I'M The Villainess Sister

I'M The Villainess Sister
Chapter 03 : Jeffrey Diven



"Aku tidak menyukaimu" tolakku lantang seraya menatap Jeffrey tajam.


Waktu itu aku hidup dikendalikan oleh alur novel sehingga aku 'dipaksa' menyukaimu. Sekarang aku yang memegang kendali atas kehidupanku sendiri, jadi jangan harap aku akan menyukaimu secara sukarela.


Masih sibuk memelototi Jeffrey, aku mendongak saat merasakan pundakku disentuh, dan keningku langsung berkerut tidak suka begitu melihat Ibu tertawa canggung kepada orang tua lelaki itu. "Ahahaha.... Tolong maafkan perilaku Edna, anak ini sedang sensitif karena bermimpi buruk semalam. Dia bahkan membentak adiknya lalu menangis sendiri tadi"


"Tidak apa-apa, itu tandanya Jeffrey harus berusaha lebih keras supaya Edna mau mengubah pikirannya. Bukan begitu, nak?" Ibu Jeffrey menjawab santai, sementara di sebelahnya sang anak mengangguk masih dengan senyuman manisnya


"Aku ingin berteman baik dengan Edna"


Cih, teman baik bokongmu. Orang waras mana yang mau berteman dengan orang yang akan memenggal kepala mereka di masa depan?


"Aku yang tidak mau. Aku tidak menyukaimu" tampikku lagi tanpa ampun. Sebenarnya ada setitik rasa bersalah di hatiku pada ibu lelaki itu sebab di kehidupan sebelumnya beliau sering membantuku serta Gretta usai orang tuaku tidak ada, tapi aku tidak punya pilihan lain selain bertindak seperti ini sekarang


Awalnya memang ada niatan untuk sekedar berteman dengan Jeffrey, tapi kalau dipikirkan lagi, dia bahkan tidak mendengarkan permintaanku yang ingin mengunjungi Gretta di penjara padahal saat itu aku adalah tunangan nya selama 10 tahun, jadi menurutku lebih baik lelaki itu membenciku sejak awal sekalian sehingga dia tidak perlu hadir di kehidupanku maupun keluargaku sama sekali


"Edna, kau tidak boleh sekasar itu pada Jeffrey, kalian adalah pasangan suami istri di masa depan jadi tentu harus membangun hubungan baik mulai sekarang"


Aku menghela napas panjang lalu membuang muka. Aku tahu. Pertunanganku dan Jeffrey sudah direncanakan jauh sejak kami bahkan belum ada.


Ibukku dan ibu Jeffrey adalah teman baik sejak mereka kecil, lalu seperti yang bisa kalian ditebak, mereka membuat janji klise dimana ketika dewasa nanti mereka akan menikahkan anak pertama mereka dengan satu sama lain apabila melahirkan bayi berjenis kelamin yang berbeda


Sialnya, keinginan mereka menjadi kenyataan ketika aku lahir 10 bulan setelah Jeffrey ada. Jadilah kini kami ditunangkan sejak usia dini dengan tujuan akan dinikahkan ketika kami usai memulai debut di usia 18 tahun


Tapi semua rencana itu akan gagal sepenuhnya begitu Ibu Jeffrey meninggal beberapa tahun kemudian karena penyakit langka dan Jeffrey menyadari bahwa rasa sukanya pada Eleanor lebih dari yang selalu dipikirkan nya. Lalu bagaimana dengan nasibku? Waktu itu aku hanya menjadi seorang tunangan di atas kertas yang cintanya bertepuk sebelah tangan karena Jeffrey mencintai wanita lain namun terlalu takut merusak imej keluarganya apabila membatalkan pertunangan kami


Dasar pengecut. Si penulis sepertinya sudah kehilangan akal karena membuat lelaki pecundang sepertinya sebagai salah satu pemeran utama


"Edna, bagaimana kalau kau ajak Jeffrey bermain bersama di ruangan bermain mu sekarang? Kalian bisa mengakrabkan diri disana"


"Tidak-"


"Edna Wylie Schnee... Kau akan mengajak main Jeffrey, kan?"


