I'M The Villainess Sister

I'M The Villainess Sister
Chapter 13 : Poison



E D N A


Hari ulang tahun Jeffrey semakin dekat, dan segala persiapan untuk membuat léčitel tidak mengalami kendala apapun.


Calista kemarin mengirim surat yang berisi dia sudah menemukan tanaman Sendagilea masih hidup di negara Woestijn dan akan segera membawakan-nya padaku. Selain itu, aku juga sudah mendapat tempat rahasia yang bisa kugunakan untuk meramu obat, Sophia yang merasa bersalah karena bertindak lancang pun berjanji tidak akan mengadu pada Ibu mengenai tempat ini. Benar-benar tidak ada masalah, dan itu malah membuatku jadi semakin was-was


Konon katanya semua yang berjalan terlalu lancar nantinya malah akan menimbulkan masalah yang sangat besar. Semoga saja tidak, aku harus menyelamatkan Duchess


Oh, soal buket bunga waktu itu, benar-benar tidak bisa dibatalkan karena Calista yang terlalu senang mendapat pesanan dariku bergerak cepat membungkusnya dan sekarang mungkin sudah ditengah perjalanan. Jarak antara wilayah Schnee dan Diven cukup jauh, bisa memakan berhari-hari untuk sampai disana apalagi jika perjalanan dimulai dari distrik Agorá yang bisa dikatakan berada di ujung Schnee sehingga sangat tidak memungkinkan untuk dibatalkan


Ck, jangan membuatku menjelaskan bagaimana Jeffrey bisa ke rumahku setiap hari kalau jaraknya sejauh itu. Si gila itu menggunakan gerbang teleportasi yang berharga nan mahal seolah itu pintu rumahnya sendiri hanya untuk pergi mengganggu kehidupanku


Gerbang teleportasi sejak dahulu digunakan oleh para bangsawan untuk akses cepat apabila Raja tiba-tiba memanggil mereka, juga digunakan jika ada Kerajaan lain yang menyerang suatu wilayah negara ini sehingga para bangsawan bisa cepat mengirimkan pasukan mereka untuk menolong wilayah itu.


Sekali lewat gerbang itu harganya sengaja dibuat mahal oleh sang Raja supaya tidak disalahgunakan, akan tetapi akhir-akhir ini kudengar dari Ibu bahwa para bangsawan mulai menggunakan gerbang ini untuk urusan pribadi usai mengetahui bahwa setahun terakhir seorang putra semata wayang dari bangsawan tinggi melewatinya nyaris setiap hari hanya untuk bertemu tunangannya


Benar, yang mereka maksud itu adalah si Jeffrey bodoh itu dan... Aku.


"Kunyuk itu sudah menodai nama baikku dan aku masih harus memberinya kado ulang tahun?" gerutuku pelan, menatap tanpa minat toko pena di depanku


Karena sudah terlanjur terjadi, aku mengizinkan Sophia untuk melapor pada Ibu mengenai buket bunga itu. Kupikir Ibu akan berhenti jika tahu aku sudah menghadiahkan Jeffrey bunga cantik yang dilindungi sihir pengawet mahal, tapi ternyata beliau berkata hadiahnya masih kurang


"Kau hanya memberi putra seorang Duke yang juga merupakan tunanganmu sebuket bunga sebagai hadiah hari kelahirannya?! Apalagi belinya di toko yang tidak terlalu terkenal! Edna Schnee, cepat beli kado lain yang lebih bagus dan mahal!"


