
Kereta kuda Schnee yang ditumpangi Edna dan Sophia berhenti di depan sebuah gerbang, dua orang ksatria penjaga gerbang tersebut yang melihat logo keluarga Edna tampak saling melirik sebelum berjalan mendekati kereta kuda
Salah satu diantara mereka sempat berbicara dengan ksatria pengawal sebelum mengetuk pintu, menunduk hormat ketika Sophia membukakan pintunya, "Mohon maaf, My Lady. Anda sepertinya sudah berjalan ke arah yang salah, gerbang ini adalah gerbang teleportasi yang digunakan untuk hal darurat yang bersifat penting"
"Kalau begitu kami sudah berada di tempat yang benar" Sophia membalas, membuat dua ksatria itu mengerutkan kening.
"Lady Edna Schnee ingin melewati gerbang ini menuju ke wilayah Diven karena ada hal darurat yang harus dilakukan jadi buka gerbangnya"
"Maaf, kami tidak bisa melakukannya. Meski kami tidak mengetahui hal darurat apa yang sedang terjadi, kami tidak bisa membukakan gerbang pada siapapun karena Yang Mulia Raja melarang kami jika tidak ada surat perintah langsung dari beliau"
"Kami tidak berniat lewat secara gratis, kami akan membayar biaya masuk"
"Meskipun begitu-"
"Aku adalah tunangan Jeffrey Diven yang sering menggunakan gerbang teleportasi ini untuk pergi ke wilayah Schnee. Aku akan membayar biaya masuk sama besarnya seperti yang dia bayar"
Dua penjaga gerbang tersebut mendongak melihat Edna yang baru saja menyela ucapan mereka. Kemudian menoleh ke satu sama lain seolah berdiskusi menggunakan telepati
"Kalian tidak mungkin membiarkannya lewat jika harganya sesuai ketentuan Raja jadi katakan saja berapa harga yang Jeffrey bayar dan aku akan membayar dengan harga itu. Aku tidak punya waktu banyak"
"..... Tuan muda keluarga Diven membayar pajak masuk seharga 100 juta pound dalam sekali lewat, Lady"
"100 ju-Omong kosong apa yang baru saja kalian katakan ini?! Kenapa harganya bisa sampai semahal itu!" seru Sophia kesal, terkejut dengan yang baru saja di dengarnya. Wanita itu menatap kedua ksatria di depannya dengan nyalang sebelum menoleh ke arah Edna. "Nona, mereka pasti sudah membohongi kita. Tidak mungkin tuan Jeffrey membayar biaya semahal itu-"
"Sophia, kita tidak punya banyak waktu. Berikan saja mereka 100 juta yang mereka inginkan" putus Edna tidak sabar. Sophia melirik sekitar dengan gerakan canggung lalu menggeleng pelan pada nona nya
".... Kita tidak punya uang sebanyak itu, nona. Saya memang membawa semua dana bulanan anda seperti yang diperintahkan, namun itu hanya tersisa 50 juta pound saja." bisiknya
'Ck, sial!' batin Edna kesal, gadis bersurai ungu itu terpaksa memutar otak mencari cara lain. Sayangnya mau dipikir bagaimana pun, dia tidak bisa sampai ke wilayah Diven dengan cepat selain menggunakan gerbang teleportasi
"Sepertinya kalian tidak punya uang cukup. Silakan putar arah dan kembali pulang, jangan mengganggu pekerjaan kami" usir salah satu ksatria penjaga gerbang itu yang membuat Sophia mengepalkan tangan kesal
"Dasar ksatria rendahan, melihat mereka merendahkan anda membuat saya kesal jadi sebaiknya kita pergi saja, nona" ajak wanita itu, dia mengerutkan kening saat sang nona justru mengangkat tangan menghentikannya
Mungkin berkat terhimpit waktu, Edna jadi tiba-tiba mengingat sesuatu dari kehidupan sebelumnya yang menarik. "Sophia," panggilnya namun tatapannya masih lurus ke arah dua ksatria tersebut
"Ya, nona?"
"Menurutmu bagaimana respon Yang Mulia Raja dan para bangsawan lain ketika mereka mengetahui alasan sebenarnya Jeffrey Diven dapat bebas pulang-pergi menggunakan gerbang teleportasi yang sangat penting itu?" tanya gadis itu, seringai antagonisnya melebar ketika melihat para ksatria menatapnya sambil tanpa sadar menelan ludah
"Maksud anda.... Ada alasan lain? Apa anda mengetahuinya, nona?"
"Entahlah.... Tapi aku bisa membuat tebakan. Kau mau dengar, Sophia?"
"Apa yang sedang anda lakukan, Lady Schnee?! Yang Mulia Raja tidak akan diam saja membiarkan anda mengganggu pekerjaan kami seperti ini!" ancam salah satu diantara penjaga itu dengan panik, para pengawal Schnee mengerutkan kening melihat nona mereka diremehkan dan hendak maju mencabut pedang, namun dihentikan oleh Edna yang sama sekali tidak terlihat goyah dengan ancaman mereka
"Begitukah? Hm... Sepertinya Raja juga tidak akan diam jika harga masuk gerbang teleportasi yang sebenarnya 70 juta pound tiba-tiba berubah menjadi 100 juta. Beliau mungkin akan penasaran, kira-kira menghilang kemana sisa uang 30 juta milik keponakan sepupunya, benar kan?"
