
E D N A
Sial. Sial. Sial. Sial. Sial.
Aku sangat membenci otakku lebih dari takdir tragisku. Kenapa? KARENA OTAK SIAL INI LAMBAT MENGINGAT KEJADIAN PENTING YANG HARUSNYA BISA MERUBAH TAKDIRKU!
Padahal tadi aku sudah berencana membatalkan pertunangan dan bertindak anarkis di acara pertunangan kami nantinya, tapi bodohnya aku tidak mengingat kalau itu adalah hari ini. Di hari ulang tahunku sendiri yang ke-10
Sekarang aku paham kenapa orang-orang penting itu datang kesini. Mereka semua adalah 'tamu penting' ayah Jeffrey yang datang untuk memberi selamat atas pertunangan kami
Haaah..... Aku ingin menghajar diriku sendiri.
Tuhan memberiku kesempatan baru untuk mengubah nasib, tapi apa yang kulakukan? Aku membiarkan nasi berubah menjadi bubur karena kebodohanku. Meski kami masih anak-anak dan pertunangan ini dilakukan tanpa cincin, ikatan ini tetap dihitung resmi di mata hukum karena memiliki saksi yang kuat
Untungnya, masih ada waktu 10 tahun sebelum hubungan kami berlanjut ke jenjang pernikahan
Dan AKU. TIDAK. BOLEH. LUPA. LAGI. UNTUK. MENGGAGALKAN. PERNIKAHAN.
Wahai otak tidak berguna, tolong sekali saja ingat hal ini. Ini bukan hanya soal kita, namun juga menyangkut kehidupan banyak orang di dunia ini. Kalau sampai semua berjalan seperti apa yang terjadi di kehidupan kedua ku maka-
Oke, sepertinya aku harus tenang dulu... Tidak perlu panik, Edna. Yang harus kau lakukan adalah membuat Jeffrey muak denganmu lalu membatalkan pernikahan nya seperti dulu. Benar, aku sudah berhasil melakukannya sekali, melakukannya dua kali bukan masalah besar.
Aku menghembuskan napas panjang menenangkan diri lalu menatap Jeffrey yang sedang memunggungiku, seringai licikku secara otomatis muncul ketika terpikirkan berbagai ide untuk merundung nya. Mari kita rundung bocah itu sampai dia menangis dan membatalkan pernikahan sial ini sendiri
"Kakak!"
"Hm?" cepat-cepat kuubah ekspresi menyeramkan di wajahku tadi dengan senyuman begitu dipanggil oleh adikku yang berlari menghampiri. "Ada apa, Gretta?" tanyaku lembut seolah tidak ada yang terjadi
"Apa kakak akan menikah? Kakak akan menjadi tuan Putri dan kakak itu jadi Pangerannya ya?"
"Tidak. Hal mengerikan itu tidak akan pernah terjadi." jawabku cepat tanpa perlu berpikir, aku memegang kedua pundak adikku dan menatapnya serius. "Dengar, Gretta. Kakak itu bukan Pangeran dan aku tidak akan menikahinya sampai kapan pun. Aku hanya akan menjagamu seumur hidupku"
"Benarkah?"
"Iya. Aku tidak membutuhkan orang lain selain kau, ibu, ayah, Sophia, dan Rery. Hm... Mungkin beberapa pegawai mansion juga, tapi yang jelas tidak dengan Jeffrey Diven"
Gretta mengedipkan mata polos. "Kenapa? Apa kakak itu jahat kepada kakak?" tanya nya, aku tersenyum tipis lalu mengusap rambutnya pelan. Dulu aku kehilangan semuanya dan menjadi antagonis karena memilih Jeffrey, namun kali ini aku akan mengorbankan Jeffrey demi melindungi semua orang yang kusayangi.
"Kau tidak perlu tahu, yang penting kakak pasti menyelamatkanmu kali ini"
Soal perasaanku pada lelaki itu tidak penting, karena sejak awal ini hanya bagian dari alur cerita yang tidak nyata dan akan hilang sendiri seiring berjalannya waktu. Aku yakin itu.
Mungkin.
"Aku tidak mau diselamatkan kakak, aku maunya Pangeran!" seruan Gretta seketika menyadarkan ku dari lamunan singkat, adikku itu menatapku dengan pipi menggembung tidak suka.
