I'M The Villainess Sister

I'M The Villainess Sister
Chapter 06 : D-1



Jeffrey tersentak dan segera berhenti melangkah ketika Edna tiba-tiba menoleh dan menodongkan pedang kayu ke arah lehernya. Jus jeruk di tangan lelaki itu tumpah sedikit akibat gerakan mendadak tadi


'6 bulan... Kalau aku bisa membunuh orang itu 6 bulan lagi, aku tidak perlu melihat mayat Ibu dan Ayahku' batin Edna dalam hati, napasnya terengah dengan mata yang menatap Jeffrey tajam


"Sedang apa kau disini?" tanya gadis bersurai ungu itu seraya akhirnya menurunkan pedangnya dari leher sang tunangan


"Aku... Membawakan minum"


"Tidak perlu, aku belum haus. Bawa saja itu pergi bersamamu, aku mau latihan lagi"


Jeffrey bersuara ketika Edna hendak berbalik badan, "Edna, jangan terlalu memaksakan dirimu. Nanti kau terluka" pesannya khawatir


"Pergilah." balas Edna tak acuh dengan singkat sebelum kembali mengambil ancang-ancang mengayunkan pedang lagi. Dia menggertakkan gigi sambil menggumam pelan di sela-sela latihan


"Kau tidak akan pernah mengerti penderitaanku"


Di novel aslinya, hari kematian orang tua karakter antagonis hanya ditulis sekali dalam kilas balik ketika 'Gretta' merasa hidupnya tidak adil. Edna membaca bagian itu sepintas di kehidupan pertamanya dan tidak merasakan apapun spesial karena berpikir itu adalah latar belakang yang memang diperlukan karakter antagonis


Tapi dia mulai mengerti perasaan itu setelah bereinkarnasi sebagai Edna Schnee di kehidupan keduanya. Seluruh hidupnya hancur dalam sehari di hari Marquis dan Marchioness Schnee ditemukan tewas bersimbah darah. Para pelayan berusaha menutupi mata Edna supaya anak kecil tersebut tidak mengalami trauma melihat mayat kedua orang tuanya sendiri, namun sayangnya dia sudah melihat semuanya. Meski tidak menghitungnya dengan pasti, dia tahu ada sekitar sepuluh luka tusukan di tubuh ayahnya, dan berpuluh-puluh di tubuh Ibunya sebab Edna adalah orang pertama yang menemukan mayat mereka.


Saat itu untuk sesaat, dunia Edna seperti berhenti berputar. Dia yang awalnya datang karena tidak bisa tidur jadi diam terpaku melihat tubuh orang tuanya yang sudah kaku dengan banyak darah sementara otaknya memikirkan kenapa ini bisa terjadi.


Kenapa orang tuanya? Kenapa harus keluarganya? Apa salah Ibu dan Ayahnya? Siapa... Pelakunya?


Mengingat kenangan lawas yang mengerikan membuat Edna semakin bertekad untuk menyelamatkan orang tuanya. Tidak seperti kehidupan sebelumnya, kali ini dia tidak akan menjadi orang yang pertama melihat mayat orang tuanya, melainkan menyaksikan mayat paman Eleanor selaku pelaku percobaan pembunuhan pada ibu dan ayahnya yang perlahan berubah kaku.


Dengan tekad yang sangat kuat, Edna melatih tubuh serta kemampuannya tanpa henti, waktu pun tidak terasa sudah 6 bulan berlalu dan hari yang dia tunggu-tunggu selama setahun pun semakin dekat.


E D N A 


Aku menatap pantulan diriku di cermin lalu menghela napas, ada lingkaran hitam yang cukup tebal di bawah mataku. Sehari lagi hari 'itu' datang, dan aku tidak bisa membuang waktu sedetikpun bahkan untuk sekedar tidur


Kemampuanku memang berkembang banyak sejak saat itu, tapi efek sampingnya aku jadi kurang tidur dan gampang pusing. Dalam sehari aku hanya bisa tidur selama 1-2 jam saja, sebab selain banyak waktu terpakai untuk latihan pedang serta menjaga Gretta, ada mimpi buruk yang mencegahku untuk terlelap setiap malam


Mimpi itu menampilkan semua kejadian buruk di kehidupan kedua, mulai dari kematian Ibu dan Ayah sampai hukuman mati Gretta serta Rery. Rasanya begitu menakutkan untuk tidur lagi meskipun begitu terbangun aku langsung berlari untuk memastikan anggota keluargaku masih bernapas.


Aku terlalu takut memejamkan mata lalu terbangun mengetahui bahwa kehidupan ini ternyata hanya mimpiku, sedangkan mimpi buruk itu adalah kehidupanku yang sebenarnya.