Hahhh... Rasanya aku masih bisa mendengar suara omelan Ibu waktu itu. Dan ya, oleh sebab itulah aku berada di toko pena yang sangat terkenal sekarang, mencari hadiah lain


"Selamat datang, putri Edna"


"Hm. Tunjukkan padaku pena paling mahal di toko ini" ucapku langsung karena malas membuang waktu untuk memilih hadiah. Beli saja yang paling mahal lalu cepat pergi ke tempat rahasiaku


"Baik, tolong tunggu sebentar disini. Pelayan saya akan segera membawakan nya kesini"


Aku mengangguk, duduk di ruang tunggu toko sementara mereka menyiapkan barang. Beberapa pelayan menawariku minuman dan kue ringan, tapi aku menolaknya


"Saya minta maaf karena sudah membuat anda menunggu lama, tuan putri" Si pemilik toko muncul tak lama kemudian, di belakangnya seorang pelayan bergerak ke arahku sambil membawa sebuah kotak


Kotak dibuka, dan sebuah pena cantik yang terbuat dari batu amethyst lengkap dengan tempatnya yang juga merupakan batu amethyst alami terlihat


"Bagaimana menurut anda? Pena ini merupakan edisi terbatas toko kami dan hanya ada 40 biji di dunia ini. Apa anda berkenan dengan pena itu, putri Edna?"


Aku mengalihkan pandangan saat suara pemilik toko terdengar, "Berapa harganya ini?" tanyaku. Kalau tidak begitu mahal, aku akan membelinya untuk diriku sendiri


"Pena ini dibuat oleh perajin dengan hati-hati sepenuh hati menggunakan batu kristal amethyst kualitas terbaik di Kerajaan Hezky sehingga harganya cukup mahal. Yaitu 10 juta pound, nona"


10 juta? Harga yang tidak masuk akal untuk sebuah pena meski kuakui pena ini sangat menarik perhatian, dan juga pena ini lebih mahal daripada manset 8 juta yang sempat kulihat tadi. Membeli ini untuk kado sepertinya ibarat sekali tepuk dapat dua nyamuk, ibu tidak marah karena bukan barang murahan, dan penanya berguna juga untuk si bodoh itu daripada manset


"Bagaimana, nona? Apakah anda akan membelinya untuk tuan Jeffrey?" tanya Sophia


Aku mengangguk tanpa pikir panjang, mencetak senyuman lebar di bibir pemilik toko.


"Terima kasih, putri Edna. Kami akan segera membungkusnya untuk anda"


"Pena ini bukan untukku, tetapi hadiah untuk seseorang. Sophia, pergi ikuti pemilik toko untuk membahas pembayaran dan pengemasannya" perintahku, pengasuhku itu mengangguk penuh tekad


"Baik, nona. Akan saya pastikan tidak ada kesalahan lagi"


"Hm. Selagi kau mengurusnya, aku akan pergi ke tempat itu sebentar" Aku menekankan kata 'itu' memberi kode pada Sophia yang untungnya langsung mengerti


"A-Anu.. Maaf sebelumnya karena sudah berani menahan anda, putri Edna, "


Melihat pemilik toko terlihat ragu, aku mengerutkan kening. "Apa ada masalah?"


"Tidak ada, ini hanya sekedar saran yang ingin saya sampaikan mengenai pena nya"


"....? Katakan"


"Anda bilang pena ini adalah hadiah untuk seseorang, jadi saya ingin menyarankan putri Edna untuk menulis sesuatu di kartu ucapan yang akan kami sediakan. Pena ini sendiri memang sudah spesial, tapi sepertinya akan menjadi lebih berharga bagi siapapun yang menerimanya jika anda menulis sesuatu sebagai pelengkap"


Sophia menatapku antusias, wanita paruh baya yang lebih muda dua tahun dari ibuku itu menyetujui pendapat si pemilik toko. "Benar, nona."


Aku menghela napas, apa ini perlu? Lagipula Jeffrey tidak akan membuka hadiah dariku sama seperti dulu. Ada kartu ucapan atau tidak sama sekali tidak akan membuat perubahan


"Tuan Jeffrey pasti akan senang jika melihat tulisan tangan anda, nona"


".... Baiklah. Berikan kartu yang kecil saja, aku tidak punya banyak hal untuk dikatakan" putusku, si pemilik toko membungkuk hormat lalu pergi bersama Sophia dan yang lain untuk menyiapkan kado sekaligus kartu ucapannya


...*****...