Aku berkacak pinggang, "Gretta, kakak kan sudah bilang kalau Pangeran itu tidak keren, dia itu cuma anak Raja yang dimanja! Pangeran tidak akan pernah bisa menyelamatkanmu" omelku
"Kalau Pangeran saja tidak bisa, memangnya kakak bisa? Kakak juga tidak bisa kan?!"
"Bisa! Kakak pasti menyelamatkan mu meski kakak harus mengorbankan nyawa!"
Karena itu tolong jangan mati dengan menyedihkan lagi, adikku. Kakak mu ini akan merelakan apa saja demi menjagamu dan keluarga kita tetap hidup.
"..... Aku tidak suka kakak!"
"Gretta, tunggu-!"
Aku mengedarkan pandangan ketika mendengar suara bisik-bisik yang cukup keras, dan kebingungan langsung melanda otakku ketika semua orang menatapku dengan tatapan haru. Ada apa ini?
"Ya ampun, mereka menggemaskan sekali"
"Kau dengar tadi? Kakaknya bilang akan mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan adiknya! Imutnya..."
"Marquis Schnee berhasil membesarkan putrinya menjadi seorang kakak yang baik. Kakakku tidak akan pernah berkata seperti itu padaku meski dia sedang sekarat"
"Aku harus bertanya pada Marchioness bagaimana caranya mendidik anak supaya putriku menyayangi adiknya seperti Edna"
"Sekarang aku mengerti kenapa Duchess Diven memilih Edna sebagai calon menantunya."
Pipiku terasa panas begitu suara mereka sampai ke telingaku dengan jelas. Apa aku mengatakannya terlalu keras tadi? Astaga, rasanya memalukan ketika tahu orang lain mendengarnya
"Edna, apa kau begitu menyayangi adikmu?" dua orang wanita dewasa bertanya padaku secara terang-terangan, mata mereka menatapku seolah aku adalah anak kucing yang menggemaskan
Aku membuka mulut, hendak menjawab dengan penuh percaya diri seperti orang dewasa pada umumnya. Namun tatapan antusias bercampur gemas di mata kedua wanita itu membuat wajahku terasa semakin panas. Aku berakhir menutup mulutku lagi lalu mengangguk malu, tidak terbiasa diperlakukan manis seperti ini oleh orang asing
"Seberapa banyak? Bisa kau tunjukkan pada kami dengan gerakan tanganmu?"
Demi Tuhan, aku ini anak berusia 10 tahun! Sepuluh! Jangan perlakukan aku seperti anak berusia 3! Ini sangat memalukan, apalagi Gretta sudah pergi tadi dengan ngambek
"I-Itu... " aku melihat ke segala arah mencari bantuan, namun malah tidak sengaja bertatapan dengan Jeffrey. Ng? Keningku reflek berkerut melihat sosok yang berdiri cukup jauh dariku itu
Ekspresi Jeffrey.... Terlihat marah. Apa ini? Apa aku salah lihat atau dia benar-benar baru saja tanpa sadar menunjukkan ekspresi aslinya padaku?
...*****...
Di tengah ramainya para tamu yang merasa gemas dengan ucapan Edna, Jeffrey berdiri seraya mengepalkan tangan erat, ekspresinya mengeras seolah kesal akan sesuatu. Lelaki berambut hitam itu tidak mengatakan apapun, dia hanya diam menatap ke arah Edna cukup lama sebelum berbalik badan dan pergi
Edna yang penasaran berniat mengejarnya, namun batal ketika tangannya ditahan oleh seseorang. Gadis itu menoleh, ternyata Rery yang melakukannya
"Edna," raut wajah Rery terlihat sangat serius seolah dia hendak memberi tahu rahasia negara
"Edna, bertunangan itu artinya kau akan menikah dengan orang itu di masa depan, kan?"
"... Seharusnya sih begitu. Kenapa kau bertanya?"
"Kau tidak boleh menikah dengan anak itu" ucap Rery tegas, dia menarik lengan sang teman supaya semakin dekat dengannya lalu berbisik. "Kau adalah sahabatku jadi akan kuberitahu rahasia besar, dia bukan anak yang baik. Kau tahu, karena kasihan melihatnya kita abaikan terus tadi, aku berbaik hati menyarankan nya untuk berteman denganku dulu sebelum denganmu karena aku tahu kau canggung dengan orang asing, tapi tebak apa jawabannya?"
