
Usai acaranya diresmikan oleh sang Ibu, Genio duduk bersama beberapa anak lain. Mereka sibuk memujinya dan berharap bisa dekat dengannya, tapi sang Pangeran malah sibuk celingukan mencari seseorang
Dia lalu berdecak pelan, tidak suka dengan banyaknya orang yang mempunyai warna rambut hitam disini karena mereka membuatnya jadi kesulitan menemukan gadis itu.
"Apa terjadi sesuatu, Yang Mulia?" seorang anak perempuan yang duduk di meja yang sama bertanya bingung, Genio menoleh dan menghela napas. Gadis ini juga berambut hitam, tapi dia kalah cantik jauh dengan si mata ungu
"Yang Mulia...?"
"Tidak apa-apa" balas Genio seraya tersenyum sekilas, dia mengangkat cangkir tehnya seraya menunggu waktu yang pas untuk meninggalkan meja dengan sopan dan mencari gadis bermata ungu tadi
Beberapa anak mencoba untuk mengobrol dengan sang Pangeran menggunakan berbagai topik yang bisa mereka temukan, tapi Genio sama sekali tidak tertarik dan hanya merespon seperlunya supaya tidak ada yang menyebutnya sebagai Pangeran yang buruk
"Yang Mulia, baru-baru ini ayah saya mengembangkan—"
"Dimana Jeffrey Diven?" Genio memotong ucapan salah satu tamunya ketika baru menyadari bahwa kursi yang seharusnya diduduki oleh kakaknya kosong. Para tamu saling melirik sebelum salah satu diantara mereka menjawab
"Tuan Diven sudah meninggalkan kursinya cukup lama, Yang Mulia"
"Benar, sepertinya anda tidak tahu, tapi tuan Diven tiba-tiba beranjak pergi setelah melihat ke suatu arah cukup lama dan belum kembali lagi hingga saat ini"
Genio mengerutkan kening dan seorang anak dengan poni yang menutupi wajahnya angkat bicara meski dengan sedikit gagap karena terlalu gugup
"Se-Sepertinya du-duke muda terlibat pe-pertengkaran di meja itu tadi, Ya-Yang Mulia" ucapnya seraya menunjuk ke suatu meja
'Pertengkaran? Kak Jeffrey yang baik hati itu?' batin sang Pangeran bingung, tapi kemudian dia menyadari bahwa ini mungkin satu-satunya kesempatannya untuk pergi, dan dia pun memanfaatkan nya sebaik mungkin
"Ah.bagaimana.ini.?.Aku.sangat.khawatir~Sepertinya.aku.harus.mencari.Jeffrey.Diven.sekarang.juga" Genio berakting dengan suara yang kaku, dia memasang ekspresi khawatir yang terlihat sekali palsu, meninggalkan tamunya tanpa pilihan selain mempersilakan dia untuk pergi
"Kalau begitu dengan berat hati saya undur diri dulu" ucap sang Pangeran dengan senyuman lebar sebelum turun dari kursi
"Saya akan menemani anda-"
Genio yang hendak pergi mengangkat tangan menghentikan siapapun yang ingin ikut itu. Tanpa menoleh dia berkata, "Tidak perlu. Ini sudah tugasku sebagai Pangeran sekaligus tuan rumah pesta hari ini. Kalian para tamu cukup nikmati pestanya saja sudah sangat membantuku"
Setelah berhasil berjalan cukup jauh dari mereka, sang Pangeran Mahkota tersenyum bangga pada akting yang menurutnya hebat tadi. "Mereka semua pasti tertipu hehe" kekehnya senang
Genio menoleh ke kanan dan kiri, mencari gadis bermata amethyst itu. Dia sepertinya harus berterima kasih pada Jeffrey nanti, berkatnya Genio bisa pergi dari meja tanpa harus dimarahi ibu karena meninggalkan tamu nanti
"Dimana dia?" gumamnya penasaran sambil terus berjalan. Masih sibuk memperhatikan para tamu wanita berambut hitam, dari kejauhan seorang anak lelaki berlari menghampirinya dengan buru-buru
"Pangeran! Tolong kami, Pangeran. Haah... A-Ada seseorang yang memukuli kami dengan tongkat kayu!" lapor anak itu panik seraya mengatur napasnya yang tidak teratur akibat berlari
Kening Genio berkerut dalam. "Apa? Siapa? Dimana? Tunjukkan padaku arahnya. Berani sekali melukai tamuku di pesta tehku?!" sungutnya marah, anak tadi mengangguk cepat dan mereka pun bergegas menuju ke suatu tempat
"Itu dia yang melukai kami, Yang Mulia! Tolong hukum dia!"