"..... Tidak, jangan khawatir Edna. Kau bisa tidur tenang sepuasnya setelah besok" ucapku menyemangati diri sendiri, aku menepuk kedua pipiku seraya mengangguk dan memasang senyuman lebar. "Semangatlah, aku pasti bisa menyelamatkan Ibu dan Ayah"


Tapi perlahan senyumanku luntur seiring dengan semangatku yang kembali redup. Jujur, ada bagian dari diriku yang tidak percaya diri bisa melakukan ini. Maksudku, bagaimana kalau ternyata aku gagal lagi besok? Berlatih sekeras apapun selama satu tahun penuh sepertinya masih tidak cukup untuk melawan paman Eleanor dengan tubuhku sekarang. Lalu apa aku harus mulai mempersiapkan hati untuk berdiri di pemakaman lagi?


Tidak bisa.


Ayah dan ibuku... Aku tidak akan pernah sanggup kehilangan mereka lagi. Jika hal yang paling kutakutkan itu sampai terjadi, mungkin aku akan bersikap egois dengan memilih untuk ikut pergi bersama mereka daripada menjalani kehidupan yang mirip neraka ini sekali lagi


Tok tok!


"Nona Edna,"


Suara ketukan pintu berhasil menarik kesadaranku kembali, aku mengusap wajahku kasar lalu menoleh pada seorang pelayan yang masuk kamarku, "Ya?"


"Permisi nona, tuan Jeffrey sudah datang"


".... Baiklah, aku akan segera keluar" jawabku, si pelayan menunduk hormat lalu pergi dan menutup pintu


Jeffrey 'bermain' ke rumahku setiap hari selama hampir satu tahun ini, namun sepertinya karena perlakuan dinginku yang sering mengabaikannya, akhir-akhir ini dia jarang datang. Memang terkadang dia masih datang seperti sekarang, tapi durasinya tidak selama dulu seolah dia punya kesibukan lain dan hanya sekedar mampir kesini karena itu sudah jadi rutinitasnya selama ini


Bagus, aku senang kalau dia akhirnya sadar diri begini. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeninya, dan lagipula kata 'teman' tidak mungkin berada di kalimat yang sama dengan namaku dan dirinya, lebih baik kita saling menjaga jarak aman seperti sekarang dan kemudian tidak pernah bersinggungan lagi untuk selamanya


"Halo, Edna" Jeffrey menyapa dengan senyuman nya seperti biasa begitu aku mendekat, aku mengangguk singkat merespon sapaan nya lalu berbalik.


"Suasana hatimu sepertinya sedang baik ya hari ini? Kau tidak langsung menyuruhku pulang seperti biasanya" tanya anak itu seraya mengekoriku, aku mengangkat bahu


"Sepertinya begitu. Ini berkatmu"


Bohong sih, aku hanya tidak sedang ingin berdebat dengannya karena masih kepikiran masalah keselamatan orang tuaku. Bagaimana aku akan menyelamatkan mereka dengan tubuh anak-anak yang selemah ini? Berlatih pedang satu tahun masih belum cukup sama sekali


Jeffrey menahan pudakku, dia melangkah cepat ke hadapanku dengan mata berbinar. "Sungguh? Memang apa yang kulakukan secara tidak sadar yang berhasil membuat suasana hatimu baik? Katakan padaku, aku ingin mengingatnya supaya bisa melakukan nya lagi" cecarnya gembira


"Jarang kesini" jawabku singkat sambil menyingkirkan tangannya dari pundakku, Jeffrey menghela napas lalu menundukkan kepala. "... Maafkan aku, aku punya urusan penting jadi tidak bisa bermain lama seperti dulu" ucapnya murung


"Tak apa, lebih bagus kau tetap seperti ini"


"Setelah urusanku selesai aku janji akan sering bermain disini lagi seperti dulu. Jangan khawatir, Edna"


Aku berdecak, "Sepertinya kau tidak mengerti, kubilang aku senang kalau kau jarang kesini" jelasku jengkel


"Aku yang tidak senang. Aku kan belum berteman denganmu sampai sekarang" balasnya seraya menatapku memelas


Lagi-lagi 'berteman' sialan itu, orang ini kapan menyerah untuk berteman denganku sih? Dari awal aku sudah menunjukkan penolakan yang sangat jelas padanya, tapi satu tahun ini dia terus saja mendesak ingin akrab dan berteman


Menyebalkan sekali.