"Edna, bagaimana? Sudah memilih hadiah yang layak untuk Jeffrey?"


Edna turun dari kereta kuda, mengangguk untuk membalas ucapan ibunya. Tatapannya tanpa sengaja mengarah ke belakang sang ibu, dan ekspresinya langsung berubah dingin


"... Aku tidak pernah melihatnya, ibu" ucap Edna dengan mata menatap lurus ke arah seorang gadis pelayan yang seusianya. "Pelayan baru keluarga kita?"


"Ah, benar juga. Ibu keluar menunggumu pulang karena ingin mengenalkanmu padanya" ucap Ibu seraya menoleh ke belakang, gadis kepang dua itu tersenyum polos lalu melangkah maju berhadapan dengan Edna. "Perkenalkan dirimu"


"Halo, nona Edna. Perkenalkan, nama saya Sarah dan mulai sekarang saya akan menggantikan posisi kepala Sophia menjadi pelayan pribadi anda"


Gadis bernama Sarah itu menunduk hormat, lalu kembali mengulas senyuman manis pada tuan barunya. Namun sayang, ekspresi dingin di wajah Edna tidak berubah sama sekali


'Sarah... Kenapa kau masih menjadi pelayan ku meski sudah banyak yang berubah?' batin Edna tidak suka. Di kehidupan kedua, gadis berambut merah itu adalah orang suruhan paman Edna yang bertugas untuk memata-matai serta meracuninya di setiap kesempatan


Dulu Edna menerimanya karena Sarah adalah pelayan pemberian pamannya, keluarga Jeffrey juga tidak bisa menolaknya karena dia datang dari salah satu keluarga Edna. Tapi seharusnya Sarah tidak datang kesini karena kedua orang tua Edna masih utuh, jadi kenapa dia disini?


'Jangan bilang paman tetap ingin menyingkirkanku meski ibu dan ayah masih ada?' pikir Edna, dia lalu reflek tergelak pelan ketika menyadari sesuatu


"Caelus Blume... Ini pasti karenanya" gumamnya pelan, dia lalu menyingkirkan pikiran itu untuk sejenak dan mengulas senyuman simpul pada Sarah. "Mohon bantuannya mulai sekarang, ya Sarah"


"Ah, baik. Nona Edna"


"A-Anda benar-benar mengganti saya rupanya, nona" ucap Sophia sedih yang berhasil menarik perhatian banyak orang, Edna terkekeh pelan lalu menepuk lengan wanita itu


"Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu sebagai posisi pengasuh terbaik, Sophia. Tapi sebagai pelayan... Menurutku rasanya akan lebih nyaman jika aku bersama seseorang yang jarak usianya tidak terlalu jauh dariku. Lagipula aku tidak bisa terus membuatmu meninggalkan pekerjaan kepala pelayan hanya untuk menemaniku pergi keluar, kan?" jelasnya, Sophia masih terlihat sedikit sedih, namun dia mengerti apa maksud nonanya


"Saya mengerti, nona... Tapi tetap saja.. "


"Sa-Saya akan bekerja sangat keras supaya kepala Sophia tidak khawatir pada nona Edna. Tolong serahkan saja semuanya pada saya, kepala Sophia!" Sarah berseru semangat seraya menunduk hormat, mengundang tawa gemas dari orang-orang disana. Sophia sendiri tersenyum melihatnya, berbanding terbalik dengan Edna yang kontan memutar mata


'Maksudmu serahkan padamu supaya kau bisa leluasa membunuhku? Cih' gerutu gadis bersurai ungu itu dalam hati. Dia sangat mengerti pola pikir pendek pamannya, entah itu sekarang ataupun kehidupan sebelumnya