Genio menatap sosok yang berdiri memunggungi nya, dan dia kontan dibuat membeku sebab merasa seperti dapat mengenalinya, "Oh, kau... Si cantik...?" tebaknya seiring dengan orang itu menoleh ke arahnya.
"Ng?"
Dengan kening berkerut gadis yang disebut cantik itu, Gretta Schnee, menoleh ke belakang. Ada dua anak laki-laki berdiri menatapnya, tapi fokus nya mengarah pada salah satu diantara mereka yang rambut pirang yang langsung tersentak takut ketika bertatapan dengannya
"Dasar pengecut." desis Gretta kesal, membuat anak itu bergegas sembunyi dibalik punggung sang Pangeran
"Li-Lihat itu! Berani sekali dia memelototi anda!" tuduh si pirang seraya menunjuk Gretta, dia berteriak panik ketika gadis bermata ungu itu bergerak mendekat padanya. "Ja-Jangan mendekat!"
"Aku tidak melotot pada dia, aku melihatmu tahu." balas Gretta seraya mengangkat tongkat kayu di tangannya untuk menakuti anak itu.
"Hei, apa itu artinya kau mengabaikanku?"
Berdecak, Gretta akhirnya melirik ke arah anak lelaki berambut hitam disebelahnya. "Kalau iya kenapa memangnya? Kau mau marah lalu bertengkar denganku juga? Ayo kesini sekalian" tanya gadis itu menantang sambil melipat tangan di dada
"He-Hei, jaga nada bicaramu! Kau tidak tahu siapa ini?!"
"Siapa? Jangan bilang dia Pangeran berkuda putihmu? Pfft, lucu sekali" ejek Gretta seraya tertawa meremehkan, tapi ekspresinya berubah datar ketika si rambut pirang menyeringai dengan menyebalkan
"Benar, dia adalah Pangeran negeri ini. Yang Mulia Pangeran Mahkota Genio Hezky. Tamat sudah riwayatmu sekarang, gadis kasar"
".... Apa? Wah, ternyata kakak benar. Pangeran selalu datang terlambat" gadis bersurai hitam itu menggumam takjub, dia menatap Genio dari ujung kepala sampai ujung sepatu sebelum menggeleng pelan tanpa berkata apa-apa
Merasa dinilai dengan buruk oleh gadis yang menarik perhatian nya tadi, kening lelaki itu berkerut ketika dia bertanya dengan nada tersinggung. "Kenapa kau menggeleng? Kau menghinaku?"
"Tidak, hanya takjub saja karena kau benar-benar datang terlambat sama seperti Pangeran di buku dongeng" jawab Gretta jujur, dan seolah menuangkan minyak tanah dalam api yang sedang berkobar hebat, jawaban nya membuat Genio semakin kesal
"Aku tidak pernah terlambat seumur hidupku tahu! Sekali pun tidak!"
Gretta mengangkat bahu tak acuh, "Buktinya kau baru datang setelah aku memukul mereka semua. Bukankah itu namanya terlambat?" tanyanya santai
"Aku-" Genio ingin mengelak, tapi memang benar bahwa dia baru datang setelah gadis itu mengalahkan semua orang. Dia melirik anak berambut pirang di sebelahnya kesal karena telat memanggilnya sebelum memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Kau.. Berarti mengakui kalau sudah memukul tamuku?"