Menyadari gadis kecil itu justru semakin menyerang, penjaga satunya ikut memutar otak karena takut ketahuan, namun meski kentara sekali panik, sepertinya dia lebih waras daripada rekannya sebab masih menggunakan kalimat yang sopan.
"La-Lady Schnee! Tolong jangan begini, jika anda terus melakukan ini maka tunangan anda juga akan terkena imbasnya. Anda tentu tidak mau tunangan anda ikut terseret dan digunjing seluruh rakyat karena menyuap kami, kan?" ucapnya pura-pura membujuk
Edna menutup bibirnya dengan telapak tangan, memasang ekspresi kaget. "Ya ampun, jadi Jeffrey benar-benar menyogok kalian??"
Deg!
Seolah tertimpa durian tepat di kepala, dua ksatria itu kontan memucat usai secara tidak langsung masuk ke dalam jebakan dan mengakui bahwa mereka menerima uang suap dari Jeffrey.
"Ti-Tidak, itu... "
"Kalian semua dengar itu? Ya ampun... Jeffrey Diven itu keponakan sepupu Raja, jika hal ini bocor, kira-kira apa posisi kalian akan sama dengan anak itu karena sama-sama bersalah? Padahal dia anak semata wayang Duke Diven dan keponakan sepupu Raja sedangkan kalian hanya rakyat jelata yang beruntung jadi ksatria?"
Teror menghiasi wajah pucat dua pria itu. Ucapan Edna benar, Jeffrey Diven yang merupakan bangsawan besar mungkin hanya akan berakhir dimarahi atau yang paling buruk dapat terjadi padanya adalah dia harus kehilangan posisinya sebagai calon Duke, sedangkan mereka..... Akan langsung kehilangan kepala begitu Raja tahu mereka menggelapkan dana gerbang teleportasi sekaligus uang keponakan sepupunya
"Apa aku harus tanya pada Yang Mulia Raja langsung ya? Kalian sepertinya tidak bisa menjawab pertanyaan ku" Gadis bersurai ungu itu menyilangkan tangan di dada, sudut bibirnya terangkat
"... To-Tolong kami, Lady Schnee. Kami bisa mati jika hal ini bocor keluar, kami akan melakukan semuanya asal anda tidak membongkar ini kepada Yang Mulia Raja"
Satu penjaga berlari dan berlutut memohon di depan pintu kereta kuda Schnee. Sedangkan satunya tampak ragu, harga dirinya tidak terima harus memohon pada seorang anak perempuan berusia 12 tahun meski Edna sama sekali tidak bertingkah seperti anak-anak
"Kami? Sepertinya temanmu tidak berpikir hal yang sama"
Pengawal yang sudah berlutut mendongak ke arah rekan kerjanya lalu menariknya berlutut dengan paksa. "M-Maaf, nona.. Sepertinya rekan saya agak terkejut"
"Hm.... Tapi kalian yakin semuanya?"
".... Y-Ya, kami bisa melakukan semuanya untuk anda. Kami mohon, My Lady..."
'Bagus, ini persis seperti yang kuinginkan' batin Edna senang seraya menunduk melihat mereka
".... Baiklah. Aku tidak akan membocorkan masalah penggelapan dana ini dan tidak akan kubiarkan siapapun membocorkan nya" ucapnya yang kontan membuat dua penjaga itu menghembuskan napas lega
"Terima kasih, Lady Schnee"
"Tapi tentu saja, ada syaratnya.. "
"Kami akan melakukan apapun yang anda inginkan, My Lady"
"Kalau begitu, kalian harus membukakan gerbang teleportasi ini setiap aku memerlukannya, dan itu.... Tanpa dipungut biaya sepeser pun"
".... Maaf? Gratis... Setiap saat, maksud anda?"
Edna mengangguk dengan senyuman manis, berbanding terbalik dengan para ksatria yang kontan saling melirik sambil menelan ludah susah payah
"..... Baiklah, kami setuju. Tetapi kami tidak bisa mengizinkan anda pergi dengan kereta kuda serta para pengawal sebab menara sihir yang memantau gerbang ini akan merasa aneh jika laporan keuangan tidak berubah banyak namun kereta kuda keluarga Schnee terus-menerus lewat"
"Jadi apa solusi kalian?"
Dua ksatria itu saling mengangguk ke sesama sebelum salah satu diantara mereka berdiri dan berlari mengambil sesuatu. Sebuah jubah hitam dengan lambang leopard
Edna mengenali jubah itu. Orang-orang yang mengenakan jubah itu adalah ksatria tersembunyi Raja yang ditugaskan khusus untuk misi-misi berbahaya yang bersifat rahasia.
