
Sendagilea.
Edna terus membuat lingkaran dengan pena nya di kata itu. Dia lalu menghela napas panjang dan melemparkan penanya
Sedagilea adalah nama dari tanaman obat sekaligus bahan utama dan paling penting dalam pembuatan obat léčitel.
Di kehidupan kedua, setelah banyak orang tahu bahwa tanaman ini bisa menyembuhkan penyakit yang seperti kutukan itu, ada banyak orang mulai menanam dan mencari tanaman ini meski tidak bisa mengolahnya. Tapi sekarang Sendagilea yang masih hidup tidak bisa ditemukan dimana pun, entah itu di toko tanaman maupun apotek.
Apotek hanya menyediakan Sendagilea dalam kondisi sudah dikeringkan maupun menjadi bubuk sebab mereka hanya mengetahui tanaman ini bagus untuk menyembuhkan flu
Edna memerlukan banyak Sendagilea yang masih hidup dan berada di dalam pot karena itu adalah salah satu ketentuan yang harus dipenuhi jika ingin mengekstrak tanaman ini. Proses pengolahan nya sangat rumit dan tidak boleh salah langkah sedikitpun atau obat itu malah bisa menjadi racun bagi penderita blue spider lily.
Pusing takut tidak bisa membuat léčitel untuk Duchess Diven, gadis berambut ungu itu memutuskan untuk mencari suasana baru sebentar dengan pergi mencari Gretta di ruang bermain
".... Ng? Dimana Gretta?"
Tidak seperti biasanya, Gretta tidak ada disana ketika Edna membuka pintu. Buku dongeng kesukaan anak itu juga masih tersusun rapi di rak yang berarti adiknya sama sekali tidak kesini sejak pagi. Lalu dimana dia?
"Nona Gretta pergi berlatih pedang, nona"
Gadis bersurai ungu itu tersentak kaget, menoleh ke arah Sophia yang ada di belakangnya. "O-Oh.. Begitu. Tapi bukankah tidak ada jadwal berlatih hari ini?"
"Nona Gretta meminta jadwal berlatih pedangnya ditambah karena bosan sendirian ketika anda pergi ke kelas privat," balas Sophia, dia memiringkan kepala seraya menatap atas untuk mengingat sesuatu, "Selain itu seingat saya nona Gretta berkata ingin melindungi orang-orang yang ditindas sehingga dia harus sering latihan berpedang"
'Orang-orang yang ditindas... Caelus Blume maksudnya?' batin Edna dengan kening berkerut tidak suka. "Kalau begitu aku akan pergi ke Gretta" putusnya
"Nona Edna," Sophia memanggil ketika sang nona melewatinya
"Apa?"
"Nyonya berkata sebentar lagi tuan Jeffrey akan berulang tahun dan beliau ingin tahu apa yang akan anda berikan sebagai hadiah untuknya"
Edna menatap pengasuhnya lalu menjawab sekenanya. "Entahlah, belum terpikirkan"
"Nyonya berkata jika anda belum memikirkannya, mulai pikirkan sekarang karena ulang tahun tuan Jeffrey tidak lama lagi" respon Sophia cepat seolah menduga dia akan membalas seperti itu
"Kapan ibu berkata seperti itu?" tanya gadis bersurai ungu itu curiga, Sophia mengamati ekspresi nonanya lalu tertawa pelan.
"Kenapa kau tertawa? Jangan bilang itu bukan ucapan Ibu tapi darimu sendiri?"
Sambil masih tertawa, Sophia mendekat lalu mengusap rambut Edna. "Marchioness sungguh mengatakannya sendiri pada saya saat hendak pergi bekerja pagi ini, nona. Lagipula semua orang di mansion ini sudah tahu bahwa anda tidak menyukai tuan Jeffrey, jadi bukan hal aneh apabila ibunda anda dapat menebak respon anda" jelasnya
'Hm, aneh. Kalau semua orang disini saja sudah tahu jika aku setidak suka itu pada Jeffrey, tapi kenapa Jeffrey sendiri terlihat tidak menyadarinya? Dia bahkan bukan orang yang bodoh, atau kepekaan nya akan sekitar yang sangat buruk?'