Ditanya begitu, adik Edna melirik ke balik punggungnya, arah seorang anak lelaki yang menunduk takut seraya memeluk erat sebuah buku. Gretta lalu bergeser sedikit untuk menutupi anak itu dari pandangan mereka sebelum berkacak pinggang pada Genio
"Benar. Aku yang memukul mereka" balasnya berani, membuat anak yang menunduk tadi diam-diam mendongak menatap punggungnya
Sebenarnya bagaimana Gretta bisa berakhir di situasi seperti ini? Penjelasannya cukup mudah. Ketika bertengkar dengan anak lain tadi, kakaknya yang sangat kesal beranjak pergi dan meninggalkan dia sendirian di meja
Gretta yang tidak ingin ditinggal pun sontak bergerak cepat mengejar Edna, namun sepertinya karena terlalu terburu-buru, gadis itu tidak sengaja menginjak ujung gaun nya sendiri dan terdorong ke arah depan nyaris terjatuh. Kemudian ketika hendak mengejar sang kakak lagi, samar-samar ada suara seseorang yang menarik perhatian nya
Suara itu adalah suara anak rambut pirang itu dengan kawan-kawannya sedang merisak seorang anak laki-laki hanya karena dia bermata merah. Gretta yang sering diingatkan sang kakak untuk tidak menyakiti orang tanpa alasan pun meminta mereka untuk berhenti
Namun anak-anak itu meremehkan nya, bahkan menantang bertarung dan memberikan tongkat kayu sebagai senjata karena mereka 'kasihan'. Awalnya mereka maju untuk sekedar menggertak, tapi semuanya berakhir pingsan karena dipukul sungguhan oleh Gretta yang kesal dengan menggunakan teknik berpedang ajaran sir John
Salah satu diantara mereka, si pirang, bangun dari pingsan ketika Gretta menolong korban sesungguhnya. Dia kemudian melarikan diri, namun bukan untuk menyelamatkan dirinya, dia kabur guna mencari orang kuat yang bisa membalaskan dendam kepada Gretta.
Pas sekali, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Pangeran Genio yang sedang lewat, dan disinilah mereka sekarang
"Aku tidak mengizinkanmu memukul mereka tanpa alasan. Mereka adalah tamuku-"
"Aku tidak butuh izinmu untuk memukul mereka." Gretta memotong ucapan sang Pangeran tanpa peduli lelaki itu akan marah padanya atau tidak. "Lagipula aku punya alasan yang jelas"
"Apa?"
"Mereka sudah menyakiti orang yang tidak bersalah tanpa alasan, dan aku menghukum mereka karena itu" ucapnya, Genio mengerutkan kening lalu menoleh ke sebelahnya meminta penjelasan
Panik nyaris ketahuan, si pirang menunjuk-nunjuk Gretta seraya berseru. "Dia berbohong! Jangan percaya gadis kasar itu, Yang Mulia! Dia yang tiba-tiba memukul kami padahal kami hanya bercanda dengan seorang teman!"
"Bercanda?" Gretta bertanya, ekspresi nya terlihat kesal. "Kalian sepertinya memang harus dihukum lebih keras karena sudah merasa tindakan tercela yang kalian lakukan itu sebagai candaan"
"Tindakan tercela bagai-" Genio tidak bisa melengkapi ucapannya sebab sibuk menghindari ayunan tongkat dari Gretta yang tiba-tiba bergerak cepat menyerangnya.
"Tu-Tunggu, kenapa kau menyerangku?!"
"Kau datang bersama si pirang jadi aku akan menganggapmu sebagai salah satu diantara anak nakal itu" balas Gretta, mata ungunya yang tadinya terlihat indah jadi mengerikan di mata Genio seiring gadis itu menatapnya lurus dengan tajam
"Anak nakal harus dipukul supaya sadar. Ayo maju sini lawan aku, dasar pangeran perisak"
"Haaah... Padahal aku mencarimu bukan untuk ini, tapi jangan menangis kalau kalah"
Genio mengambil satu tongkat kayu yang lebih panjang dari milik Gretta, dia memasang kuda-kuda penuh waspada sebelum berlari kencang menyerang balik
...*****...