"Anda bisa menggunakan satu kuda dan memakai jubah ini. Menara sihir tidak akan curiga sama sekali"
'Tentu saja. Menara sihir tidak mungkin curiga karena pasukan khusus ini terdiri dari bermacam orang, pria dan wanita, juga orang tua dan anak-anak' batinnya, Edna mengulurkan tangan hendak menerima jubah itu namun Sophia mengangkat tangannya tinggi-tinggi
"Apa maksudnya ini, Sophia?"
"Maaf, nona. Saya tidak bisa mengijinkan anda pergi sendiri. Ksatria pengawal yang akan pergi"
Edna kontan menggeleng, "Meski mereka salah satu orang kita, aku tetap tidak bisa mempercayakan ramuan sepenting ini pada mereka begitu saja" tolaknya. Dia sudah terlalu sering dikhianati oleh orang-orang nya di saat yang sangat penting sehingga sekarang gadis itu skeptis memberikan tugas penting pada orang lain
"Nona, kalau begitu saya yang akan pergi. Anda masih belum sembuh, dan mereka hanya mengizinkan satu kuda untuk satu orang. Saya orang yang bisa nona percaya ini akan menyampaikan perintah anda pada tuan Jeffrey tanpa satu kesalahan pun" ucap Sophia memberanikan diri, Edna melihat pengasuhnya lalu menghela napas.
"Tidak. Kau saja tidak tahu cara menunggangi kuda bagaimana mau pergi? Aku akan berangkat sendiri. Aku sudah sembuh total dan tahu cara mengendarai kuda." balasnya yang menimbulkan rasa bingung sekaligus penasaran di diri Sophia
"Ng? Tunggu sebentar... Kapan anda belajar menunggang kuda? Saya tidak pernah tahu anda punya jadwal pembelajaran seperti itu"
"... I-Itu tidak penting sekarang. Intinya aku akan pergi, kau kembalilah dan tunggu aku di rumah. Ibu dan ayah pasti butuh penjelasanmu karena kita keluar tanpa ijin mereka dulu tadi" perintah gadis itu seraya buru-buru mengenakan jubahnya, Sophia menghela napas sebelum akhirnya mengangguk
"Saya sebenarnya masih tidak rela mengijinkan tapi tolong hati-hati di jalan, nona" pesannya lalu menatap para pengawal yang berdiri di dekat kereta kuda. "Sediakan kuda yang akan nona Edna kenakan, pastikan pelana nya nyaman"
"Baik, akan segera kami siapkan"
Menunggu kuda dibawakan, Edna berhambur ke pelukan pengasuhnya dari bayi untuk mencari dukungan mental. "Aku akan segera kembali dengan berita baik, Sophia" gumamnya berjanji
"Iya. Saya doakan semoga kali ini tidak ada masalah, nona"
"Kali ini?"
Sophia melepas pelukan lalu memakaikan tudung jubah Edna. "Ya. Anda selalu terkena masalah di saat-saat tidak terduga jadi saya harap tidak ada masalah kali ini. Dan tolong jangan melakukan hal ekstrem seperti ini lagi di masa depan" ucapnya, Edna tersenyum tipis lalu turun dari kereta kuda begitu melihat seseorang mendekat.
Ekspresi anak itu secepat kilat kembali serius, sampai-sampai membuat dua pria yang jauh lebih tua darinya jadi segan meski hanya melihatnya berjalan
Seekor kuda berwarna hitam lengkap dengan pelana yang terlihat nyaman dituntun oleh salah satu pengawal. Edna naik ke atas kuda dibantu oleh para pengawalnya karena kakinya sekarang masih terlalu pendek
"Lady Edna,"
Tanpa perlu repot menoleh ke arah para penjaga itu, dia sudah mengerti apa yang akan mereka katakan padanya
"Aku mengerti. Baik itu Yang Mulia Raja maupun Jeffrey dan orang tuanya tidak akan tahu apapun soal yang terjadi hari ini"
Mereka membungkuk hormat pada gadis itu, "Terima kasih, My Lady. Semoga selamat sampai tujuan"
Edna menghentakkan kaki ke perut kuda dan kuda pun membawanya masuk ke gerbang teleportasi yang sudah dibuka
Jarak yang harusnya ditempuh dalam beberapa hari dalam sekejap sudah terlewati begitu dia keluar dari gerbang teleportasi, benar-benar hebat. Gadis bersurai ungu itu tiba di wilayah utara Diven dan hanya butuh waktu 3 jam perjalanan sampai ke mansion bila ditempuh dengan kuda berkecepatan normal
Namun berhubung dia berpikir 3 jam itu masih terlalu lama, Edna pun merapatkan kedua kakinya dengan kencang pada tubuh si kuda dan membuatnya berlari dengan kecepatan tinggi. Kedua pahanya merapat ketat tepat di bawah pelana, dan dia memegang erat tali kendali