"Apa kau akan enyah untuk selamanya kalau aku bersedia jadi temanmu? Kalau iya begitu, aku tidak keberatan berteman"


Jeffrey mengedip bingung, "Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku akan semakin rajin datang kesini sama seperti temanmu Rery-"


"Kalau begitu aku tidak mau" potongku cepat lalu jalan lagi. Tidak berteman saja dia sudah sering datang dan membuat stressku bertambah, apalagi kalau aku menerimanya


Bisa-bisa aku mati karena stress sebelum bisa menyelamatkan orang tuaku


Oh, benar juga. Aku masih belum menemukan cara mengalahkan paman Eleanor. Berbicara dengan si kunyuk Jeffrey membuatku lupa sejenak akan masalah serius yang harus kuhadapi besok malam.


"Kenapa tidak mau? Apa yang salah denganku? Kau selalu menolakku tanpa alasan sejak pertama kali bertemu" cecar Jeffrey seraya mengikutiku lagi


"Aku tidak suka denganmu"


"Kenapa?"


"Hanya tidak suka saja"


"Makanya, kenapa kau tidak suka denganku? Aku tidak pernah berbuat jahat padamu atau pada siapapun, tapi kau selalu berkata tidak mau dan tidak suka. Katakan alasannya supaya aku mengerti apa kekuranganku yang sangat tidak kau sukai itu"


"Aku tidak tahu kalau kau ternyata orang yang sangat cerewet, Jeffrey Diven" ucapku seraya berhenti jalan dan menoleh, Jeffrey tersentak pelan lalu menggaruk pelipisnya yang kuyakin tidak gatal.


Mata lelaki itu berkeliling ke sembarang arah canggung, "A-Aku hanya seperti ini pada orang-orang yang dekat denganku. Jangan salah paham" balasnya malu-malu


"Sepertinya kau yang salah paham, aku tidak dekat denganmu" koreksiku tajam. Di kehidupan sebelumnya kupikir kita sudah cukup 'dekat' karena itu aku sangat tersakiti begitu kau memilih Eleanor dan meninggalkan ku, tapi kini aku sadar kalau aku selama ini salah paham. Kata 'dekat' di kamusku jauh berbeda dengan kamus mu.


Yah... Bukannya sekarang aku merasa sakit hati atau apa, lagipula aku sudah memutuskan untuk memotong segala tali hubungan dengannya. Hanya saja... Ini sedikit mengusik rasa kesalku.


Sedikit sekali.


"Karena itu aku ingin dekat denganmu!"


Cukup sudah.


"Jeffrey Diven, bisakah kau tutup mulutmu dan pulang saja hari ini?" pintaku serius, Jeffrey membuang napas pendek


"Kau mulai lagi, Edna. Aku hanya ingin berteman denganmu tapi kau selalu mengusirku dengan dingin seperti ini"


"Kumohon, hari ini sampai disini saja. Aku lelah jadi tolong pulanglah"


"Tapi aku baru saja sampai tadi-"


"Pulanglah. Kali ini bukan permintaan, tapi perintah"


Jeffrey menatapku, raut wajahnya terlihat seperti ingin membantah ucapanku lagi, namun dia hanya berakhir mengalihkan pandangan setelah cukup lama menatap. "Baik, maaf karena sempat keras kepala tadi. Besok aku tidak akan kesini karena ada yang harus ku urus, tapi lusa aku tetap datang jadi kuharap kau memperlakukan ku dengan baik saat itu" ucapnya


Aku mengerutkan kening. "Kenapa aku harus?"


"Karena suasana hati mu mungkin membaik lusa. Sudah, aku pulang ya, Edna" balasnya seraya tersenyum, dia berbalik ke arah kami berjalan tadi lalu melambaikan tangan. "Oh, kuharap lusa kau juga mengijinkan ku bermain dengan Gretta!"


Aku tidak menjawab sama sekali, hanya menatap punggungnya yang semakin jauh. Aku menghela napas panjang ketika Jeffrey sudah tidak terlihat lagi, baru saja merasa lega karena sudah mengusir orang itu ketika dari arah belakang Ibu tiba-tiba muncul dan mengejutkanku


"Loh, Edna. Kau sendirian saja? Seingat Ibu tadi para pelayan berkata Jeffrey datang hari ini" tanya nya seraya celingukan


"Dia sudah pulang lagi"


"Kenapa baru sampai malah pulang?"