Di tengah sinar matahari yang terik, sudah cukup lama Edna melihat dalam diam gadis-gadis itu merundung Eleanor. Mulai dari mereka yang awalnya sekedar berbicara kasar dan mengancam nya, sampai kini beberapa dari mereka dengan berani menjambak rambut Eleanor dan menarik-narik gaunnya
"Haruskah aku menolongnya?" gumam Edna yang kesekian kalinya, tapi sama seperti sebelumnya, dia tidak bergerak maju sama sekali. Jujur, Edna bukannya tidak mau menolong karena menikmati Eleanor disiksa oleh orang lain, dia sebenarnya takut sebab segala yang berhubungan dengan Eleanor selama ini tidak pernah berakhir baik baginya
"Tidak, ayo pergi saja. Dia akar dari segala tragedi di masa lalu jadi menolongnya tidak akan ada manfaatnya sama sekali." putus Edna menggumam pada dirinya sendiri, dia menatap aksi perundungan itu sebentar sebelum berbalik memunggungi mereka seraya mengangguk pelan. "Yang penting keluargaku tidak ikut-ikut.. "
Eleanor mendongak, melihat ada seorang gadis dengan gaun ungu berdiri memunggungi arahnya. "To-Tolong aku.." mohonnya pada gadis itu
"Jangan berbalik, Edna. Jalan terus dan lupakan kejadian ini" Edna mengeraskan hati kecilnya yang ingin menolong Eleanor sebelum melangkahkan kakinya pergi dengan berat
"Lihat? Tidak akan ada yang mau menolongmu hahaha"
"Dasar gadis tolol"
Eleanor menunduk sedih, diam saja ketika kepalanya didorong-dorong dengan jari telunjuk oleh para gadis itu. Percuma melawan, mereka adalah anak-anak bangsawan besar sedangkan dia hanya anak yang baru diadopsi seorang Viscount. Dia tidak bisa merepotkan orang tua barunya hanya karena masalah sepele seperti ini
Dari sejak pamannya masih hidup, ada banyak orang yang iri pada pertemanan nya dengan Pangeran Genio. Mereka yang tidak bisa berteman dengan sang Pangeran meski merupakan bangsawan besar selalu meluapkan emosinya pada dia yang dulu hanya anak mantan baron
Awalnya Eleanor menolak dan melawan, tetapi kemudian dia menyadari bahwa ini hanya akan membuat masalah lain bagi sang paman begitu anak-anak itu mengadu pada orangtua mereka sehingga dia terpaksa menerima pukulan demi pukulan sambil berharap ini cepat berlalu
'Aku ingin pulang... '
"Aku akan menghancurkanmu sampai kau tidak akan berani mendekati Pangeran Genio kami lagi"
Seorang gadis berkuncir dua mengangkat tangannya tinggi-tinggi, Eleanor menutup matanya bersiap terkena tamparan anak itu yang pasti akan terasa sangat menyakitkan
Satu.. Dua.... Tiga...
Gadis bersurai hitam itu menghitung dalam hati dan menunggu, beberapa saat berlalu namun tamparan itu tidak datang juga
"Jika anda harus menyakiti orang lain lebih dulu untuk merasa kuat, anda adalah individu yang sangat lemah." ucap seseorang yang membuat Eleanor mendongak dan membuka matanya dengan cepat. Gadis bergaun ungu yang dilihatnya pergi tadi kini sedang memegang erat tangan gadis jahat yang hendak memukul Eleanor
"A-Apa yang kau lakukan?!" sentak si perundung kesal sementara Edna hanya memutar mata malas
"Kau tidak mengerti maksudku ya? Kubilang, kalau menyakiti orang lain supaya terlihat kuat itu tandanya kau ini pengecut" jelas gadis bersurai ungu itu dengan bahasa non formal
"Ck, lepaskan tanganku!"
Edna menurut, dia melepaskan tangan gadis perundung itu sambil sedikit mendorongnya ke belakang seandainya mereka meraih Eleanor yang masih terdiam dengan kepala mendongak
"Hei, kau gila ya?! Kau tahu apa yang sedang kau lakukan sekarang?!"