Edna tidak lagi mempedulikan bagaimana nasib dressnya dan hanya memacu kuda secepat mungkin, sebab kali ini dia tidak boleh telat lagi
Kuda yang ditunggangi gadis itu membuat kekacauan di jalan-jalan yang ramai karena kecepatannya, selain merusak beberapa toko kecil, orang-orang yang berjalan pun ada yang menjadi korban dengan jatuh ke pinggir jalan. Dan akhirnya para ksatria patroli di wilayah itu mengejarnya dari belakang dengan kuda untuk menghentikannya
"Hei, berhenti! Nona, hentikan kudamu sekarang juga atau kami akan menangkapmu!" peringat mereka dari belakang, namun Edna mengabaikan mereka sepenuhnya
Mereka saling mengejar untuk waktu yang lama, para ksatria heran bagaimana bisa ada seorang wanita mengendarai kuda dengan cepat sebaik ini? Gadis itu juga terlihat masih anak kecil, tapi mereka sama sekali tidak bisa menyeimbangi kecepatannya
Edna memfokuskan dirinya hanya ke jalan di depan sembari terus berharap dalam hati dia bisa memberikan léčitel pada Duchess. Matanya berbinar ketika gerbang mansion Duke Diven mulai terlihat, gadis bersurai ungu itu pun menambah kecepatan lagi
"Sial, dia menambah kecepatan! Cepat tangkap dia, dia pasti penjahat yang hendak menerobos mansion tuan Duke!" teriak pemimpin ksatria yang mengejar Edna sebelum satu persatu mulai ikut menambahkan kecepatan
Sementara itu penjaga gerbang mansion mengerutkan kening melihat seekor kuda berjalan ke arah mereka dengan kecepatan yang sangat tinggi, di belakang kuda itu ada beberapa petugas patroli yang mengikuti
"Ada apa ini? Siapa itu?" tanya salah satu diantara mereka bingung, mereka memincingkan mata saat Edna melambaikan tangan meminta gerbang dibuka. "Apa kita harus membuka gerbangnya untuk mereka?"
"Kita tidak mengetahui siapa yang didepan, tapi kalau sudah dikawal oleh petugas patroli bukankah artinya ada hal penting yang harus disampaikan pada tuan Duke?"
"Kau benar. Hei, cepat buka gerbangnya!" teriak si penjaga gerbang, gerbang mansion pun dibuka
Para ksatria patroli berusaha memperingatkan mereka untuk menutup kembali gerbang karena orang itu bisa saja penjahat, namun ksatria gerbang yang tidak dapat melihat jelas mengira mereka melambaikan tangan untuk berterima kasih karena sudah dibukakan gerbang, jadi mereka melambai balik dengan senang
Berkat salah paham itu, kuda Edna berhasil masuk ke dalam. Dia berhenti beberapa langkah di depan pintu rumah utama, lalu bergegas turun dari kuda
Namun ketika dia hendak lari masuk ke rumah, seorang ksatria mengacungkan pedang tepat di lehernya
"Berhenti disana atau lehermu akan putus, nak" ucapnya. Edna berhenti bergerak, tangannya terkepal kuat menyadari bahwa dia sudah berada tepat di depan pintu dan tinggal masuk saja untuk menyelamatkan Duchess, namun sekarang malah harus dihentikan
"Siapa kau? Apa tujuanmu datang kemari?"
"Saya ingin bertemu Duchess secepatnya, tolong biarkan saya pergi" balas Edna
"Kenapa bocah sepertimu ingin bertemu nyonya besar? Sudah cepat turunkan tudung kepalamu dan katakan apa yang sebenarnya kau inginkan disini lalu pergilah"
"Saya ini ingin bertemu Duchess, saya membawa obat untuknya!" seru Edna kesal, "Tidak bisakah kalian singkirkan pedang ini? Saya harus cepat memberikan ramuan obatnya!"
"Ramuan apa yang kau bawa? Kami tidak bisa membiarkanmu memberi nyonya besar obat yang tidak jelas asal usulnya, nak!"
Gadis bertudung itu melirik si ksatria dengan tajam, 'Aku ingin membunuhnya' gerutunya dalam hati. Namun dia menarik napas panjang berusaha sabar demi Duchess
"Kalau begitu panggil kepala butler Charles Felstead, aku hanya akan menjelaskan padanya" ucapnya dengan informal dan suara yang lebih tenang. Lagipula percuma juga dia berbicara sopan maupun menjelaskan obat seberharga léčitel pada orang-orang bodoh yang hanya mengandalkan otot ini, buang-buang waktu
"Apa kau baru saja mengatakan kami tidak pantas mendengar penjelasanmu akan obat tidak jelas ini? Berani sekali bocah sepertimu pada seorang ksatria terhormat, memangnya kau ini siapa?!"