"Tuan Jeffrey sendiri mungkin sudah mengetahuinya juga namun memilih untuk pura-pura tidak tahu karena menyukai anda, nona" Sophia membalas pertanyaan di kepala Edna seolah dia bisa membaca pikirannya.
Mata Edna melotot lebar seiring dengan bulu kuduk di tangannya berdiri merinding
"Sophia... "
"Ya, nona?"
"... Kau ini kenapa? Jangan bicara hal yang menakutkan seperti itu. Jeffrey Diven menyukaiku? Astaga, aku merinding membayangkannya"
"Tapi itu benar, nona. Anda saja yang tidak menyadarinya"
"Tidak, tidak. Kalian yang salah sangka" Edna menggeleng seraya berjalan pergi, dia menambahkan dalam hati, 'Jeffrey tidak akan menyukaiku. Dia bahkan terlihat sangat waspada saat melihatku bersama Eleanor waktu itu. Dia pasti takut aku melakukan sesuatu yang buruk pada gadis yang disukainya.'
Menurutnya semua tingkah aneh Jeffrey selama ini pasti ada alasannya yang sayangnya belum Edna ketahui, lelaki itu bisa saja bertingkah baik karena merencanakan sesuatu yang memanfaatkannya sama seperti dulu ketika Jeffrey memintanya untuk menyerahkan Gretta kepada Kerajaan
"Sayang sekali Duchess harus melahirkan anak sepertinya.. " gumam Edna dengan rahang mengeras. Rasanya sangat menyebalkan membayangkan dirinya terbuai sikap baik Jeffrey sialan lalu harus jatuh tanpa daya ke titik terendah seperti sebelumnya
"Jadi kapan anda akan membeli kado untuk tuan Jeffrey, nona?" suara Sophia mengembalikan Edna ke kenyataan.
Gadis itu menarik napas panjang, berusaha melupakan rasa bencinya pada Jeffrey dengan mengingat betapa baik ibu lelaki itu. Meski anaknya sangat menyebalkan sampai ingin dia bunuh, namun fokusnya sekarang adalah membuat penawar bagi Duchess yang baik hati
"Kita pergi sekarang..... Membeli kado" jawab Edna setengah hati.
"Baik, akan segera saya siapkan kereta kuda dan segala keperluannya"
Melihat Sophia yang menjauh, Edna berkata pada dirinya sendiri untuk menggunakan kesempatan ini mencari Sendagilea dan mengambil satu benda acak sebagai kado Jeffrey karena bagaimana pun dia menggunakan alasan itu untuk keluar rumah hari ini.
...*****...
Kereta kuda yang ditumpangi Edna berhenti di jalan Caro, di area distrik Agorá yang merupakan daerah perbelanjaan terbesar yang berada di wilayah Schnee.
Di wilayah ini ada berbagai macam toko yang bisa dikunjungi, mulai dari kasino terbesar kedua di Kerajaan Hezky, toko-toko mewah yang sering menjadi favorit para bangsawan, restoran serta cafe terkenal bintang lima, dan juga banyak tempat perbelanjaan kelas menengah ke bawah yang bisa dikunjungi oleh rakyat biasa. Benar-benar tempat yang menyenangkan untuk melihat-lihat.