"Hei, biar kuberi tahu sesuatu seandainya kalian masih belum paham arah ucapanku tadi. Lebih baik tidak menjadi apa-apa daripada menjadi orang jahat yang dibenci banyak orang" ucap Edna memberi nasihat dari hatinya yang paling dalam. Para pengganggu ini sangat mengingatkan dia akan dirinya sendiri di kehidupan kedua, bahkan ajaibnya kalimat yang mereka katakan barusan adalah kalimat yang Edna katakan di masa depan ketika menyiksa Eleanor
Karena itu dia ingin menghentikan mereka berubah menjadi sepertinya dulu. Lebih baik menjadi karakter sampingan yang hidupnya biasa namun terjamin, daripada berada di alur utama sebagai karakter jahat yang penuh tragedi
"Memangnya kau ini siapa berani mengatur kami?! Kau tahu siapa orang tua kami hah?!"
"Siapa aku atau kalian itu tidak penting, sekarang pergilah dan kalian akan berterima kasih padaku di masa depan karena sudah menyuruh kalian pulang sekarang" Edna mengibaskan tangan mengusir, diam-diam matanya melirik ke arah Eleanor sebelum membatin
'Jangan salah paham, aku sama sekali tidak mau berurusan denganmu. Dan aku tidak sedang menolongmu, aku menolong gadis-gadis ini darimu'
Tanpa Edna sadari, para gadis yang dia usir bukannya menurut malah terlihat semakin kesal padanya. Mereka melihat ke arah sekitar dan menemukan beberapa batu kecil diantara rumput
Seolah saling mengerti, para gadis itu menyeringai lalu membungkuk untuk mengambilnya
"Kau pikir kami takut dengan ancaman mu?! Paling kau hanya anak bangsawan rendahan yang ingin sok menakut-nakuti kita"
"Begitu?" Edna maju mendekati mereka yang langsung reflek mundur beberapa langkah, dia lalu membungkuk sedikit dan menunjuk ke arah dahinya. "Lempar sini, aku tantang kalian. Jangan sampai meleset karena aku tidak mungkin meleset waktu membalas kalian nanti"
'Aku tidak seharusnya memprovokasi anak kecil seperti ini, tapi mereka tidak akan pergi kalau tidak seperti ini' batin Edna seraya menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi
Tapi tiba-tiba saja, Eleanor yang tadinya bersembunyi dibalik tubuh Edna berlari ke depan dan ganti menutupi gadis itu. "Tidak! Jangan sakiti kakak ini!" serunya dengan merentangkan kedua tangan
Edna sempat merasa tindakan Eleanor itu konyol karena tangannya sendiri saja sudah gemetar ketakutan tapi masih sok melindungi orang lain, kemudian dia teringat bahwa gadis bersurai hitam itu adalah tokoh protagonis yang diatur oleh penulis untuk baik hati dan gemar melindungi orang lain
"Ka-Kalian pukul saja aku, biarkan kakak ini pergi." ucap Eleanor dengan suara bergetar yang berusaha dia buat tegas. "Urusan kalian dengan aku, bukan dia"
"Ha! Apa boleh buat! Kami akan mengijinkannya pergi tanpa terluka" ucap salah satu diantara mereka, nada suaranya yang sombong membuat Edna reflek tertawa geli
"Beraninya kau mentertawakan kami!"
"Hahaha... Habisnya kalian lucu sekali. Kalian mau melepaskan aku tanpa terluka? Harusnya aku yang berkata begitu" sambil membalas seperti itu, Edna mengambil sebuah batu yang ukurannya lebih besar dari batu mereka. "Selain itu, daripada saling melepaskan sekarang lebih baik kita mulai saja. Aku baru saja punya batu"
"Ta-Tapi kak!—"
Edna mendorong pelan pundak Eleanor minggir ke samping, mata ungunya berkilat tajam menatap sang tokoh utama. "Kalau kau takut, diam di pinggir dan jangan bertindak konyol" peringatnya sebelum menatap para perundung seraya melempar-lempar kecil batu di tangannya
"Nah, ayo maju. Kita selesaikan sekarang juga karena aku masih harus mencari adikku"
"Ka-Kau pikir kami takut?! Serang dia!"