Aku tersentak pelan lalu segera mengangguk, tidak berani melawan lagi kalau ibu sudah memanggil nama lengkap ku. Jangan salah sangka, ibuku bukan orang yang jahat kepada putrinya


Beliau memang dirancang untuk menjadi ibu baik serta penyayang, tapi bukan berarti tidak bisa marah atau pun menghukum kami. Aku dan Gretta tetap mendapat hukuman kalau membuat masalah, meski tidak sampai ekstrem tentu saja lebih baik menghindarinya


"Ibu dan orang tua Jeffrey akan mengobrol disini sembari menunggu tamu lain datang jadi kalian bermain lah dengan baik"


"Baik, bu" jawabku seraya tersenyum paksa, aku melirik ke arah Jeffrey sekilas sebelum melengos pergi menuju ruang bermain


"Jadi, berapa umurmu Edna?" Jeffrey yang berjalan di belakangku bertanya basa-basi untuk mengusir suasana hening yang canggung semenjak hanya langkah kaki kami yang terdengar di rumah luas ini. Tapi tentu saja aku tidak akan menyambut baik apapun yang keluar darinya


"Kau datang ke pesta ulang tahunku tanpa mengetahui aku berusia berapa?" tanyaku balik dengan nada ketus


"O-Oh, tentu saja aku tahu. Usia kita kan hanya selisih satu tahun"


"10 bulan" koreksi ku dingin, dan tanpa menoleh pun aku bisa merasakan keringat resah yang membasahi pelipis Jeffrey sekarang


"Benar, 10 bulan." ucapnya, ada jeda beberapa saat sebelum dia kembali bicara. "Oh ya, apa Gretta ada di ruang bermain sekarang?"


Kakiku reflek berhenti usai mendengar sebuah nama yang tidak seharusnya keluar dari bibir karakter pria kedua. "Kenapa kau bertanya tentang Gretta?" tanyaku seraya menoleh


"... Aku hanya penasaran. Ibuku bilang Gretta anak yang lucu"


"Tidak usah penasaran dengan adikku, Jeffrey. Penasaran membunuh kucing"


Setelah mendengar responku yang semakin ketus, Jeffrey tidak mengatakan apapun lagi sampai kami tiba di ruang bermain.


"Ah, kakak!" suara riang Gretta yang menyapaku begitu membuka pintu membuat rasa kesal yang berkumpul di hatiku karena Jeffrey tadi seperti menguap seketika.


"Gretta!" Aku bergegas mendekatinya dengan senyuman lebar. "Kau sedang membaca apa?" tanyaku


Gretta menarik buku yang berada di tangan Sophia lalu menyodorkan nya padaku. Aku menerimanya dengan senang hati seraya duduk di sebelahnya. Ternyata buku dongeng Snow White.


"Apa kau menyukai buku ini?" tanyaku, membalik halamannya cepat hanya untuk melihat gambar sebab aku sudah tahu semua isinya


"Benar, nona. Nona Gretta sangat menyukai buku ini sampai berkata kalau dewasa nanti dia ingin bertemu Pangeran tampan juga seperti Snow White" cerita Sophia senang, berbanding terbalik dengan suasana hatiku yang langsung jelek lagi


"Pangeran?" Aku menutup buku lalu melirik Gretta dengan alis berkerut. "Kenapa kau ingin bertemu Pangeran?" tanyaku, namun adik manisku itu tidak menyadari nada suaraku yang berubah dan hanya sibuk menjelaskan bagaimana kerennya Pangeran ketika menyelamatkan Snow White yang mati usai memakan apel beracun


"Gretta, kau tidak memerlukan seorang Pangeran di hidupmu. Kakak akan menyelamatkan mu dari bahaya apapun di dunia ini" balasku serius, Gretta cemberut sementara Sophia menepukkan tangannya senang.


"Ya ampun, nona Edna manis sekali"


"Tapi kakak kan bukan Pangeran yang keren seperti Pangeran nya putri Snow White!"


"Pangeran itu tidak ada yang keren. Mereka hanya membuatnya keren karena itu dongeng. Pangeran yang asli sama sekali tidak keren"


Pangeran yang asli akan membunuhmu, Gretta. Kau tidak boleh menyukai ataupun berada di dekat Pangeran


Gretta mengerutkan keningnya, "Memangnya kakak tahu darimana Pangeran itu tidak keren?"