Turun dari kereta kuda, beberapa orang yang berada di jalan langsung menyapa seraya membungkuk hormat pada nona wilayah Schnee tersebut. Edna mengulas senyuman ramah pada mereka dan membawa kakinya lurus menuju toko bunga 'Kvetina'
"Selamat data- oh? Oh astaga, tuan Putri Edna." seorang wanita muda pemilik toko terkisap melihat siapa yang berada di depan pintu, dengan segera dia mendekat lalu memberi hormat. "Sa-Saya dengan rendah hati menyapa Putri Edna Schnee, putri sulung Marquis Jason Schnee. Nama saya Calista Belva, selamat datang di toko sederhana saya"
"Hm. Apa kau punya semua jenis tanaman disini?" tanya Edna langsung melewatkan basa-basi, Sophia melirik sang nona sekilas sebelum mengimbuhi
"Putri Edna ingin memberikan bunga cantik untuk hadiah ulang tahun tunangannya"
Mendengar itu, Calista tersenyum bersemangat karena menebak Edna pasti hendak membeli banyak dari tokonya. "Ah... Tentu. Meski terlihat sederhana seperti ini, hampir semua tanaman dapat anda temukan disini. Kalau berkenan, bunga seperti apa yang anda inginkan, tuan Putri?" tanya nya ramah
"Bukan bunga... Ah, tapi aku memang memerlukan bunganya... Tapi sepertinya tanaman itu bukan termasuk bunga" gumam Edna ragu yang masih dapat di dengar oleh si pemilik toko. Matanya berkeliling ke sekitar area toko bunga, "Sepertinya tanaman itu tidak akan ada disini.. "
"Jangan khawatir, tuan Putri. Tolong sebutkan saja apa yang anda butuhkan, saya percaya diri pasti ada di toko ini" Calista membalas percaya diri, menyembunyikan rasa paniknya. Akhir-akhir ini toko sedang sepi, dia tidak boleh sampai kehilangan Edna sebab apabila orang lain tahu dia melayani langsung tuan Putri pertama Edna Schnee yang jarang menunjukkan diri kepada publik, pasti akan ada banyak pelanggan yang datang ke tokonya
'Apapun jenis bunga yang diinginkan nya, pasti ada disini. Harus ada di toko ini' batin Calista bertekad.
Edna menatap datar wanita itu sebelum berkata, "Berikan aku tanaman Sendagilea yang masih hidup"
"Baik, bunga senda- maaf? Sepertinya saya salah mendengar tadi, apa boleh putri ucapkan sekali lagi?" Penjual bunga itu meragukan pendengaran nya
"Sendagilea. Tanaman, bukan termasuk bunga tapi aku juga memerlukan bunganya. Ada?" ucap Edna sekali lagi dengan sabar, Calista mengerutkan kening
"Sendagilea... Apa mungkin yang anda maksud tanaman yang sering dipakai untuk obat flu itu?" tanya nya bingung, setahunya Sendagilea itu tanaman obat untuk flu, jadi kenapa nona pertama ini ingin memberi tunangannya hadiah tanaman itu dari sekian banyak bunga yang cantik di dunia ini?
Edna menatap raut bingung Calista tanpa bicara selama beberapa saat kemudian berbalik
'Sepertinya saat ini masih tidak ada disini' batinnya seraya mengajak pengasuhnya untuk pergi. "Ayo pergi, Sophia"
"Tu-Tunggu, tuan Putri! Mungkin sekarang tidak ada, tapi saya bisa mencarinya dan memberikannya kepada anda!" seru Calista seraya berlutut. "Tolong percayakan pada saya, Putri Edna"
"Aku tidak punya banyak waktu" Edna membalas, menunduk menatap wanita itu. Karena sudah merubah alur cerita, dia tidak bisa menjamin kapan Ibu Jeffrey akan terkena penyakit itu. Bisa saja beberapa tahun lagi seperti novelnya, namun bisa juga minggu depan atau bahkan besok. Dia harus sesegera mungkin membuat léčitel sebelum menyesal lagi
"Akan saya cari secepat mungkin! Bila perlu, mulai sekarang saya akan memberikan semua waktu saya hanya untuk menemukan tanaman itu khusus untuk anda!"
Calista terlihat sangat putus asa memohon pada Edna supaya tidak pergi ke toko lain, dia bahkan nyaris saja sujud pada kaki Edna yang dihentikan langsung oleh Edna sendiri
"Cukup. Meski derajatku lebih tinggi darimu, usiamu lebih tua dariku. Sebagai yang lebih muda, merupakan hal yang tidak sopan apabila aku membiarkanmu mencium sepatuku" jelas Edna dengan ekspresi yang tetap datar namun berhasil membuat mata Calista berkaca-kaca
".. Ja-Jadi apa anda akan membiarkan saya melayani anda, tuan Putri?"