'Demi Tuhan, orang-orang bodoh ini... ' Edna hendak membuka tudung jubahnya dan membungkam para ksatria itu ketika secara kebetulan pintu mansion terbuka dan seorang pria paruh baya berpakaian rapi khas butler keluar
"Ada apa ini ramai sekali? Apa kalian tidak tahu suara kalian ini bisa saja mengganggu istirahat Duchess?" ucapnya. Meski suaranya terdengar tenang dan seperti sekedar menegur ringan, Charles Felstead berhasil membuat para ksatria tersentak dan bergerak mundur satu langkah
"Maafkan kami, kepala butler. Boc- anak ini sudah membuat beberapa jalan distrik kacau karena mengendarai kuda dengan ugal-ugalan, lalu saat berusaha kami tangkap dia melarikan diri kesini dan berdalih punya obat untuk nyonya besar"
"Saya tidak berdalih, tujuan saya memang untuk memberikan obat pada Duchess" sanggah Edna, dia membuka tudung kepalanya dan rambut ungunya seketika terlihat sangat mencolok karena berada di sekitar pria bersurai hitam. "Tolong antar saya menuju kamar Duchess, kepala butler"
"Sudah kami bilang kau tidak akan-"
"Astaga, kalau tidak salah.... Anda nona muda Edna Schnee... Benar, bukan?" sela Charles terkesiap, Edna tersenyum tipis lalu mengangguk. Pria itu kontan berjalan mendekat sebelum menunduk hormat di depan Edna
"Kepala butler Charles Felstead menyapa nona muda Edna Schnee, selamat datang di kediaman Diven, nona. Sebagai perwakilan disini saya ingin minta maaf karena tidak menyambut kedatangan anda dengan layak dan juga atas perlakuan tidak sopan para ksatria ini kepada anda"
"Tidak apa-apa, saya sendiri datang tanpa mengabari dan hanya dengan seekor kuda karena terburu-buru ingin mengantarkan obat untuk Duchess"
"Obat? Boleh saya bertanya mengenai obatnya, nona muda?"
Edna melirik para ksatria yang tadi mengganggunya, lalu tersenyum tipis pada sang kepala butler. "Tentu, dengan senang hati. Kita bisa bicara seraya anda mengatar saya ke kamar Duchess" ucapnya
"Baik, kalau itu keinginan anda" Charles memberi gestur mempersilakan Edna masuk terlebih dahulu, baru setelah itu dia menatap kesal pada para ksatria
"Kalian tahu siapa yang baru saja kalian perlakukan buruk? Beliau adalah calon istri tuan Jeffrey di masa depan"
"A-Apa? Gadis itu tunangan tuan muda?" respon para Ksatria kaget
"... Baik, kepala butler"
"Kalau sudah mengerti cepat kembali ke pekerjaan kalian masing-masing"
Setelah mengusir mereka, Edna diantar menuju kamar Duchess, dan sepanjang berjalan gadis itu menjelaskan beberapa hal mengenai léčitel seraya beberapa kali melirik sekilas ke sekitar.
'Melihat semuanya sama persis seperti di kehidupan sebelumnya, rasanya seperti sedang bermimpi berjalan di mansion ini lagi' batin Edan nostalgia
"Ini adalah ruangan nyonya besar, nona muda" ucap Charles seraya menunjuk ke suatu pintu besar. Edna mengangguk dan pria itu mengetuk pintu
"Tuan Jeffrey, ini Charles. Saya ingin memberitahu bahwa nona Edna ingin meminta izin masuk ke ruangan Duchess karena ada sesuatu yang harus disampaikan"
"Edna? Edna Schnee tunanganku?"
"Ya, tuan"
Untuk sejenak tidak ada balasan dari dalam, Edna sempat berpikiran macam-macam namun untungnya Jeffrey kembali menyahut. ".... Biarkan dia masuk"
'Sepertinya Jeffrey di kehidupan ini memilih untuk tidak meninggalkan ibunya' ucap Edna dalam hati, Charles membuka pintu kamar Duchess lalu mempersilakan gadis itu untuk masuk
"Terima kasih, kepala bulter"
"Itu sudah kewajiban saya, nona. Kalau begitu saya pamit undur diri dulu karena ada yang harus dilakukan"
Gadis bersurai ungu itu tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam kamar, dan sang kepala butler menutup pintu di belakangnya
"Kenapa kau disini?"
"... Apa?"
Jeffrey bangkit dari kursi dan memutar badan untuk melihat Edna. "Tubuhmu sudah baik-baik saja? Kenapa bajumu kotor sekali? Apa terjadi sesuatu di perjalanan? Aku tidak melihat pelayanmu—"
"Jeffrey, kau akan membuat Edna bingung jika bertanya sebanyak itu secara langsung. Lagipula dia baru saja sampai, kan?" potong Duchess menegur, Edna tersenyum tipis seraya mendekat
"Ah... Saya tidak apa-apa, Duchess" balasnya
"Siapa yang memberitahu mu tentang ibuku? Padahal aku sudah melarang semua orang karena kau sedang sakit" tanya Jeffrey seraya mengulurkan tangan, dan uluran tangan itu diterima Edna tanpa sadar karena dia terlalu fokus mengamati kondisi Duchess
Aneh. Harusnya jika sesuai perhitungan Edna, Duchess tidak mungkin masih bisa berbicara dengan cukup lancar dan tersenyum seperti ini. Harusnya beliau berada di ambang kesadaran yang membuatnya tidak mampu lagi berkomunikasi
"Maaf karena baru bisa menjenguk anda sekarang, Duchess" ucap Edna seraya menunduk sekilas. Ibu Jeffrey tersenyum lembut ke arah gadis itu
"Tidak apa-apa, Edna sendiri kan sedang sakit saat itu" balasnya, dia mengamati sebentar ekspresi bingung tunangan putranya sebelum memutuskan untuk bertanya langsung. "Rasanya senang bisa dijenguk tapi kepala bulter tadi berkata bahwa ada yang ingin kau sampaikan, apa itu?"