"Apa?"
"Dia tidak mau. Dia bilang hanya ingin berteman denganmu dan Gretta, tapi ekspresinya sangat dingin sama seperti ketika ayahku marah. Menyeramkan sekali"
Edna terdiam mencerna ucapan teman baiknya. Rery tidak mungkin berbohong padanya karena dia sudah mengenal baik anak itu sejak lama, selain itu tadi dia juga sudah melihat sendiri bagaimana ekspresi 'bocor' Jeffrey ketika menatapnya.
'Dia pasti kesal karena penolakan tanpa henti ku tadi jadi tidak bisa mengendalikan ekspresinya sebaik biasanya.' pikir gadis itu, dia lalu mendengus pelan. "Awalnya kupikir dia tidak akan terpengaruh, tapi pada akhirnya dia hanyalah bocah berusia 11 tahun yang mudah kesal, ya..." gumamnya
"... Edna?"
"Terima kasih atas informasinya, Rery. Kerja bagus" Edna tersenyum seraya menepuk pundak sang teman senang, Rery mengangguk meski agak bingung. "Jadi... Kau tidak akan menikah dengannya, kan?"
"Tenang saja, kata pernikahan tidak akan pernah berada dalam satu kalimat dengan namaku dan Jeffrey Diven sampai kapan pun"
".... Hah?"
Edna menghela napas, mengerti kalau sang teman yang masih murni anak-anak tidak paham dengan ucapannya barusan. "Maksudnya aku tidak akan pernah menikah dengannya" jelas gadis itu dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, Rery kembali menganggukkan kepalanya dan kali ini dia mengerti sepenuhnya
"Bagus. Oh ya, kalau ibumu memarahimu, bilang saja aku yang akan menggantikan posisi anak jahat itu dan menikah denganmu. Aku tidak masalah melakukannya, lagipula kita kan sudah sering menjadi ayah dan ibu kalau bermain rumah-rumahan"
"Rery, menikah sungguhan tidak sama dengan bermain rumah-rumahan... " ucapan Edna terhenti ketika otaknya memikirkan saran kekanakan Rery dengan serius. Dia kemudian menaikkan alis kaget karena ternyata saran yang terkesan asal itu ada benarnya juga
'Aku tidak pernah memikirkan ini, tapi astaga... Bukankah ini ide bagus? Maksudku, kami memiliki hubungan yang baik, aku tahu sifat luar dan dalam Rery, aku juga tahu dia tidak akan mengkhianati ku di masa depan, dan mungkin yang ini bagian dari alur cerita, tapi dia selalu melindungiku serta keluargaku, bahkan di akhir cerita Rery rela mengorbankan nyawanya demi aku.' pikir Edna, dia menatap anak lelaki di depannya yang sedang mengedip polos dan satu kesimpulan yang tidak pernah diduga-duga sebelumnya muncul.
Rery adalah calon suami terbaik yang dapat ditemukan nya. Selain semua hal yang sudah disebutkan tadi, Rery juga merupakan putra sulung dari Marquis Barnard yang punya status cukup terpandang di Kerajaan
Jatuh cinta dan menikah dengan lelaki itu tentunya tidak akan mengganggu kehidupan para tokoh utama, kemudian yang paling utama dan terpenting... Mungkin saja nanti Edna akhirnya bisa hidup normal dan tenang bersama keluarganya
"Rery... Kau tidak akan bisa menarik ucapanmu barusan untuk selamanya. Kau yakin akan menikahiku kalau aku batal menikah dengan Jeffrey?" tanya Edna memastikan
Lelaki bersurai hitam itu mengangguk, dia mengacungkan jari kelingkingnya. "Aku janji demi jari kelingking ku. Kau diperbolehkan memotong jari ini kalau aku berbohong"
'Aku hanya perlu menjauhkan Gretta dari Pangeran Genio lalu menjodohkan nya dengan orang lain. Di masa depan Jeffrey akan menyingkir sendiri karena muak padaku, dan aku yakin Ibu tidak akan bisa protes apabila Rery yang menggantikan orang itu sebagai calon suamiku. Tidak ada lagi dua saudari Schnee yang jahat, tidak ada akhir yang buruk bagi keluargaku.' Edna menyusun rencana dalam hati seraya menautkan jari kelingkingnya dengan milik Rery.
