Maaf, tuan muda. Tetapi kehadiran anda dan nona muda Schnee sangat penting. Ini berhubungan dengan kesehatan Duchess jadi anda harus-"


"Tidak." tolak anak bermata biru itu tegas. "Edna akan pulang"


Sang ksatria menghela napas mendengar penolakan itu, lalu tanpa banyak bicara dia masuk ke dalam sel Edna dan menarik tangan Jeffrey


"?! Hei, sedang apa kau?!"


"Saya mohon maaf, tuan Jeffrey. Tuan Duke memerintahkan saya untuk membawa paksa anda dan nona muda jika anda menolak ikut"


Jeffrey melotot, dia mundur lalu menarik tangannya sekuat tenaga namun sang ksatria yang berbadan jauh lebih besar tidak bergerak seinci pun. Justru, dia ikut tertarik dengan tak berdaya ketika lelaki yang lebih dewasa itu menariknya dan berjalan keluar dari sel penjara


Menyadari bahwa di belakangnya Edna masih tertinggal di dalam penjara, Jeffrey bergegas mengulurkan tangannya dan meraih gadis itu. Untung saja kali ini Edna tidak menepis tangannya lagi


"Edna, dengarkan baik-baik. Ketika kita sampai diluar nanti, aku akan melepaskanmu jadi berlari pergilah sejauh mungkin. Aku akan mengikutimu dari belakang nanti jadi tidak usah khawa-"


"Aku ingin melihat Duchess" potong Edna, menggerakkan tangannya untuk mengeratkan genggaman tangan mereka. "Aku ingin membuktikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa obatku tidak gagal, jadi aku tidak akan melarikan diri kemana pun"


"...."


Sang ksatria yang memimpin di depan menoleh ke belakang memastikan kondisi dua anak kecil itu semenjak Duke memberi perintah padanya untuk tidak membiarkan ada satu goresan sedikitpun di tubuh mereka


Tapi dia dibuat mendadak berhenti ketika melihat wajah dan leher tuan mudanya merah padam seperti kepiting rebus.


"Tuan Jeffrey, anda baik-baik saja? Wajah anda merah sekali, apa mungkin anda demam?"


Mata Jeffrey melirik ke bawah, dia mengigit bibir dalamnya menahan diri untuk tidak tersenyum lebar sebab Edna baru saja balik menggenggam tangannya dengan erat seolah tidak mau mereka berjauhan,


"Lepaskan tanganmu" perintah Jeffrey kemudian pada sang ksatria, "Kau tidak perlu menarikku lagi, aku akan mengikutimu dari belakang bersama tunanganku"


"Tapi-"


"Aku tidak akan kabur karena Edna bilang dia ingin melihat kondisi ibuku jadi lepaskan." potong anak lelaki itu cepat, sang ksatria sebenarnya masih agak ragu hendak membiarkan dua bocah itu berjalan sendiri di belakangnya


Namun sorot serius yang ada di wajah Jeffrey berhasil meyakinkannya untuk percaya pada mereka, "Baiklah, tuan Jeffrey" balasnya seraya melepaskan tangan Jeffrey kemudian memimpin jalan


...*****...


Sesampainya di depan kamar Duchess, sang Ksatria mengumumkan kedatangan mereka lalu membukakan pintu. Edna menelan ludah susah payah dengan jantung berdegup kencang, kakinya mendadak terasa berat ketika hendak dibuat melangkah masuk ke kamar


"Tidak apa-apa, Edna" suara Jeffrey mengambil alih atensi gadis itu, dia mengusap tangan Edna seraya tersenyum manis. "Ayo, masuk"


Edna hanya menatap dalam diam, sebab dia bisa melihat jelas banyaknya keringat dingin di dahi lelaki itu dan juga dinginnya ujung jari tangannya yang merupakan tanda bahwa Jeffrey juga sedang gugup sekarang


Kendati sama-sama gugup dan takut, kedua bocah itu berdiri diam di depan pintu cukup lama. Sampai kemudian sebuah suara yang sangat ingin mereka dengar memanggil


"Edna, Jeffrey.. "


Edna tersentak pelan, tidak percaya benar-benar bisa mendengar suara itu lagi usai pemandangan mengerikan tadi pagi.


Di sebelahnya, sang tunangan juga tidak kalah kagetnya, anak lelaki itu meremas genggaman tangan mereka seiring dengan matanya yang perlahan berkaca-kaca


"...."