Pria itu sangat berambisi mengambil alih wilayah Schnee sampai berusaha membunuh kepala keluarga Schnee yang sedang memimpin, di kehidupan kedua dia berhasil dan karena itu berusaha membunuh Edna juga selaku penerus. Gretta masih terlalu kecil untuk mewarisi sehingga jika Edna mati, pamannya akan mengambil alih Schnee dengan alasan menjaga posisi untuk Gretta sampai dia dewasa, lalu kemungkinan akan membunuh Gretta juga jika dia hendak mencapai usia dewasa


Namun di kehidupan ini kedua orang tua Edna tidak meninggal, lalu kenapa nyawanya masih terancam? Gampang, ini karena kehadiran kembaran Eleanor, Caelus, yang sebelumnya tidak ada. Caelus adalah anak angkat mereka yang seusia dengan Gretta, dan sekali lihat pun sudah jelas jika dia menyukai adik Edna itu.


Benar, jika tidak mungkin untuk menjodohkan Caelus dengan Edna karena dia sudah terikat dengan Jeffrey, maka mereka hanya harus membunuh Edna lalu menjodohkan Caelus dengan Gretta. Jika berhasil sampai pernikahan, Caelus pun akan menjadi penerus pemimpin keluarga Schnee yang bisa mereka kendalikan dari balik layar


"Inilah kenapa aku tidak suka dengan segala yang berhubungan dengan Eleanor. Dia dan kembarannya terus membuat nyawa keluargaku terancam" gumam Edna seraya melenggang masuk ke dalam rumah usai pamit pada ibunya, di belakangnya Sarah mengikuti


"Sarah," panggil Edna seraya berhenti berjalan


"Ya, nona?"


"Hari ini sampai disini dulu. Aku akan istirahat jadi kau istirahatlah juga. Lagipula ini hari pertamamu, lebih baik mulai dengan yang ringan dulu kan?"


Sarah terlihat bingung karena tidak menyangka situasi ini, namun dia mengangguk. "Kalau begitu saya akan undur diri untuk hari ini, nona"


"Hm. Pergilah"


"Baik, terima kasih nona"


Edna berjalan kembali menuju kamarnya, dan setelah merasa bahwa pelayan pribadinya pergi cukup jauh, gadis itu menoleh ke belakang.


Jika dibandingkan dengannya yang mengulang waktu, harus dia akui jika Sarah lebih hebat darinya karena sudah bisa menjalankan perintah pembunuhan di usia yang masih kecil ini


Seandainya Edna sekarang benar-benar seorang gadis kecil keluarga Schnee yang berusia 12 tahun di luar dan dalam, dia tidak mungkin bisa menyadari bahwa Sarah sekarang sedang menyamar dan berniat membunuhnya, bahkan dulu yang menyadari itu lebih dulu adalah Rery. Edna baru sadar dan merasa sangat terkhianati setelah nyawa Sarah dicabut oleh tangan sahabatnya


Lagipula siapa yang menyangka, orang yang tumbuh bersamamu dan kau anggap sebagai pelayan yang paling kau percaya merupakan orang yang diam-diam terus berusaha memperpendek usiamu karena tergila-gila oleh harta yang dijanjikan oleh pamanmu?


"Untuk ukuran pemeran bos antagonis yang sangat kejam di sebuah novel, bukankah sifatku dulu terlalu naif?" gumam Edna merasa konyol dengan dirinya sendiri


...*****...


Hari ini Edna serta adiknya meninggalkan march Schnee sejak pagi dan pergi menuju mansion Viscount Malhela untuk memenuhi panggilan paman serta bibinya yang ingin mengenalkan anak adopsi mereka


Sampai disana, mereka disambut langsung oleh Viscount dan Viscountess yang tampak sudah menunggu daritadi.