Edna menaikkan alis tersadar dari pikirannya lalu mengambil sesuatu dari kantong dressnya
"Saya membawa ramuan ampuh untuk menyembuhkan penyakit blue spider lily. Ini buatan dokter keluarga Schnee, namanya Léčitel. Tolong minum ini, Duchess"
"Léčitel? Ibu tidak pernah mendengarnya, siapa yang membuat obat ini?"
"Ah, obat ini dibuat oleh dokter jenius dari wilayah saya khusus untuk Duchess. Obat ini terjamin keampuhan nya karena dokter itu berkata dia tanpa sengaja menemukan fakta bahwa di sebuah daerah terpencil di suatu negara, penyakit blue spider lily bukanlah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, dan obat ini adalah jalan keluarnya"
"Benarkah? Tapi kenapa tidak ada yang tahu mengenai hal ini sebelum kau bercerita tentang dokter itu?"
"Itu.... Dokter kami mengetahuinya baru-baru ini dan langsung membuat obatnya sesuai resep yang didapatkan nya dari daerah itu setelah saya memintanya untuk membantu saya mencari penawar untuk Duchess"
'Itu artinya obat ini belum pernah diuji pada orang selain dari daerah itu dan tidak ada bukti kuat bahwa mereka sembuh karena obat ini' batin ibu Jeffrey ragu, namun tatapannya terfokus pada bagaimana Edna terlihat begitu tulus membawakan obat itu untuknya. Gadis itu terlihat tidak peduli pada penampilanya yang tampak acak-acakan akibat menunggang kuda dengan kecepatan tinggi tadi
".... Kau sudah bekerja keras, Edna. Ibu akan mencoba percaya padamu dan meminum ramuannya" ucap Duchess kemudian.
"Terima kasih, Duchess..." Edna membungkuk hormat, dia lalu menghadap Jeffrey. "Ini ramuannya, Jeff"
Sementara itu yang ditunggu hanya diam menatap gadis di depannya dengan tatapan kosong, dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak mendengar apapun, sehingga dia tersentak pelan ketika gadis bersurai ungu itu tiba-tiba menarik tangannya lalu meletakkan botol léčitel disana.
"Cepat Jeff, bantu Duchess untuk meminum ramuan ini" perintah Edna seraya mendorong tangan Jeffrey menjauh. Dia lalu mundur beberapa langkah dan memilin kedua tangannya tegang sementara menunggu sang tunangan, namun keningnya dibuat berkerut dalam ketika lelaki itu hanya berdiri diam menatap ramuan di dalam botol tersebut
"Jeff...? Jeffrey Diven!" Edna berseru dengan suara tertahan, menyikut lengan Jeffrey yang kontan tersentak lagi sebelum mendongak menatapnya. "Apa yang salah denganmu? Cepat berikan obatnya!"
".... Oh, I-Iya, terima kasih... Edna" balasnya seraya tersenyum tipis. Dia lalu menghampiri ibunya yang terbaring lemah di ranjang
"Ibu, ini.... "
Melihat putranya yang lagi-lagi tampak seperti memikirkan banyak hal, Duchess meremas pelan tangan Jeffrey. "Putraku, ibu akan memastikan Edna tidak dihukum jika terjadi sesuatu pada obatnya" ucapnya berusaha menenangkan Jeffrey
Jeffrey tersenyum tipis lalu menggeleng, balas memegang tangan ibunya. "Ibu tidak perlu seperti itu, karena Ibu akan sembuh begitu meminum ramuan ini" balasnya
"... Tentu, ibu pasti akan sembuh dan menyaksikan pernikahanmu dengan Edna" Duchess mengulas senyuman lembut lalu meminum ramuan Léčitel sampai habis dibantu putranya
'Kumohon... Kumohon Tuhan...' doa Edna dalam hati seraya memejamkan mata erat
...*****...
E D N A
"Edna.. "
Aku berhenti berdoa dan membuka mata cepat ketika mendengar suara Jeffrey, lelaki itu melambaikan tangannya memintaku untuk mendekat
"Ibuku ingin berbicara denganmu" ucapnya, kutatap dia ragu dan dia mengangguk seolah meyakinkanku. Dengan jantung berdebar kencang, aku berjalan mendekat dan berdiri di sebelah Jeffrey lagi sambil menundukkan kepala karena tidak sanggup melihat Duchess
"Edna.. " kali ini Duchess sendiri yang memanggilku, dan ketika mata kami bertemu, rasanya aku seperti dilempar kembali ke saat terakhir menemani beliau
"Ya, Duchess" balasku, Ibu Jeffrey itu tersenyum lembut.