".... Pokoknya, Pangeran itu tidak keren sama sekali. Dia dari lahir sampai dewasa semuanya dibantu oleh pelayan-pelayan yang mengikutinya. Mulai dari bangun tidur, mandi, ganti baju, makan, belajar, sampai tidur lagi. Pangeran itu tidak keren, dia manja"


"Tapi... Kita kan juga semuanya dibantu oleh Sophia"


Aku mengedip cepat, berusaha mencari alasan yang membedakan kami sehingga Pangeran bisa terlihat jelek di mata adikku. "I-Itu kan karena kita ini perempuan! Perempuan lebih lemah daripada laki-laki, jadi harus sering dibantu. Sedangkan Pangeran adalah seorang laki-laki namun dia menerima bantuan seperti kita"


"Selain itu, Pangeran di Snow White juga tidak keren. Dia asal mencium gadis di bawah umur yang sudah mati, ew" imbuhku, Sophia melirikku dan Gretta bergantian dengan tatapan panik


"No-Nona Edna, kalau anda mengatakannya seperti itu pada adik anda... "


"Apa? Aku benar, kan? Pangeran itu sudah melihat Snow White yang terbaring kaku di peti mati, tapi dia malah nekat menciumnya. Bukankah itu menjijikkan?"


"Tapi berkat itu Snow White hidup lagi! Pangeran itu keren!"


Aku menggeleng, "Dengar, Gretta. Snow White bangun lagi karena tidak rela tubuhnya yang sudah mati disalahgunakan oleh si Pangeran. Aku sendiri mungkin akan bangkit dari kubur kalau ada seseorang yang berani macam-macam dengan mayatku" ucapku dengan ekspresi serius, Gretta termenung menatapku beberapa saat sebelum menoleh kepada Sophia dengan kecewa


"Sophia, apa itu benar?"


Aku mengangguk dalam hati. Itu benar, Gretta sayang. Tidak ada yang keren dari seorang Pangeran, kakak mu ini akan meyakinkanmu soal itu dan membuatmu benci dengan semua Pangeran di dunia ini


...*****...


'Ah, bagaimana ini?' pikir wanita itu resah, dia masih berusaha mencari jawaban yang tepat ketika Jeffrey yang daritadi diam tiba-tiba mundur dan menyenggol sesuatu sampai menimbulkan suara yang cukup keras


"A-Ah, maaf. Aku tidak sengaja" ucap Jeffrey gelagapan ketika semua orang menatapnya. Edna memincingkan mata waspada seraya merentangkan tangannya di depan dada Gretta


"Apa anda baik-baik saja, tuan muda?" tanya Sophia khawatir, dia menurunkan Gretta dari pangkuannya bermaksud mengecek keadaan Jeffrey namun batal ketika tangan Edna menarik lengan bajunya


"Jangan ditolong" ucap gadis kecil bersurai ungu itu. Dia menambahkan dalam hati, 'Kita tidak boleh terlalu baik pada orang yang menyakiti kita'


"Nona Edna, anda tidak boleh seperti itu-"


Brak!


Pintu ruang bermain dibuka lebar berhasil mengambil atensi semua orang, seorang bocah laki-laki seumuran bersurai coklat gelap muncul dengan tersenyum lebar menatap kepada dua saudari Schnee. Ada kotak kado berwarna pink yang dibungkus cantik di tangannya


"Edna, Gretta, lihat! Hari ini aku tidak lupa membawa kadonya!" serunya gembira, dia melirik ke samping dan keningnya sedikit berkerut melihat Jeffrey. "Ng? Siapa dia? Kalian menerima tamu juga hari ini?"


"Jangan pedulikan dia" balas Edna tak acuh seraya mendekat, gadis itu mengulas senyum lalu menariknya ke dalam pelukan. "Rery, aku senang bertemu denganmu lagi"


'Satu-satunya temanku yang sangat kusayangi dan kupercayai' imbuh Edna dalam hati. Selain keluarganya dan Sophia, Rery adalah seseorang yang ingin Edna selamatkan dari alur cerita apapun yang terjadi.