"Edna dan Gretta, keponakan paman dan bibi tercinta sudah datang~"


"Ya ampun.... Kalian sudah besar ya? Rasanya baru kemarin kami melihat kalian bayi"


Edna tersenyum palsu, berusaha terlihat polos dan tidak berdaya di depan paman serta bibinya yang jahat. "Ng? Bukankah di pesta Pangeran waktu itu kita sudah bertemu? Paman dan bibi lupa ya, hehe" ucapnya


"Benarkah? Sepertinya kalau diingat lagi benar juga, gadis cantik bersurai ungu yang paman lihat waktu itu memang Edna ya, hehe"


Viscount terkekeh seraya mengusap rambut Edna, Edna ikut tertawa sembari menyingkirkan tangan pria itu dari kepalanya secara diam-diam. "Hehe, Edna cantik?"


"Tentu... Gretta juga cantik, anak paman yang perempuan di dalam sana juga cantik. Semuanya cantik jadi sampai bingung mau lihat yang mana~"


"Dimana anak paman? Ibu bilang kami harus berteman baik dengan mereka" Gretta bertanya seraya melihat ke sekitar rumah, bibi tersenyum lalu memegang pundak anak itu


"Gretta sudah tidak sabar ya? Ayo ke—"


Plak!


Viscount dan istrinya tersentak kaget, mereka menatap Edna yang tiba-tiba memukul cukup keras tangannya yang hendak menyentuh Gretta


"E-Edna? Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba memukul tangan bibi, sayang?"


'Jangan sentuh adikku dengan tangan kotormu' batin Edna sebal, tapi di luar dia kembali mengulas senyuman polos. "Ah, maaf... Tadi ada nyamuk di tangan bibi, hehe"


"O-Oh begitu... Kau mengejutkan bibi. Lain kali bilang saja, biar bibi yang memukulnya sendiri, oke?"


Viscount menatap keponakannya dengan kening berkerut samar, merasa ada yang aneh. Namun dia menepis pikiran itu jauh-jauh ketika Edna tersandung batu kecil di depannya karena terlalu sibuk melihat bunga cantik


'Dia hanya anak kecil yang ceroboh'


"Perhatikan jalanmu, Edna sayang.. " ucap pria itu seraya melepaskan pegangannya usai menahan sang keponakan supaya tidak terjatuh


'Kalau begini dia pasti berpikir aku hanya anak kecil yang ceroboh, kan?' batin Edna, tersenyum manis pada pamannya. "Terima kasih, paman"


Sebenarnya seorang anak berusia 12 tahun tidak akan semudah itu tersandung batu kecil karena fokus pada hal lain sebab mereka sudah mulai memasuki tahap remaja sehingga reflek mereka sudah lebih bagus daripada anak kecil lain, tapi orang-orang dewasa terlalu menyepelekan dan menganggap anak seusia itu masih kecil sehingga tanpa sadar mereka justru mudah ditipu menggunakan trik-trik kecil


Edna dan Gretta dibawa ke dalam mansion, lalu seperti yang diduga, anak yang dimaksud paman dan bibinya adalah Eleanor serta Caelus


Eleanor, Caelus, serta Gretta terlihat kaget melihat satu sama lain sementara Edna sendiri lebih kaget akan kehadiran Jeffrey dan juga Pangeran Genio disini


"....??"


Melihat ekspresi bingung gadis bersurai ungu itu, bibi menghampiri Eleanor dan menjelaskan. "Ah, kau pasti bingung karena tiba-tiba ada orang lain. Ellie kami ingin mengundang temannya juga jadi paman dan bibi mengirim undangan ke wilayah Diven dan Istana. Tapi tidak disangka mereka benar-benar datang"


"Edna, kau sudah datang?" Jeffrey melambaikan tangannya riang dengan senyuman lebar


"Pangeran perisak.... " Gretta menggumam, menatap tidak suka pada Genio yang justru terlihat senang.