"Kenapa masih 'Duchess'? Panggil Ibu saja, sayang. Nanti saat kau dan Jeffrey menikah, Ibu juga akan menjadi ibumu kan?"
Sama seperti dulu, Duchess selalu memintaku untuk memanggilnya sebagai Ibu, tapi saat itu aku menolaknya keras-keras karena mengira beliau berusaha membuatku lupa akan ibu yang sudah meninggal. Bodoh sekali, padahal Duchess sangat baik dan sayang padaku seperti pada putranya sendiri sampai akhir hayatnya
"..... Iya, Du- maksudku, I-Ibu" ucapku akhirnya meski dengan suara bergetar. Memanggil beliau sebagai ibu seperti ini membuatku ingin menangis karena rasa penyesalanku di masa lalu seperti terbayarkan
"Nah, begitu. Sekarang kemarilah, Ibu ingin memegang tanganmu"
Ketika Duchess mengulurkan tangannya yang terlihat kurus dan lemah, aku meraih lalu menggenggamnya dan menyalurkan kehangatan pada tangan dingin beliau yang terdapat beberapa bercak biru khas penyakit blue spider lily
"Edna, bisakah kau berjanji pada Ibu?" tanya nya, aku mengangguk
"Tentu, tolong katakan saja pada saya" usai kubalas seperti itu, Duchess melirik ke arah Jeffrey
"Edna, Ibu ingin kau berjanji jika terjadi sesuatu pada Ibu, kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri karena ini bukanlah salahmu maupun ramuan yang kau bawa.... Lalu, tolong hibur putra Ibu satu-satunya ya, kau bisa memberinya pelukan atau sekedar duduk di sebelahnya. Jeffrey sering menyembunyikan rasa sedihnya dengan pura-pura tersenyum, Ibu khawatir anak itu akan tenggelam dalam kesedihan dan hancur sendirian"
"Ah, Ibu!"
Nyut.
Jeffrey mengerang tidak suka sementara aku kontan terdiam. Jantungku rasanya sakit sekali karena harus mendengar lagi pesan terakhir Duchess yang sama persis seperti di kehidupan sebelumnya, mataku juga berkaca-kaca namun aku berkedip cepat berusaha menahannya
Jeffrey mengerutkan kening meski nada suaranya terdengar bergetar "I-Ibu, kenapa ibu berkata seperti itu pada Edna? Aku tidak suka"
"Ibu hanya berjaga-jaga, nak"
"Meskipun begitu—"
"Tidak, Ibu. Tolong dampingi dan peluklah Jeffrey sendiri, ibu tidak memerlukan bantuan saya karena Ibu pasti sembuh. Saya... Saya yakin Ibu pasti bisa kembali sehat" jawabku dengan suara berusaha setegas mungkin
Duchess yang tadinya berusaha untuk menyembunyikan rasa sedih dan tetap tersenyum pun jadi berkaca-kaca usai mendengarnya
"E-Edna sayang... "
"Tolong tarik kembali ucapan anda barusan, Duchess. Jeffrey tidak akan kehilangan ibunya, begitu juga dengan saya" ucapku, aku melirik ke arah Jeffrey yang tidak mengeluarkan suara lagi dan ternyata dia sedang berusaha menahan air matanya sembari mengepalkan tangan kuat-kuat
"Tapi Ibu-"
Uhuk! Uhuk!
Duchess tiba-tiba terbatuk keras, aku tersentak sementara Jeffrey langsung bergerak cepat membuka laci nakas mengambil sapu tangan
"E-Edna... Waktu Ibu tidak banyak lagi" ucapnya seraya menunjukkan tangan penuh darah dari batuk tadi. Tubuhku rasanya seperti kontan membeku melihat itu
"D-Duchess..?" Dengan panik aku mengecek ruam biru di tubuh Duchess, dan bingung melanda pikiranku karena ruam birunya mulai memudar yang mana itu artinya léčitel sudah mulai berefek, tapi kenapa Duchess muntah darah?
".... Berjanjilah, kau akan menjaga Jeffrey dan tidak menyalahkan dirimu sendiri"
Apa Léčitel... Memang seperti ini?
Aku menggeleng kuat, berusaha mengingat bagaimana reaksi normal para pasien ketika mengonsumsi léčitel di masa lalu, namun otakku tiba-tiba seperti berhenti bekerja.
Aku tidak dapat mengingat apapun.
Di tengah situasi yang mendadak tidak keruan itu, Jeffrey memegang kedua bahuku, menyentaknya pelan dan membuatku sadar kembali dari pikiran rumitku. Dia menunduk sedikit untuk memastikan mata kami bertemu. "Edna? Edna, jangan kemana-mana dan tunggu disini sebentar. Aku sudah menarik bel pelayan jadi mereka akan segera kesini"
Aku mengangguk kaku, namun tanganku secara reflek meraih bagian belakang bajunya ketika dia berbalik
"I-Ibumu... Akan baik-baik saja, k-kan?"