Dia mengerti bahwa janji ini cuma sebatas janji anak-anak dan tidak cukup kuat untuk menjamin masa depannya sebab Rery bisa saja lupa dengan janji yang dibuatnya hari ini di masa depan nanti, tapi gadis itu akan melakukan apa saja untuk melarikan diri dari takdir gelapnya.
...*****...
Acara ulang tahun sekaligus pertunangan hari ini berakhir dengan baik. Sepanjang pesta Edna terlalu sibuk meladeni Rery serta menjaga adiknya yang bermain bersama beberapa anak dari para tamu undangan sampai dia benar-benar melupakan Jeffrey
Lelaki itu menghilang dengan ekspresi marah yang sangat mencurigakan, dan baru muncul kembali ketika pesta hampir berakhir. Kemudian seolah tidak pernah ada yang salah dengan ekspresinya tadi, Jeffrey tersenyum memamerkan lesung pipinya yang manis seraya duduk di sebelah Edna
"Jeffrey Diven," Edna memanggil ketika Jeffrey hendak masuk ke dalam kereta kudanya. Semua tamu termasuk Rery dan keluarganya sudah pulang, dan keluarga Diven menjadi yang paling terakhir karena para orang tua masih punya hal yang harus mereka bicarakan tentang masa depan
Gadis itu melihat ke belakang sekilas untuk memastikan bahwa Ibunya masih sibuk mengobrol dengan orang tua Jeffrey sebelum kembali menatap sosok di depannya. "Jangan datang ke rumahku lagi besok ataupun selamanya"
".... Kenapa? Aku kan ingin berteman denganmu-"
"Jangan konyol. Aku tahu kau juga tidak menyukaiku" potong Edna tajam, dia menyilangkan tangan di dada. "Kau tidak perlu berpura-pura baik atau menyukaiku ketika hanya ada kita berdua"
"Aku tidak berpura-pura. Selain itu aku juga akan datang lagi besok untuk berteman denganmu"
"Sudah kubilang aku tidak mau berteman denganmu. Jangan datang kesini lagi!"
"Aku akan datang besok, besoknya lagi, dan seterusnya" ucap Jeffrey bersikukuh, memancing emosi Edna.
"Tidak usah datang-"
"Aku akan terus datang sampai kau mau berteman denganku, Edna"
Edna berdecak sebal, "Ck, kenapa kau ngotot sekali ingin berteman denganku sih? Apa orang tuamu melarangmu bermain dengan Eleanor kalau tidak berteman denganku?" tanya nya kesal, tanpa sadar menyebut nama yang belum seharusnya dia kenal
"Jangan bawa-bawa nama Eleanor. Ini keputusanku sendiri" peringat Jeffrey dengan ekspresi yang seketika berubah gelap.
Namun sedetik kemudian lelaki itu mengedipkan mata cepat menyadarkan diri ketika melihat Edna hanya menatapnya lurus tanpa ekspresi. "E-Edna, aku tidak bermaksud marah.. " sesal Jeffrey panik, tangannya terulur seperti hendak meraih tangan gadis di depannya, namun dia hanya berakhir menariknya lagi karena tidak punya cukup keberanian. "Maafkan aku.. "
"Tidak perlu minta maaf sebab mau kau marah padaku atau tidak, aku tidak peduli. Justru lebih baik kalau kau marah denganku lalu tidak pernah kesini lagi selamanya" balas Edna tak acuh sebelum berbalik dan mengibaskan tangannya.
"Pergilah dan jangan pernah kembali, Jeffrey Diven"
To be continued....
(*) Bonus
Duchess Diven mengalihkan pandangan ketika sudut matanya melihat Edna berjalan mendekat usai berbicara dengan Jeffrey, "Edna, apa saja yang kalian bicarakan tadi? Kalian terlihat akrab dari sini" tanya wanita itu seraya tersenyum lembut
"....."
"... Sepertinya rahasia di antara mereka yang tidak seharusnya kita ketahui. Biasanya anak-anak kalau sudah cocok kan suka punya rahasia sendiri di antara mereka" Ibu Edna menjawab sambil tertawa canggung, matanya melirik ke arah sang putri yang diam saja dengan tangan terkepal.