"Gretta.. Aku menemukanmu"


"Jadi... Mereka anak paman dan bibi?" tanya Edna seraya menarik Gretta sembunyi ke balik punggungnya, menyembunyikan nya dari sang Pangeran


"Kalian sudah kenal mereka? Ini Eleanor, dan yang duduk di sebelah sana adalah putra bibi yang bernama Caelus"


"Kami bertemu di pesta teh... Anak nakal itu" balas Gretta seraya melirik tajam Genio


"A-Anak nakal? G-Gretta kau tidak boleh menyebut Yang Mulia Pangeran Genio seperti itu" tegur bibi seraya melirik canggung ke arah pengasuh Genio yang duduk tidak jauh dari mereka


Sementara itu Genio yang tidak terima disebut nakal pun berdiri cepat dari sofa untuk memberitahu Gretta bahwa dia adalah Pangeran yang baik, "Tidak! Aku adalah Pangeran—"


"Jangan mendekat!!" Edna menjerit kencang sambil melangkah mundur beberapa langkah, dia merentangkan kedua tangannya untuk melindungi sang adik. "Jangan.... dekati adikku" ucapnya lagi dengan suara penuh ancaman. Dia pikir sekarang Pangeran Genio hanyalah anak kecil jadi sama seperti ketika melihat Eleanor, Edna pikir dia bisa ada sedikit melupakan kenangan masa lalu


Tapi ingatan buruk tentang Pangeran Genio sama sekali tidak mau enyah dari pikirannya. Gadis itu masih bisa mengingat bagaimana sang Pangeran sendiri yang memutus kepala adiknya di depan banyak orang seolah itu baru terjadi kemarin.


Suasana langsung berubah dingin dan canggung usai teriakan itu, semua orang menatap Edna yang terlihat sengit pada Genio. Mereka bingung harus bagaimana, dan yang pertama mengambil tindakan adalah Jeffrey


Lelaki itu menarik pundak Genio memaksanya untuk duduk lagi tanpa sedetikpun memalingkan tatapannya dari Edna, sebelum kemudian berdiri di depan sang Pangeran lalu mengulas senyuman lebar menatap tunangannya


"Edna, kita sudah beberapa hari tidak bertemu, kau merindukanku tidak?" tanya Jeffrey ramah seperti biasa, mata Edna yang bergetar penuh teror mengedip perlahan ketika bertemu dengan netra biru lelaki itu


".... Aku tidak merindukanmu" balas Edna pelan seiring dengan tubuhnya yang kembali rileks, dia lalu menoleh ke arah Gretta. "Kau baik-baik saja, Gretta? Maaf, kakak pasti mengejutkanmu tadi"


"... Aku tidak apa-apa" balas Gretta dengan nada yang terdengar masih bingung akan situasi barusan. Dia tidak pernah melihat Edna memasang ekspresi semarah itu selama ini jadi dia agak terkejut


"N-Nah, karena kalian sepertinya sudah saling kenal... Bagaimana kalau kita mulai minum teh? Mari, paman antar ke rumah kaca tempat favorit Ellie baru-baru ini" ajak Viscount berusaha mencairkan suasana canggung tadi. Semua orang mengangguk dan mereka pun berjalan menuju ke rumah kaca yang dimaksud


Sepanjang jalan tatapan Viscount tidak lepas dari Edna yang berjalan sambil menggandeng erat adiknya, juga Jeffrey yang berjalan di samping gadis itu. Dia mengangkat alis seraya tersenyum ketika Jeffrey tiba-tiba menoleh seolah tahu sedang diperhatikan


"... Apa itu rumah kacanya?" tanya anak itu, Viscount mendongak dan baru menyadari bahwa mereka sudah sampai.


"Benar, silahkan masuk. Paman dan bibi sudah membangun ulang rumah kaca ini supaya kalian bisa duduk dan minum teh dengan menyenangkan"


Genio melirik Edna dengan tatapan aneh, tapi baru beberapa detik melihat dia sudah ditutupi dengan punggung Jeffrey


"Kak, dia ini kenapa—"


Plak!