Mereka melempar tiga batu sekaligus, namun dua batu meleset sementara yang satunya berhasil ditepis oleh tangan kiri Edna dengan mudah
"Sudah? Kubilang jangan meleset 'kan" ledek Edna seraya menyeringai, dia lalu mengambil ancang-ancang sementara para gadis tadi mundur selangkah ketakutan. "Sekarang giliranku ya, hehe"
"... Tunggu! Ka-Kau curang! Batumu lebih besar daripada kami!"
"Salah sendiri ambil batu kecil" balas Edna pendek, dia menggerakkan tangan kanannya ke depan sedikit untuk menggertak namun mereka sudah berlari menjauh untuk menyelamatkan diri
"Awas kau ya rambut ungu!! Kami akan membalasmu nanti!"
"Lihat saja nanti! Ayahku pasti akan menemukanmu!
"Ck, penakut begitu sok merisak orang" Edna mendengus pelan lalu membuang batu di tangannya kembali ke tanah, dia menoleh ke samping saat merasakan ada yang terus menatapnya
"Wah... Mereka langsung pergi. Kakak keren sekali" ucap Eleanor kagum dengan mata berbinar-binar. "Biasanya mereka tidak akan pergi sebelum Pangeran datang jadi aku harus bertahan cukup lama"
".... Kau tidak perlu menunggu Pangeran kalau kuat" balas Edna seraya mengalihkan pandangan. Di kehidupan kedua Eleanor memang menyebalkan, tapi sekarang dia hanya anak perempuan yang tidak berdaya tanpa Genio. Melihatnya membuat Edna jadi membayangkan Gretta yang dirisak orang dan menunggu bantuan Pangeran yang tidak akan pernah datang untuknya, dan itu menyakiti hati Edna
"Kakak!"
Mendengar suara familiar, Edna menoleh cepat ke sumber suara dan melihat Gretta sedang berjalan ke arahnya seraya menggandeng seorang anak lelaki. Gaun merahnya kotor terkena debu dan ada tongkat kayu di tangannya.
"Gretta! Dari mana saja kau?!" Edna bergegas menghampiri dengan khawatir, dia sempat melirik anak yang digandeng adiknya namun perhatiannya kembali fokus pada gaun Gretta. "Bajumu kotor sekali, apa kau sempat jatuh tadi?" tanya nya
"Tidak, aku tadi baru saja menghukum anak nakal yang menyakiti anak ini" balas Gretta seraya menarik anak itu supaya mendekat. "Omong-omong ternyata kakak benar, Pangeran itu tidak berguna sama sekali"
"... Apa maksudmu? Kau bertemu dengan Pangeran?" tanya Edna dengan kening berkerut, jantungnya berdebar kencang menanti jawaban. Namun sebelum Gretta menjawab, Eleanor memangil sebuah nama yang membuat perhatian semua orang teralihkan
"Kak Jeffrey!"
"Elle... dan Edna" Jeffrey sempat berhenti berjalan melihat Edna bersama Eleanor, tatapan matanya terlihat bingung namun dia terus mendekat dan berhenti di depan Edna
"Edna... Apa yang kau lakukan disini?"
"Ah, kakak itu menyelamatkanku!" celetuk Eleanor, "Tadi ada beberapa anak yang datang, tapi kakak ini sudah mengusir mereka semua!"
"O-Oh... Begitu ya" Jeffrey menggaruk rambutnya dengan canggung, matanya menatap Edna merasa bersalah sebelum ganti melirik kearah Gretta. "Lalu... Kenapa Gretta menggandeng Caelus?"
"Caelus?" Eleanor melihat ke arah anak yang dipanggil Gretta, dan terkejut karena baru melihat ada seseorang yang dia kenal disebelah nya. "Oh, benar ada Caelus! Kenapa diam saja daritadi? Wajahmu merah, apa itu bekas pukulan?" tanyanya
"Bukan! Tidak ada yang memukulnya karena aku sudah lebih dulu memukul mereka" sanggah Gretta, dia melihat Caelus dengan ekspresi bingung. "Ng? Kenapa wajahmu merah ya?? Apa ada yang diam-diam memukulmu?"