Sophia mengangkat alis tidak menyangka malah dia yang dipanggil oleh Edna, "Ya, nona Edna?"
"Lihatlah sekeliling dan rangkailah satu buket bunga paling cantik di toko ini"
"Baik, nona"
Edna melirik ke samping, dan setelah memastikan Sophia menjauh untuk mencari bunga, dia kembali menatap Calista. "Aku ingin bicara berdua denganmu" ucapnya
"Ah, baik! Mari pergi ke ruangan saya, tuan Putri" Calista bergegas berdiri dengan ekspresi cerah, "Ada di sebelah sini," ucapnya seraya berjalan lebih dulu
Sampai di sebuah ruangan yang katanya ruangan sang pemilik toko, tanpa repot untuk duduk di kursi yang disiapkan Calista khusus untuknya, Edna menatap serius wanita itu
"Calista Belva, dengar ucapanku baik-baik"
Calista menunduk patuh, "Baik, nona"
"Kau tidak akan menemukan sendagilea yang kuinginkan dimana pun di negara ini."
"A-Apa? Putri, saya pasti bisa-"
"Tidak ada. Setidaknya untuk sekarang."
"Lalu bagaimana ini... " ekspresi si pemilik toko bunga meredup
"Tidak ada disini bukan berarti tidak ada di tempat lain. Pergilah ke desa Nieuwe di Kerajaan Woestijn dan katakan bahwa kau membutuhkan tanaman Shërues untuk menyembuhkan kutukan gadis willow"
"S-Shë... Apa, tuan Putri?"
"Bahasa Woestijn yang berarti Sendagilea" jelas Edna yang membuat Calista mengangguk-angguk
"Lalu apa itu kutukan gadis willow?"
"... Kau cari tahu saja langsung pada orang sana"
"Baik. Sesegera mungkin saya akan pergi kesana untuk mencari Sendagilea untuk anda"
Edna mengangguk dengan mata yang mengamati si pemilik toko bunga yang sedang menulis informasi pemberiannya.
Calista Belva, pemilik toko bunga Kvetina ini di kehidupan kedua Edna adalah orang pertama yang berhasil membawa Sendagilea jauh-jauh dari Woestijn ke Kerajaan Hezky dalam kondisi hidup. Dulu, dia juga yang memberitahu Edna segala informasi mengenai blue spider lily termasuk bahwa tanaman ini merupakan bahan utama pembuatan obat untuk penyakit blue spider lily
Edna masih ingat jelas, Ibu Calista meninggal terkena penyakit yang sama dengan Duchess Diven, blue spider lily. Melihat ibunya yang kehilangan nyawa dengan mengenaskan membuat Calista dendam ingin melenyapkan penyakit itu dari bumi ini selamanya. Dia berkelana sendiri dari negara satu ke negara lain mencari penawar, sampai akhirnya berhenti di Woestijn
Dia kemudian mengetahui lagu rakyat desa Nieuwe, 'kutukan gadis willow' ternyata sangat persis dengan blue spider lily. Disana juga dia menemukan bahwa Sendagilea adalah jalan keluar dari penyakit itu.
Tanpa ragu Calista membawa semua pengetahuan dan tanaman itu pulang ke Kerajaan Hezky, berharap setelah ini tidak akan ada yang terkena penyakit blue spider lily. Namun tidak ada yang mempercayainya, sampai kemudian dia bertemu dengan salah satu bawahan Edna yang putus asa
'Di tahun ini harusnya ibu Calista Belva sudah terkena penyakit blue spider lily, namun mereka masih belum mengetahuinya karena belum parah'
"Tuan Putri Edna, kalau saya boleh tahu.. Kenapa anda ingin memberi tanaman ini untuk tunangan anda?" tanya Calista setelah selesai menyimpan rapi kertas informasi dari Edna
Kening Edna berkerut, "Ini bukan untuk tunangan ku" ucapnya. Edna mencari Sendagilea karena ingin menyelamatkan Duchess, bukan Jeffrey.