Jeffrey memukul pelan punggung tangan Genio tanpa menoleh, memperingatkan anak itu untuk berhenti bicara. Genio cemberut karena dia hanya ingin bertanya sambil berbisik, tapi masih menurut menutup mulutnya


Mereka duduk di meja yang cukup besar. Edna menarik adiknya dan memilih kursi yang jauh dari kursi yang diduduki Pangeran, sementara Jeffrey tanpa perlu berpikir panjang pun langsung mendudukkan dirinya di sebelah tunangannya


Pundak Genio turun dengan sedih akan bagaimana orang-orang memilih duduk jauh darinya, Eleanor yang melihat itu pun mengajak kembarannya untuk duduk di dekat sang Pangeran. "Kami duduk disini ah, iya kan Caelus?" ucap gadis itu berusaha menghibur anak yang terlihat kesepian itu


Caelus mengangguk tanpa bicara, tatapannya masih setia terarah pada Gretta sejak dia melihat gadis itu masuk ke rumahnya


Melihat posisi duduk anak-anak yang aneh, Viscountess meminta Lidya serta Sophia yang datang sebagai pengasuh Genio dan Gretta untuk duduk di kursi yang kosong sebelum dia serta suaminya ikut duduk di bangku yang tersisa


Viscountess membuka bibir ingin membuat percakapan supaya semua orang lebih dekat, namun dia batal karena tidak ada yang memperhatikannya. Anak kembarnya sibuk bicara pada sang Pangeran, sementara Jeffrey Diven juga tidak henti berusaha menarik perhatian Edna


"Edna, kau pasti datang ke acara ulang tahunku besok kan?"


"...."


"Edna, aku menantikan kadomu kali ini karena tahun kemarin kau tidak memberiku satu. Oh ya, apa kau sudah membuka kadoku tahun lalu?"


"...."


"Edna, kuharap kita bisa berteman di pesta ulang tahunku besok"


"....."


"Edna, kau mendengarkanku?"


"...."


Edna melirik sekilas, namun lanjut menatap adiknya dan berpesan, "Gretta, jangan makan dan minum apapun sebelum kakak, kau mengerti?"


"Aku mengerti, kak" Gretta mengangguk dan sang kakak mengulas senyuman tipis. Dia takut adiknya minum atau makan sesuatu yang beracun meski sepertinya yang lebih berpotensi untuk diracun adalah dirinya sendiri


".... Berhubung tehnya sudah siap, maka silakan dinikmati ya anak-anak. Ini teh favorit Caelus" ucap bibi Edna itu seraya menepukkan tangan, dan teh pun disuguhkan oleh para pelayan


"... Teh apa ini?"


"Ah, teh favorit putra bibi ini adalah teh melati. Harumnya wangi dan rasanya enak, cobalah Edna"


Edna menatap bibinya yang tersenyum ramah, lalu ganti melihat teh yang masih mengeluarkan asap itu. Dia mencium aroma teh yang katanya melati itu, namun dia malah mencium aroma almond samar di tehnya


".... Gretta, apapun yang terjadi jangan minum tehnya" ucap gadis itu segera pada adiknya usai menyadari bahwa ada racun di teh ini. Gretta terlihat bingung, tapi memilih untuk menurut dan diam saja


Viscount melihat bagaimana Edna yang diam saja seraya menatap teh dengan kening berkerut pun berusaha menahan seringai dan mengeluarkan pertanyaan, "Ada apa, Edna? Kau tidak suka teh melati?"


"Ah.. Itu... "


'Aku tidak percaya paman akan seterbuka ini meracuniku. Dia pasti gila jika berpikir aku tidak akan menyadari aroma almond khas racun ini' gerutu Edna dalam batin, namun meski tahu kalau teh itu beracun dia tetap mengangkat cangkirnya


"Maaf paman, tadi tehnya agak terlalu panas jadi aku menunggu supaya dingin sedikit" balasnya seraya tersenyum, Viscount mengangkat sebelah alis


"Minum hati-hati, paman khawatir lidahmu terbakar"


Edna mengangguk patuh, dalam hati mengejek pamannya. 'Sayang sekali harus mengacaukan rencana paman, tapi aku sudah kebal dengan racun ini. Atau haruskah aku pura-pura keracunan nanti?'