Jeffrey melepaskan tanganku dari bajunya, dia berbalik dan menggenggam erat tanganku yang gemetar pelan dengan kedua tangannya seolah ingin memberiku kekuatan. "Tentu, aku percaya padamu jadi kau jangan terlalu khawatir, oke? Sekarang aku harus memanggil dokter supaya kita bisa memastikan bagaimana kondisi Ibu, jadi sementara itu tenangkan dirimu dan tunggu disini bersama Ibu" jawabnya seraya mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya
"Aku mengerti, pergilah" aku menunduk menggertakkan gigi melihat tautan tangan kami, marah pada diriku sendiri.
Padahal Jeffrey adalah orang yang paling harus ditenangkan dan diberi kekuatan sekarang, tapi dia malah harus menenangkan orang yang sudah membuat ibunya seperti ini
...*****...
Tak lama setelah Jeffrey pergi, pintu kamar dibuka lebar dan seorang pria bersurai hitam bersama beberapa pelayan berjalan cepat memasuki ruangan
Pria itu berdiri di sebelah Edna lalu menggenggam tangan Duchess yang terlihat lemas. "B-Bagaimana ini bisa terjadi? Padahal tadi kondisinya tidak separah ini" tanya nya sedih
"Seorang pelayan sudah bergegas pergi memanggil dokter Walter tadi jadi pasti beliau akan segera tiba, tuan Duke"
"I-Istriku... Katakan padaku, siapa yang sudah berani membuatmu kesakitan seperti ini, hm?" Duke bertanya pada istrinya dengan suara khawatir
"A-Aku... Baik... Baik s-saja" jawab Duchess terbata-bata sebelum kembali batuk darah dengan keras
"Tidak, jangan bicara dulu sayang. Tunggu dokter Walter datang" pria yang sangat mirip Jeffrey itu mengusap darah di bibir sang istri dengan tangan gemetar. Dia lalu menyadari kehadiran Edna ketika tidak sengaja menoleh untuk meraih sapu tangan baru
"Sapu tangan" perintahnya, gadis bersurai ungu itu mengangguk cepat dan bergegas membuka laci nakas di sebelahnya, namun saking terburu-burunya dia malah menyenggol botol di atas nakas tempat tidur sampai menggelinding di karpet
"Apa ini?.. "
Duke mengambil botol yang merupakan bekas léčitel itu dan mencium aromanya, "Aku tidak pernah mencium aroma obat ini diantara obat yang seharusnya diminum istriku. Siapa yang membawa obat ini?"
Kepala bulter mengerutkan kening berusaha mengingat, tak lama kemudian dia menyadari bahwa botol itu sama seperti yang ditunjukkan Edna saat mereka berjalan masuk tadi
"Ah, itu sepertinya obat yang dibawa oleh nona muda Edna, tuan" lapornya
"Apa itu benar, Edna Schnee?" tanya Duke seraya menyodorkan botol itu ke arah Edna
Gadis bersurai ungu yang sudah dibebani rasa bersalah segunung itu menelan ludah susah payah sebelum mengangguk, "Ya, tuan Duke" jawabnya
"Apa... Istriku menjadi seperti ini karena ramuan itu?"
"..... Ya, tuan Duke"
Ayah Jeffrey itu menggertakkan gigi kesal. Karena obat tidak jelas yang dibawa oleh gadis itu, istri tercintanya yang tadi pagi masih baik-baik saja jadi seperti ini
"Charles, panggil penjaga di luar dan bawa Edna Schnee ke penjara bawah tanah"
Mata Edna membelalak tidak percaya, namun dia tidak membantah sedikitpun sebab sebagian dirinya merasa pantas dihukum penjara karena sudah menyakiti Duchess
"T-Tuan... Tapi nona Edna adalah—"
"Kau tidak dengar perintahku? Seret dia ke penjara dan jangan ada yang berani membebaskannya sebelum ada perintah dariku!"
"B-Baik, tuan" balas Charles seraya melirik ke arah Edna yang menundukkan kepala tampak pasrah.
...----------------...
To be continued....
(*) Bonus
Jeffrey tengah berlari di lorong bersama dokter Walter serta beberapa pelayan ketika tanpa sengaja berpapasan dengan Edna yang digelendeng oleh dua ksatria pengawal mansion
"Edna?" gumamnya seraya menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, dokter Walter serta para pelayan yang melihat Jeffrey mendadak berhenti ikut berhenti
"Ada apa, tuan Jeffrey? Kita harus cepat ke ruangan Duchess sekarang" ucap mereka tergesa, lelaki bermata biru itu tampak ragu untuk sesaat sebelum menurut dan kembali berlari menuju kamar ibunya
'Ednaku... ' pikirnya terus menerus seraya berlari