"Bukan? Lalu untuk siapa?"
"....."
".... Tuan Putri?"
Edna mengerjap cepat, segera berbalik memunggungi Calista. "Ada... Orang spesial untukku" balasnya seraya memegang tangan kanannya yang mendadak gemetar hebat
Ketika Calista membahas mengenai untuk siapa Sendagilea, tiba-tiba saja tadi Edna teringat Jeffrey yang berdiri di pemakaman Duchess tanpa payung di tengah hujan lebat dengan ekspresi kosong seolah nyawanya ikut tidak ada.
"Kalau sudah mengerti, aku akan pergi karena masih harus ke tempat lain" ucap Enda tanpa menoleh
"Ah, baik. Terima kasih telah memberi saya kehormatan dan kesempatan bekerja untuk anda."
"... Hm. Kau tidak perlu mengantarku keluar, bersiaplah saja untuk pergi karena aku tidak punya banyak waktu"
"Baik, tuan Putri. Kalau begitu izinkan saya mengucapkan selamat jalan pada anda, semoga hari anda penuh dengan kebahagiaan, Putri Edna Schnee" Calista membungkuk 90 derajat, Edna hanya mengibaskan tangannya sebelum berjalan cepat menghampiri Sophia
'Apa yang salah denganku tadi? Aku yakin mencari léčitel untuk Duchess semata karena beliau sudah seperti ibuku sendiri, tapi kenapa malah tiba-tiba teringat Jeffrey di pemakaman..? Dan kenapa aku tiba-tiba takut membayangkan harus melihat Jeffrey seperti itu lagi?' batin Edna seraya memukul pelan dada kirinya yang masih terasa sedikit ngilu setelah teringat kenangan itu
".... Sialan. Ini membuatku seperti aku ingin menyembuhkan ibunya karena tidak ingin melihatnya terluka"
----------------------------------------------
To be continued....
A/n : multimedia itu penggambaran visual dari Sendagilea ya... Di dunia kita Sendagilea nggak ada dan itu gambar bunga lain, tapi di dunia Edna wujudnya Sendagilea seperti itu
(*) Bonus
"Sophia,"
"Ya, nona Edna"
"... Dimana kau letakkan buket bunga yang kusuruh tadi? Aku tidak melihatnya dimana pun di kereta kuda ini" tanya Edna seraya melihat sekitar, Sophia mengerutkan kening bingung
"Tentu saja tidak ada disini, nona. Usai memilih tadi saya menyerahkannya pada pemilik toko sebagai contoh, dan memintanya untuk merangkainya dengan cantik untuk dikirim ke kediaman Diven sebagai salah satu hadiah ulang tahun tuan Jeffrey dari anda"
".... Apa? Aku tidak memintamu untuk... Astaga" Edna tidak meneruskan kata-katanya karena mendadak merasa pusing akan situasi ini.
"Apa ada masalah dengan bunganya, nona?"
"... Aku ingin memberi Gretta bunga yang cantik sebagai oleh-oleh karena dia merengek minta ikut tadi tapi malah kau kirim ke..."
"Astaga, saya tidak tahu itu! Be-Begini saja nona, karena belum berlalu satu hari, saya akan segera kembali ke toko bunga itu dan membatalkan pesanannya"
Edna menghela napas panjang, "Haah.. Tidak usah. Langit akan gelap ketika kita sampai rumah jadi bagaimana kau akan pergi kembali kesana? Lagipula bunganya pasti layu nanti jadi tinggal bilang saja pada Jeffrey untuk membuangnya"
".. Anu, nona. Sa-Saya tadi meminta pada pemilik toko untuk menambahkan ramuan sihir pengawet paling mahal supaya bunganya tetap segar... Saya minta maaf, nona"
Edna terdiam dengan mata melotot sementara Sophia menunduk serendah mungkin pada nona nya
"Tolong ampuni saya sekali saja, nona Edna"
".... Memang sudah sepantasnya aku memiliki pelayan pribadi dan bukannya pelayan pengasuhku"
"No-Nona Edna... "
*gambar Sendagilea*