Novel menuliskannya sebagai lelaki tidak waras yang hobi membantai orang, namun bagi Edna, Rery adalah satu-satunya sosok yang menghibur serta tetap berada di pihaknya ketika semua orang menjauhi keluarganya dan menunjuknya sebagai penyihir. Dan tidak seperti deskripsi novelnya, Rery pada kenyataannya tidak membunuh sembarang orang, mereka yang dia bunuh adalah; paman Eleanor yang terungkap merupakan pelaku pembunuhan orang tua Edna, paman dan bibi yang berulang kali berusaha membunuh Edna demi tahta, serta para pembunuh bayaran yang dikirim oleh para penggemar Eleanor untuk menghabisi Gretta


Sayangnya, masyarakat hanya melihat jumlah orang yang dibunuh tanpa peduli bahwa kedua saudari Schnee berulang kali nyaris meregang nyawa karena para korban itu. Pada akhirnya Rery ditangkap oleh pihak hukum Istana atas tuduhan melakukan pembunuhan berantai dengan bukti kesaksian Eleanor yang menyaksikan secara langsung ketika orang tua angkatnya dibunuh kala itu, dan dia pun divonis hukuman mati


Kematian Rery membuat Edna semakin jatuh ke dalam jurang keputus-asaan yang dingin dan gelap. Hidupnya terasa tidak punya arti usai kehilangan keluarga, pengasuh, bahkan sahabatnya, dan itu semua....... Salah Eleanor.


Inilah yang membuat bab terakhir novel dimulai. Dendam Edna pada sang protagonis yang sudah menggunung membuatnya menyusun rencana untuk membunuh Eleanor yang merupakan akar dari segala masalah hidupnya. Gadis bersurai ungu itu yakin bahwa Kerajaan ini hanyalah tempat berkumpulnya para sampah dan Eleanor adalah sampah paling busuk yang harus dimusnahkan meski dia harus mengorbankan nyawanya sendiri.


Ah, mengingat kehidupan masa lalu membuat Edna harus menahan air matanya yang hendak turun lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Dia tidak boleh menangis lagi, menangis hanya buang-buang waktu dan waktu adalah hal paling terakhir yang bisa dia buang percuma


Rery melepas pelukan, dia memberi temannya tatapan bingung. "Kenapa tiba-tiba memelukku? Kemarin kita bertemu, kan?" tanya nya, tapi kemudian dia tersenyum jahil seraya menaikkan alisnya beberapa kali. "Jangan bilang kau sudah merindukanku? Hm? Hm? Akui saja kalau kau merindukan seorang Rery Barnard yang keren ini"


"... Iya, aku merindukanmu. Sangat." aku Edna jujur tanpa ragu, yang mana berhasil membuat bocah lelaki di depannya melongo.


Edna terkekeh pelan melihat ekspresi lucu temannya, dia menepuk pucuk kepala Rery pelan sekali. "Kenapa diam? Kau tidak percaya aku merindukanmu?" tanya nya


"A-Ahem, tentu saja a-aku percaya.. " Rery menggaruk pipinya yang terasa hangat dengan canggung, tidak terbiasa dengan perubahan sikap Edna yang tiba-tiba terbuka seperti ini. "Yah, siapa juga yang tidak akan merindukanku? Kau beruntung karena bisa langsung bertemu denganku begitu merindukanku"


Edna mengangguk-angguk dengan senyuman lembut. 'Rery selalu anak yang semanis ini. Penulis novelnya sudah gila karena membuat anak yang begitu manis seperti nya menjadi lelaki sinting kaki tangan bos antagonis' ucapnya pada dirinya sendiri dalam hati


"Oh ya, ini hadiahmu. Maaf karena lupa membawanya di pesta kemarin. Selamat ulang tahun, sahabat terbaik ku"


"Terima kasih, Rery. Atas semuanya" ucap Edna dari hatinya yang paling dalam, Rery terpangah sejenak melihat senyuman tulus Edna sebelum ikut tersenyum lebar seraya mengacungkan jempol


"Tidak masalah, kita kan teman"


Gretta mengangkat tangannya tinggi-tinggi, "Aku? Bagaimana denganku? Apa kak Rery juga temanku?"


"Tentu! Teman Edna berarti teman Gretta juga" balas Rery manis, berhasil membuat adik Edna tersebut meloncat kegirangan. "Wow, aku berteman dengan kak Rery!"


"Aku.... Juga ingin berteman dengan Edna dan Gretta"


Jeffrey menatap Edna penuh harap, aura bersinar khas karakter protagonis memancar keluar darinya dengan kuat sampai menyilaukan mata mereka yang melihat.