"Ayo," ajak gadis bersurai ungu itu pada Jeffrey, "Kita temui ibumu bersama"


Jeffrey tidak menjawab, tapi dia juga tidak menolak ketika Edna membawanya berjalan menuju ranjang Duchess.


Seiring dengan langkah kaki mereka yang mendekat, ingatan hari pemakaman ibu Jeffrey itu kembali terputar di memori Edna.


Langit gelap, hujan deras, suasana pemakaman yang sepi, juga dirinya dan Jeffrey yang saling bersebelahan berdiri di tengah hujan menahan sedih serta sesal. Kenangan itu terasa begitu mengerikan sama seperti ingatan hari pemakaman orang tuanya yang sering mencegahnya terlelap


'Tapi kali ini pasti berbeda. Aku dan Jeffrey akan berdiri sebelahan melihat bagaimana Duchess sembuh sepenuhnya dari blue spider lily' batin gadis itu bertekad


Dan ketika mereka sudah sampai di pinggir ranjang, keduanya dibuat membeku secara bersamaan melihat kondisi Duchess


Wanita bernama Sierra Diven itu tersenyum lembut kepada mereka, semua bercak biru yang sebelumnya ada di tubuhnya kini tidak terlihat sama sekali. Dia memang masih kurus akibat penyakit itu yang menggerogoti tubuhnya, tapi kondisinya terlihat jauh lebih baik sekarang


Duchess memegang tangan Edna yang masih membeku, "Terima kasih, Edna. Obatmu menyembuhkan ibu" ucapnya. Namun perhatian gadis bersurai ungu itu berada pada punggung tangannya yang terasa hangat dipegang oleh ibu Jeffrey


Merasakan kehangatan tangan wanita itu lagi setelah apa yang terjadi pagi tadi, beban besar di pundak Edna rasanya seperti diangkat dan dibuang jauh-jauh.


Akhirnya Edna tidak terlambat lagi menyelamatkan Duchess. Léčitel buatannya berhasil, Duchess masih hidup.


Namun alih-alih tersenyum senang, air mata justru mengalir di pipi Edna. Rasa lega karena sudah berhasil menghindari salah satu kenangan mengerikan yang terjadi di kehidupan sebelumnya entah kenapa membuatnya ingin menangis


"Hiks... Hiks.. "


"Oh, Edna... Kau pasti ketakutan dikurung di penjara gelap itu padahal kau berhasil menyembuhkanku" Duchess menarik Edna ke dalam pelukan, mengusap pelan punggung anak itu. "Maafkan ibu ya, harusnya ibu tidak membiarkanmu dibawa ke tempat seperti itu. Ibu terlambat mengetahuinya dan langsung memerintah ayah mertuamu untuk membebaskanmu"


'Aku tidak peduli dengan penjara bawah tanah, asalkan Duchess bisa sembuh dan bisa memelukku lagi seperti ini... Itu sudah cukup untukku' ucap Edna dalam batin


"Jeffrey... Kau baik-baik saja, nak? Kenapa kau hanya berdiri diam disana? Mendekatlah kepada ibu"


Suara Duchess yang memanggil putranya membuat Edna mengangkat wajah lalu mengusap air mata yang masih tersisa. Jeffrey bergerak dengan tubuh kaku dan tidak merespon apapun ketika sang ibu menyentuh pundaknya pelan


"Putraku sudah bekerja keras, Terima kasih karena sudah selalu di sisi ibu selama ibu sakit ya"


"....."


Sierra menghela napas, menarik tangan Jeffrey yang entah sejak kapan terkepal erat lalu mengusapnya. "Jangan ditahan, kau bisa menyakiti dirimu sendiri. Ibu sudah tidak apa-apa, Jeffrey... Kau tidak perlu memaksa dirimu kuat lagi"


"T-Tidak... A-Aku.. " Jeffrey membuka mulut ingin menyangkal, tapi saat itu juga air matanya menetes. Dia segera mengusapnya tapi air mata itu terus berjatuhan seolah tidak bisa dia kontrol


"A-Aku... Hiks... B-Baik-baik saja, bu" ucapnya sambil terisak, Duchess tersenyum lalu memeluknya. Air mata wanita itu ikut turun, karena dia juga sesungguhnya sangat takut apabila harus meninggalkan Jeffrey sekarang dan membuat anak itu trauma


"A-Aku tidak mena... Hiks.. Menangis" anak bermata biru itu melepaskan pelukan, dia menyunggingkan senyuman paksa seraya berkata, "Li-Lihat, aku ini kuat jadi tidak menangis"