Caelus menggeleng, matanya menatap lekat tangannya yang digandeng Gretta. "A-Aku baik-baik saja" jawabnya dengan suara pelan
Edna mengamati situasi, kemudian menarik lepas gandengan adiknya dan menatap Jeffrey. "Kalian saling kenal?" tanya nya pura-pura tidak tahu
"Ah... Iya. Ini Eleanor Blume dan kembaran nya, Caelus Blume"
"Sebenarnya Ibu bilang mulai sekarang nama belakang kami bukan lagi Blume, tapi Eleanor Malhela dan Caelus Malhela kak"
".... Malhela? Bukankah itu nama paman dan bibi kita, iya kan kak?" tanya Gretta yang membuat Eleanor menaikkan alis senang
"Benarkah?"
'Ternyata anak ini kembaran Eleanor. Caelus blume... Aku harus waspada dengannya karena dia tidak ada di kehidupan kedua' batin Edna seraya memeluk adiknya dengan satu tangan. "Kalau begitu ganti kau yang lindungi mereka, aku dan Gretta akan pergi" ucapnya, dia terlalu sibuk dengan pikirannya tadi sampai tidak mendengar ucapan Gretta serta Eleanor
Jeffrey menahan satu tangan Edna saat dia hendak pergi. "Kau... Baik-baik saja? Eleanor bilang kau berhadapan dengan anak-anak yang suka merisak" tanya nya khawatir
"... Seperti yang terlihat" Edna menjawab sekenanya, menarik tangannya dari Jeffrey lalu berjalan menjauh bersama Gretta.
Dalam perjalanan menuju orang tua mereka, Edna teringat dia belum mendengar jawaban adiknya. "Omong-omong, Gretta. Kau belum menjawab pertanyaan kakak. Apa kau bertemu dengan Pangeran?" tanya nya lagi
Gretta mengangkat bahu tak acuh seraya menjawab, "Dia tidak ada apa-apanya"
----------------------------------------------
To be continued....
(*) Bonus pt. 1
"Astaga, Yang Mulia. Siapa yang sudah berani menyakiti anda seperti ini?" Lydia menatap khawatir pada Genio yang sedang diobati oleh dokter
Ditanya seperti itu, Genio menoleh ke arah si pirang yang juga menerima perawatan. "Siapa namanya?"
"Y-Ya? O-Oh, kalau tidak salah.... uh, siapa ya?..... Maaf, Yang Mulia. Saya tidak ingat"
"Ck, tidak berguna. Aku saja ingat siapa namanya" decak Genio malas, Lydia mengedip bingung lalu bertanya. "Siapa namanya, Yang Mulia?"
"Namanya... Gretta. Namanya cantik, seperti orangnya, hehe"
Melihat sang Pangeran tertawa sendiri seraya menyebut nama orang yang sudah menyakitinya, Lydia jadi semakin khawatir karena mungkin saja kepala anak itu ikut terkena pukulan tadi
"Lydia,"
"Ya, Yang Mulia. Apa anda ingin mencari anak bernama Gretta ini dan membuat keluhan resmi pada keluarganya?" tanya Lidya, si anak pirang mengangguk cepat
"Saya setuju, anda harus melaporkan keluarganya secepat mungkin!"
"Lebih baik kau diam atau aku yang akan melaporkan mu pada Raja karena sudah merisak salah satu tamuku" ancam Genio serius pada si pirang, dia lalu menatap pengasuhnya. "Aku tidak akan melaporkan Gretta"
"Lalu... Apa yang anda inginkan?"
"Cari dia, aku ingin bertemu dengannya lagi. Setelah itu aku akan meyakinkannya bahwa aku bukan Pangeran yang buruk seperti pikirannya"
"Baik. Tapi... Kenapa anda ingin merubah pikiran anak itu?"