"Tidak mau. Tidak boleh" namun seperti yang bisa diprediksi, jawaban yang keluar dari gadis berambut ungu itu tidak lebih dari penolakan. Edna buru-buru menarik tangan Rery dan Gretta ke sudut ruangan dimana satu peti mainan nya berkumpul begitu muncul rasa kasihan melihat ekspresi sedih Jeffrey


Sophia menyentuh pundak Jeffrey prihatin, "Nona Edna biasanya baik kepada semua orang, hanya saja suasana hatinya sedang tidak bagus sejak pagi ini sehingga biarkan saya yang meminta maaf kepada tuan muda atas perlakuan nona saya"


"Aku tahu. Tidak perlu minta maaf, aku memahami Edna" Jeffrey membalas seraya tersenyum lembut, membuat sang pengasuh jadi semakin kasihan padanya. "Tuan muda... " gumam Sophia menatap sendu anak laki-laki yang menghampiri Edna itu


...*****...


"Selamat ulang tahun, Edna!"


Edna meniup lilin diiringi dengan tepuk tangan meriah dari beberapa tamu yang datang, gadis itu tersenyum manis ketika ayah dan ibunya mencium pipinya bergantian seraya mengucapkan selamat


"Potong kuenya, Edna" ucap salah satu tamu yang merupakan teman dekat ayahnya, Edna mengangguk antusias lalu secara reflek melirik ke arah para tamu yang datang hari ini


Sebenarnya, karena ada kesalahan penulisan tanggal lahir oleh dokter yang membantu ketika dia dilahirkan, Edna jadi mempunyai dua tanggal lahir, yakni tanggal 7 dan 8 Desember


Dia terlahir di tanggal 8 Desember, namun surat-surat resmi mencatat tanggal 7 sebagai tanggal kelahiran nya. Kemarin keluarganya sudah mengadakan pesta ulang tahun resmi, dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka kembali merayakan ulang tahun nya hari ini meski acara dibuat lebih sederhana dan hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat


Harusnya sih begitu... Sebelum Edna mengenali tamu-tamu penting yang tidak seharusnya datang ke pesta 'sederhana' nya berdiri membaur seraya bertepuk tangan. Dia mengerutkan kening dalam-dalam berusaha mengingat berbagai macam peristiwa penting yang terjadi di sekitar hari ulang tahunnya dulu


'Ingat baik-baik, Edna! Kau harus mengingat nya supaya bisa mengubah masa depan!' pikir Edna, namun mau seberapa dalam dia menggali, tidak ada apapun hal khusus yang ada di memorinya hari ini


"Terima kasih saya ucapkan kepada para tamu yang datang ke pesta ulang tahun putri saya hari ini..."


Edna mengabaikan ibunya yang memberi sambutan kepada para tamu karena terlalu sibuk memeras memori yang berhubungan dengan kehadiran para bangsawan penting di pesta hari ini. Sadar jelas mereka tidak mungkin datang untuk sekedar merayakan ulang tahunnya


'Pasti ada sesuatu yang kulupakan....' pikirnya cemas, dia mengurutkan segala kejadian yang terjadi pada 'hari ini' dan secara spontan melotot lebar ketika sepotong ingatan yang sempat hilang tadi akhirnya kembali ke tempat asalnya dan menjawab pertanyaan nya tentang alasan kenapa orang-orang itu datang


'Hari ini hari pertunanganku dengan Jeffery'


"Saya ingin mengumumkan secara resmi pertunangan putri sulung saya yang genap berusia 10 tahun hari ini, Edna Schnee dengan putra keluarga Diven, Jeffrey Diven"


Sayangnya, ingatan masa lalu Edna kembali datang di saat semuanya sudah terlambat.


 


To be continued...


(*) Bonus


"Hei, kau!" Rery menghentikan Jeffrey ketika mereka berjalan menuju aula utama untuk merayakan ulang tahun Edna. "Perkenalkan, namaku Rery Barnard. Aku teman baik Edna, jadi aku tahu banyak tentangnya"


Alis Jeffrey mengerut, "Lalu?"


"Kalau kau ingin berteman dengan Edna, kau bisa berteman denganku dulu lalu-"


"Tidak perlu. Aku hanya ingin berteman dengan Edna dan adiknya" potong Jeffrey dingin lalu berbalik tak acuh, meninggalkan Rery termangu syok dengan perubahan sifat anak itu yang sangat drastis begitu tidak ada Edna di sekitar mereka