"Entahlah" balasku seadanya sambil mengangkat bahu pura-pura tidak tahu


Ibu memicingkan mata curiga. "Edna..... Kau tidak mengusir calon menantu Ibu lagi, kan?" tanya nya skeptis


".... Tidak kok"


Bohong, lagi. Aku berbohong lagi karena alasan utamaku mengusir Jeffrey adalah... Untuk sesaat, kupikir aku nyaris tergoyahkan. Aku mengerti kalau ucapannya tadi cuma sebatas kata-kata anak kecil yang ngotot ingin berteman, tapi jantung sial ini berdetak sangat kencang begitu dia dengan lantang berkata ingin dekat denganku. Perkataan yang tidak mungkin keluar dari bibirnya di kehidupan kedua.


Sadarkan dirimu, Edna Schnee. Perasaan ini tidak nyata, penulis merancangnya begitu supaya kau mau menukar kebahagiaan keluargamu dengan lelaki itu. Kau sudah memilih keluargamu jadi jangan pernah goyah pada ucapan para protagonis


Terutama Jeffrey Diven.


...*****...


Edna menghabiskan sisa waktu hari ini bersama orang tuanya. Tadinya dia ingin mengurung diri di perpustakaan mansion mencari cara membunuh paman Eleanor dengan tubuh lemahnya yang tidak mempunyai harapan keberhasilan, tapi kemudian baru terpikir olehnya bahwa hari ini bisa saja jadi hari terakhirnya bersama kedua orang tuanya.


Ini memang kemungkinan terburuk yang harus dicegahnya, namun dia khawatir selagi dia sibuk berusaha memikirkan cara menyelamatkan orang tuanya seraya bertengkar dengan Jeffrey tadi, mereka bisa saja pergi lebih dulu tanpa mengucapkan selamat tinggal maupun meninggalkan memori terakhir bersama nya maupun Gretta seperti sebelumnya


Setidaknya dia ingin menghabiskan hari terakhir mereka bersama...


'Tidak, lupakan. Besok aku akan mengubah takdir semua orang dan tidak akan ada yang mati lagi' batin gadis itu seraya menggelengkan kepalanya kuat


"Edna, ada apa? Kau pusing, sayang? Kemarilah, biar Ibu lihat"


Mendongak, Edna tersenyum sembari mendekati orang tuanya. "Tidak apa-apa, aku hanya sudah sangat mengantuk" balasnya lalu merangkak naik ke ranjang tengah di antara ibu dan ayahnya


"Ibu heran, kenapa kau tiba-tiba ingin tidur bersama kami malam ini, hm?"


Gadis bersurai ungu itu memeluk perut Ibunya, berkata, "Aku hanya sangat merindukan kalian"


"Rindu apanya? Kau kan sudah mengikuti ayah dan ibu seharian ini" kekeh Marquis seraya membalik badan dan ikut memeluk istrinya sehingga Edna terjepit diantara mereka. "Yah, tapi sekali-sekali seperti ini juga tidak buruk. Sayang sekali Gretta tidak mau ikut juga"


"Benar sekali. Anak yang rasanya kemarin baru lahir itu bilang sudah terlalu besar untuk ikut tidur bersama kita" timpal Ibu sendu


".... Ayah,"


"Hm?"


"Aku mencintaimu"


"... Tiba-tiba saja?"


Edna mengangguk, dia kemudian mendongak menatap Ibunya. "Aku juga mencintaimu, bu" ucapnya dari hati yang paling dalam, Marchioness tersenyum lalu memberi kecupan di pucuk kepala anak itu


"Ibu juga, sayangku"


"Tentu saja ayah juga sangat mencintaimu, Edna. Bukan ibumu saja" Ucap sang ayah buru-buru dari belakang, berhasil membuat Edna terkekeh geli. "Aku tahu, ayah"


".... Tapi kau tidak menghadap ayah dan hanya memeluk ibumu saja. Ayah terluka"


Menuruti keinginan ayahnya, gadis bersurai ungu itu membalik badan dan memberikan Marquis pelukan erat. "Nah, kalau begini sudah kan?"


"Tentu, pria tua ini sangat bahagia sekarang karena dipeluk putri kecilnya" candanya, Edna tersenyum lalu membenamkan kepalanya di perut sang ayah, suasana hatinya tiba-tiba memburuk membayangkan kalau malam ini benar-benar yang terakhir


"Aku harap besok tidak pernah datang" gumamnya sedih


----------------------------------------------


To be continued...


(*) Bonus


"Hari ini anda kembali lebih cepat, tuan Jeffrey"


"Iya, suasana hati Edna sedang tidak baik hari ini, tapi itu bisa dimaklumi"


"Apa hari ini anda juga pergi ke tempat itu?"


"Eleanor bilang disana, tentu saja aku harus pergi kesana kalau ingin ini cepat selesai"


"Baik, tuan"


Jeffrey bertopang dagu di jendela kereta kuda, dia menghela napas panjang. "Hah, aku sudah merindukan Edna"