Lalu dengan rasa percaya diri tinggi, gadis bersurai ungu itu menyesap sedikit tehnya. Namun tak lama setelah itu matanya terbelalak lebar seiring dengan dirinya yang terbatuk mengeluarkan darah


"Astaga, Edna?!!"


Segalanya terjadi secara cepat, mata Edna bergulir reflek melihat Gretta yang terlihat kaget sama sepertinya, pengelihatan nya perlahan memburam ketika dia melihat orang lain yang juga langsung panik seiring dengan kepalanya yang jatuh ke meja.


Gadis itu merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya lupa kalau tubuhnya yang sekarang bukanlah tubuhnya yang dulu kenal dengan racun


'Maaf Gretta... Kakakmu yang bodoh ini minum racun secara sukarela' pikirnya, matanya sempat melihat samar ekspresi panik bercampur takut di wajah Jeffrey sebelum tertutup sepenuhnya hilang kesadaran


"EDNA!!"


 


To be continued....


A/n : Tadinya mau bikin mata uang sendiri tapi mager jelasinnya jadi pake pound aja. Btw itu 10 juta pound kalo dirupiahkan jadi 178.979.577.300 rupiah. Yang penasaran kalo 8 juta pound berapa itung aja sendiri ya wkwkwk


Terus untuk yang bingung, march itu sebutan wilayahnya Marquis ya


(*) Bonus


Jeffrey menatap tanpa minat tumpukan kado ulang tahunnya dari para bangsawan lain. Hari ini hari ulang tahunnya, tapi dia sama sekali tidak senang. Apalagi jika mengingat apa yang terjadi pada Edna


"Tuan Jeffrey, kami baru saja menerima hadiah ulang tahun yang katanya dari tunangan anda. Dimana kami harus meletakkannya?"


"... Hadiah dari Edna?"


"Ya, sebelum ..... Sepertinya nona muda sempat membeli hadiah untuk ulang tahun anda" sang pelayan berucap dengan jeda ragu, takut Jeffrey tersinggung jika dia membahas kejadian hari itu


"Aku ingin melihatnya sekarang"


"Baik. Akan segera kami bawa kesini"


Jeffrey menunggu dan tak lama kemudian pelayan tadi kembali dengan sebuket bunga dan kotak berukuran sedang. Alis lelaki itu mengerut melihat bunga itu, apa benar bunga ini juga termasuk hadiah dari Edna?


Karena merasa aneh, dia meraih buket bunga itu lebih dulu. Dari baunya bunga ini sudah diberi sihir pengawet supaya tetap segar dalam perjalan kesini yang entah dari mana pun asalnya. Di tengah mengamati bunga-bunga cantik itu, Jeffrey menyadari ada sebuah kartu yang diselipkan diantara bunga


'Jangan menangis, oke? Maafkan aku, aku menyayangimu — Sayang, Edna' adalah yang tertulis di kartu itu. Tulisan tangan nya milik Edna jadi benar ini dari gadis itu, tapi apa ini?


"Apa dia baru saja meramal masa depan?" ucap Jeffrey, menyimpan kartu itu di sakunya dan ganti mengambil hadiah yang lain lalu membuka kotaknya, rupanya sebuah pena berwarna ungu yang terlihat sangat cantik. Ada kartu kecil sama seperti di buket bunga di samping pena nya,


Penasaran akan apa yang ditulis Edna kali ini, dia pun membaca isi kartu itu


'Pena ini harganya mahal dan cuma ada 40 biji di dunia ini jadi simpan dan pergunakan dengan baik. Selamat ulang tahun — Edna Schnee'


Jeffrey yang beberapa hari ini terlihat murung pun kontan terkekeh pelan. "Yang ini baru dari Edna yang kukenal" gumamnya seraya mengusap kartu ucapan itu lembut


(**) Gambar pena hadiahnya :