"Kenapa? Dia orang pertama yang berani memukulku dan menyadarkanku kalau aku berada di pihak yang salah, aku menyukainya" ucap Genio seraya tersenyum lebar
(**) Bonus pt. 2
Jeffrey menatap tangan kanan yang dia gunakan untuk menghajar Cleon Bing tadi, ada luka di buku jari tangannya dan dia tahu Edna sempat melihat luka ini tadi secara sekilas.
Gadis itu tidak mengatakan apapun dan hanya menggandeng adiknya pergi, entah Jeffrey harus lega atau sedih dengan ini sebab ada sebagian dirinya yang ingin Edna khawatir padanya, tapi sebagian yang lain tidak ingin membuatnya khawatir
"Astaga, kakak terluka!" Eleanor terkesiap seraya menarik tangan Jeffrey pelan. "Kita harus segera mencari dokter"
"Tidak perlu, Elle. Aku bisa menerima perawatan saat pulang nanti." tolak Jeffrey halus, dia melepaskan tangannya dari Eleanor. "Selain itu, kau baik-baik saja? Bagaimana denganmu Caelus?"
Eleanor mengedip polos sebelum mengangguk bersamaan dengan kembarannya
"... Ini semua berkat kakak itu"
"Ini semua berkat anak itu.. "
Lelaki bermata biru itu terdiam sejenak dengan respon Caelus dan Eleanor, tak lama kemudian senyuman manisnya merekah. "Mereka orang yang baik ya? Aku senang kalian berkenalan dengan baik" balasnya
"Kakak sepertinya kenal mereka dengan baik ya?"
"Iya. Edna adalah tunanganku, dan Gretta sejak dulu-"
"Maaf mengganggu, tuan Jeffrey" seorang pelayan wanita menghampiri mereka, dan di sebelahnya ada seorang pria paruh baya yang Jeffrey kenali sebagai dokter yang bertugas merawat anggota keluarga kerajaan
"Kakak, bukankah tuan itu dokter?" tanya Eleanor dengan suara pelan, dibalas anggukan oleh anak lelaki disebelahnya
"Apa terjadi sesuatu pada Genio?" tanya Jeffrey pada sang dokter. Ini memang jarang terjadi, tapi biasanya ketika sedang sakit yang cukup parah Genio selalu memerintah orang untuk memanggil Jeffrey supaya menemaninya
"Ah, iya. Tuan Genio terluka sedikit karena berselisih dengan seorang anak, tapi beliau baik-baik saja dan sudah menerima perawatan"
"... Lalu?"
Ditanya begitu oleh Jeffrey, si pelayan tampak bingung. "Bukankah anda tadi memerintah seorang Lady untuk memanggilkan anda dokter karena tangan anda terluka?"
"Aku yang meminta?" tanya Jeffrey lagi dengan bingung, "Siapa gadis yang menyuruhmu begitu?"
"Ah, saya kurang tahu siapa namanya tapi Lady ini memiliki rambut berwarna ungu dan dia berjalan bersama seseorang gadis lebih kecil yang sepertinya adiknya"
"Oh! Kakak itu! Bukankah rambut kakak yang baik itu berwarna ungu, kak Jeff? Siapa namanya... Kak Edna?" tebak Eleanor senang, dia mendongak ketika tidak mendapat respon dan ternyata Jeffrey sedang menahan senyum dengan telinga yang memerah
"Edna peduli padaku... " gumam lelaki itu senang, Eleanor menoleh pada kembarannya dan bertanya apa yang salah dengan Jeffrey tanpa suara dan Caelus hanya mengangkat bahu tidak tahu
"Apa Lady tadi hanya iseng, tuan Jeffrey?" tanya sang Dokter ikut bingung, Jeffrey mengedip cepat sebelum menggeleng semangat.
"Dia benar, tangan saya sakit" balasnya sambil tersenyum lebar. Jeffrey kemudian menyodorkan tangannya pada mereka dengan senang hati, "Tolong obati tangan saya sekarang tuan dokter, hehe"
Sementara itu, Edna menghela napas panjang seraya menatap adiknya yang sedang memakan kue
"Dasar gila, kenapa aku khawatir dan memanggil dokter tadi?" gumamnya pelan seraya menggeleng, tidak paham dengan dirinya sendiri.