"Ibu tahu... Jeffrey anak yang kuat, anak paling kuat kesayangan ibu" balas Duchess seraya mengusap air mata putranya yang terus turun. "Ibu bangga mempunyai putra sepertimu"


"Hm, aku kuat. T-Tapi... Jangan tinggalkan aku hiks... J-Jangan sakit" pinta anak itu, suaranya berubah jadi cicitan di akhir kalimatnya. "A-Aku tidak suka melihat ibu sakit"


"Baiklah, baiklah... Ibu akan berusaha sekuat tenaga supaya tidak sakit lagi, supaya putra ibu satu-satunya ini tidak menangis lagi" janji Sierra seraya menarik kembali Jeffrey ke pelukan hangatnya


Edna mengusap air mata di sudut matanya, melihat Jeffrey dengan Duchess mengingatkannya ketika pertama kali terbangun di kehidupan sekarang. Gadis itu tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun


Tapi kemudian keningnya mengerut dalam ketika kepalanya mendadak terasa begitu pening dan tubuhnya yang seperti ringan. Edna menggelengkan kepalanya pelan seraya mengedip untuk menarik kembali kesadarannya yang hendak pergi,


".... Kau baik-baik saja?" Duke yang daritadi hanya diam melirik Edna dan bertanya, dengan napas memburu anak perempuan itu mengangguk pelan


'Kenapa denganku? Padahal dari tadi di penjara bawah tanah masih tidak ada masalah' batin Edna bingung, dia mendongak ketika Duchess memanggilnya namun tiba-tiba saja pandangannya seperti berputar lalu gelap begitu saja


"EDNA!"


BRUK!


Anak perempuan bersurai ungu itu jatuh pingsan usai memastikan obatnya berhasil menyelamatkan Duchess


-------------------------------------------------


To be continued...


(*) Bonus


"Mereka membawa Edna kemana?"


Duke menoleh ketika mendengar suara putranya, namun fokusnya lebih mengarah kepada dokter Walter yang datang bersamanya.


"Tolong, dokter... Lakukan sesuatu pada istriku" ucap pria itu seraya menarik sang dokter untuk segera memeriksa istrinya


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, tuan Duke"


Ayah Jeffrey itu mengangguk, matanya menatap gelisah sementara di sebelahnya sang anak lagi-lagi bertanya


"Ayah, aku bertanya kemana Edna-"


"Nanti saja. Sekarang ibumu lebih penting" potong Duke Diven cepat tanpa menoleh


"Tidak, jawab sekarang. Dimana Edna sekarang, ayah?" tanya Jeffrey keukeuh kepada ayahnya yang sedang kalut


"Kau tidak perlu tahu karena itu urusan ayah nanti. Jangan mengganggu dan pergilah ke kamar kalau kau hanya akan bertanya soal itu terus"


"Tidak mau. Aku ingin memastikan kondisi ibu, tapi aku juga berhak tahu dimana Edna karena dia tunanganku"


"Jeffrey Diven!" Suara menggelegar Duke yang membentak putranya mengejutkan semua orang yang berada di dalam sana, pria itu menghela napas lelah sebelum menarik Jeffrey keluar kamar. "Gadis itu yang sudah membuat ibumu seperti ini, kenapa kau masih mencarinya?" tanya Duke begitu mereka di luar


"Kondisi ibu bukan salah Edna."


"Darimana kau bisa seyakin itu jika dia sendiri bahkan mengakui itu adalah kesalahannya?"


"..... Aku tahu."


Duke berdecak, menoleh pada seorang ksatria yang ditugaskan untuk menjaga pintu kamar istrinya. "Hei, kau. Bawa Jeffrey kembali ke kamarnya dan pastikan dia tidak meninggalkan ruangan sampai ada perintah lain dariku"


"Baik, tuan" balas sang ksatria lalu meraih tangan Jeffrey. Dan sebelum anak itu dibawa kembali ke kamarnya, Duke sempat berkata,


"Dan kau Jeffrey, ayah akan segera membatalkan pertunanganmu dengan gadis itu setelah kondisi ibumu kembali stabil"


Jeffrey membalas tanpa menoleh, "Itu tidak akan pernah terjadi. Karena ibu pasti sembuh dan Edna akan menikah denganku, jadi ayah sebaiknya minta maaf saat aku sudah menemukannya nanti"